Adventure Of Lord Lausius

Adventure Of Lord Lausius
Episode 141


__ADS_3

“Hahaha..... Sudah aku katakan. Lausius itu tidak mati. Dia masih hidup, dia saat ini masih menjadi misteri bagi ku.”


Elius berdiri di depan singgasananya. Kebahagiaan itu membuat Elius lupa pada segala hal. Lausius, dia adalah berkah yang selama ini tak bisa di lepas begitu saja. Sementara itu, Nekabudzer terlihat tetap wibawa. Melipat satu tangannya di belakang, dia memunggungi Elius.


Tidak peduli rekannya itu sumringah bahagia, Nekabudzer tetap bersikap bijaksana dibalik niat buruknya.


Uli, tertunduk. Dia masih belum berani menatap Tuannya. Uli sedikit canggung jika berada didekat kedua orang itu.


“Kau jangan senang dulu Elius. Bahkan hingga saat ini, tak ada seorangpun di antara kita yang bisa menangkapnya. Dia sangat lincah, berbeda dari Lausius lainnya.”


“Hahaha... Nekabudzer masih saja berpikir merendahkan aku. Jika bukan karena aku kurang memahaminya, mana mungkin dia bisa lolos dari tangan pria terkuat di tanah ini. Anak itu terlalu berangan-angan.”


“Kau masih sombong Elius,” ledek Nekabudzer. “Kau lupa, dia saat ini masih menjadi perburuan banyak orang. Musuh mu bukan hanya satu, tapi banyak. Kau jangan melupakan bagian terpenting dalam pertempuran besar nanti.”


“Kau tenang saja. Aku tidak akan pernah melupakan mereka yang ingin bersaing dengan ku.”


Elius tahu akan hal ini. Namun, baginya, Lausius muda itu tetap harus menjadi miliknya. Dia merasa paling unggul diantara semua orang-orang terkuat di tanah kemakmuran ini.


Menurut Elius, tak ada yang bisa mengalahkannya. Walau, sempat dia pernah dipukul mundur oleh dewa iblis. Itu pengecualian, Elius hanya sedang mencoba mengalah. Dia puas menang, sehingga kalah sekali bukan Maslaah baginya.


“Kau terlalu mengkhawatirkan aku. Kita lihat saja nanti, jika Lausius muda itu sudah berada dalam genggaman ku. Maka aku pastikan, semua penduduk di tanah surga ini tunduk pada ku. Aku pastikan itu terjadi. Selangkah lagi, aku akan menjadi ksatria terkuat di kota Saranjana. Hahaha.”


Nekabudzer menggeleng, ambisi Elius terlalu jauh. Bagai meraih jarum di tumpukan jerami. Seakan dia sedang mencari tuhan, namun tak ubahnya itu tak akan berhasil. Esensinya untuk meraih kesuksesan, tidak di imbangi dengan siasat yang baik. Dia selalu gegabah, Nekabudzer setiap saat menjadi pengingatnya.


“Uli,” lirih Elius. Kini wajah picik Elius, mulai berulah. “Pergi ke telaga kematian. Aku ingin kau mendapatkan kabar tentang Lausius itu disana.”


“Tuan. Maks..... Sud Tuan?”


Uli agak  ragu, saat Elius berkata dingin padanya. Lebih-lebih, perintah itu tidak bisa di tolak, Uli takut membantahnya.


“Aku mau kau kesana. Aku ingin, kau mendapatkan jawaban atas keberadaan anak itu. Kali ini, kau jangan mengecewakan aku.”


“Tuan, aku.....”


“Kau belum berterima kasih pada ku, karena telah membebaskan kau dari cengkeraman Gondola rakus itu. Sebaiknya, kau memahami ini.”


Oh, malangnya bagi Uli. Dia tahu, berkatnya tadi dia bisa lepas dari santapan Gondola buas itu. Walau sebenarnya, Uli tak ada hubungannya dengan semua ini. Dia yang memerintah Uli ke tempat Gondola, seharusnya Uli tak perlu berterima kasih kepadanya.


“Baik Tuan. Aku akan menjalankan perintah Tuan agung.”


“Bagus. Kau benar-benar pelayan yang setia.”


Mau tidak mau, Uli harus menuruti kemauan sang Elius. Walau berat hati, namun tak ada pilihan lagi bagi Uli. Dia hanya bisa melakukan hal ini, selebihnya belum berani Uli membantahnya.


Elius tersenyum miring, kecut bagai buah yang paling asam. Uli sudah pergi, dan rasanya beruntung bagi Elius memiliki pengikut setia seperti wanita itu.


“Kau sangat manipulatif,” kata Nekabudzer menyinggung—saat Uli sudah tak lagi di altar besar Elius. “Kau selalu memerintah dia semau mu. Apakah begini cara mu memperlakukannya selama ini.”


Elius menyungging tersenyum tipis.


“Begitulah caraku memanfaatkan bidak catur.”


“Sampai kapan kau akan memperalatnya?”


“Entah,” balas Elius santai. Kedua bahunya terangkat, menandakan dia belum memastikan kapan Elius akan melepaskan Uli. “Jika aku sudah mencapai tujuan ku. Aku pastikan, dia akan bebas. Namun, untuk saat ini tidak. Aku masih membutuhkan dia. Sampai semuanya menjadi kenyataan.”


“Ckckck.... Kau telah mempergunakan dia selama bertahun-tahun ini. Kau benar-benar iblis yang tak berperasaan.”


Elius tak peduli. Dia hanya mau melakukan sesuatu yang menurutnya benar—tanpa menunggu orang lain menghakiminya. Nekabudzer benar, dia adalah iblis yang tak berperasaan. Selagi belum mengumpulkan jiwa Lausius muda itu, Elius tak akan berhenti.


Baginya, semua tujuannya harus tercapai. Bagaimana pun caranya, bahkan jika harus mengorbankan jiwanya sekalipun—Elius rela melakukannya.


“Kau tidak perlu mengajarkan tentang benar dan salah. Kita sama, membutuhkan dia.”


Elius memandang langit di luar. Suasana cerah itu, tak akan mengubah keinginannya. Nekabudzer memperhatikan raut wajahnya, dia tetap pada ambisi besar ini.

__ADS_1


“Kau tidak akan berhenti jika kau tak mendapatkan Lausius itu. Aku harap, ini jalan yang terbaik,” gumam Elius pelan.


††††††


Sean tiba di sebuah kanebo, bercat putih. Di sekitar kanebo itu, ada bangunan yang menjulang tinggi.


Lalu, ada bangunan emas, membentuk benteng. Ada sungai di bawahnya. Sekoci kecil, juga di sana. Semuanya emas, Sean tak heran.


Sean sudah tahu berita ini. Anak sungai emas Mosapus, Sean kini sudah menjangkau paru-paru pusat peradaban di kota ini.


“Tapi, ngomong-ngomong. Kenapa tempat ini agak lengang. Tak ada satupun penjaga atau pengawal yang berjaga di sekitar sini. Kemana mereka. Dan..... Penduduk, kenapa Tak ada seorangpun di sini. Kemana mereka semua?”


Sekarang Sean heran. Pasalnya, Sean tak melihat satupun orang-orang yang berlalu lalang di bangunan megah ini. Bangunan yang sudah Sean lalui, Sean telaah dan Sean nilai arti karya seni dari mahakarya di sini. Seakan jalannya sudah di takdirkan sampai di tujuannya.


Para penduduk, atau siapapun itu yang sering hilir mudik. Sean tak mendapatinya. Aneh, tentu saja. Hanya ada beberapa prajurit saja yang Sean lihat, itupun tadi. Setelahnya, Sean tak lagi melihat siapapun, kecuali Ligong.


“Tidak mungkin jika tempat seindah surga ini, tak ada penduduknya. Rasanya aneh. Apa mungkin, jika mereka tidak tinggal di sini. Atau memang pada dasarnya, tempat ini tak ada penduduk sama sekali?”


Entah, Sean tak tahu kenapa ini bisa terjadi.


Sean melirik kesana kemari, mencari siapa saja yang bisa dia temui. Namun—hasilnya nihil.


“Apa mungkin, karena awan berkabut ini—membuat orang-orang tak terlihat. Atau, memang aku sejak tadi tak melihat siapapun disini.”


Entahlah, Sean ikut bingung. Kini Sean menyerah. Sean tengah berada di ambang pintu menuju ke puncak bangunan. Istana paling tinggi, diantara semua bangunan yang di tutupi awan.


Di sana, lantainya emas mengkilap. Lalu, awan sedikit menutupi puncak tertinggi menara. Dan Sean yakin, istana besar beranak tangga puluhan itu. Adalah puncak tertinggi dari bangunan yang berdiri di langit ini.


Entah berapa kali Sean takjub, Sean sudah lupa. Bodohnya Sean, seantusias ini dia ingin memuji karya arsitektur terbaik yang pernah dia lihat. Kekagumannya pada tempat ini, Sean akui dia puas melihatnya. Maestro yang membuat mahakarya yang dahsyat seperti ini, pasti bukan orang yang sembarangan.


Saat Sean ingin menuju ke puncak—istana berlapis emas. Kemewahan mulai terasa.


Pilar-pilar penyangga, berdiri kokoh di sisi kanan dan kiri anak tangga. Ada banyak burung-burung surga melintas di atas kubah emas, ada pula patung besar berdiri layaknya sedang menyambut siapa saja yang datang. Lalu, sepanjang anak tangga, di pasang karpet merah.


Terbentang dari atas hingga bawah, Sean merasa seperti tamu agung. Melangkahkan kakinya, Sean tak keberatan jika dia harus tertangkap oleh prajurit yang sedang berjaga-jaga. Sean seolah lupa diri kalau sudah melihat dunia bak negeri dongeng ini.


Saat tiba di atas sana, daun pintu berukir emas itu mendadak terbuka. Oh, Sean takut tadi. Tapi, untunglah. Tak ada siapapun di sana. Sean mengernyitkan keningnya.


“Hei. Apakah kita sedang di sambut untuk masuk kedalam?”


†††††


Jessica merasa degup jantungnya akan meledak. Gadis itu seperti sedang di interogasi, namun tak sampai membuat dirinya ketakutan setengah mati.


Keringat dingin sudah muncul dari balik pori-pori. Sesekali Jessica melirik tuan agung di depannya.


“Apakah dia pemilik tempat semegah ini?” gumam Jessica pelan.


Crypto dan Gordon terlihat tak berani menatap sang pria tua. Pria dengan pakaian, yang di tebak Jessica amat mahal. Dari katun, ada bordiran emas di pinggir jahitan bajunya.


Dia tidak memakai mahkota, hanya sintal pengikat rambut. Ubannya menyelimuti kepala, warna putih itu cocok dengan penampilan sang pria tua.


Dan, Jessica tahu.  Dia bernama Shutanhamun. Lord Shutanhamun, dia sebelumnya pernah di ceritakan oleh Crypto dan Gordon sebelum memasuki istana berlapis emas ini.


Sedangkan di dalam seisi istana megah nan cantik, semua berkilau. Baru kali ini Jessica melihat ada tempat yang tak tertandingi dalam segi arsitektur.


Burung Phoenix api menjadi lambang surga. Jessica melihatnya, ada ukiran burung itu di dinding istana Tuan agung Shutanhamun.


Dan, beberapa kali Jessica bertanya. “Apakah aku sudah mati. Apakah aku sudah berada di surga?”


Pertanyaan itu di lontarkan pada Gordon dan Crypto tadi—sebelum memasuki tempat ini. Namun sayang, kenyataannya adalah, dia belum mati. Memang pada dasarnya, Jessica sedang berada di tempat yang tak biasa.


“Ehm..... Apakah kau datang kesini mencari teman mu yang menghilang?”


“Apakah dia bertanya pada ku?”

__ADS_1


Jessica tertunduk sejak tadi. Dia ikut gaya Crypto dan Gordon, tertunduk patuh. Pria tua di hadapan Jessica belum meminta mereka mendongakkan kepala masing-masing, jadilah kenapa Jessica tertunduk patuh.


Mendengar ucapan sang pria tua, Jessica tahu, dia pasti berkata padanya.


“Benar Tuan agung. Aku mencari teman ku, Eed,” balas Jessica merendahkan suaranya.


Dan ini kali pertamanya bagi Jessica, berkata lemah lembut. Sebelumnya, dia selalu berkata dengan nada agak dingin.


Pria tua yang duduk di singgasananya, tersenyum manis. Seorang gadis kecil, dia baru pertama kali melihatnya sejak ribuan tahun yang lalu.


Pria tua ini ingat, dia memliki seorang putri. Rasanya, Shutanhamun ingin kembali ke masa itu saat melihat Jessica.


“Bawakan anak itu kemari. Sudah waktunya dia bertemu dengan temannya.”


Pria tua ini memerintah—pada pengawal yang berdiri di sepanjang altar berkarpet merah.


Prajurit, mereka terlihat gagah. Dengan topi terbuat dari besi, lalu ada  tombak di tangan. Jessica sesekali berpendapat, bahwa mereka adalah prajurit Romawi kuno. Sangat mirip, sungguh. Jessica merasa memang benar-benar bahwa mereka adalah prajurit itu.


“Nak. Apakah kau datang kesini hanya mencari teman mu itu?”


Kembali, pria tua bijaksana di hadapan Jessica bertanya. Jessica secepatnya mengangguk.


“Benar Tuan agung. Dia alasan ku bisa masuk ke tempat ini.”


“Baiklah kalau begitu. Kau akan mendapatkannya sebentar lagi.”


†††††


Jessica menoleh kebelakang, saat ada bunyi hentakan yang gaduh. Suara banyaknya kaki yang berjalan mengarah ke arah mereka.


“Jessica!”


“Eed!”


Jessica sumringah bahagia. Dari belakangnya, wajah yang paling dia rindukan selama ini kini muncul di hadapannya.


“Kau....”


Jessica langsung memeluk Edward, tak tahu. Perasaan bahagia itu kini mencuat bangkit. Tak percaya, kini Eed ada dihadapannya sekarang.


“Kau.... Kau baik-baik saja bukan?” tanya Jessica.


Edward mengangguk, penuh haru. “Aku baik-baik saja. Kau sendiri?”


“Tentu aku baik-baik saja. Aku kemari mencari mu.”


Edward memandangi seluruh detail tubuh Jessica, dia tidak percaya bisa bertemu dengan temannya di sini.


Benar, itu adalah Jessica. Kebalikannya, kini Jessica yang memandangi seluruh tubuh Edward.


“Kau..... Apakah kau benar-benar Eed?” tanya Jessica lagi. Dia memastikan dengan benar siapa remaja pria menawan di hadapannya.


Eed terlihat berbeda, menggunakan pakaian.... Terbuat dari besi. Eed seperti, seorang ksatria. Jessica hampir tak mengenalinya, dia sangat berbeda dari Eed yang pernah Jessica kenal.


“Benar. Aku eed.” Edward mengangguk, senang rasanya bertemu Jessica di sini. “Tapi, ngomong-ngomong. Dimana Sean? Kenapa aku tidak melihatnya bersama kau dan..... Siapa mereka?”


Edward meluaskan pandangannya, melihat orang-orang sekeliling Jessica. Crypto dan Gordon, dia belum pernah melihatnya. Edward penasaran pada pria menawan dan pria berbadan besar itu.


Keduanya datang bersama Jessica. Selama tinggal di tempat ini, Eed tidak pernah melihat batang hidung keduanya.


“Crypto dan Gordon. Mereka adalah pengawal Sean sebelumnya. Tapi, aku kehilangan Sean saat akan keluar dari Padang pasir milik perempuan ular itu,” jelas Jessica.


“Maksud mu...... Medusa?” tebak Edward.


“Siapa lagi?”

__ADS_1


TBC


__ADS_2