Adventure Of Lord Lausius

Adventure Of Lord Lausius
Episode 37


__ADS_3

MEGAH


Pemikiran Sean akan orang-orang di tempat ini makin membuatnya penasaran.


Mungkinkah mereka termasuk dalam anggota alien.


Pikiran Sean entah berangan-angan kemana, ia pun tak tahu.


Di pasar tradisional pedesaan ini membuat siapa saja yang menyaksikan pasti akan takjub.


Bangunan mereka tak kalah menjulang tinggi seperti bangunan khas budaya eropa di abad pertengahan.


"Sean, kurasa tempat ini amat eksotis tetapi sedikit menggelikan!" bisik Jessica pada Sean.


"Aku rasa begitu!" balas Sean setuju.


"Tidakkah kau merasa bahwa tempat ini luar biasa mirip dengan negeri dongeng. Bahkan kau lihat, singa pun seperti kucing disini!"


"Itulah yang kurasa, mereka begitu aneh dengan bentuk wajah yang tak biasa!"


"Benar sekali Sean, bahkan tempat megah ini di sebut oleh kawanan serigala itu sebagai desa? tidakkah terdengar lucu?" Jessica tak bisa menampik indahnya tempat itu.


"Sangat lucu!" Sean senada dengan Jessica.


Entah mengapa sejak memasuki tempat ini, Sean dan Jessica merasa ada hal aneh yang tak bisa di jelaskan secara logis.


"Mungkinkah kita sudah memasuki lorong waktu? maksud ku, aku pernah membaca salah satu tulisan sejarah kerajaan di negara ini. Mungkin saja kita sedang berada di dalamnya, bisa saja begitu kan!" Sean berbicara sejarah seakan Jessica mengerti saja tentang sejarah.


"Benarkah? buku apa yang kau baca? bolehkah aku membacanya nanti!" balas Jessica sok pengertian dan sok mendengar.


"Yang benar saja? bahkan terakhir kali nilai matematika mu c minus. Aku tak yakin jika kau suka sejarah?" Sean kali ini membongkar aib kecil Jessica yang malang.


Wajah Jessica nampak masam karena ucapan itu amat menusuk di hati. Wanita pemalas.


Yudhar hanya tertawa kecil mendengar kata ajaib Sean seakan dia mengerti salah satu aib wanita yang selalu membuatnya dongkol.


Di tempat ini, apa yang tidak bisa terjadi di hadapan Sean dan Jessica, kini mereka melihatnya dengan nyata.


Seperti hewan yang bisa bicara, wajah menawan penduduk yang aneh, bahasa mereka yang sejak awal bisa di mengerti oleh Sean dan Jessica yang notabenenya adalah orang asing dari negeri seberang, jauh dari kota ini. Kini mereka paham bahasa itu, bahasa Banjar, khas orang halimun.


Begitulah orang-orang itu menyebutkan diri mereka dengan bangga.


Aneh rasanya jika di indonesia ada sebuah kota yang lebih mirip dengan peradaban kuno meskipun negara itu sudah menyentuh teknologi modern.


Seakan penduduk disini tak peduli pada apa yang terjadi diluar daerah mereka. Bahkan sepertinya mereka tak ahli dalam menggunakan kecanggihan teknologi masa kini.

__ADS_1


Televisi, kabel penghubung aliran listrik hingga pesawat ponsel sudah pasti tak akan di dapatkan di kota ini.


Bahkan bangunan-bangunan di kota ini bergaya abad klasik, pertengahan, hingga abad kejayaan semuanya nampak menyatu dan amat misterius bercampur jadi satu. Bangunan dengan khas berdiri kokoh saling tumpang tindih dengan bangunan lainnya.


Mereka hidup seperti di zaman kuno, tetapi bagaimana bisa mereka membangun gedung yang menjulang tinggi seakan ada ilmu ghaib yang membantu selama proses pengerjaan bangunan-bangunan megah itu.


Semua arsitektur itu bernuansa emas yang berkilau, hanya bagian atap saja yang di chat dengan warna biru laut.


Bahkan tak terlihat pun ekskavator di sana sebagai tanda bahwa ada peradaban Yang modern yang membantu tugas mereka.


"Lalu bagaimana mereka membangun peradaban mereka?" itulah yang selalu ingin Sean ketahui.


Dinding bangunan pasar yang megah, dengan ornamen khas warna emas sungguh memikat untuk di pandang. Sepasang mata siapa pun yang menyaksikan tempat ini pasti tak akan percaya pada kenyataannya ini seakan sedang melintasi lorong waktu.



"Yudhar apakah kau pernah ketempat ini?" tanya Sean berbisik.


"Entahlah. Tempat ini amat asing!" balas Yudhar singkat.


"Percuma kau bertanya pada sosiopat itu, dia takkan paham apapun tentang tempat ini," sahut Jessica dengan ketus.


"Kau!" pekik Yudhar menahan emosi.


"Ada apa dengan ku? Apakah aku cantik?"


"Kali ini aku harus mengalah lagi untuk mu, tapi ingat lain kali aku akan membuat mu meminta maaf pada ku!" ucap Yudhar ketus.


"Itu tidak akan pernah terjadi manusia hutan. Bahkan jika langit ini runtuh pun aku tak Sudi meminta maaf pada mu?" Jessica tak kalah sengit menjawab.


Sean hanya menghela nafas panjang karena dua orang itu sungguh menyebalkan. Bahkan lebih menyebalkan dari kartun Spongebob Squarepants dan Squidward.


...


"Semua kawanan mari kita kembali ke istana tuan!" ucap herren dengan tegas.


Ia menyela perdebatan kecil anak-anak.


"Dan untuk kalian? anak-anak sepertinya kalian sudah tak membutuhkan bantuan para asgart lagi. Jadi aku rasa kalian bisa mencari teman kalian itu dengan kemampuan kalian sendiri. Karena kami para asgart akan menjalankan tugas kami!" seraya mendekati anak-anak herren bicara jujur bahwa asgart tak bisa lagi bersama mereka.


"Di kota ini amat nyaman, tak ada lagi gangguan sedikit pun jadi kurasa kalian bisa menjaga diri kalian masing-masing!" tutup herren dengan ucap terakhir.


"Bukankah kau sendiri tahu, bahwa anak-anak ini butuh bantuan untuk mencari temannya. Setidaknya biarkan dia ikut ke istana tuan, setidaknya biarkan mereka meminta bantuan pada Thalassa!" driyad menyeringai ucapan Herren.


Tapi herren dengan wajah tegas nan dinginnya tak mau mendengarkan lagi ucapan driyad.

__ADS_1


"Tidak ada pengecualian untuk ini, sebaiknya kita berangkat sekarang!" tukas herren serta membalikkan badannya menuju keberangkatan.


"Aku tidak akan membiarkan mereka disini sendirian!" driyad berteriak kasar pada herren.


Mendengar ucapan driyad yang terus-menerus berpihak pada anak-anak membuatnya geram. Sementara anak-anak menjadi pemirsa yang menyaksikan tontonan perdebatan kecil antara asgart herren dan asgart driyad.


"Jika kau inginkan anak-anak itu, maka kau janganlah lagi masuk dalam kawanan asgart. Dan tetaplah disini bersama anak-anak itu!" herren dengan geram dan emosi meninggalkan driyad berserta anak-anak, diikuti oleh kawanannya yang menurut pada perintah.


"Herren dengarkan aku! herren!" teriak driyad memelas iba.


"Bukan begitu maksud ku herren. Herren. Herren. Dengarkan dulu penjelasan ku herren. Herren!"


Namun pimpinannya itu tak menggubris ucapan asgart paling muda itu, malah iya makin jauh menapaki kakinya. Ia tak peduli apa yang ingin di jelaskan oleh driyad, baginya sudah cukup tak bertemu lagi dengan anak-anak.


"Yah setidaknya itu adalah herren?" ucap driyad menyerah.


Sikap dinginnya itu memang tak bisa di bantah meskipun ada penjelasan, namun dirinya tetap pada kebenarannya semata.


"Apakah itu kesalahan kami tuan driyad?" sela jessica seraya bertanya.


Ia merasa amat bersalah karena driyad di kucilkan oleh pimpinannya.


Dengan responsif driyad menjawab baik-baik saja.


"Ayolah gadis manis, kalian tak bersalah. Dia hanya pimpinan asgart yang sedang sibuk sehingga meninggalkan kita disini. Jangan khawatir aku ada bersama kalian?" driyad menghibur anak-anak.


"Sebaiknya kita berkeliling sejenak di pasar kota ini sebelum kita melanjutkan pencarian teman kalian!" driyad menawarkan kemanjaan.


"Aku takkan menolaknya!" Yudhar menjawab bersemangat.


"Bagaimana dengan mu Jessica?" sikut driyad.


"Aku setuju saja, namun Sean?"


"Aku! tentu saja setuju. Bukan ide yang buruk?" Sean berpura-pura senang meskipun ia merasa tak enak hati pada kawanan asgart yang telah membantu mereka sejauh ini. Ia kali ini setuju pada Jessica, bahwa itu semua salahnya.


"Baiklah, jika kalian siap mari kita lihat barang-barang yang di jual di pasar megah ini!" driyad memulai sebuah fantasi perjalanan yang amat menggairahkan.


Sulit untuk ditolak destinasi wisata mencuci mata di tempat bergaya industrial.


BERSAMBUNG.


Jangan lupa like, komen dan share ya. Jika berkenan memberikan rating silahkan beri bintang 🌟 lima kepada penulis.


Dan penulis ingin mengucapkan terimakasih atas partisipasinya dalam menyambut up tiap episode dari novel ini. Komentar, like, favorit, tip, share, kritik dan saran kalian sangat membantu penulis dalam menerbitkan episode selanjutnya dengan sepenuh hati.

__ADS_1


Salam manis; Penulis.


__ADS_2