
Ya, ya, ya, yaleya, ya, ya. Yaleaya, ya.
Dari atas bukit, terdengar suara merdu sekumpulan orang-orang yang tengah bernyanyi ria. Jessica dan Sean yang mendengarnya, merasa lagu itu amat nikmat untuk di dengar.
"Kau dengar. Suara ini sangat enak di dengar. Seperti alunan paduan suara." Jessica memberitahu, suara ini membuat Jessica begitu nyaman kala mendengarnya.
"Aku merasakan hal yang sama dengan mu," ucap Sean senada. "Begitu merdunya konsonan nada-nada ini."
"Tapi, dari mana asal suara ini?"
Sean juga berpikir begitu. Suara seindah ini, entah dari mana asalnya. "Suara ini terbawa oleh angin. Sepertinya suara ini berasal dari balik bukit sebelah sana," tebak Sean demikian.
"Apa sebaiknya kita lihat saja. Mari kita pastikan," ajak Jessica berinisiatif.
Sean mengangguk. Suara itu benar-benar membuatnya seakan terbuai hingga lupa akan hal-hal lainnya.
Sean menyusuri sisi lain bukit. Di atas tebing tinggi, suara yang merdu itu berasal dari sebuah kampung yang ada di bawah kaki tebing berumput amat hijau ini. Suara itu sangat memikat, hanya sebuah lagu berirama indah seperti ini, mampu menarik anak-anak itu untuk terus menguping nada-nada ini. Mereka berdiri di puncak bukit ini.
"Apa itu sebuah perkampungan, Sean?" tanya Jessica. Dia bergumam takjub, ada perkampungan di tengah hutan ini.
"Di lihat dari bentuknya, aku rasa memang benar-benar perkampungan," jawab Sean. Mata Sean jelas melihatnya sebagai perkampungan, di sana terlihat banyak penduduk yang berlalu-lalang.
Dari atas bukit, semua nampak terlihat. Ada banyak orang-orang hilir mudik di sana. Ada domba, ada sapi, ada kerbau yang sedang di gembala-kan. Dan semua nampak, tak begitu modern.
"Sebaiknya kita menuju ke perkampungan penduduk di sana. Kita mencari Driyad di sana saja," Sean menyarankan. Ada baiknya mampir di sana sebentar.
Jessica mengangguk, Sean berpikiran selangkah lebih cepat darinya. Sebenarnya Jessica sudah kelelahan, hanya saja dia menahannya. Mendadak Jessica menjadi semangat saat ada orang-orang yang bisa di temui di hutan ini.
Di tengah perkampungan itu. Lebih tepatnya, di depan pintu masuk yang lebih mirip tugu penyambutan. Ada seperti gapura. Di sisi kanan dan sisi kiri ada kepala hewan seperti banteng, lengkap dengan tanduknya yang masih utuh. Kepala-kepala bertanduk itu menghiasi pintu masuk perkampungan. Tengkorak itu di pasang sedemikian rupa, sehingga tugu-tugu itu terlihat makin garang nan menyeramkan.
Lalu di tengah tiang penyangga dua sisi itu, ada kepala seperti tanduk rusa, tapi itu lebih panjang bahkan lebih berkelas dari tanduk rusa lainnya. Namun itu hanya sebuah ukiran kepala hewan, bukan kepala rusa sungguhan. Di atas rusa, hinggap sebuah burung besar, mirip elang yang di cat warna emas.
Nampaknya tugu gapura itu di bangun dengan sistem yang lebih maju. Sean diam-diam takjub karena di orang-orang non—modern ini ternyata berpikir agak maju. Mereka membangun sebuah bangunan yang terbilang cukup kuat.
Di sebelah Sean dan Jessica berdiri, ada batu besar yang terukir membentuk sebuah gambar. Batu besar bulat itu tertutup oleh rumput hijau dan ada es di permukaannya. Sementara itu ada pohon besar yang meneduhi batu besar itu.
Sean tertarik ingin melihatnya, seakan ada aura tersendiri yang menarik dirinya untuk memperhatikan pahatan itu. Di batu terukir gambar yang tidak terlalu bagus dan tidak juga terlalu jelek. Namun Sean menghargai pencipta ukiran di atas batu ini. Di permukaan batu tergambar jelas dalam pahatan itu ada sebuah gambar yang unik.
Gambar prajurit-prajurit memegang tombak, ada gambar wanita hamil memegang pedang. Ada gambar anak-anak kecil wanita memakai kerudung yang sedang asik bermain, tapi juga membawa pedang.
Ada juga ukiran makhluk lain. Ada yang sedang menyerang makhluk besar dan kadang, saat Sean memperhatikan dengan detail setiap gambar itu, tak sengaja ada gambar ...... Mosarus.
Sean yang melihatnya saja merasakan, ini bukan batu ukiran biasa. Tapi ada sesuatu di dalamnya. Tapi, tidak tahu apa makna dari patung-patung itu. Tempat ini sangat dingin, ada es yang menutupi perkampungan. Dan, orang-orang di kampung ini tidak terlihat, tadi dia melihat dengan jelas dari atas bukit kalau ada orang yang hilir mudik di sana.
Sean mengerutkan dahinya, ada sesuatu di perkampungan ini. Terutama ada kisah-kisah simbolik dari semua yang menonjol pada bagian gapura.
"Tidakkah terlalu aneh. Tadi kita melihat dengan jelas ada banyak penduduk yang hilir mudik di sini. Tapi kenapa sekarang mendadak hilang?"
Sean benar-benar mulai meragukan tempat ini. Ada sesuatu yang lain di rasakan olehnya. Mereka hilang, benar-benar suatu misteri saat mendapatkan perkampungan yang sunyi, padahal sebelumnya Sean melihat orang-orang di sini.
"Apa mungkin ini sebuah fatamorgana?" Jessica menyahut.
Sean menggeleng. "Entahlah. Aku pun bingung. Bagaimana ini bisa terjadi."
"Sangat mengerikan memasuki kampung ini," bisik Jessica. Dia sudah merasakan kengerian dari pintu masuk ini. Di telinga Sean dia berkata, tak bisa membaca situasi dan kondisi, Sean yang merasakan bisikan ini begitu merinding.
"Huh, lupakan saja," Sean mengibaskan tangannya pada Jessica. Lalu berdiri normal setelah melihat ukiran batu besar itu.
__ADS_1
Sean melangkah memasuki pintu, sekilas bukan gerbang. Hanya pintu masuk tanpa pintu kayu di dalamnya. Jalan yang di lalui, di ukir sedemikian rupa dari batu-batu granit berwana abu-abu gelap. Tidak tahu bagaimana cara mereka menyusun batu-batu itu hingga rapi saling bertemu. Yang jelas, permukaan batu itu halus, seperti yang di amplas oleh alat modern.
Rumah-rumah kayu berdiri sepanjang jalan setapak ini. Kerena cuaca dingin, pikir Sean, menggunakan kayu adalah ide yang tepat. Ini bisa membantu menghangatkan badan dari gempuran badai salju.
Sean melirik seluruh rumah-rumah penduduk. Tak ada yang terlihat adanya tanda-tanda kehidupan. Sementara hari mulai menggelap dan angin badai muncul tepat saat mereka ingin menyusuri perkampungan ini.
"Hallou. Apakah ada orang di sini?" Jessica memulai suaranya. Dari tadi yang mereka lihat hanya sebuah rumah-rumah kosong. Tapi, lampunya menyala. Ada lampu-lampu yang menyala, namun tak ada rupa siapa yang menyalakannya. "Apakah kau merasakan sesuatu yang aneh di sini, Sean?" Jessica menatap anak yang terlihat sedang berpikir keras itu.
"Aku merasakan sesuatu yang tak biasa di sini," balas Sean. Dari tadi dia memperhatikan, tapi belum menemukan kejanggalan dari bangunan-bangunan yang tadi sebelum matahari terbenam. Setelah hari menggelap, kenapa semua berubah mencekam. "Sepertinya, dari atas bukit, kita tidak melihat penduduk kampung."
"Hah? Apa yang kau katakan, Sean?" Jessica agak terkejut. Bagaimana bisa bukan penduduk kampung yang dia lihat. "Kau jangan membual dengan lelucon bila mu!"
"Aku tidak membual dengan ide konyol ku," balas Sean. "Aku berkata benar. Kita tidak melihat penduduk kampung di sini tadi siang."
"Kalau bukan penduduk kampung yang kita lihat tadi, lalu siapa?" Jessica ingin tahu. "Apalah sekumpulan kawanan monyet. Atau tadi kita salah melihat?"
"Aku memastikannya lebih dahulu," ucap Sean sedikit bimbang.
Sean mengurut dagunya. Berjalan selangkah demi selangkah. Memperhatikan lagi dengan detail bangunan-bangunan kayu itu yang tengah terlihat usang. Lampu-lampu yang menggantung di teras rumah bergoyang-goyang kesana kemari mengikuti alunan angin. Badai es ini hampir menyapu tempat ini, walau beruntung tidak sampai memporak-porandakan kampung aneh ini.
Perhatian Sean amat mendetail, sebenarnya Sean merasakan keanehan ini sejak melihat ukiran batu di depan sana tadi. Tapi itu hanya dugaan saja, Sean belum bisa mengambil kesimpulan.
***Di batu itu terukir jelas adanya gambar yang di sisipi sebuah simbol. Dan anehnya, dari semua gambar. Kenapa mereka membawa pedang dan sebagainya saat sedang beraktivitas.
Lalu ada gambar mosarus. Ada kepala banteng dan ukiran kepala rusa. Ada anak-anak yang sedang bermain, juga membawa pedang. Setelah itu ada gambar makhluk-makhluk lainnya yang belum pernah aku temui sebelumnya.
Jika di ambil kesimpulan, bisa jadi orang-orang disini adalah—***
Oh, Sean tahu apa yang dia pikirkan. Selama berpikir, misteri itu akhirnya terkuak. Hm, Sean mulai memahami tempat ini. Dan— simbol di permukaan batu tadi adalah sebuah petunjuk. Sean sudah mengerti maksud dari semua ini.
"Ah, aku menemukannya," mendadak Sean menjentikkan jarinya. Wajahnya yang sedari tadi menampakkan ekspresi serius, kini berubah seakan dia membawa solusi.
"Apa yang kau temukan Sean?" Jessica menyahut, merengek meminta penjelasan. "Katakan pada ku," katanya memaksa.
"Sederhana?" Jessica benar-benar makin bingung, sebenarnya apa yang Sean maksud. "Sederhana seperti apa yang kau ucapkan Sean?"
"HM..." Sean mengembuskan nafasnya, dari hembusan itu keluar asap pertanda bahwa cuaca mulai amat dingin. "Orang-orang yang kita lihat dari atas bukit tadi, sebenarnya adalah roh orang-orang mati."
"Hah, roh orang-orang mati?" Jessica kali ini kaget, bercampur merinding. Dia yang berjarak beberapa meter dari Sean, lebih memilih mendekati anak itu. "Kau tak sedang bergurau kan, Sean?"
Sean menggeleng. "Tidak. Aku berkata jujur," katanya memberitahu. Sean lalu ingat saat pertama kali memasuki perkampungan ini. Lebih tepatnya di depan batu besar tadi. Saat Sean mengusap tangannya di ukiran yang tertutup es itu, seperti ada seseorang yang memegang tangannya. "Aku yakin. Yang kita lihat benar-benar roh."
"Ayolah Sean, jangan menakuti ku," rengek Jessica lagi pada Sean. Dia memegang bahu Sean, tak dia lepaskan bahu itu.
"Jika aku tidak salah. Sebenarnya perkampungan ini di sebut kampung mati," Sean menebak. "Orang-orang di sini sudah di bunuh oleh makhluk buas. Di mana kaum lelaki di desa ini kesemuanya adalah prajurit yang di tugaskan di sini."
"Untuk apa makhluk buas membunuh penduduk kampung? Apakah tidak terlalu janggal jika membunuh penduduk kampung?"
"Tidak," Sean berkata pada apa yang dia terka. "Sebenarnya, pembunuhan masal di sini, di sebabkan oleh adanya kekuatan magis di tempat ini. Tidak tahu apa, tapi... Kau bisa merasakan aura membunuh di sini."
"Hm," Jessica yang mendengar penjelasan Sean, sebenarnya tidak terlalu takut. Ada Sean di sisinya, anak itu akan membantunya jika dalam kesusahan. "Bagaimana kau bisa tahu mengenai semua ini, Sean?"
"Mudah saja," balas Sean. "Gambar-gambar di atas permukaan batu besar di sana tadi cukup membuktikan kalau penduduk kampung benar-benar mati karena makhluk buas."
"Bagaimana cara mu menebaknya?"
"Dari gambar pedang yang mereka ukir?"
"Sesederhana itu kau menyimpulkannya?" Jessica yakin tak yakin. Walau Sean jenius, bisa jadi dia melakukan kesalahan. Mungkin Sean salah prediksi. "Coba kau telaah dengan benar. Mungkin kau hanya salah memperkirakan."
__ADS_1
"Aku yakin, aku tidak salah menebak," bantah Sean. Dia percaya atas argumentasinya. Dia tahu, misteri itu sebenarnya sedang menuntun mereka pada suatu tempat. "Bagaimana kalau kita menyusuri tempat ini. Aku masih penasaran pada tempat yang misterius seperti ini," Sean menyarankan idenya. "Lebih baik membuktikan kebenaran dari pada mati dalam rasa penasaran."
Jessica ingin mengakui bahwa, sebenarnya dia tidak berani lebih jauh lagi melangkah kedalam tempat ini. Tapi, Sean itu tidak bisa di bantah. Rasa penasaran Sean sangat tinggi, Jessica tak ada pilihan lain kecuali menurutinya.
Sean melihat, tidak jauh dari perkampungan ada rumah kosong di ujung jalan. Di sebelahnya ada sebuah bukit menanjak, dan Sean menelisik sekeliling bukit, yang terlihat adalah hutan.
Sean tertarik kesana, ada sesuatu yang menarik dari balik jalanan menanjak itu. Sean mengikuti arah jalan setapak yang mengarah kedalam hutan. Bukit itu terasa amat dingin, jauh dari di perkampungan tadi.
Tepat saat Sean mengikuti jalur, ada sebuah rumah lagi di sana. Di atas bukit, rumah kayu yang hampir lapuk berdiri. Tidak nampak seperti bukit, lebih jelasnya, seperti gundukan tanah yang tinggi dari tanah perkampungan.
Rumah kayu itu berada paling ujung tapi tidak jauh dari perkampungan. Di sebelahnya ada jalan setapak, kemungkinan masih ada rumah lagi tak jauh dari situ.
"Bangunan ini sudah usang. Aku yakin jika tempat ini benar-benar sudah di tinggalkan bertahun-tahun yang lalu," ucap Sean terus menebak.
Sean ingin membuka pintu rumah kayu yang lapuk itu, pintunya terganjal. Sean melirik sekeliling pintu, ada kayu kecil yang mengganjal sebagai penghalang. Saat Sean menariknya, pintu itu tiba-tiba saja terbuka.l sendiri.
Kriek!!! Ah, dari suaranya saja Jessica makin merinding. Tempat ini amat sunyi, tak ada suara apapun di sini, kecuali, hanya tempat sepi.
"Apa kau ingin masuk kedalam?"
"Tentu saja," angguk Sean. Jessica menarik bajunya, anak itu dalam situasi seperti ini masih mengerat. "Tak perlu khawatir, kita akan baik-baik saja," ucap Sean. Dia tahu, anak itu sudah khawatir padanya.
Apalah daya Jessica, dia tidak mampu melawan kemauan Sean. Oleh karena itu, dia lebih memilih mengikuti Sean.
Sean melihat-lihat sudut-sudut rumah. Ternyata di dalam rumah itu luas. Berbanding terbalik apa yang ada di luar. Bahkan lantai di dalam rumah ini saja terpasang dari keramik yang berukir cantik.
Sean melihat-lihat, ada empat pilar dalam rumah ini. Di ujung empat pilar, ada sebuah meja kecil dan di atasnya ada lilin yang menyala.
Saat Sean melihat-lihat, Jessica tiba-tiba berteriak.
"Ada mayat Sean, ada mayat!" gadis itu menunjuk ke arah lantai. Meloncat-loncat kecil, menutup matanya sambil ketakutan.
"Tenanglah, itu hanya mayat," kata Sean santai. Sean memicingkan matanya, serangga kecil pemakan bangkai itu mengerubungi mayat yang sudah membusuk itu. Lalat-lalat itu berjumlah ratusan, mengitari mayat yang membusuk itu. "Sepertinya, mayat itu baru mati beberapa hari yang lalu."
"Terserah dia mati kapan, aku benci melihatnya," Jessica merasa mual. Dia amat menyesal melihat mayat yang terkapar itu.
Sean mengajak Jessica mundur perlahan. Tempat ini angker, Sean sudah tidak sanggup menelaah lebih jauh lagi. Kaki Sean yang berjalan mundur, tak sengaja menendang sebuah kotak kayu kecil. Mirip kotak penyimpanan telur yang berisi tumpukan jerami.
KRATAK!! Suara itu mengundangnya membuka kotak. Saat kotak itu terbuka, tiba-tiba ruangan yang gelap menjadi agak bercahaya.
Dari empat pilar rumah yang menyatu dengan dinding itu, lebih mirip lorong. Ada empat pria berbadan besar melayang di udara. Mereka bukan manusia, tapi.....
"Kalian siapa?" tanya Sean.
Mereka adalah bayangan, mereka terlihat dengan jelas seperti pria-pria berbadan besar menggunakan baju zirah atau baju perang dan ada penutup kepala sebagai pelindung. Dan ada juga yang terlihat memegang tombak.
"Kami adalah roh yang menyatu dengan alam. Kematian kami sangat sengsara. Tinggalkan kuil ini jika ingin selamat, berlarilah ke Utara jika kau ingin hidup," keempat bayangan itu berkata senada, seirama.
Sean bingung, apa yang mereka maksud.
"Apa maksud mereka, Sean?" tanya Jessica.
Sean mengangkat kedua bahunya. "Entahlah. Aku tak mengerti."
Roh yang mati akan menjadi alam. Jika kau ingin selamat, tinggalkan tempat ini. Pergilah ke Utara, kau akan menemukan keselamatan di sana.
Bayang-bayang yang keluar dari balik pilar sebagai tiang penyangga rumah itu, berkata mengulangi ucapan yang sama.
Sean bingung apa yang mereka katakan. Seakan di dalam kata-kata itu mengandung sebuah petunjuk. Ke Utara, itu terdengar seperti menyuruh.
__ADS_1
Setelah berkata, ke empat bayangan itu lalu menghilang di balik empat pilar yang di isi oleh empat roh. Perintah mereka meninggalkan tempat yang di kira Sean adalah rumah ini, nyatanya kuil. Ya, kuil ini harus di tinggalkan, Sean dengan cepat meninggalkan kuil berisi mayat itu.
BERSAMBUNG