
Sean menahan sakitnya benturan akibat kekuatan Medika. Dia sedikit terkulai lemah.
"Kau!" Sean bicara dengan nafas tersengal. "Tindakan kejahatan mu akan segera berakhir, wanita tua!" Sean berkata meledek. "Kau akan berakhir hari ini."
Perkataan Sean ini sangat memancing amarah Medika. Dia tidak menerima jika harus mengakui kejahatan secepat ini.
Kembali dengan kekuatannya yang keluar dari tongkat hitamnya, dia melancarkan serangan pada Sean.
"Kau harus di bungkam, agar tidak bicara omong kosong!"
Medika mengarahkan bola sihirnya pada Sean. "Atau seumur hidup, kau akan menderita!"
Sean menghindar dengan cepat. Dengan sisa-sisa tenaga yang masih ada, sebisa mungkin dia tidak boleh terkena bola sihir wanita itu.
"Rupanya kau masih punya nyali melawan ku!" Medika menyeringai tersenyum licik. "Aku semakin tertantang untuk menyerang mu!"
Kali ini dia melancarkan serangan demi serangan pada Sean melalui kekuatannya. Sean berulang kali menghindar dari serangan wanita itu.
Dengan lincah dan gesit, Sean mampu mengatasi sihir Medika.
Medika geram karena semua serangannya berhasil terhindar oleh Sean. Dia mulai murka dan batas sabarnya sudah tak bisa terbendung lagi.
"Aku sudah muak dengan permainan ini." Medika menggertak marah memuncak. "Kali ini, tak akan ku biarkan kau lolos dari serangan ku. Kau harus menerima akibat dari serangan ku ini!" Dia berteriak dengan nada tinggi.
Entah apalagi yang akan di lakukannya, Medika mengeluarkan sihir melalui tangannya. Seperti ada bayangan hitam yang keluar dari aura tubuhnya, Sean tak paham.
"Wahai para makhluk gort. Keluarlah kalian. Bantulah aku melenyapkan anak-anak terkutuk ini."
Medika mengucapkan sebuah mantera.
Sesaat setelah berkata demikian, beberapa makhluk aneh dan menyeramkan keluar entah dari mana asalnya. Makhluk berwujud seperti serigala namun bertubuh manusia berwarna hitam legam bagai bara yang telah hilang apinya. Lebih mirip aspal jalanan, Sean melihatnya begitu.
Mereka meraung-raung, tatapan dendam ada di mata makhluk mengerikan itu.
"Sean! Berhati-hati! Mereka adalah gort!" Driyad memperingati Sean.
Mereka menyerang Sean, melompat-lompat menggeliat menuju arahnya. Sambil suara raungan keluar dari mulut mereka. Suara ngeri mirip suara singa di padukan dengan suara serigala.
Tak ada pilihan lain bagi Sean selain menghindar. Tetapi setelah menghindar, Sean tak tahu apalagi yang akan ia lakukan.
Tubuhnya terkena Sambaran tangan gort. Sean terpental kembali, tubuhnya melayang di udara.
__ADS_1
Suara keras terdengar saat tubuhnya untuk kedua kalinya terpental di dinding.
Jessica melihatnya, dia tidak bisa tinggal diam. Jessica berusaha melindungi tubuh Sean yang sedikit lemah. "Hentikan!" Jessica menutup tubuh Sean. Dia membuka lebar tangannya. "Jika kalian melangkah kaki selangkah saja, maka aku pastikan kalian akan membayarnya!"
"Jangan berharap kalian akan selamat anak-anak lemah!" Medika menyahut. "Para gort, bunuh mereka tanpa terkecuali."
Para gort mendekati mereka berdua perlahan.
Terlebih para gort tak bergeming. Dia semakin tertantang untuk membunuh Sean bahkan Jessica sekali pun.
Roark....
Suara mengerikan itu keluar sambil ingin menerkam Sean dan Jessica.
Tepat sebelum serangan itu mendarat, tiba-tiba saja tiga makhluk itu melayang di udara, mematung tak bergerak.
Seketika para gort berubah menjadi bunga berwarna merah muda yang bermekaran lalu terlihat rontok seperti jatuh dari tangkainya, mirip musim gugur. Di ikuti dengan datangnya seorang wanita cantik berbau harum. Sean mengenalinya, dia adalah Dewi Handita.
Tubuhnya melayang di udara. Perlahan ia menurunkan kakinya memijak lantai helian.
"Medika yang malang!" Dewi Handita bicara dengan nada sombong. Dia menatap wanita tua itu. "Kau telah melakukan kesalahan dengan bersembunyi di balik topeng tua itu."
Medika terlihat terkejut saat melihat kedatangan Dewi Handita. "Bagaimana mungkin anda bisa datang kemari Dewi Handita!" Medika kebingungan. "Aku telah memagari sadon dengan mantera helian, bagaimana bisa kau masuk dan melepaskan mantera itu."
Dengan kekuatan dari jemarinya, dia mengangkat tubuh Sean. "Aku sengaja menempatkan Sean masuk kedalam ruangan helian ini, agar dia bisa membukakan mantera ini untuk ku."
"Kurang ajar! Kau anak yang harus ku bunuh!" Medika berseru. Dia ingin melepaskan seluruh kekuatan jahatnya dan melampiaskan kekesalannya pada Sean. "Kau diam-diam ternyata bekerja di bawah perintah Dewi Handita. Aku tak akan membiarkan kau keluar dari sadon dengan selamat."
Dewi Handita dengan cepat mematahkan kekuatan sihir Medika. "Kekuatan mu tidak ada artinya Medika!" Dewi Handita melempar tubuh Medika sama halnya seperti yang dia lakukan pada Sean.
Dia terpental di dinding. Rasanya mau patah tulang belakangnya.
"Uhuk...." Wanita itu memuntahkan darah segar. "Tak ku sangka. Akhirnya semua rencana jahat ku terbongkar!" Dia bergurau menahan sakit di dadanya. Medika tertunduk lemah.
"Ya. Kau menyadari bahwa Sean bisa membaca manuskrip herenoid. Kau menggunakannya untuk tujuan jahat mu. Kau memanfaatkan Sean seperti halnya kau memanfaatkan kepolosan Volinia." Dewi Handita mengungkapkan niat jahat Medika. "Sudah lama aku mengharapkan ini semua terungkap."
"Aku melakukan semua itu karena ingin mengembalikan kejayaan wanita manun." Sambil menahan sakit di dada, Medika berusaha kuat. "Aku.... Sangat muak dengan kalian para Dewi kecantikan. Kalian memiliki segalanya, tetapi kalian malah mengutuk kami dengan wajah tua bahkan kalian menyalahkan kami karena berupaya menjadi penyihir. Kami melakukan pencurian terhadap kitab sihir kalian. Dan kalian menganggap kaum manun adalah makhluk yang hina." Medika menyeringai tertawa menggelikan. Walau rasa sakitnya mengalahkan dirinya sendiri, namun keberaniannya tak gentar.
"Kalian.... Ehm... Harus tahu." Dia menatap Dewi Handita dengan tatapan dendam. "Para wanita manun sangat membenci kalian Dewi-Dewi berparas cantik. Karena ulah kalian, para manun harus tersiksa. Aku mengutuk kalian!" Dia berteriak sambil melepaskan sebuah belati. Dia ingin menghujam Dewi Handita dengan belati rahasia yang telah ia lumuri dengan racun dari pulau Hurian. Pulau yang terkenal dengan tumbuhan dan hewan beracun paling mematikan.
Namun sayang, belati yang ia lemparkan itu salah mengenai sasaran. Belati itu tertancap tepat mengenai salah satu Marmaida bernama Evra. Dia adalah Marmaida mata-mata Medika.
__ADS_1
Wanita bertameng wajah tua itu mengadakan kerja sama dengan Evra.
Dewi Handita menyembunyikan pengkhianat danau Osirus itu dan sengaja menjadikannya sebagai sasaran senjata beracun Medika.
"Evra!" Medika memekik. Sesaat setelah melihat mata-matanya mati di hadapannya. Dia amat kaget melihat apa yang seharusnya tak ia lihat.
Dewi Handita mencekik leher Marmaida malang itu, menggantungnya lalu menjadikannya sebuah tameng melindungi diri dari serangan belati beracun Medika. Lalu Dewi Handita bagai seorang Dewi tanpa hati langsung menjatuhkan Evra tepat di hadapan Handita.
"Itu adalah hasil yang harus di bayar oleh pengkhianat seperti dia!" Dewi Handita berkata bagai tirani.
Kau!" Medika menunjuk Dewi Handita. Dia amat mendendam melihat kekejaman Dewi Handita.
"Bekerja sama dengan Evra, diam-diam mematai kehidupan duyung di olympia lalu melaporkannya pada Medika." Dewi Handita mengungkapkan keburukan kedua makhluk itu. "Aku sengaja mengatakan bahwa Sean adalah orang yang bisa membaca manuskrip orang-orang helian di depan Evra, agar dia memberi tahu mu, bahwa yang kau tunggu-tunggu telah tiba."
"Jadi selama ini kau sengaja pura-pura tak tahu bahwa aku diam-diam memata-matai olympia!" Medika menebak. Dia sudah paham jalan cerita ini.
"Benar sekali!" Dewi Handita mengangguk membenarkan tebak-kan Medika. "Kau bisa melihat tanda lotus di dahi Sean, itu karena aku yang membiarkannya tetap terlihat oleh orang-orang yang memiliki kemampuan tinggi. Aku sudah tahu bahwa kau menginginkan anak itu!"
"Bagaimana ini bisa terjadi!" Medika tak bisa mengetahui rencana ini sejak awal. Dia tidak bisa membayangkan bahwa dirinya telah di bodohi oleh sikap tak peduli Dewi Handita yang tak mau ikut campur dunia darat.
"Kau bekerjasama dengan pimpinan gort. Dan hari ini aku akan membuka tabir kepalsuan dalam topeng mu itu!" Dewi Handita menjentikkan jarinya. Dia dengan segera mengubah wajah Medika yang semula paruh baya menjadi wujud aslinya.
Medika berubah menjadi sangat cantik. Kisah sebenarnya yang terjadi adalah, saat itu Medika adalah pelayan di sadon. Ketika kaum manun berlomba-lomba dalam memamerkan kecantikan mereka, hanya Medika yang tak pernah peduli pada kecantikan dan wajahnya.
Dia adalah pelayan yang baik dan peduli pada tanggung jawabnya sebagai pengurus istana sadon.
Namun saat mendengar bahwa kaumnya di kutuk, dia berubah menjadi sangat membenci ketiga Dewi kecantikan yaitu shades, Rhodes dan Handita.
Kemudian Medika menghilang dari sadon tidak lama setelah kaum manun mendapatkan kutukan.
Hingga pada akhirnya sadon melupakan seorang pelayan kebanggaan mereka.
Medika yang dulunya berwajah cantik bernama Uli, menghilang dari sadon. Namun, entah apa yang terjadi, tiba-tiba penjaga manuskrip bernama Volinia menghilang lalu di gantikan oleh Medika.
Banyak yang menentang dia menjadi penjaga tingkat atas di ruangan manuskrip helian. Tidak tahu apa yang terjadi, walau dia sempat di protes agar tidak menjadi penjaga helian, Medika tetap menjadi penjaga tingkat atas, tanpa persetujuan dari lord shutanhamun.
Hal ini membuat kecurigaan. Dan Dewi Handita sendiri telah menyelidiki bahwa Medika adalah Uli. Dia menghilang selama beberapa tahun terakhir, dan muncul dengan wajah baru dan identitas baru sebagai Medika yang tua.
Dia datang ke tanah Lorde de gort. Dia meminta bantuan di sana dan mengubah sepenuhnya penampilan muda menjadi tua.
Saat Sean memasuki kota ini, dia sudah merasakan aura Sean tepat di depan pintu gerbang desa manun yang megah. Dia menghampiri Sean, meminta bantuan padanya dengan wajah tua polosnya itu.
__ADS_1
BERSAMBUNG