Adventure Of Lord Lausius

Adventure Of Lord Lausius
Episode 28


__ADS_3

MELUNCUR PART 2


Sean dan Jessica dengan nafas yang terengah-engah masuk kedalam tubuh, hanya sebatas tenggorokan tak sampai paru-paru. Mengambil tempat duduk tepat di batu penutup jalan masuk lorong.


Keduanya menyandarkan diri di dinding batu tersebut, mengambil nafas lega terlepas dari peluh dan letihnya dari serangan penguasa alam liar.


Yudhar yang menyaksikan keduanya selamat, dengan penuh perhatian duduk tepat di depan wajah Sean.


"Hei! apa kau terluka!" tanya Yudhar seraya memegang dagu Sean yang amat tegas.


Ia memutar wajah tampan Sean ke kanan dan ke kiri melihat dengan seksama apakah wajah tampan nan mulus itu terluka atau tidak.


Bahkan perhatiannya lebih besar dari perhatian Jessica yang teramat khawatir.


"Iya aku baik-baik saja!" jawab Sean lemas dan lesu. Kini Sean pasrah wajahnya di sentuh oleh tangan seorang pria yang amat kasar dan kapalan dimana-mana.


"Wajah mu terlihat ada goresan. Apakah ini bekas cakaran dari hewan itu?" sekali lagi Yudhar bertanya sedikit menambahkan bumbu kecemasan seolah Sean adalah sahabat terbaiknya.


Seperti perhatian seorang ibu pada anaknya.


Perlakuan Yudhar membuat Jessica iri padanya .


"Hei, hentikan tindakan anarkis mu itu. Sean tak apa-apa! ini hanya luka gores yang tak sampai satu inch. Kenapa kau amat memperdulikan kami?" Jessica menimpal kelakuan Yudhar dengan nada ketusnya.


kini Jessica mengambil alih perhatian Yudhar pada Sean.


Sean menjadi rebutan dua makhluk yang tak bisa akur ini.


"Sean aku rasa luka mu tak terlalu serius tapi harus segera di tutup agar tak meninggalkan bekas saat sembuh nanti," ucap Jessica memperhatikan Sean, sama halnya apa yang dilakukan Yudhar. Kali ini jessica tak mau kalah dengan perhatian Yudhar pada Sean.


"Aku tak apa-apa! kalian yang terlalu berlebihan menanggapi luka kecil ini!" ujar Sean yang tak ingin terlalu di perhatikan.


"Tidak! kau harus di obati agar luka mu bisa membaik!" tegas Jessica seraya merogoh koceknya.


"Untungnya kemana pun aku pergi, aku selalu membawa ini (plester penutup luka)."


Jessica memasangkan penutup luka itu di wajah Sean dengan rapi dan sempurna.


"Beres!"


Yudhar menyaksikan perhatian gadis itu dengan seksama.


Dengan wajah sumringah, Yudhar mendekatkan wajahnya itu pada wajah Jessica.


Ia melihat mata Jessica dengan khidmat.


"Apakah kalian sepasang suami istri?" Yudhar mulai mengeluarkan tingkah konyolnya itu.


"Jaga bicara mu yang sembarangan itu? jika kau bicara omong kosong lagi, maka aku akan mengirim mu ke kebun binatang le Seville, agar kau menjadi umpan buaya disana." Pekik Jessica menyambar dengan cepat ucapan Yudhar yang sembarangan dengan amarah.


"Benarkah. Kalau begitu aku mau menjadi kekasihnya dan dia sangat tampan. Apakah kau tak keberatan menyerahkan kekasih mu itu pada ku?" Yudhar mulai memancing keributan tepat di depan wajah Sean.


Pikir Jessica tak ada edward, manusia hutan ini pun menjadi. Jessica benar-benar di buat pusing oleh kelakuan konyol Yudhar yang terlalu bersemangat berdebat dengannya.


"Apa kau bilang? Bahkan kau tak lebih tampan dari pengemis jalanan di kota new York. Atau lebih buruk dari itu. Kau sampah yang kolot. Tentu saja Sean masih sehat. Jadi mana mungkin dia mau menjadikan manusia buruk seperti mu jadi seorang kekasih. Kurasa kau terlalu berangan-angan." Dengan gamblang dan arogan, Jessica melontarkan kata-kata buruknya pada Yudhar.


"Hei. Aku bahkan hanya bercanda. Mengapa kau terlalu serius mengumpat ku penuh semangat. Apakah kau pikir aku jauh lebih buruk dari pengemis begitu?" Yudhar berujar jauh lebih sengit dan sensitif.


"Kau dengar ya! kau pun sama. Tak lebih dari seroang hantu. Bahkan jauh lebih buruk dari hantu hutan." Yudhar menambahkan ucapan mengumpat serupa yang dilakukan oleh Jessica.


Adu mulut dan percekcokan itu membuat Sean pusing tak tertahankan.

__ADS_1


Ingin rasanya Sean membuang jauh-jauh mereka berdua hingga kutub Utara. Suara mereka amat berisik.


"Kalian berdua terlalu berisik. Kalian seperti anak kecil saja meributkan hal-hal tak berguna!" Sean melerai dengan sikap dewasa.


Tubuhnya mulai membaik, dan kini jauh lebih baik dari sebelumnya.


Ia terbangun dari duduknya yang panjang lalu melangkahkan kaki beranjak dari tempat itu.


"Ayo kita cari jalan keluar." Lanjut sean bicara pada keduanya.


Mereka yang sedang adu jutek mengekori Sean di sisi yang yang bersebalahan dengan Sean.


"Omong-omong kalian belum mengatakan terima kasih pada ku. Bahkan aku telah menyelamatkan kalian untuk kedua kalinya.


Apakah kalian orang-orang asing yang tak tahu balas Budi pada ku?" sambil berjalan mulut Yudhar mengoceh saja. Ia meminta mereka mengucapkan kata "Terima kasih" sebagai konvensasi atas waktunya yang hilang secara sia-sia karena telah menyelamatkan keduanya.


"Bahkan kalian meninggalkan ku sendirian, menyaksikan gambar burung besi kalian itu!" tambah Yudhar menuntut ganti rugi.


"Apakah begitu cara orang asing berkulit putih seperti kalian membalas kebaikan orang kuno." Yudhar menambahkan kata-kata tuntutan dan pojokan.


"Sudahlah tak perlu bahas yang lalu. Sebaiknya kau antarkan kami keluar dari tempat ini. Kami harus menemukan Edward teman kami, jika tidak kami tak bisa kembali dalam keadaan baik-baik saja." timpal sean meninggalkan keduanya. Sean berjalan lebih dulu menyusuri lorong yang panjang ini.


"Kau dengar itu? Hentikan ucapan kolot mu itu, dan antarkan kami keluar dari sini." Ucap Jessica setuju membenarkan ucapan Sean dan meminta permintaan dengan paksa. Lalu membuntuti Sean.


Yudhar hanya bingung dan tak menggubris ucapan Jessica. Masih perlu nalar untuk berfikir dengan jeli atas ucapan sesumbar itu.


"Bahkan aku telah membantu mereka dua kali. Sekarang malah membentak ku dan tak meminta maaf maupun terima kasih pada ku." Umpat Yudhar bicara pelan.


Iya mengikuti kedua orang asing di hadapannya itu yang berjalan meninggalkan dirinya sendiri.


Malam yang panjang dengan cuaca teramat dingin menusuk relung kalbu, sudah menemani mereka sepanjang perjalanan.


Menyusuri dan menilik tempat ini seolah tak ada ujungnya.


Kini gadis belia itu berjalan mundur sambil langkah kakinya menyeimbangi langkah kedua pria yang ada di sebelahnya.


"Aku rasa tidak? Mungkin saja ia melalui jalan lain. Bukankah jalan masuk ke goa ini tersembunyi? bagai mana mungkin teman mu yang bodoh itu bisa melalui tempat gelap dan sunyi seperti ini." Balas Yudhar kembali memancing keributan. Remaja kolot ini sedikit percaya diri saat mengatakan kebodohan pada ucapan Jessica tadi.


"Maaf ya tuan hutan, aku tak meminta mu menjawab pertanyaan ku. Aku hanya bicara pada sahabat ku Sean. Dan satu lagi, jangan pernah mengatakan Edward ku yang lucu itu dengan kata-kata bodoh. Aku sangat benci itu. Kau mengerti." Tepis Jessica dengan nada sinis. Dia menampik kata-kata yang keluar dari mulut Yudhar.


"Tetapi aku lebih paham tempat ini. Kau pasti tahu itu?"


"Terserah kau, Tuan hutan yang malang. Aku tak peduli dengan bicara mu yang tak bermakna itu." Jessica terus saja membalas ucapan Yudhar penuh dengan kata-kata ledekan dan congkaknya.


"Nama ku Yudhar, dan aku bukanlah tuan hutan. Kau tahu itu wanita penyihir." Timpal Yudhar bicara sewot. Dia masih tidak bisa berhenti untuk berdebat.


Sean yang terus saja memperhatikan ucapan keduanya, sudah tak bisa menahan celoteh berisik keduanya.


"Kalian berdua! bisakah kalian diam dan tak berisik." Ujar Sean melerai perdebatan keduanya.


Jessica melemparkan semua kesalahannya pada Yudhar dengan ekspresi sinis disertai senyum pahit dan licik diwajahnya.


Sedangkan Yudhar tak berkata apapun selain hanya bisa mengalah.


"Jessica dengarkan aku. Ada baiknya diantara kalian mengalah dan tak memancing perdebatan satu sama lainnya. Kita disini sedang tersesat tak tahu arah tujuan. Jika kalian terus saja berdebat, maka kita tak akan mendapatkan pintu keluar dari sini. Apakah kalian paham." Sean melanjutkan ucapannya.


"Hmmm!" Balas Jessica yang masih saja dengan sikap angkuhnya tak mau mengalah pada Yudhar.


sementara Yudhar mengangguk setuju pada Sean.


"Kalau begitu lebih baik kalian berdamai. Dengan begini kita bisa fokus berjalan tanpa ada riak suara kalian yang begitu gaduh." Saran Sean pada keduanya.

__ADS_1


"Aku berdamai dengannya? Apa kau bercanda Sean. Kau tahu aku tak akan melakukannya. Kau harusnya mengerti itu." Secara responsif Jessica membalas ucapan Sean yang penuh saran itu tanpa makna itu pikir Jessica demikian.


Jessica melangkahkan kakinya lebih dahulu meninggalkan keduanya. Ia merasa sangat sebal karena harus berdamai pada Yudhar, yang menurutnya Yudhar lah yang bersalah. Dia tidak mau mengalah pada seorang wanita.


Sean memandang wajah Yudhar dengan tatapan intrik. Dengan tatapan itu, ia mengisyaratkan bahwa Yudhar yang harus meminta maaf pada Jessica bagaimanapun juga Jessica tak akan menurunkan ego dirinya pada seorang Yudhar.


Yudhar hanya mengangkat kedua bahunya. Ia paham maksud Sean mengapa gadis itu menjadi begitu sensitif sehingga berlalu begitu saja.


"Setidaknya itulah dia." Lirih Sean pelan.


mereka menyusul perjalan gadis yang sedang badmood itu.


****


"Aku tak percaya itu. Dia melakukannya pada ku. Menyuruh ku berdamai pada anak itu. Huh!! apa dia sudah gila?" Gerutu Jessica dalam perjalanannya seraya sepatu mini boot yang ia kenakan menendang-nendang salju di dalam lorong goa.


"Menyebalkan! mengapa aku harus berjumpa dengan manusia hutan seperti itu. Sungguh menjengkelkan!"


Jessica berjalan di lorong gelap itu tanpa memperhatikan pijakannya.


Ia sudah tak peduli pada langkah kakinya. Entah ia akan tersandung atau tidak ia tak memikirkan hal itu.


Pikirannya sedikit kacau mengingat Yudhar selalu saja membuatnya dongkol.


****


"Hei bung! teman wanita mu sangat agresif." Yudhar bicara pada Sean sok akrab sambil tangannya merangkul bahu Sean.


"Hentikan bicara omong kosong mu itu manusia hutan." Timpal Sean dengan nada emosi. Rangkulan hangat Yudhar ia lepaskan dengan kasar.


Sean memegang kerah baju Yudhar dan mencoba melayangkan pukulan mentah nya pada anak yang bicara sembarangan.


Bahkan tak di cerna dan di telaah dulu.


Sementara ekspresi kaget yudhar, dengan refleks ia mencoba menahan pukulan yang di layangkan Sean pada wajahnya.


Tetapi sebelum pukulan itu mendarat tepat di wajah Yudhar, Sean menghentikannya sebab Jessica berteriak keras dari ujung lorong.


"Akhhhhhh......Sean......"


Teriakan Jessica sangat nyaring dan menggema menggetarkan seisi lorong goa.


Sean mengambil langkah cepat menghampiri Jessica yang berteriak keras, meninggalkan pukulan yang sempat akan ia berikan pada Yudhar.


BERSAMBUNG..


Hai..


Disini penulis sangat berterimakasih kepada kalian yang setia membaca novel fantasi absurd ini hehehehe T_T.


Penulis sangat bahagia dengan adanya dukungan kalian, baik itu like, komentar, share, rate dan juga untuk tip koin kalian pada novel ini.


Penulis sangat bahagia atas partisipasi kalian dalam memberikan komentar-komentar positif ini.


Penulis meminta maaf jika dalam menulis novel ini banyak typo, kesalahan tanda baca dan juga kurang menarik bagi pembaca.


Mungkin hanya melakukan yang terbaik, itu yang bisa dilakukan penulis untuk introspeksi tulisan.


Akhir kata penulis mengucapkan terima kasih telah membaca dan mendukung novel ini sepenuh hati.


THX: Penulis yang Budiman.

__ADS_1


SARANJANA EPISODE 28


__ADS_2