
Kratak kretek.
Suara itu terdengar dari patahan ranting yang baru saja terinjak. Sean, Jessica dan Driyad serta makhluk Amuria itu, kini sudah masuk ke dalam hutan gelap itu.
Di sana, dingin. Angin berhembus sedikit kencang. Di banding padang rumput milik Amuria tadi, dingin di sini sangat pekat. Sebelumnya hangat, kini perubahan cuaca, membuat Jessica merasa seperti seakan mau flu.
Suasana di sana sunyi, gelap. Hiruk pikuk kehidupan tak ada sedikitpun. Yang terdengar hanya suara jangkrik, suara burung hantu. Terkadang juga ada angin yang lewat, sekedar membangunkan bulu kuduk.
"Kalian harus waspada. Begitu banyak jebakan yang akan kita lalui," Amuria memperingati. Dia berjalan di depan, memimpin.
"Seharusnya kemarin kita sudah melalui tempat ini," Jessica mengomel pada Sean. Anak itu suka mengoceh sesuatu yang malas di dengar. "Tapi, kita malah pergi entah berantah."
"Entahlah, aku saja tidak tahu." Sean menjawab sekenanya saja. Dia irit bicara, bukan karena rahangnya patah atau sakit. Tapi, dia malas bersuara. Atau, dia lebih milih bungkam setiap saat agar menghemat ludahnya bergerak.
Jessica berpikir tak ada gunanya berkata pada Sean. Dia selalu tak pernah mendengarkan apa katanya.
Perjalan mereka di bantu oleh Kolibri bercahaya kuning emas. Burung-burung itu ber-gerumul membentuk cahaya terang. Ehm, semacam penerang jalan atau lampion-lampion yang terbang di langit. Sean pernah melihatnya saat ada acara Imlek di kota new York.
"Burung-burung Kolibri itu nampak cantik. Tidak tahu bagaimana bisa mereka jadi pengikut si buas?" Singgung Jessica. "Uh, aku menyukainya."
"Itu burung alam. Wajar jika dia mengikuti Tuannya," sahut Driyad menjawab.
"Burung alam?" Jessica mengulangi. "Apa artinya itu?"
"Burung alam itu berarti burung yang hanya bisa di temui di satu tempat. Biasanya burung-burung itu akan mengikuti Tuannya jika dia merasa cocok. Itulah kenapa para Kolibri itu mengikutinya, karena dia adalah Tuannya." Sean menjelaskan. Sedikit mendetail, dia sedikit paham banyak mengenai hal ini. Bukan karena dia sok tahu, Sean memang pernah mendengar penjelasan ini.
"Bagaiman kau bisa tahu itu?" Jessica mencecar. "Kau sepertinya tahu banyak mengenai burung-burung itu?"
"Di ruangan rahasia manuskrip milik orang-orang helian, aku melihat ada dinding yang menggambarkan bentuk burung itu. Seperti yang ada di dinding, mereka benar-benar burung emas," ucap Sean menjelaskan. "Ketika malam."
"Kau......" Jessica sedikit bingung. Sean itu, sebenarnya.... Siapa dia? Kenapa dia bisa tahu segala hal. Jessica semakin bingung, temannya itu...... Memang tidak bisa di tebak.
"Kenapa dengan ku?" tanya Sean. "Apa ada yang salah? Apa aku terlihat aneh?"
"Bukan. Hanya..... Terlihat sedikit... Agak manis dari sebelumnya." Sangking banyaknya pertanyaan mengenai Sean, Jessica sempat bingung. Bagaimana bisa dia tahu segala hal. "Kau sedikit imut dari biasanya."
"Di hutan seperti ini, tidak ada seorang anak yang terlihat imut. Dasar pembohong," Sean mengkritiknya. Anak itu mungkin sedang melucu, tapi tak bisa membuat Sean tertawa.
"Aku hanya memuji, bukan berarti pujian ku itu adalah kebenarannya!" ucap Jessica meninggikan suaranya.
Sean mengalah untuk berdebat. Bukan karena dia kalah, tapi, dia malas berkata lagi. Oh, lidahnya akan keseleo jika terus berkata.
"Hentikan bualan kalian," tegur Amuria. Di depan sana ada jalan yang biasa di lalui. Di sana penuh jebakan. Ingat, apapun yang terjadi, jangan pernah lengah."
"Bosan mendengar dia berkata seperti itu," kata Jessica mengumpat pelan.
Dari semak-semak di belakang ke empat makhluk itu, ada sesuatu yang bergerak. Mengguncang daun-daun, menarik perhatian.
"Siapa di sana?" Jessica lebih dahulu menyadari.
"Waspada! Mungkin mereka mengetahui ada yang memasuki hutan ini," kembali Amuria memperingati.
Mereka yang di maksud oleh Amuria adalah si kerdil yang menjengkelkan. Kaum manun yang sombong. Si pria-pria yang bangga akan ketampanan mereka, walau sekarang tinggal ceritanya saja.
Sean mencabut pedangnya, dia bersiaga. Pohon-pohon kecil itu bergerak. Sean memicingkan matanya, memasang kuda-kuda yang kuat, siap bertarung dan siap menebas-nebas musuh yang datang. Tapi, kemudian sekonyong-konyongnya, yang keluar bukanlah siapa-siapa. Hanya.... Tikus-tikus kecil yang numpang berlalu.
"Huh," Jessica menyeringai. "Aku pikir siapa?" ucapnya lega.
Sean yang memasang kuda-kudanya tadi, kini bisa bernafas agak lega dan bebas. Di pikirnya siapa, lalu dia kembali berdiri normal. "Makhluk pengerat yang menjijikan," umpatnya kesal.
Amuria berpikir itu si kerdil yang rakus. Ternyata, hanya segerombolan hewan pengerat tak berguna. "Ayo, kita lanjutkan perjalanan ini," ajaknya. Dia tidak khawatir lagi, tadi dia sempat merasa sudah siap bertarung dengan kecemasan.
__ADS_1
Jalan— yang di lalui, mengerikan. Tak ada yang bisa menarik perhatian. Yang ada hanya kegelapan dan kesunyian. Mereka melangkah sedikit demi sedikit. Menyusuri jalan di tengah hutan, hanya ada kunang-kunang yang mereka temui.
Mata Sean, menelisik pohon-pohon yang menutupi langit. Oh, Sean nampaknya ragu. Dia merasa pohon-pohon itu mengasingkan diri dari langit. Tak ada satupun awan yang terlihat, hanya daun-daun di tengah kegelapan yang nampak.
Karena pandangan di tengah gelapnya malam sangat terbatas, tanpa sadar, Sean dan Jessica masuk dalam lubang yang tak terlihat. Di ujung— jalan yang menyimpang ke kiri dan ke kanan itu. Ah, tidak, bagusnya adalah persimpangan.
AH......
Kedua remaja itu terperosok hingga tak meninggalkan jejak sedikitpun. Hanya erangan dan teriakan mereka yang terdengar.
"Sean, Jessica!" Driyad yang jalan di depan mereka, tak menyadari anak-anak itu terperosok. Padahal dia melalui jalan yang sama sebelum mereka. Kenapa dia tidak terkena jebakan itu. Lubang besar yang di tutupi dedaunan itu, tidak muat untuk tubuh Driyad.
Dia mengintip, kedua anak itu sudah hilang di telan lubang kesialan ini.
"Celaka! Penyihir buta pasti yang sudah melakukan ini," ucap Driyad. Dia tidak menebak, kecurigaannya hanya mengarah pada makhluk menjijikan itu.
"Apa yang harus kita lakukan?" Amuria meminta saran. "Aku khawatir pada kedua anak itu. Si penyihir buta pasti berulah jika mendapatkan mereka."
"Menemukan tempat persembunyian," kata Driyad ber—gagas. "Apa kau tahu di mana gua tempatnya tinggal?"
Amuria berpikir sejenak. Mengingatkan kembali di mana terakhir kali dia mengetahui tempat penyihir buta itu. "Di gua anak gunung," katanya yang mulai teringat. "Ya, aku ingat. Dia ada gua anak gunung."
"Kalau begitu, sebaiknya kita bergegas kesana sekarang!"
Tidak perlu memikirkan tentang hal-hal lain, menyelamatkan keduanya. Mereka bergegas tergesa-gesa, seberapa lama ingin kesana harus bisa di lalui.
Driyad mengekori Amuria yang menuntunnya jalan di depan. Lalu, mereka hilang di balik gelapnya hutan di persimpangan jalan setapak.
Di balik tanah yang menyusuri kedua anak itu. Teriakan "AAAA" nampaknya makin memanjang seiring memanjang—nya lubang yang mereka lalui.
Batu berkerikil, kadang kasar, kadang kala ada yang halus. Tanah-tanah itu membawa mereka ke suatu tempat. Bokong-bokong itu terasa seakan ingin terbakar karena gesekan tanah. Awan debu mengambang di belakang mereka, bukti bahwa sisa-sisa mereka terperosok.
Hingga lubang curam tanpa penghalang itu, mengantarkan anak-anak di tempat bebatuan.
Akh! Sean menahan sakitnya kepala akibat terbentur di batu. Beruntung tidak bocor, hanya sedikit memar dan membuat Sean agak pusing sedikit. Jessica memegang pinggangnya, serasa ingin patah ulah kecerobohan itu. Dia merasakan hal yang sama, sakit akibat terjatuh dari lubang di atas mereka.
"Auh..... Pinggang ku serasa ingin copot!" keluhan Jessica ini terabaikan. Sean sendiri masih merasa pusing karena benturan itu.
Lalu, sesaat kemudian Sean sadar. Mereka masuk kedalam sebuah goa. Gelap, tapi ada beberapa lampu api yang bersinar di sudut-sudut goa.
"Ini di mana?"
Di telisik oleh Sean seluruh tempat ini. "Kita sepertinya ada di suatu tempat. Goa berbatu," ucapnya yakin. Setelah melihat-lihat, benar, —mereka ada di goa.
Saat berdiri normal, tubuh-tubuh itu terasa tidak normal. Mungkin sakit tadi karena terbentur keras menyebabkan kekacauan ini. Semua yang terlihat terasa berputar.
Dari lorong goa yang agak gelap, tiba-tiba terdengar suara gemuruh. Gedak, geduk, gedak, geduk. Tak, tak, tak, tak.
Suara langkah kaki. Mirip hentakan kaki kuda, tapi jumlahnya terdengar ramai. Berisik, gaduh dan riuh. Sean mendengar dengan jelas bahwa ada makhluk yang mencoba mendekati mereka.
"Berhati-hatilah," Sean memperingati.
Jessica mengangguk, dia sudah bersiaga. Lalu, dari setiap lorong keluar beberapa makhluk kecil-kecil. Seukuran bayi berusia rangkak. Tubuh mereka berwarna putih kekuning-kuningan. Seperti warna patung yang ada di sepanjang jalan kota Yunani. Tak ada pakaian yang mereka kenakan, mereka telanjang dada.
Tak ada kelamin yang terlihat, sehingga tak bisa membedakan mana wanita mana pria. Sean ingat, kalau makhluk kerdil itu semuanya pria dari kaum desa manun. Jalan mereka miring ke kanan ala jalan kepiting tapi sekilas seperti jalan para gorila. Sean pikir jumlah mereka ada puluhan, namun nyatanya mereka ada ratusan—bahkan ribuan. Mereka mengepung, dari segala arah.
"Oh, makhluk apa ini, Sean?"
"Aku juga tidak tahu," jawab Sean singkat. Baru kali ini bagi Sean melihat makhluk seperti ini.
RAUKK!!!
__ADS_1
Suaranya amat mengerikan, mereka seperti siap menerkam. Salah satu makhluk kerdil itu meloncat ke udara, dia ingin menyerang.
Sean dengan sigap langsung membidiknya dengan pedang. Lalu menghempaskan tubuh kecil itu ke segala arah.
Melihat satu makhluk kerdil terkapar, makhluk kerdil lainnya ikut menyerang.
ROARK!! Suara itu meraung-raung. Sambil mengerang mereka ingin menerkam.
ZRING! ZRING! Sean menebas tubuh-tubuh kerdil itu. BRUKK! PRAK! Satu persatu mereka hancur di tangan Sean.
"Berhati-hatilah Sean, mereka semakin banyak!" Jessica memperingati. Dia membelakangi Sean— sambil membidik makhluk-makhkuk menjijikkan itu.
"Bagaimana cara mengalahkan mereka. —Mereka sangat banyak! Kita kalah jumlah!" keluh Sean pada Jessica.
"Aku pun tak tahu. Serang saja, jangan biarkan mereka menangkap kita!" balas Jessica tak putus asa.
Gubrak! Bruk! Suara-suara itu melejit di sudut-sudut goa. Makhluk-makhluk kerdil ini memang lincah dan gesit. Sean di buat kewalahan menghadapi mereka.
Sean agak mulai lelah, mungkin ratusan makhluk itu sudah mati di tangannya. ROARK!! Suara itu masih tak menyerah. Jumlah mereka ribuan. Mati satu, maka akan muncul lagi yang lebih kuat.
Sean semakin berang, kelelahannya membuat Sean agak sedikit bersemangat. Pedang besar berwarna merah-nya itu, dia angkat ke atas. Setinggi-tingginya di udara, lalu dia siap menghujam siapa saja makhluk kerdil yang ingin menyerangnya itu.
"Argh!!" suara erangan Sean tak terbendung. Di ayunkan pedang yang di angkat tinggi di udara itu. "Matilah kalian!" teriakan kemarahan Sean ini memuncak. Pedang itu menghujam tanah, hingga badan-badan kerdil itu terbang berantakan di udara.
GUBRAK! BRUKK!
Tubuh-tubuh kecil itu berhamburan di udara, mental entah kemana, sembarang tempat.
Hosh! Hosh! Hosh! Suara nafas Sean terdengar memburu. Kekuatan penuh ini membuatnya makin lelah. Energinya semakin terkuras melawan si makhluk bau.
ROAR! Satu makhluk mencoba menyerang Sean, namun tak lama. Sean menginjaknya hingga tak bernyawa. "Mereka makhluk yang sulit di hadapi!" ucap Sean. "Mereka semakin banyak."
"Bahkan di depan ku sudah muncul lagi Sean," balas Jessica. Di lorong-lorong gelap itu, si makhluk bertubuh kecil yang berjumlah ratusan itu kembali keluar. "Ah, mereka sepertinya di kloning. Banyak sekali jumlah mereka."
"Seperti Amoeba," kata Sean gamblang. Ya, mereka seakan mampu membelah diri. Tak ada habisnya yang datang.
Sean melihatnya, mereka tak terhitung jumlahnya. Walau Sean sudah menumpas-kan ratusan, tapi ini belum cukup untuk menghentikan serangan mereka.
Sean kembali mengangkat pedangnya. Dia kembali bersiaga walau peluh keringat sudah membasahi badan.
"Bersiaplah! Mereka semakin tak terbendung jumlahnya!" kata Sean pada Jessica yang ada di belakangnya.
Jessica mengangguk. "Jangan pikirkan aku. Mereka pasti akan aku kalahkan dalam satu serangan," ujar Jessica bersemangat.
Jalan makhluk-makhluk itu agak melambat, jumlah mereka yang ratusan membuat tanah di goa itu agak bergetar. Mereka kemungkinan ingin berhenti bertindak, apalagi melihat kawanan mereka sudah terlihat banyak yang terkapar.
Saat Sean ingin bersiap mengayunkan pedangnya, tiba-tiba keluar ratusan kelelawar yang terbang merendah dari salah satu lorong goa.
Cit—Cit—Cit! Suara kelelawar terbang yang terdengar seperti terusik oleh seseorang. Lalu, mendadak karena melihat kelelawar terbang tak tentu arahnya, para makhluk kerdil itu tiba-tiba saja berubah menjadi agak ketakutan. Tak lama kemudian mereka tak lagi mendekati Sean, justru merasa seperti tertekan.
Dari balik sisi goa yang gelap gulita, tiba-tiba saja terdengar suara tawa terbahak-bahak.
"Ha-ha-ha," suara ini menggema di penjuru sudut-sudut goa. "Dia adalah mangsa ku! Kalian pergi. Biarkan aku yang menikmatinya!"
Suara ini tiba-tiba saja membuat makhluk kerdil yang berjumlah ratusan itu ketakutan. Hanya suara, tidak ada rupa yang nampak.
Hanya dengan suara itu, makhluk-makhluk itu entah kenapa langsung lari tunggang langgang. Meninggalkan Sean dan Jessica, tidak lagi berani mendekat.
"Ada apa ini Sean? Kenapa mereka tiba-tiba saja pergi?" ucap Jessica keheranan. Makhluk itu benar-benar misterius.
Sean mengangkat kedua bahunya. Lalu menjatuhkan ujung pedang yang berat ke tanah secara kasar. "Aku rasa dia telah datang!"
__ADS_1
BERSAMBUNG
Jangan lupa tinggalkan like dan komentar kalian yah. Sekalian kasih rating, novel ini anjlok parah turunnya. ^^