
Ilustrasi tempat yang di lalui oleh Sean.
****
Ilustrasi istana Medusa (Part sebelumnya)
“Ibu!!!”
Sean membuka matanya, mimpi yang baru saja dia lalui ternyata hanya bunga tidur.
Mata Sean kini menatap kaget wajah berbulu makhluk yang hadir dalam mimpinya semalam. Ligong, hewan bercahaya itu ternyata bukan hanya hadir di dalam mimpinya saja, akan tetapi hadir di depan mata Sean.
“Hei. Kau nyata?” ucap Sean sumringah.
Sean baru sadar, ternyata dia sejak tadi tertidur di kolam—tempat di mana Medusa sering menari ular di sini. Sean beranjak, keluar dari kolam—yang bahkan tidak Sean rasakan dinginnya.
“Hei. Kawan, kau kenapa bisa di sini. Di mana yang lainnya? Jessica. Kau tidak terpisah dari mereka bukan?”
Sean mengelus lembut rambut kepala berbulu Ligong, makhluk itu sendirian. Dia tak bersama yang lainnya. Sean ingat, sebelum mereka di bawa pergi oleh pengawal Medusa, Ligong ikut bersama mereka.
Ligong mengerat di pinggang Sean, meminta belaian lembut dari Tuannya.
“Dia tak memberikan isyarat. Apa mungkin dia sendirian di sini?” Sean bergumam pelan. Keningnya mengerut bingung, sambil matanya menelisik sekeliling.
Kosong, tak ada siapapun, kecuali dirinya dan Ligong. Sean mulai memahami keadaan, kemungkinan Ligong tidak bersama mereka, karena ada ikatan dirinya dan Sean. Itulah kenapa, makhluk bercahaya itu kini ada di depan Sean. Atau bisa jadi, Ligong berpisah dari Jessica.
“Dia tidak menunjukan tanda-tanda bahwa dia bersama yang lainnya. Kemungkinan Ligong berpisah dengan mereka sebelum dia tiba di pintu keluar masuk gurun.”
Sean berpikir demikian, lagi pula sudah jelas kalau tebakannya benar.
“Ayo kawan. Kita cari tempat lain,” ajak Sean berganti haluan.
Keduanya menyusuri setiap tempat di sudut kuil. Mimpi tadi nampak nyata, seakan Sean sedang di tuntun menuju sebuah rahasia Kalam.
Selama menyusuri tempat ini, Sean tak menemukan apapun. Kecuali, hanya guratan dari pahatan luar biasa. Pahatan di dinding, di mana membentuk karya yang indah.
Sama seperti di dalam mimpinya, Sean melihatnya. Namun berbeda, kali ini tak ada apapun ketika Sean menyentuh gambar unik itu di dinding kuil. Tak berubah, Sean tak mendapatkan sebuah misteri dari bangunan berpondasi kuat ini.
“Ayo Ligong, kita tinggalkan kuil ini,” ajak Sean berlalu.
Keduanya keluar dari kuil, tanpa meninggalkan jejak apapun.
Tak ada yang spesial di dalam kuil, itu yang Sean rasakan dari tempat ini. Di luar, ketika Sean akan berlalu meninggalkan kuil. Udara malam itu amat dingin, di tambah angin gurun yang kencang.
Beruntung, Sean tak begitu merasakan hawa yang menyekik kulit ini.
“Kita akan keluar dari tempat ini segera. Kita harus menyusul Jessica, dia pasti sendiri saat ini.”
Sean menoleh ke arah Ligong. Makhluk besar itu terlihat setuju pada Sean. Mereka jalan beriringan, meninggalkan kuil ular.
Pikiran Sean terpaku pada Jessica, dia yang Sean khawatirkan saat ini. Meskipun Jessica bersama Gordon dan Crypto, namun Sean yakin. Gadis itu pasti meracau.
Sean dan Ligong Sudah agak jauh berjalan, bisa di bilang mereka berdua sudah menempuh setengah perjalanan gurun. Tempat gelap ini tak menampilkan sesuatu, apapun itu. Baik kedai di tengah gurun maupun orang-orang yang melintas. Kecuali, bayangan dari cahaya di tubuh keduanya.
Sepi, sunyi, itulah yang Sean rasakan. Apa boleh buat, jika saja dia tidak berpisah dengan Jessica, kemungkinan Sean tak akan seperti ini. Sean kembali memasuki sebuah tebing bebatuan, setelah melewati tebing ini. Maka pintu itu tak jauh. Sama seperti tebing sebelumnya, tebing ini sangat mirip.
“Kita akan melintasi tempat ini. Mereka kadang mirip, tapi begitulah cara orang-orang ular itu mengecoh orang-orang yang memasuki gurun tanpa akhir ini.”
Sean berkata pada Ligong, sesekali macan hitam itu menoleh ke arah Sean.
Ini adalah rahasia besar Medusa yang Sean ketahui. Mereka memang sengaja menciptakan dua tebing yang sama, agar orang-orang terjebak di dalam tempat ini.
Celah itu sengaja di buat mirip, agar siapa saja akan lelah ketika tak mampu lagi melewati tempat ini.
“Kau lihat. Dugaan ku benar bukan!”
“Benar. Anak itu sendirian kali ini. Ini saat yang baik bagi kita.”
Dari atas tebing, nampaknya Sean tak menyadari jika ada yang mengawasinya.
__ADS_1
Seseorang tersenyum riang ketika melihat Sean, melenggang sempurna tanpa rintangan di bawahnya. Mereka adalah Zurry dan Zumirh, keduanya berdiri di puncak tebing, dengan pandangan yang tak lekang dari Sean.
“Zurry. Apakah ini saatnya?” lirih Zumirh mengode.
Zurry mengangguk. “Anak itu seorang diri. Ini kesempatan kita,” kata Zurry membalas.
“Kalau begitu, kita jangan buang-buang waktu.”
Mereka berpandangan sesaat, kemudian membuka sayap masing-masing. Mengepakkan sayapnya, lalu menukik turun ke bawah.
Ketika keduanya beraksi, mata dan telinga Sean sigap. Terlebih, ada beberapa batu kerikil jatuh, tepat mengenai bahu Sean.
Suara gemuruh itu, kemungkinan tercipta oleh Zurry dan Zumirh saat ingin menukik ke bawah. Sean mendongakkan kepalanya, melihat ke atas. Dan....
“Iblis itu!”
Keduanya sudah terbang rendah di atas Sean. Remaja itu menyadarinya, mereka makin mendekat.
“Ligong. Celaka, mereka datang!” seru Sean memburu.
“Hahaha.... Kau tidak bisa lari lagi Lausius. Kau akan berakhir kali ini!” ucap Zumirh tersenyum bahagia.
“Tak ada pilihan,” ucap Sean pada Ligong, dia menatap kawan bercahayanya itu. “Kita harus kabur!”
Ini adalah pilihan terakhir Sean. Dia malas harus lelah bertarung kali ini. Jadi, kabur adalah cara yang tepat. Atau, Sean akan berakhir di tangan kedua iblis itu.
Langkah Sean memburu tergesa-gesa, sesekali Sean menoleh ke belakang. Dua iblis kakak beradik itu makin mendekat, membuat Sean ikut memacu langkahnya.
Ligong lebih dahulu berlari, kecepatan macan hitam itu tak bisa di ragukan lagi.
“Sayap. Cepatlah kau keluar!”
Selama berlari, Sean melihat ke belakang. Berharap kalau sayap itu akan muncul, namun sayang. Di saat seperti ini, sayap itu bahkan tak keluar sama sekali.
“Ayolah kawan. Keluarlah,” ucap Sean Sekali lagi. Namun tak urung, sayap itu tak berkembang di balik punggungnya. “Sial. Sayap itu tak bekerja sama sekali. Aku harus mempercepat langkah ku. Jangan sampai mereka mendapatkan aku.”
Terpaksa, Sean harus berlari cepat, agar tak tertangkap oleh dua iblis di belakangnya. Sean sadar, dirinya kini menjadi incaran kedua iblis itu. Sean tahu itu sejak awal, sejak saat di mana dia memasuki tempat ini.
“Hahaha...... Kau tidak akan bisa lepas dari kejaran ku kali ini Lausius muda. Kau akan tamat sekarang!”
“Oh sial jalan buntu!” kali ini panik makin melanda Sean. Walau panik, Sean berusaha memikirkan ide agar bisa lepas dari kejaran dua orang itu. “Aku salah mengambil jalur rupanya.”
Seakan Sean di takdirkan menjadi milik Zumirh dan Zurry, bahkan jalan yang Sean ambil pun salah. Lorong tebing yang Sean lalui buntu, dan itu adalah ujung celah tebing. Seharusnya Sean mengambil lorong ke kiri, namun Sean justru masuk ke lorong di sebelah kanan.
“Kau lihat. Di depan mu adalah lorong buntu. Apakah kau yakin kau bisa lolos dari kejaran ku kali ini.”
Ah, sebal bagi Sean kala terus mendengar celoteh tak berguna dari mulut Zumirh. Sean tak menyerah, walau buntu, Sean tetap menuju ke sana.
“Hei kawan. Apa yang harus kita lakukan?” tanya Sean pada Ligong.
Mereka berdua sejajar, langkah mereka berdua sama cepatnya.
Ligong menoleh, setelahnya dia kembali menatap kedepan. Bahkan Ligong memecut cepat kakinya.
“Kucing besar itu!”
Sean ingin mengumpat Ligong, namun apa daya. Dia hanya hewan, Sean tak bisa menyalahkan dirinya ataupun meminta pendapat dari Ligong.
Mereka tiba di ujung tebing. Dinding berbatu, yang menyerupai warna karamel ini, benar-benar tak ada jalan lagi. Oh, Sean meringis, ingin menangis rasanya.
Mereka mundur perlahan, Zumirh dan Zurry melipat sayap, kini menapakkan kaki mereka di pasir ini.
“Bagaimana. Apakah kau sudah menyerah!”
Sean menggeleng. “Tidak akan pernah itu terjadi nenek lampir,” balas Sean kontra. Zumirh berkata, seakan Sean adalah tipe seorang yang mudah putus asa.
Zumirh mendengus, sementara Sean makin mundur ketika Zurry terus mengacungkan pedangnya.
“Jika aku tak tak lepas dari kejaran mereka. Maka aku akan menjadi tawanan keduanya. Dan mungkin, aku akan berakhir menjadi........ Oh, tidak. Aku tidak mau itu terjadi.”
Sean sudah bergidik ngeri ketika membayangkan dirinya akan berakhir sia-sia. Belum, Sean masih ingat pada kedua orang tuanya. Sean belum memenuhi janjinya, membuat kedua orang tuanya bangga. Sean harus melakukan itu, sebelum dia berakhir tragis.
Sesekali Sean menoleh ke belakang, mencari ide. Barang kali Sean bisa menemukan celah. Sementara itu, pandangan Zumirh dan Zurry tak lepas dari Sean.
“Hei Lausius. Aku beri kau kesempatan untuk menyerah. Atau kau akan berakhir di mata pedang ku!” kata Zurry mengancam.
__ADS_1
Sean tak takut, hanya sedang berpikir ide lain. Ide liar agar bisa lepas dari dua orang itu. Setelah sekian detik mencari sesuatu yang Sean butuhkan. Akhir......
“Aku menemukannya,” ucap Sean pelan. Sean sedikit tersenyum manis, ketika di belakangnya ada lubang yang cukup untuk menampung tubuh Sean. “Benar. Aku rasa itu jalan keluarnya.”
Sean menatap wajah Zumirh dan Zurry, dua orang itu makin mendekati Sean. Mereka tak berhenti untuk terus mendapatkan dirinya.
“Aku bisa mengikuti kemauan kalian. Tetapi ada syarat.”
“Apa?” Zurry bertanya dahulu.
“Sederhana,” balas Sean. “Aku hanya mau, jika aku mati di tangan mu. Kau harus membunuh Elius dan Nekabudzer. Serta dewa iblis dan..... Aku lupa siapa nama rekannya.”
“Xavier?” sahut Zumirh menebak.
“Nah. Benar, itu dia.” Sean menjentikkan jarinya agak antusias, seolah Sean amat bersiap menjadi tawanan Zumirh dan Zurry. “Aku ingin, kalian berdua membunuh mereka. Jika tidak, aku tidak akan tenang selama tinggal di akhirat.”
“Apakah kau sedang bercanda pada ku?”
Zumirh agak kesal, permintaan Sean amat aneh. Tentu saja dia mampu menyanggupinya. Pedang Zurry yang semula terus mengacung, kini sudah turun seiring menyerahnya Sean.
“Jika kau tidak mau melakukannya. Maka jangan harap aku akan menjadi milik kalian. Dan aku lebih baik menjadi milik Elius dari pada harus tunduk pada iblis lemah seperti kalian.”
“Apa maksud mu?” sentak Zumirh berang.
“Tentu saja kau tahu maksud ku.”
Sean melipat tangannya di dada, dengan sombong dia berpaling dari wajah kedua iblis di depannya.
“Bagaimana menurut mu?” bisik Zumirh pelan pada Zurry.
Zurry mengangkat kedua bahunya, dia ikut alur. “Kita adalah iblis yang kuat. Mana mungkin kita tidak sanggup menerima syarat konyol itu,” katanya membalas.
Oke, keduanya sepakat. Mereka akan mengambil syarat dari Sean, tanpa terkecuali.
“Apakah hanya itu persyaratan mu?” tanya Zumirh.
Sean menggeleng. “Aku tidak yakin syarat ku ini bisa kalian lakukan. Tetapi........ Oh, mereka datang!”
Sean membelalakkan matanya. Sorot mata tajam itu mengarah ke atas, di belakang kedua iblis itu.
“Siapa?” tanya Zumirh.
“Mereka. Dewa iblis dan yang lainnya?”
Zumirh terpancing menoleh ke belakang, tempat di mana Sean terpekik kaget. Zurry pun demikian, dia ikut penasaran pada apa yang Sean ucapkan.
Sean terkekeh ketika melihat kedua iblis itu menoleh kebelakang. Sedetik setelahnya, Sean melirik Ligong.
“Ini saatnya kabur kawan!” kata Sean padanya.
Benar, Sean menipu kedua iblis itu. Tak ada dewa iblis atau siapapun yang datang. Itu hanya tipuan untuk mereka.
Ligong telah masuk kedalam lubang yang ternganga, sementara Sean, dia masih asik melihat kebodohan Zumirh dan Zurry.
“Hei, dua iblis bodoh,” teriak Sean. Keduanya menoleh bersamaan. Sean berdiri di pinggir lubang besar, dan dua iblis itu terpaku melihat Sean yang santai. “Kalian benar-benar iblis bodoh. Mau saja aku tipu!”
“Jadi, kau....!”
“Maaf jika aku menipu kalian. Aku harus pergi!”
Sean memotong ucapan Zumirh, setelah itu, Sean terjun masuk kedalam lubang.
“Selamat tinggal iblis bodoh. Aku yakin, kalian memang bodoh.”
“Hei, kau!”
Zumirh mengejarnya, Zurry demikian. Sean sudah masuk kedalam lubang, akan tetapi keduanya enggan masuk kesana.
“Anak itu!” pekik Zurry berang. “Dia telah membuat ku di bodohi!”
TBC
Ilustrasi Zurry
__ADS_1