
KILAUAN EMAS VOL.6
"Aku tak mengerti apa yang kau maksud Sean? Cahaya? Cahaya apa yang kau maksud! Aku tak paham atas apa yang kau ucapkan!" Jessica menuntut penjelasan.
Namun Sean hanya menuruti kehendaknya.
Ia dengan instingnya menyusuri lorong karena dirinya yakin apa yang ia lihat itu seperti nyata.
Sean menghentikan langkahnya, memutar balik tubuhnya lalu mendekat pada Jessica dan tanpa ragu ia memegang bahu Jessica.
"Dengarkan aku baik-baik! kita sudah berjalan sejauh ini. Dan aku melihat cahaya itu! Maksud ku adalah ruangan bercahaya. Ah, tidak lebih tepatnya ada ruangan yang terang tak jauh dari sini. Jadi kita harus cepat kesana." Sean meyakinkan Jessica dengan ekspresi wajah yang serius.
"Tunggu! bagaimana kau bisa tahu jika ada ruangan lain disini. Apakah ada ruangan lain yang lebih bercahaya dari ruangan gelap gulita ini. Apakah kau bisa melihat masa depan?" Jessica hanya ingin memastikan ucapan Sean karena ia benar-benar belum yakin atas apa yang Sean katakan.
"Tidak. Maksud ku, Aku hanya asal tebak saja? lagi pula seperti ada di film-film bahwa akan ada ruangan yang terang setelah melewati ruangan gelap! Ya kurasa lebih mirip seperti ada di film scooby doo. Semuanya pasti akan berlalu setelah berjalan melalui tempat yang gelap?" Ucap Sean dengan kemampuan alaminya berbicara bahasa santai dan ekspresi datar.
"Apakah begitu? Scooby-Doo bukanlah film yang buruk. Setidaknya aku bisa belajar dari film itu bahwa jika ada gelap maka terang akan terbit, lebih tepatnya kita seperti Scooby-Doo yang terjebak dalam perjalan waktu bersamaan dengan munculnya berbagai misteri. Jika iya maka ayo kita melanjutkan perjalanan ini dengan euforia yang menggebu!" Seru Jessica setuju pada ucapan Sean. Gadis ini mulai semangat saat Seiya sekata pada Sean.
"Ayo lewat sini!" Ucap Sean seperti yang sudah paham tempat itu.
Pikiran Sean makin bingung bagaimana bisa ia tahu jalan di lorong goa itu hanya dengan mengikuti nalurinya, sementara dirinya bahkan sekalipun belum pernah menginjakkan kakinya di sini.
Apakah dirinya benar-benar ada yang menuntun sejauh ini.
Ataukah ini perbuatan malaikat pelindungnya?
Sean merasa sangat ambigu jika terus memikirkan hal ini.
"Apakah aku bisa melihat masa depan?" Tanya Sean dalam hati. Dia benar-benar bingung menanggapi semua hal yang telah terjadi sejauh ini. Untuk sesaat Sean terpaku pada pemikiran siapa dirinya sebenarnya. Selalu ada tanda tanya setiap langkah yang ia lakukan.
"Hei Sean! Kau benar! Lihatlah disana! Di ujung lorong ada cahaya. Aku rasa itu adalah sinar matahari pagi." Mata Jessica penuh kejelian melihat sinar yang menyeruak masuk kedalam lorong yang gelap.
Hatinya sangat gembira bisa menemukan jalan keluar dari tempat sunyi ini.
Dia mencolek Sean dan menunjukan cahaya yang di maksud pada remaja pria yang berdiri di sebelahnya.
"Apakah benar bahwa itu sinar matahari pagi? Apakah sekarang sudah pukul sembilan!" Ucap Sean dengan ekspresi kurang yakin.
"Ah, aku pikir demikian. Lagi pula bukankah kita inginkan jalan keluar kan? Lalu menemukan Edward setelahnya pulang. Ya begitulah rencana awal kita kan. Bahkan aku tak mau kesana kemari lagi terjebak dalam tempat yang begitu asing seperti ini!" Tegas
Jessica sembari dengan semangat melanjutkan langkah kakinya menuju sumber cahaya.
Sean hanya mengamati bayangan punggung temannya itu, lalu ikut melangkahkan kakinya mengekori Jessica yang lebih dahulu menjejakkan kaki jenjang dengan jalan yang luar biasa seperti orang yang tergesa-gesa.
Seperti orang yang sedang di buru oleh waktu yang begitu terbatas.
"Wah! Aku pikir ini adalah sinar matahari pagi, ternyata..." Jessica tak percaya apa yang ia lihat.
__ADS_1
Apa yang ia harapkan kini jauh dari bayangan imajinasinya usai melihat cahaya yang menyeruak bersinar terang itu.
Antara takjub dan kecewa, tak tahu ekspresi apa yang di pakai oleh wajah Jessica untuk mengungkapkan apa yang ia lihat.
Sementara Sean telah menduganya bahwa itu bukanlah sinar matahari yang masuk kedalam lorong goa yang amat gelap begitu saja.
"Kau lihat Sean tempat ini ternyata adalah timbunan emas. Cahayanya menyerupai sinar matahari. Aku tak percaya ini! Tempat ini sungguh membuat ku gila? tempat macam apa ini, di semua tempat emas berkilauan berserakan di mana-mana. Aku rasa aku benar-benar berkhayal diluar imajinasi ku." Bicara Jessica seakan-akan apa yang ia lihat hanya mimpi.
Ia memegang kedua kepalanya, berharap itu hanya sebuah imajinasi yang sekilas terlintas di pelupuk mata. Semacam fatamorgana yang ada di oasis, bahkan gadis ini mengharapkan imajinasi ini akan menghilang sesegera mungkin.
Ia memukul-mukul wajahnya, menamparnya bahkan mencubit wajah itu seakan memintanya sadar.
"Sadarlah ini hanya ilusi. Ini hanya mimpi semata. Sadarlah Jessica!"
Sean yang melihat Jessica menyakiti diri sendiri, menepis tangan nakal yang mulai berulah manja.
"Hei, ini bukan mimpi atau pun ilusi semata. Tapi ini nyata! Nyata. Kau lihat semua ini, emas semua barang berharga ini di gunungkan."
Mata Jessica mulai terbelalak setelah sean mengatakan hal itu adalah kenyataannya.
Ia sedikit kaget karena Sean menganggap itu benar-benar nyata bukan ilusi maupun imajinasinya semata.
Itu artinya Sean sependapat dengan dirinya yang berpikiran gila itu.
"Aku kira hanya aku yang melihat tempat ini penuh dengan gunungan emas. Ternyata kau juga sama melihatnya," Ucap Jessica mulai tahu keberadaan tempat ini. Tempat yang memang bukan fatamorgana yang di kejar sekali langsung lenyap begitu saja. Tempat yang menipu mata manusia bagai ilusi optik yang krusial.
Jessica kini telah menangkap ucapan Sean dengan cermat. Gadis ini makin di buat menggila saat mengetahui kenyataan bahwa dia bisa melihat timbunan emas secara langsung.
Keduanya melangkah merangkak masuk kedalam mahligai emas.
Lebih tepatnya mirip seperti sebuah istana namun amat kecil ukurannya, dimana semuanya terlihat berkilau karena terbuat dari emas terbaik di masanya.
Terdapat singgasana emas, tiang penyangga emas, bahkan lantai yang mereka pijak terbuat dari emas.
semuanya adalah emas.
"Apakah ini bekas istana?" tanya Jessica pada Sean.
"Aku rasa ya. Terlihat dari semua sisi tempat ini lebih mirip kediaman seorang pendeta, kuil persembahan atau semacamnya." Sean menjawab dengan menerka seisi ruangan.
Terdapat tiga patung yang berdiri kokoh.
Dimana kedua patung berada di sisi kanan dan kiri sedangkan satunya lagi menjorok masuk kedalam seperti membentuk segitiga.
Terbuat dari emas, semuanya sangat berkilauan.
mereka memeriksa semua benda yang ada di dalam tempat yang lebih mirip sebuah kuil penyembahan ketimbang istana.
__ADS_1
"Semua tempat ini kenapa memiliki lambang ini?" Sean bergumam pada Jessica seraya menunjukan lambang yang ia maksud.
"Lambang bunga lotus? ada apa dengan stempel ini? apakah kau pernah melihat stempel ini sebelumnya?" Jessica bertanya-tanya pada Sean.
Bejana yang Sean pegang seperti akrab dalam ingatannya.
"Aku pernah melihat ini? seperti tidak asing!"
Sean mencoba mengingat-ingat kejadian apa yang berhubungan dengan bunga lotus.
Matanya mulai berkaca-kaca, mencari sumber pengetahuan yang harus ia terka dengan teliti.
"Aku ingat, di rumahku semacam ini ada begitu banyak. Semua alat dapur ibu ada stempel semacam ini. Terakhir kali ibu berkata tak tahu apapun tentang ini. Apakah semua ini berkaitan!" Sean mengucapkan pertanyaan yang ia simpan beberapa hari terakhir.
"Benarkah di rumah mu ada stempel semacam ini. Maksud ku semua perkakas ibu mu ada cap seperti ini." Dengan ekspresi nakalnya Jessica bertanya akan kebenaran cerita Sean.
"Ya, aku yakin itu. Tapi ibu bilang tak tahu apa-apa? Mungkinkah ini semua ada misteri yang perlu kita gali?"
Namun Jessica malah memberikan senyuman pahit usai mendengar pernyataan Sean yang terlalu berlebihan.
Bwa-Ha-ha-ha-ha-ha.....
"Kau sangat lugu Sean!" Entah apa yang di ucapkan Jessica bahkan tak ada hal yang lucu ia tertawa bahagia atas cerita Sean.
Sesekali ia menyeka air mata harunya atas tawaan yang berlebihan usai meledek Sean.
"Aku. Aku tak percaya jika kau masih percaya misteri fiktif ini. Bahkan harus menggali misteri semacam ini." Lanjut Jessica bicara dengan nada konyol seolah sedang meledek Sean.
"Dengarkan aku baik-baik Sean. Di rumah ku perkakas semacam ini, banyak sekali tipe bunga lotus ini. Dan ya, harus ku akui bahwa di pasar swalayan hingga new York Times square Mall pun menjual perkakas jelek macam ini dengan harga amat murah. Lebih tepatnya kau bisa mendapatkan lempengan jelek ini di seluruh daratan Amerika. Jadi tak ada misteri apa pun disini. Kau pasti tahu itu."
Jessica bicara sambil meperagakan dan mengambil bejana emas yang di pegang oleh Sean.
"Ibu ku sebelum meninggal, ia suka mengoleksi benda-benda semacam ini bahkan ibu ku amat jatuh cinta dengan lempengan bejana ini. Dan kurasa kau terlalu berlebihan dalam menanggapi stempel jelek ini."
Seolah dirinya seorang yang berkuasa dan paking benar, Jessica membuang bejana yang ia pegang dengan sangat angkuh dan congkak bagai seorang raja yang diktator merajam kaum lemah.
Sedangkan Sean hanya menahan rasa sewotnya pada Jessica karena telah mematahkan imajinasinya.
Mungkin menurut Sean ia ingin jauh-jauh dari wanita yang telah menghancurkan fantasinya yang telah lama ia simpan dalam ingatannya itu.
BERSAMBUNG.
**
**
**
__ADS_1
**
SARANJANA EPISODE 22