Adventure Of Lord Lausius

Adventure Of Lord Lausius
Episode 88


__ADS_3


Jessica diam-diam mengintip pertarungan antara Amuria dan beberapa makhluk yang pernah dia temui bahkan juga pernah bertarung dengannya.


Di belakang tebing tinggi, setidaknya Jessica menyelinap menyaksikan pertarungan ini.


"Gort!!" Jessica takjub, para makhluk aneh itu banyak yang terkapar mati di tangan harimau besar itu. "Wow. Mengesankan."


Di atas tebing yang tinggi ini, Jessica diam-diam menyelinap. Besar kemungkinan dia gatal ingin bertarung. Sejak Dewi Handita memberinya busur panah, Jessica seperti memiliki keberanian untuk bertarung. Di batu besar, rumput lumut merambah seluruh permukaan. Baru kali ini Jessica melihat harimau dengan taring sepanjang itu, kira-kira mirip gading gajah. Jessica bergumam, dia seperti perpaduan tiga gen mutasi, gajah, harimau dan badak.


"Benar-benar hewan yang tangguh," sekali lagi Jessica bergumam takjub.


ROAR!! Terdengar suara Auman Amuria yang menggelegar. Makhluk itu menggarang saat ratusan gort menyerang. Jessica pemerhati yang cermat, setiap langkah Amuria di lihatnya dengan jelas. Nafasnya mengeluarkan asap, di bawah tebing ada udara yang sangat dingin. Tidak bersalju, tapi berkabut lumayan pekat.


Jessica melihat, darah-darah hijau yang keluar dari para makhluk mutasi genetik itu bertebaran. Warna darah yang hijau itu, nyaris nampak seperti asap biasa. Walau begitu, para siluman kerbau itu hampir menemui ajal mereka.


Menjijikan, Jessica merasa ingin mual saat makhluk itu menggigit dengan rakus para gort.


Di balik ketakjubannya, Amuria membuat Jessica pucat tak kuat melihat buasnya gigitan itu. Di balik batu, diam-diam Jessica ingin muntah.


Gort mendengar suara Jessica, dia amat peka pada ilusi suara, sekalipun angin yang menerpa. Di dengarnya dengan jelas suara apa itu, di atas tebing. Lebih jelas, lebih dalam, suara itu memancing Amuria bertindak.


Pertarungan Amuria melawan ratusan gort memang sudah selesai, pikirnya ada gort lain, dengan cepat Amuria menaiki tebing, menghampiri suara itu.


Sean dan Driyad yang mengejar Jessica, kehilangan jejaknya. Aroma tubuh Jessica tak bisa tercium oleh Driyad. Sebab seluruh sisi adalah bunga, sehingga aroma tubuhnya menghilang di balik semerbaknya harum bunga.


"Kemana dia?" tanya Sean pada Driyad. "Langkahnya secepat angin, dia hilang seperti di telan bumi." Sean berusaha menemukan jejak-jejak Jessica yang tertinggal, tapi belum dia temukan petunjuk. Pikirnya belum jauh, namun nyatanya gadis itu secepat kilat seperti angin, menghilang tanpa sejengkal pun jejak. Sean menyipitkan matanya, kepalanya di toleh ke seluruh sudut tempat. Yang terlihat hanya hamparan bunga yang cantik.


"Entahlah, aroma tubuhnya tiba-tiba menghilang. Aku tidak bisa mendeteksi keberadaan Jessica." Driyad mengendus-endus, tetap saja tidak ada aroma yang dia cium selain aroma bunga.


Sean turun dari punggung Driyad. Dia mulai menelisik dimana Jessica. Di lihatnya bekas telapak sandal Jessica di atas rumput yang membekas. Dia yakin itu bekas kaki Jessica. "Dia kearah sana," tunjuk Sean.


Di lorong tebing yang besar mirip goa, tapi di tumbuhi bunga-bunga batu berwarna merah. Sean mulai menyusuri jejaknya. "Pasti dia tidak jauh dari sini." Sean menebak, jika benar, mungkin Jessica sudah sampai di tempat yang dia inginkan.


"Benar," sahut Driyad. "Aku mencium aromanya di sekitar sini. Mari kita kesana!"


Benar saja, mengikuti langkah kaki Jessica akhirnya membawa mereka menemukan apa yang mereka cari.


"Sean!" Gadis itu berteriak memanggil namanya. Dugaan Sean benar, dia sudah berulah.


Jessica mengesot-ngesot di rumput. Amuria mendapatkan dirinya, Sean yang melihat kejadian ini tak habis pikir. Jessica benar-benar ceroboh.

__ADS_1


"Sean!" Sekali lagi Jessica berteriak. Jujur, Jessica tak mampu menghadapi makhluk seperti ini.


ROAR!! Amuria mengaum sambil mendekati Jessica yang pelan-pelan merangkak. Pikirnya Jessica adalah musuh, oleh karena itu Amuria siap menerkam.


Sebelumnya, Jessica berpikir bahwa Sean tidak akan datang membantunya. Tak ada pilihan lain, Jessica mengeluarkan anak panahnya.


Dia membidik tubuh Driyad, tepat saat anak panah itu di lepaskan menancap di punggung Amuria.


ROAR!! Amuria mengaum makin keras, sakit rasanya di tusuk oleh anak panah. Dia membabi-buta menyerang Jessica. Beruntung, Sean yang melihat kejadian ini secepatnya menarik lengan Jessica.


Mereka terpental hingga menabrak batu di sisi belakang mereka. Jessica sangat ceroboh, sampai-sampai melupakan keselamatan sendiri.


"Sean!!" Jessica agak terkejut melihat wajah itu. "Kau!!"


"Lain kali dengarkan aku."


"Aku hanya ingin melihat, tidak tahu jika semua akan terjadi seperti ini." Mereka berdua berguling di tanah, menggelinding tak beraturan.


"Kalian berdua berani menyerang Amuria. Maka bersiap menerima semua kemarahan ku!" Sean hampir lupa kalau saat ini Amuria ada di hadapannya. Makhluk itu mulai murka, kuku-kukunya setajam belati, dia makhluk yang kuat, Sean memprediksinya.


Hati kecil Sean sudah takut, jalan satu-satunya adalah melawan serangan itu. Terlihat Amuria agak sempoyongan karena darah mengalir dari punggungnya.


Amuria mendengus, dari dua lubang hidungnya yang menggantung anting-anting itu mengeluarkan sejenis uap asap.


Grrrr!!!! Dia menunjukan gigi-giginya yang tajam pada Sean. Lalu, semenit kemudian dia meloncat ke udara, mengeluarkan cakar tajamnya, menyerang Sean sambil meraung-raung.


Sean sudah siap menerima serangan itu, pedangnya di ayun-ayunkan. Matanya memicing melihat dengan jelas arah serangan itu. Walau kakinya sudah bergetar hebat, Sean tetap teguh.


Dan belum berlalu keinginan untuk menghujaninya dengan pedang, tiba-tiba Driyad lebih dahulu menerkam tubuh Amuria hingga keduanya terpental di sisi lain bebatuan.


Bruk!! Suara itu terdengar sangat menyakitkan. Bahkan membuat anak panah Jessica yang sempat menancap itu patah.


"Kau!" Amuria mengerang sambil menahan bobot badan yang lemah.


"Kalian salah paham!" Driyad memberitahu. "Dia bersama ku, bukan bagian para gort."


Walau menahan sakit karena patahan anak panah menusuk punggungnya, Amuria berusaha kuat menahannya. Di tatapnya kedua anak itu dengan lirikan tajam.


"Benar, kami bersama Driyad," kata Sean membenarkan. Pedang yang sedang mengacung di hadapan Amuria segera dia turunkan saat sepasang mata yang buas itu melihatnya penuh dendam.


"Apa yang kalian lakukan di sini?" tanya Amuria. "Di hutan ku."

__ADS_1


"Maaf jika kami mengacau," sambar Driyad. "Kami tak sengaja mendengar suara mu yang menggelegar."


"CK," Amuria men-decak, sesaat kemudian membalikan badannya. "Cepatlah keluar dari Padang rumput ku. Aku benci orang-orang yang mengacau," ucapnya tak suka.


Lalu dia ingin pergi begitu saja. "Kali ini mereka ku maafkan. Lain kali jangan memancing murka ku, atau aku akan membunuh mereka mengganas!" peringatnya pada Driyad.


"Kami akan segera pergi, maaf atas kekacauan ini," Sean berkata. Di kembalikannya pedang ke semula terikat di punggung. Lalu, dia bersikap seakan tadi hanya insiden kecil.


Amuria berjalan meninggalkan mereka, tapi beberapa langkah kemudian, dia terhuyung sempoyongan dan tak lama kemudian, dia terjatuh.


"Hei, ada apa dengannya?" Jessica lebih dahulu menghampiri. "Kau baik-baik saja, bukan?"


"Aku baik-baik saja," jawab Amuria. Menepiskan tangan Jessica, lalu kembali berdiri. "Sebaiknya indahkan kata-kata ku. Keluar dari wilayah ku secepatnya." Dia melirik sekilas pada ketiga makhluk di belakangnya.


"Dia makhluk yang aneh," Jessica berkata pelan. Dia hanya ingin membantu, tapi Amuria menolaknya.


Amuria melanjutkan kembali langkahnya, tapi beberapa saat dia melangkah, dia kembali tersungkur. Kakinya terasa lemas, darah terus mengucur.


"Kau tidak baik-baik saja. Kau terluka parah," Jessica memperhatikan. Di dekatinya lagi tubuh besar itu, walau dia menampiknya tadi. "Sebaiknya kau di obati dulu. Luka mu akan infeksi jika di biarkan terbuka."


Amuria tak berkata, mungkin sudah berat baginya untuk membuka mulut. Nafasnya terdengar sangat berat, bahkan sangat panas saat Jessica tak sengaja menyentuh giginya.


"Apakah kau mendapatkan busur panah itu dari Handita?" tanya Amuria.


Jessica mengangguk. "Saat di sungai osirus, dia memberikannya kepada ku."


"Aku terkena racun anak panahnya."


"Hah?" Jessica terkejut. "Apa kau yakin jika anak panah ini ada racunnya?"


"Bawa aku ke pinggir sungai. Di sana ada obat-obatan yang bisa menawarkan racun duyung itu," perintah Amuria.


"Tapi bagaimana aku bisa membawa mu kesana? Kau besar, tentu berat."


"Aku bisa berjalan sendiri," kata Amuria. Berdiri, kemudian kembali melangkah. Kali ini dia agak kuat, walau kaki-kakinya sudah bergetar tak mampu berjalan. Sempoyongan, terhuyung-huyung bahkan tertatih-tatih. Dia tak ada daya untuk bertahan, namun masih bisa bertahan.


Jessica menoleh ke arah Sean. "Kali ini, kau benar." Jessica mengingatkan kembali kejadian saat dia membangkang. Meninggalkan keduanya karena penasaran pada suara pertarungan tadi.


"Dia memang selalu menyesal di belakang," Sean menggerutu pelan. Di ikutinya Jessica menuntun Amuria, gadis itu memang tangguh dan keras kepala.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2