Adventure Of Lord Lausius

Adventure Of Lord Lausius
Episode 119


__ADS_3

TERIMA KASIH ATAS SEMUA AKUN YANG MENEKAN LOVE (FAVORIT) UNTUK NOVEL INI. KALIAN TERSPESIAL TANPA TERKECUALI. AKU MAKIN SEMANGAT MENULIS, WALAU PEMBACA SEDIKIT HEHE. DAN SAMPAI SAAT INI, AKU SENANG KARENA KARYA KU YANG ABSURD INI TIDAK MENDAPATKAN HUJATAN DARI PEMBACA MANAPUN.


JANGAN LUPA BERIKAN RATING BINTANG LIMA YA. JANGAN RAGU, AGAR AUTHOR SEMANGAT DALAM MENULIS.


_____________________________________________


“Wow. Besar sekali kuil ini,” gumam Sean takjub.


Kornea matanya tak henti-hentinya memandang seisi kuil besar. Di tengah kuil ular ini ada ruangan yang luasnya seperti lapangan helipad. Sean pernah naik ke atap gedung di tempat ayahnya bekerja. Tetapi kuil ini lebih besar empat kali lipat dari lapangan helipad yang dia kenal.


Sean mengintip, di dalam dia melihat Medusa berdiri menghadap tiga patung ular besar. Di mana mata setiap ular-ular tak bernyawa itu memancarkan cahaya merah delima. Sama seperti warna yang dia lihat di dalam kotak yang di bawa Medusa tadi. Sementara di atas ketiga ular itu, berdiri pria-pria tua dengan tongkat permata di masing-masing tangan mereka.


Ambang pintu yang lebih mirip istana bawah tanah ini, amat lebar. Sean bersembunyi di balik pilar pintu masuk. Dia ingin mendengar percakapan orang-orang di dalam sana.


Sementara tempat di dalam, lantainya berbentuk bundar sempurna. Di sisi setiap lantai kuil tempat Medusa berdiri, seperti jurang-jurang yang dalam nan gelap. Ada beberapa pilar batu, tempat jawan api penerang seisi kuil ular.


“Apa yang di lakukan Medusa di dalam. Kenapa dia terlihat hormat pria tua di atas sana. Apakah pria tua itu leluhurnya?”


Jelas Sean melihatnya, Medusa terlihat menyembah leluhurnya yang berdiri di atas patung ular yang paling tengah. Walau Sean tidak tahu dengan yakin akan kebenarannya.


“Ratu. Batu jiwa yang tersembunyi dalam permata ini harus segera kau telan. Atau akan banyak orang yang akan mencarinya,” kata tetua di atas patung ular itu. Suaranya parau, khas pria tua pada umumnya. Pria tua berekor itu, Sean menebaknya adalah penasihat atau semacamnya.


“Aku perlu menyempurnakannya terlebih dahulu. Kita tidak bisa terburu-buru begini. Aku takut, jika tidak di sempurnakan, justru membuang-buang tenaga saja.”


“Ratu. Jika kau tidak ingin melakukannya secepatnya, mungkin para pemburu batu jiwa ini akan menemukannya cepat atau lambat. Justru kita akan kehilangan kesempatan nanti!”


“Tidak!” Medusa menggeleng. “Aku tidak bisa melakukannya tanpa menikah terlebih dahulu dengan Lausius. Demi kesejahteraan kaum ular, kita harus menunggu.”


“Apakah kau yakin jika pangeran Lausius itu mau menikahi ratu?” sahut tetua lainnya.


“Bahkan jika dia menolak ku. Maka aku akan memaksa.”


Wajah Medusa yang semula tegas, kini berubah menjadi agak sendu. Seakan ingatan di masa lalu itu mengaduk emosinya. Medusa memegang dadanya yang berdebar berdegup kencang.


Seandainya More masih hidup. Akankah aku memiliki kesempatan hidup abadi. Mungkinkah aku bisa membawa kaum ular menuju pada peradaban yang lebih tinggi tanpa ada diskriminasi dari ras lainnya. Atau, memang Pangeran Lausius muda itu adalah More yang telah lama menghilang.


Haruskah aku memaksanya menikah dengan ku agar menyempurnakan kesempurnaan ku untuk hidup abadi. Apakah aku harus egois menerima kenyataan bahwa dia memang bukan More.


Medusa yang membelakangi para tetua, meliriknya sekilas. Kemudian dia berkata:


“Dua hari lagi batu jiwa akan memancarkan semua kekuatannya. Di saat itu aku akan menelan batu jiwa itu. Aku harap, semua penyembahan terhadap dewa ular sudah di siapkan. Aku tidak mau kejadian seperti saat itu terulang lagi.”


“Tentu kami akan melakukan yang terbaik. Penyembahan terhadap raja ular ini sangat penting. Karena kaum ular akan di berkati.”


Medusa mendengus, dia kemudian melenggak-lenggok kan ekornya. Hendak keluar dari kuil ularnya ini.


“Aku harap kalian bekerja dengan baik. Aku tidak mau kali ini gagal lagi,” kata Medusa untuk terakhir kalinya.


Medusa pergi, sementara ketiga tetua kaum ular yang memakai tongkat di tangan mereka ini mencoba berdiskusi—Usai membungkuk hormat padanya.


Dari ujung tongkat para tetua yang terbuat dari permata hijau, memancarkan cahaya. Sedangkan batu permata merah yang di berikan Medusa kepada mereka tadi, kini ada di puncak ketiga tongkat yang sedang menyatu.


“Demi kemajuan dan keabadian kaum ular. Kita harus menyempurnakan batu permata ini sampai ratu ular Medusa bisa menyempurnakannya sendiri. Bangkit dari keterpurukan, menyemangati kembali kaum ular yang di tindas.”


“Tentu saja kita harus melakukannya. Tinggal menunggu pernikahan Medusa dan pengeran Lausius. Setelah itu, kaum ular akan mendapatkan kejayaan!”


Ketiga tetua itu saling mengeluarkan kekuatan masing-masing. Cahaya-cahaya indah itu menghiasi batu permata merah delima ini.


Sean masih mengintip apa yang orang-orang itu lakukan. Bahkan Sean mendengar dengan jelas percakapan mereka.


“Aku tidak tahu pasti apa tujuan mereka. Sepertinya aku memang Lausius itu. Dari pada aku berlama-lama di sini. Sebaiknya aku mengikuti ratu ular itu.”


Memang, ketika Medusa meninggalkan kuil ularnya ini. Dia tidak melihat keberadaan Sean sama sekali. Dan jika sampai ketahuan, entah apa yang akan terjadi.


Sean berlari, mencoba kembali membuntuti Medusa. Suara desisan dari ekor ular itu membuat Sean tahu arah kemana Medusa pergi. Diam-diam Sean menyelinap, mengendap-endap. Sebab wanita cantik setengah ular ada di depannya.


“Pangeran. Aku benar-benar kali ini bergantung pada mu untuk menyelesaikan misi ku menelan batu jiwa. Jika aku bisa menikahi pangeran, maka aku bisa membawa perubahan baru bagi kaum ular ku!”


Sambil berjalan, Medusa bergumam pelan. Dia tidak tahu kalau Sean membuntutinya. Pada dasarnya Medusa tidak pandai mengendus keberadaan musuh dan yang lainnya.


Medusa berjalan menuju ke lorong yang bukan jalan keluar dari kuil ini. Tapi menuju ke tempat lain.


“Mau kemana dia pergi?”


Sean mengernyitkan dahinya, matanya memicing kala melihat Medusa masuk ke dalam sebuah ruangan gelap di depannya.


“Jangan bilang kalau dia mencoba memasuki tempat rahasianya!” Sean menebak.

__ADS_1


Langkahnya menuntun Sean ingin masuk juga ke tempat di mana Medusa masuk. Beruntung, tak ada penjagaan sama sekali di sana. Tak ada satu pun, kecuali dua patung ular berbaju perang dengan tombak masing-masing di tangan mereka. Keduanya saling menghadap, menatap satu sama lainnya—menjaga pintu itu.


Ketika memasuki kuil itu, Sean di hadapkan pada situasi genting. Tidak. Sean tidak terdesak, tetapi tegang saja. Pasalnya ruangan itu sangat gelap. Hanya ada satu penerangan di lorong jalan ini, yaitu lampu api yang menggantung di pintu ujung lorong.


Ketika Sean membuka perlahan pintu di ujung lorong itu, matanya yang sedang mengintip— melihat Medusa sedang bernari riang.


“Ow....” Sean ternganga. Mulutnya membentuk huruf O bulat yang membuatnya terlihat makin menawan. “Lekuk tubuhnya sangat indah. Dia semakin cantik ketika menari. Namun sayang, dia ular.”


Sean bergumam pelan, dan rasanya gairahnya meningkat saat tubuh ramping itu menggeliat manja.


Walau Sean memujinya, namun pemikiran Sean tetap sama. Dia wanita ular yang akan membuat Sean berpikir dua kali jika ingin memujanya.


Jakun Sean naik turun kala melihat kemolekan wanita yang menari di hadapannya. Di tambah hanya memakai bra saja, yang membuat Sean makin tak mampu menahan matanya untuk melihat adegan itu.


Namun anehnya, Sean mendengar suara musik dari tiupan seruling sebagai menuntun Medusa menari. Tetapi saat di telisik, tak ada seorang pun yang meniup benda panjang berongga itu.


“Tidakkah ini sebuah keajaiban?” gumam Sean takjub saat ada suara musik, namun tak ada pemiliknya.


Sean mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan tempat Medusa menari, namun hasilnya nihil. Tetap saja tak ada yang dia lihat kecuali—Yah, hanya wanita ular itu saja.


Diam-diam Sean menyelinap masuk. Pikirnya Medusa tak melihat Kedatangannya. Namun Sean salah, Medusa melirik ke arah daun pintu yang terdengar mengerek ini.


Sesaat kemudian Medusa menyungging tersenyum. Lalu kembali melanjutkan tariannya. Tarian penghibur untuk dewa ular.


“Pangeran. Apakah kau mulai tertarik pada Medusa?”


Tidak tahu, Medusa berharap apa yang dia bayangkan benar. Lausius muda itu akan menyukainya. Sama halnya seperti dirinya yang memuja paras Sean.


Sean bersembunyi di balik patung-patung yang berdiri di dekat pintu. Dengan khidmat, Sean menatap haus bokong ular Medusa yang bergoyang. Sementara Medusa, dia yang semula menari di lantai ber-kramikkan motif ular merah. Kini dia masuk ke dalam kolam kecil di depannya.


“Tarian apa itu?”


Sean bingung. Karena fokusnya tak mau buyar melihat tarian Medusa. Banyaknya selendang yang menggantung di depannya, dia singkirkan. Sialnya angin-angin itu mengibarkan selendang ini, hingga membuat Sean hampir teralihkan oleh tarian Medusa.


“Sial. Ganggu saja,” gerutu Sean seraya menyingkirkan selendang pengganggu.


Tetap di depannya, Medusa masih menari. Kali ini dia makin erotis. Sean makin takjub ketika tarian pada dewa ular itu makin gemulai. Di tangan lembut Medusa memunculkan bunga-bunga cantik.


Kelopak bunga mawar merah, Sean merasakannya. Harumnya aroma bunga itu semerbak, Sean mampu mengenalnya.


“Apakah wanita ini sedang memainkan adegan anehnya?”


Medusa mengadu dua ular visualnya sampai mereka bertemu kemudian hancur. Bahkan percikan airnya tumpah di wajah Sean bak hujan di malam hari.


“Cih. Apa-apaan wanita ini,” gerutu Sean sambil menyeka air dari wajahnya.


Medusa mendengus, lalu menjentikkan jarinya. Rupanya itu sihir, yang memegangi Sean. Seketika tubuh anak yang sedang bersembunyi ini terangkat ke udara.


“Oh sial. Dia tahu keberadaan ku!”


Sean tak bisa menyangkal, kini tubuhnya masuk ke dalam kolam. Tepat di hadapan Medusa.


“Pangeran. Maaf membuat kau melihat tarian erotis ku,” kata Medusa.


Dari jemarinya, Medusa mengangkat gumpalan air. Lalu menyemburnya di tubuh Sean. Hingga membuat tubuh itu basah menggoda.


“Huh. Aku tidak berniat mengikuti mu. Aku hanya melihat mu sekilas tadi.”


“Hingga sampai di tempat ini?”


“Kau.....”


Sean tertegun. Sialnya, jarak dari kamar tempatnya berada tadi sampai di ruang bawah tanah ini amat jauh. Jadi, Medusa memutuskan ucapan Sean. Dan Sean tahu, Medusa sudah mengetahui dirinya mengikuti wanita ini sejak tadi. Tidak mungkin Sean sekilas melihatnya, apalagi sudah sampai di ruang bawah tanah seperti ini.


Medusa tersenyum tipis. “Tidakkah pangeran sedang penasaran pada ku?” kata Medusa melirih dengan godaan.


Sean mendengus. “Untuk apa aku penasaran dengan mu. Buang-buang waktu saja!”


Sean memanyunkan bibirnya,melipat tangannya di dada. Sebal rasanya jika ketahuan mengintip wanita ular ini.


“Tarian ku ini adalah tarian ular untuk penyembahan para dewa. Pangeran mungkin merasa aneh melihat tarian erotis ku ini.”


Medusa membisik pelan, tubuhnya mengitari Sean. Jemarinya melentik di kulit-kulit lembut Sean. Sesekali Medusa mengecup leher belakang Sean.


“Seharusnya aku tidak datang ke sini tadi,” gumam Sean pelan.


Medusa tersenyum. Juteknya wajah itu membuat Medusa makin tertarik padanya.

__ADS_1


“Mari ikut aku pangeran.”


Medusa menarik tangan Sean, keluar dari kolam yang di penuhi oleh kelopak bunga dan lilin kecil serta bunga teratai.


“Mau kemana kau membawa ku?” tanya Sean penasaran.


“Ikut saja aku. Pangeran pasti takjub kala melihat rahasia lain dari istana medusa.”


Oke. Sean menurutinya. Wanita ular ini membawa Sean masuk lagi ke tempat lain. Tempat yang ada di sebelah kiri kolam. Sungguh, demi apapun Sean tak paham pada tempat di bawah tanah ini. Ada begitu banyak ruangan tersembunyi. Sampai bingung Sean nantinya bagaimana keluar dari tempat ini jika tersesat.


Mereka tiba di sebuah tempat yang mirip telaga. Tunggu, Sean bingung ketika Medusa berhenti di pinggir telaga ini. Walau sebenarnya tempat ini adalah danau. Airnya jernih bak kaca, ikan di dalamnya pun terlihat jelas. Akan tetapi bukankah ini di bawah tanah? Bagaimana bisa ada tempat luas bagai hutan di tempat ini.


“Tempat apa ini. Kenapa terlihat aneh?”


Sean mengernyitkan dahinya, jujur. Dia amat bingung Mengenai tempat ini.


Medusa tersenyum, lagi-lagi tangan Sean dia pegang lembut.


“Ini adalah tempat ratu ular menyembunyikan permata biru,” kata Medusa memberitahu.


Sean mengedipkan matanya berulang kali, agak aneh. Kenapa dia memberitahukan hal ini pada Sean.


“Bukankah ini tempat rahasia mu. Kenapa kau memberitahunya pada ku?”


“Karena hanya pangeran yang bisa aku percayai saat ini.”


“Tidak!” tandas Sean. “Kau salah. Kita baru bertemu beberapa saat yang lalu. Bagaimana bisa kau percaya pada ku. Lagi pula, tempat ini aneh. Bukankah kita ada di ruangan bawah tanah. Tetapi kenapa ada tempat yang luas, seakan kita seperti ada di telaga tengah hutan”


Benar, Sean melihat sekelilingnya ada begitu banyak pepohonan yang mengelilingi telaga kecil ini.


“Pangeran memiliki aura yang kuat. Bijaksana dan berwibawa, aku yakin pangeran bisa di percayai lebih dari apapun.”


“Oke.” Sean mengalah. “Terserah kau saja.”


Yang pastinya, Sean tetap akan keras kepala walau Medusa memaksanya ini dan itu.


Medusa mengeluarkan sihir dari tangannya. Dari telaga di depan Sean, keluar jembatan dari dasar air. Sean ternganga, padahal sejak tadi melihat air telaga ini, tidak sama sekali dia melihat adanya jembatan.


Namun sekarang dia muncul, sumpah, bahkan tadi Sean hanya melihat terumbu karang ketimbang jembatan. Sementara di ujung jembatan mengarah ke—nampak seperti karang-karang membentuk daratan kecil.


“Ayo,” ajak Medusa.


“Kita akan menyebrangi jembatan ini?” tanya Sean.


Medusa mengangguk. “Aku ingin menunjukan pada pangeran sesuatu.”


“Tentang?”


“Batu permata biru. Batu jiwa yang akan di persembahkan untuk dewa ular.”


“Haruskah aku melihatnya?”


“Pangeran akan menyukainya jika melihatnya secara langsung.”


Sean menurutinya, dia ikut Medusa menyebrangi jembatan yang terbuat dari air ini. Sean menyentuh setiap pembatas jembatan. Yah, nyatanya memang air. Mereka hebat, bisa membuat sesuatu dengan sihir.


Sampai di ujung jembatan, mereka tiba di bebatuan datar. Naik sedikit mengikuti gundukan anak tangga, mereka tiba.


Oh, Sean kembali ternganga. Di depannya ada ular naga besar. Ada tanduk di kepalanya, sisiknya emas. Dia berputar-putar di atas sebuah batu berwarna biru. Sedangkan ada sihir di sekitarnya, Sean bisa merasakan kekuatan pelindung itu.


“Apakah ini yang ingin kau tunjukan pada ku?” tanya Sean.


Medusa tersenyum, mengangguk menandakan kebenaran. “Inilah batu biru itu. Batu jiwa persembahan untuk pada dewa ular yang akan di gabungkan dengan batu jiwa merah.”


Wah. Sean bahkan takjub. Sungguh. Warnanya cantik, bentuknya mirip berlian mahal yang di pajang di museum di kota New York. Sean pernah melihatnya, walau sekilas.


Ketika Sean akan menyentuhnya, cahaya dari batu biru ini tiba-tiba masuk ke dalam cahaya yang bersinar di tubuh Sean. Membuat tubuh Sean terasa aneh.


“Hei. Ada apa dengan tubuh ku?”


“Pangeran!”


Medusa juga ikut bingung, cahaya di tubuh Sean berubah menjadi dua warna. Seolah warna dari perpaduan biru batu dan merahnya cahaya di tubuh Sean sedang beradu. Ya, cahaya di permata biru itu seakan di tarik oleh cahaya di tubuh Sean.


“Oh tidak. Cahaya ini membuat aku aneh!”


Sean memandang seluruh tubuhnya, cahaya itu mengelilingi dirinya. Hingga cahaya di matanya kembali bersinar.

__ADS_1


“Apakah ini bentuk dari penggabungan batu jiwa dan jiwa Lausius?”


BERSAMBUNG


__ADS_2