Adventure Of Lord Lausius

Adventure Of Lord Lausius
Episode 121


__ADS_3

Istana Zumirh.


Zurry bolak balik di depan bejana penampung api yang ukurannya amat besar. Satu tangannya dia lekukkan ke belakang punggung, dan satu lagi dia gunakan untuk membantunya berpikir.


Sementara Zumirh duduk di kursi, tepat di depannya ada meja makan penuh hidangan. Buah-buahan yang segar, menggoda selera. Mulutnya berhenti mengunyah anggur hijau ketika pusing melihat Zurry seperti orang banyak pikiran. Mondar-mandir di hadapannya, bukan sesuatu yang berefek baik bagi Zumirh.


“Apakah kau juga ingin datang ke istana Medusa itu?” tanya Zumirh memulai bicara. Sebab dari tadi keduanya hanya saling terdiam masing-masing.


“Aku kira, Lausius itu harus menjadi milik kita,” kata Zurry membalas. “Namun nyatanya, justru Medusa yang berhasil mendapatkannya.”


“Hah.” Zumirh mendesah, sudut bibirnya tersenyum miring. “Jika kau ingin memilikinya. Kita harus datang ke istana ular itu.”


“Aku tidak mempermasalahkan mengenai ular itu. Hanya saja, dewa iblis ikut datang kali ini.”


“Di istana Medusa?”


Zurry mengangguk. “Xavier membawa dewa iblis. Dia memberitahu anak itu di bawa medusa. Ini menjadi pekerjaan tambahan bagi kita.”


“Mengusir dewa iblis?”


Zurry memiringkan sedikit tulang lehernya. “Dia adalah lawan kita kali ini. Jika tidak, aku tidak akan mungkin memikirkan hal ini hingga agak resah.”


“Bagaimana dengan Xavier?” tanya Zumirh.


“Si payah itu tidak berguna. Bahkan dia saja tak mampu mengatasi Lausius itu. Dia tidak termasuk dalam lawan dengan kekuatan tinggi dalam catatan sejarah kehidupan ku.”


“Sementara dewa iblis yang membuat mu menjadi resah!” Zumirh menebak. Zurry mengangguk, adiknya itu benar. Dewa iblis yang membuatnya resah kali ini.


“Seharusnya dia yang paling kita pikirkan saat ini.”


“Hemph.....” Zumirh mengembuskan napas mendesah. Sudut bibir yang merah merekah itu kembali tersenyum miring. “Kalau begitu, musuh kita kali ini akan semakin banyak,” katanya menatap Zurry sinis.


Pikiran Zumirh berputar pada peperangan tiga ribu tahun yang lalu. Di mana dewa iblis hampir kalah di tangannya, saat memperebutkan Lausius ke sembilan puluh sembilan. Namun itu hanya sebuah praduga, dewa iblis tidak selemah yang dia kira.


Untuk mendapatkan Lausius itu, maka di perlukan sebuah pengorbanan. Jadi, Zumirh pikir, pengorbanannya kali ini adalah dengan memenggal kepala dewa iblis sebagai persembahan pada iblis terkuat.


Meskipun Zumirh adalah iblis yang sama seperti Xavier dan dewa iblis—tuannya. Tetap saja, mereka tidak dalam satu aliran kekerabatan. Mereka adalah musuh di balik wajah palsu. Yang diam-diam mendukung di depan, namun saling menjatuhkan di belakang.


Bagi Zumirh, hanya Lausius yang paling penting di dalam hidupnya. Tak ada ambisi apapun yang ingin dia capai saat ini—selain Lausius-nya itu.


“Aku tidak tahu harus menyusun rencana seperti apa. Aku merasa kali ini semua orang yang memiliki kekuatan tinggi akan datang ke istana Medusa. Dua hari lagi mereka akan merayakan upacara penyembahan terhadap dewa ular. Seharusnya ini menjadi milik kita.”


Zumirh menatap bibir dan jakun Zurry, kemudian berdiri normal meninggalkan kursinya.


“Jika tidak salah. Semua kaum ular akan berkumpul di satu tempat. Bukankah itu suatu keberkahan bagi kita?”


“Apa maksud mu?” tanya Zurry.


Zumirh memunggungi Zurry, tangannya memutar-mutar rambutnya seolah itu adalah alat pengeriting rambut.


“Kau tahu. Jika kita menyatukan kekuatan kita, mungkin kita adalah pihak yang paling di untungkan dalam mendapatkan Lausius dari tangan Medusa. Jadi, Kakak pasti paham pada maksud ku!”


“Apakah kita akan membuat rencana?” Zurry menebak.


Zumirh mendengus, kemudian membalikan badannya. “Kakak mengalihkan perhatian kaum ular itu dan perhatian dewa iblis sebisa mungkin. Sementara aku, aku akan mendapatkan Lausius sekaligus dua batu permata itu. Jadi, inilah rencana kita.”


Zurry mengangkat kedua alisnya, kedutan itu nampak di gantungi keraguan. “Kau yakin rencana ini akan berhasil?”

__ADS_1


“Inilah poin penting dalam pertarungan dahsyat. Yaitu siasat. Kita harus menggunakan siasat untuk mengalahkan para pendusta itu.”


Bukan ide yang buruk. Bagi Zurry, apapun akan dia lakukan selama dia bisa mendapatkan Lausius itu.


“Aku memang tidak yakin jika kita berhasil. Tetapi, aku ingat. Jika Lausius mungkin akan di sembunyikan oleh Medusa. Dia tidak akan mungkin menunjukkan Lausius di depan seluruh kaumnya. Dia lebih memperhatikan Lausius, sebab pangeran itu harus menikah dengannya agar membuat kehidupannya makin abadi.”


“Hahaha..... Kau yakin itu akan terjadi?” Zumirh kontra. Zurry menganggukkan kepalanya, dia yakin itu benar terjadi. “Kau terlalu meremehkan aku Zurry!”


“Maksud mu?”


Zumirh berjalan bolak balik di hadapan Zurry, seakan dia memiliki segudang ide cemerlang.


“Kita lihat saja nanti. Kau akan tahu siapa Zumirh jika berhasil mendapatkan pangeran itu.”


Oke, Zumirh paham. Bodohnya dia menganggap rendah adiknya. Dia tahu, Zumirh bahkan lebih pandai dari yang dia kira. Ehm, diam-diam Zumirh tersenyum miring.


“Baiklah. Zumirh benar kali ini. Aku harus percaya pada mu.”


🕉️🕉️🕉️🕉️🕉️🕉️🕉️🕉️🕉️


Sean tidur di atas ranjang Medusa—tempat di mana dia tadi berada. Medusa duduk di lantai, tangannya menopang di kasurnya. Dia memandangi wajah anak yang sedang terlelap kelelahan itu.


Bulu matanya panjang, Medusa makin gemas melihat Sean yang menawan. Tangan-tangan nakalnya meraba lembut kulit yang bersinar itu. Memainkan imajinasi liarnya.


“Pangeran. Kau benar-benar telah memikat hati ku. Kau mengingatkan aku pada More ku dahulu.”


Medusa mengganti posisi duduk, kali ini di duduk di ranjang tidurnya. Tepat di sebelah Sean. Tidak lama, Medusa menidurkan tubuhnya di atas tubuh kekar Sean, namun anak itu tidak sadar. Bahkan Sean tak membuka matanya kala dirinya sudah mendapat rangsangan dari sentuhan lembut kulit Medusa.


“Aku harap dua hari kedepan kita bisa menikah. Demi keabadian ku juga demi kaum ku. Aku ingin kau menjadi satu-satunya yang mampu memberikan aku kekuatan itu. Apalagi batu permata ku sudah kau serap, maka ikatan kita akan makin erat.”


Medusa merasakan detak jantung Sean. Telinga yang menempel di dada Sean, merasakan sebuah rileks yang belum pernah Medusa dapatkan sebelumnya. Napas yang keluar dari hidung Sean, mendesak di kepala Medusa. Dia merasakan napas segar itu seakan adalah napasnya.


“Jika seandainya kau adalah More ku. Mungkin bahagiaku tidak seperti ini. Bisa jadi kita sudah bersama-sama membangun peradaban kaum ular ribuan tahun yang lalu.”


Ketika Medusa masih ingin menikmati permainan tangannya di ****** payudara Sean, dari luar pintu kamarnya ada suara ketukan. Medusa menoleh, dengan lirikan matanya yang di mantrai dengan sihir, dia mampu melihat siapa yang ada di luar.


Daun pintu berubah menjadi transparan, ada pelayan di luar.


“Katakan. Ada perlu apa?” tanya Medusa pada pelayan. Dia tidak membuka pintu kamarnya, namun menyahut dari dalam.


“Air untuk ratu mandi sudah siap?” balas pelayan.


Medusa tadi meminta di siapkan air hangat, sebab dia ingin berendam. Medusa beranjak, meninggalkan Sean sendiri.


“Aku akan segera kembali pangeran.


🕉️🕉️🕉️🕉️🕉️🕉️🕉️🕉️🕉️🕉️🕉️🕉️🕉️


Di kolam air hangatnya, Medusa di guyur oleh air mawar. Sesekali dia memainkan kuntum bunga, di hirupnya dengan nikmat.


Imajinasinya liar, memikirkan Lausius. Otaknya sudah terpaku pada remaja molek yang ada di kamarnya tadi.


Sean terbangun dari pejaman matanya. Dia melirik sekitar, aman. Medusa tak ada lagi di tempat ini.


“Apakah dua hari nanti dia akan mengadakan penyembahan terhadap dewa ular. Jika itu terjadi, apakah dia akan tetap menahan ku di sini?”


Sean memikirkan ide. Seharusnya dia pergi dari tempat ini. Jauh-jauh, agar Medusa tidak lagi mendapatkan dirinya.

__ADS_1


Sean keluar dari kamar Medusa, mencoba mengikuti Medusa lagi. Dia ingin mengetahui sisi lain dari si ular.


Sean membuka pintu perlahan. Kali ini dia benar-benar harus berhati-hati. Siapa tahu saja, di bilik tempat wanita ini berendam, dia tahu keberadaan Sean seperti sebelumnya.


“Apakah dia di dalam?” Sean bertanya-tanya.


Matanya mengintip dari balik tirai penutup kolam tempat wanita itu berendam. Benar saja, dia mendengar suara desahan dari sana di ikuti suara cipakkan air.


Dia berendam. Menenggelamkan kepalanya hingga sebatas hidung. Namun satu hal yang membuat Sean bingung. Yaitu, kenapa dia mengikuti Medusa sampai sini!


“Tidak. Aku tidak mesum!” kata Sean menerka. “Tetapi aku mengintipnya. Tidakkah itu sama seperti seorang pria hidung belang?”


Sean berpikir luwes, sebenarnya dia memang mata keranjang. Kenapa dia mengikuti, selalu wanita ini kemanapun dia pergi. Bahkan hingga di tempat mandinya.


“Benar saja, aku pria mesum.”


Sialnya, Sean melihat gundukan dada tanpa bra itu sudah selesai dengan mandinya. Kemudian memakai kembali bra-nya, memakai jubah, mahkota, bra besi pelindung dadanya, juga seperti sabuk besi mengikat di pinggang.


Sean berlari cepat keluar dari balik pintu tempatnya mengintip Medusa tadi. Dia tidak mau tergoda lagi oleh wanita itu. Bisa-bisa pikirnya dia akan di ajak mandi bersama. Sean Sudan merinding.


“Aku harus cepat kembali ke kamar. Dia akan mengetahui aku mengikutinya jika aku tidak di tempat tidurnya.”


Sean memburu, larinya di percepat menyusuri lorong berkarpet biru terang ini.


Sampai di kamar tempatnya tadi tidur, Sean meloncat ke ranjang. Terserah, dia ingin segera kembali seperti semula. Dia tidak mau Medusa tahu kalau dia sudah terbangun.


“Semoga wanita ular itu tidak kembali ke sini.” Sean bergumam kecil, akan tetapi harapannya tidak terwujud.


Medusa sudah kembali, menutup pintu kemudian duduk lagi di pinggir ranjang. Tempat di posisinya semula. Wajahnya terlihat tersenyum, Sean sebal melihat tawaanya.


“Oh. Aku harap dia tidak menyentuh tubuh ku lagi.” Sean menggerutu sebal setiap kali Medusa ada di dekatnya. Namun tak ubahnya, dia tidak berani menolak belaian dari Medusa.


“Sial. Wanita ini sangat wangi. Seakan darah dalam diri ku ingin mendidih. Wanita ini harus menjauh dari ku. Tapi bagaimana aku melakukannya!”


Memang, wanita setelah mandi harumnya tak terkira. Dan itu yang Sean rasakan. Harumnya menggoda di balik wangi mawar yang khas. Wajah mulusnya membuat Sean tak bergeming. Jakun mancung Sean naik turun, menandakan dia mulai tergoda.


“Maafkan aku meninggalkan pangeran tadi. Sekarang aku kembali.”


Ya, dia kembali. Kembali berulah, dengan menyentuh lembut kulit wajah Sean. Bisikan di telinga Sean, rasanya bibir Medusa begitu menggoda.


Wanita itu perlahan menyondongkan badannya. Sean bisa merasakan napasnya menusuk hidung Sean.


“Sial. Apakah dia hendak melakukan perbuatan dewasa itu?”


Walau matanya tertutup, namun Sean tahu. Pasti Medusa akan melakukan hal yang tidak-tidak. Benar saja dugaan Sean, Medusa menempelkan bibirnya di bibir Sean.


Sean ingin marah, akan tetapi dia tidak bisa melakukannya. Sean sedang mendrama.


“Bibir yang lembut.” Medusa tersenyum, kemudian sumringah.


🕉️🕉️🕉️🕉️🕉️🕉️🕉️🕉️🕉️🕉️🕉️🕉️🕉️


Para pengawal yang membawa Crypto dan yang lainnya ke pintu perbatasan, kini sudah kembali. Melalui jalur yang sama yang pernah Sean lewati, kelima pengawal itu ingin segera melaporkan keadaan.


“Kau laporkan hasil pekerjaan kita pada ratu Medusa. Sementara yang lainnya kembali pada pekerjaan kalian masing-masing,” kata salah satu pimpinan pengawal.


Mereka berpisah di depan pintu masuk istana Medusa. Di lapangan yang luas, mirip alun-alun istana—semuanya siap kembali pada tugas masing.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2