Adventure Of Lord Lausius

Adventure Of Lord Lausius
Episode 154


__ADS_3

“Pangeran!”


Driyad menangis tersedu-sedu. Dia, sungguh tak mampu menahan rasa sakit ini akan kehilangan Sean. Driyad tahu, siapa saja yang masuk kedalam sana, pasti tidak akan selamat lagi.


“Aku tidak tahu harus berbuat apa. Tapi pangeran, dia ....”


Crypto memeluk Amuria yang ikut menangis. Tak lupa, Driyad pun meratapi nasibnya di dalam pelukan Crypto. Hanya dia yang masih kuat menerima semua ini.


“Kalian harus kuat. Sebaiknya, kita kembali ke istana. Kita harus melaporkan hal ini.”


Amuria memandang Crypto, ucapannya masih sangat tak bisa di tanggapi saat ini. Tapi benar apa katanya, mereka harus melaporkan hal ini, sebelum mereka di hukum atas kelalaian yang di buat.


“Baiklah, ayo kita pergi!” ajak Amuria setuju. “Kita harus berlapang dada, walau berat!”


Driyad, apa yang bisa dia perbuat. Kecuali, mengikuti kedua temannya. Tak lupa, pedang besar Sean mereka bawa.


Sialnya, pedang itu sangat berat. Membuat ketiganya, bahu membahu mengangkat pedang itu.


“Mengapa pedang ini sangat berat. Sedangkan pangeran, bahkan dia mampu mengangkatnya dengan satu tangan,” keluh Driyad.


“Pemiliknya hanya satu orang, itulah kenapa hanya pangeran yang mampu membawanya,” jelas Crypto.


Walau agak tertatih membawa pedang berat itu, namun tak ada pilihan lain selain menggotongnya.


Meninggalkan lembah hitam ini, mereka akan kembali ke istana. Tak ada harapan bagi mereka untuk menunggu Sean. Selamat? Mungkin menunggu hujan badai barulah itu akan terjadi.


††††


“Aku sudah mati. Aku sudah tidak memiliki raga lagi. Aku sudah berakhir. Eed, Jessica, kalian harus bisa keluar dari tempat ini tanpa diriku. Aku ..., tunggu!”


Sean membuka matanya, memaksa. Dia mengambang, menelentangkan kedua tangannya lebar-lebar.


“Aku belum mati?” tanyanya penasaran.


Tetapi, ya. Tak akan ada yang menyahut pertanyaannya. Tidak ada siapapun di dalam lahar panas itu, selain dirinya.


“Benarkah aku masih hidup? Atau justru aku sudah berada di neraka. Karena penuh dosa, aku berakhir di tempat ini. Jelas begitu, bukan?”


Mencoba memperhatikan keadaan sekitar, Sean hanya menemukan keheningan yang hakiki. Tak ada suara apapun, kecuali suara gelembung.


“Benar. Sepertinya aku sekarang berada di neraka. Eh, tapi tidak. Nampaknya aku masih hidup!”


Masuk kedalam lahar panas, Sean akan menyangka dia berakhir secepat ini. Apalagi yang akan di pikirkan seorang Sean saat dia masuk kedalam cairan panas perdesibel. Mati, hanya itu yang mendominasi pikirannya.


Tetapi nyatanya itu tidak terjadi. Meskipun makhluk itu mati, namun itu tidak berlaku untuk Sean.


Sean selamat, dia baik-baik saja. Dia tak terluka. Dia ....


Lahar sepanas itu, Sean tak merasakan bahwa itu panas. Namun, dingin. Sean bahkan bisa bicara dalam genangan api neraka itu. Bahkan bisa bernapas, seperti biasanya.


“Apakah karena cahaya ini, aku bisa bertahan di dalam panasnya api?”


Sean mencoba menebak. Tetapi jawaban itu belum memuaskan Sean.


Sean menoleh keatas, dia ingin keluar dari lahar panas ini. Tetapi, sebelum mengayunkan tangannya menuju ke permukaan, kaki Sean kembali di tarik—semacam sihir.


Bukan, kali ini bukan Mossarus itu yang menarik Sean. Tapi ..., tidak tahu apa itu. Jelas Sean melihat ini bukan ulah naga jelek itu. Tubuh Mossarus tenggelam, mungkin sudah sampai dasar permukaan lahar.


“Hei. Ada apa ini, kenapa ....”


“Haha ..., Selamat datang di tempat ku. Wahai dewa ular?”


Sean mencoba mempertajam pendengarannya saat ada suara tertawa terbahak-bahak. Suara seorang pria, khas dengan suara berat berantakan.


“Ini di mana?” gumam Sean keheranan.


Mengedarkan pandangannya, Sean tak tahu jika di tempat berisi lahar panas, ada sebuah tumbuhan—yang bahkan hidup tenang. Berdampingan dengan kuil, yang di atapnya berbentuk kubah dan ada semacam ..., patung dewa atau apalah itu. Sean tahu mendefinisikannya.


“Ada bunga cantik, bagaimana bisa dia tumbuh di tempat ini.”


Sean bingung, sungguh. Api menumbuhkan bunga, tidak masuk akal bukan? Tetapi, bagiamana jika api melahap bangunan dari beton. Bisa saja itu terjadi.


Sean mencoba mencari sumber suara, ketika menoleh, ada seorang pria yang mendekati Sean. Menepuk pundaknya, Sean tersentak kaget. Dia datang secara tiba-tiba, bahkan tanpa suara.


“Siapa kau?”


Pria itu tersenyum. “Aku penjaga tempat ini,” katanya memberitahu.


“Penjaga?”

__ADS_1


Pria itu mengangguk ramah. “Kau datang di kuil ku. Aku sangat senang pangeran Lausius.”


“Apakah kita pernah bertemu sebelumnya?" tanya Sean ingin tahu.


Pria itu kembali tersenyum. “Aku hadir di mimpi mu, ketika memberikan sebuah tongkat kecil—yang sekarang menjadi pedang merah besar itu.”


“Maksud mu ....”


Sean mengernyitkan dahinya, memperhatikan dengan jelas pria itu. Sean, dia mencoba mengingat-ingat siapa dia. Pria yang tubuhnya lebih besar dari tubuh Gordon, berupa bayangan bercahaya kekuningan.


Pasti sulit di sentuh rupanya.


Tubuhnya hanya sepotong, tak menampakan kakinya. Dia melayang di udara. Sean mencoba mengukur, seberapa besar jari tangan pria itu. Dan, mungkin tebakan Sean, lebih besar dari pisang.


“Tapi tunggu!” kata Sean yang, mungkin ingat sesuatu. “Pria yang bertemu dengan mimpi ku. Aku hanya ingat ada satu pria bersuara parau, menggunakan burka serba hitam. Dia menapak di tanah. Dan kau ....”


“Itulah aku!” tandasnya meluruskan ucapan Sean.


“Ha ....”


Pria bayangan bercahaya kekuningan itu mengitari Sean, kedua tangannya memegang pundak Sean.


“Kau telah datang di sini. Aku ingin memberikan mu sebuah hadiah. Kau berhasil menemukan kuil di bawah lahar ini.”


Sean makin tak mengerti ucapan pria ini. Namun Sean yakin, jika pria ini, mungkin saja benar-benar dari mimpinya itu.


“Hadiah?”


“Iya.”


“Semacam ...?”


“Waktu mu di dalam lahar ini tidak lama. Kau sebenarnya sudah hancur.”


Sean mengernyitkan dahinya lagi, mencoba menelaah ucapan pria itu. Pria ber-suara berat, dengan ucapan yang sangat ambigu. Sulit bagi Sean mendengarnya.


“Maksud mu, aku ....”


“Kau sebenarnya sudah mati, ketika memasuki tempat ini,” katanya memberitahu. “Tapi ajaibnya, kau berhasil bangkit dari kematian mu sendiri.”


Sean memasang ekspresi wajah lugu dan polos, tapi pelan-pelan Sean ingin menelaah dengan benar ucapan pria ini.


“Mati, bukankah sama saja seperti raga tanpa jiwa. Bagaimana bisa aku mati, tetapi aku sendiri terlihat baik-baik saja. Kau sedang tidak membual bukan?”


“Jadi, aku ....”


Sean meraba kulit dadanya, memperhatikan dengan jelas ada apa dengan dirinya. Tak percaya, sungguh Sean melakukannya.


Bagaimana bisa, mungkin pertanyaan klise, namun tak semudah itu memahami sesuatu yang—mungkin di ceritakan memakan waktu lama untuk memahaminya.


“Jika aku mati, lalu bagaimana bisa aku masih bernapas di dalam lahar ini. Bukankah ini melawan kodrat alam?” gumam Sean pelan.


Pria tua itu memahami kebingungan Sean. Ada banyak pertanyaan, mungkin di dalam otaknya.


“Lupakan dahulu kenapa kau bisa berada di sini. Waktu mu hampir habis. Aku akan memberikan kekuatan penyegel, agar tubuhmu tidak terbakar berada di dalam lahar ini berlama-lama.”


Pria tua itu mengeluarkan semacam kekuatan, nampak seperti kristal merah. Sean terpana melihatnya, tanpa berkomentar apapun.


Pria tua itu, dia memercikan kekuatan itu di tubuh Sean. Sean terdiam, tak tahu harus berbuat apa.


Sean menerima kekuatan itu, ajaibnya, di dalam lahar ini rasanya tubuh Sean sangat ringan. Lahar memang tidak nampak seperti cairan api pada umumnya, tetap lebih condong ke bentuk air. Itulah kenapa, Sean bingung.


“Jadi, selama ini aku ....”


“Tubuh mu sudah hancur. Namun, karena kau memiliki dua jiwa. Maka kau bisa membangunkan nyawa yang lainnya.”


Ingatan Sean kemudian berputar pada kejadian tadi. Saat dimana dia ditarik paksa oleh raja Mossarus, ketika dia memasuki tempat ini. Jelas, siapapun yang masuk kedalam lahar panas, pasti menjadi abu, akibat terbakar oleh api yang dahsyat. Tetapi ....


“Itu artinya. Maksud mu, dewa ular dan kekuatan cahaya itu  yang membantu ku?”


“Asumsi yang sempurna!” pria itu menjentikkan jarinya, membenarkan ucapan Sean. “Sebaiknya kau kembali ke atas sekarang. Waktu mu tidak cukup lama. Sihir ku tidak bisa menahan tubuh dengan dua jiwa mu sekaligus.”


“Oh, baiklah. Aku harus kembali ke atas. Teman-teman ku sudah menunggu ku.”


Sebelum pergi, Sean memandangi sekali lagi perubahan didalam tubuhnya. Selain tubuh yang gagah dan kuat, Sean merasa staminanya juga sangat baik saat ini.


Sean mulai membuka sayap yang terbuat dari cahaya lembut, mengepaknya, siap kembali ke atas.


“Meskipun ini kali pertama kita bertemu, namun aku yakin. Kita pasti akan bertemu, lagi nanti. Terima kasih atas bantuan Anda. Aku sangat senang, kau mau menyelamatkan aku di dalam lahar ini.”

__ADS_1


Sean menatap ke atas, tanpa menunggu jawaban dari mulut pria tua ini. Sean langsung terbang, secepat kilat melawan lahar. Panasnya tak terhingga, namun Sean bersikap tenang menghadapinya.


Jarak antara dasar lahar, hingga ke permukaan sangat dalam. Sean tak tahu berapa jaraknya, tapi Sean yakin jika ini merupakan tempat yang paling mengerikan yang pernah dia temui.


Pria tua itu, dia memperhatikan sepasang sayang yang sudah menghilang di pelupuk matanya. Kemudian dia tersenyum ramah.


“Lausius muda yang bertanggung jawab. Para petinggi langit sangat senang telah melahirkan putra cahaya setangguh itu.”


Setelah berkata, dia pun menghilang. Seperti semula, kuil di dasar lahar itu kembali seperti tempat mati dan terisolasi. Tak ada siapapun, persis seperti saat Sean tiba di sana.


Sean makin mempercepat kepakan sayapnya. Saat melalui rute di depannya, Sean baru sadar—jika sebenarnya, tempat ini di penuhi dengan patung-patung besar. Entah siapa yang berhasil memahatnya.


“Itu dia, di atas.”


Perhatian Sean, kini terfokus pada permukaan lahar. Kepakan sayap itu semakin cepat, hingga Sean keluar dari dalam genangan lahar.


Suara semburan lahar panas itu, memantik telinga Crypto. Pria itu sangat peka. Jalan mereka belum keluar dari lembah ini, sebab harus menyeret pedang besar, yang mungkin beratnya berton-ton.


“Pangeran!” teriak Driyad, ketika melihat Sean tiba-tiba muncul di hadapan ketiga pria itu.


Ketiganya terpaku, saat sayap merah muda itu, berada tepat di pelupuk mata. Dengan polosnya, anak itu membersihkan dirinya dari sisa-sisa lahar yang mengusik.


“Kita tidak salah lihat bukan?”


Driyad memperhatikan kedua temannya, mereka termangu. Tak tahu, mereka harus berkomentar apa saat melihat tubuh Sean.


Amuria, tanpa pikir panjang. Dia membuang pedang Sean, lalu berlari menuju ke arah anak itu. Langsung memeluknya haru, berulangkali memperhatikan tubuh berlapis cahaya itu.


“Benarkah kau ini pangeran?” tanya Amuria tak percaya akan apa yang ia lihat.


Sean mengangguk. “Aku berhasil keluar dari lahar itu. Aku baik-baik saja!”


“Oh. Aku tak percaya bahwa ini pangeran.” Amuria terlihat senang, Sean pun demikian.


Driyad dan Crypto, mereka mendekat perlahan. Memperjelas penglihatan mereka pada tubuh anak itu.


“Aku yakin, aku tidak melihat hantu saat ini,” kata Driyad sesumbar.


“Tidak ada hantu se-menawan pangeran,” sikut Crypto menyela.


“Oh, kau selalu kontra pada ku!”


Driyad menggerutu, Crypto adalah perundung terbaik.


“Pangeran. Maafkan kami. Maafkan kelalaian kami, karena tidak bisa menjaga pangeran tadi!”


Amuria menyatukan kedua tangannya, lalu pria itu bersimpuh. Di ikuti Driyad dan Crypto, mereka bersimpuh di hadapan Sean.


“Jangan khawatir. Aku baik-baik saja,” balas Sean santai. “Bangunlah. Aku tidak merasa kalau kalian perlu di hukum. Kalian sudah melakukan yang terbaik saat ini.”


Seketika ketiganya berdiri normal, Sean telah mengizinkan mereka untuk bersikap seperti biasanya.


Pedang berat yang tergeletak sembarang itu, Sean tarik melalui kekuatannya. Sean adalah jodoh pedang merah itu, jadilah kenapa hanya butuh satu tangan untuknya mengambil pedang seringan kipas ini.


“Pangeran. Terima kasih telah memaafkan kami. Kami berjanji, hal ini tidak akan terjadi lagi.”


Crypto membungkuk hormat, kali ini dia sangat mengakui kecerobohannya.


Sean memutar tubuhnya, berjalan mendahului ketiga pria itu. “Lupakan. Saat ini, kita harus kembali pada misi kita.”


Ketiganya tak lagi berkata apapun, selain mengangguk paham. Mereka mengikuti Sean, keluar dari lembah gelap ini.


“Bagaimana dia bisa selamat,” bisik Driyad pada kedua temannya. Sesekali, dia memperhatikan punggung Sean.


“Kau percaya dia hantu?”


Driyad mengangguk saat Amuria membalasnya dengan pertanyaan aneh itu. “Aku tidak percaya saja, pangeran bisa selamat bahkan tubuhnya baik-baik saja saat keluar dari api panas itu.  Bukankah ini suatu hal yang aneh?”


“Itu tidak aneh,” sahut Crypto menyela. “Tubuh pangeran memiliki dua jiwa. Dewa ular dan tubuh cahaya, dia tidak akan terbakar oleh api itu. Lagi pula, pangeran sudah memiliki takdirnya. Aku yakin, dia memang di janjikan berumur panjang,” jelas Crypto dengan pengetahuan yang dia miliki.


Tak ayal, kedua pria di sebelah Crypto mengangguk setuju pada argumen itu.


“Kalau begitu, aku tidak akan meragukannya lagi. Pangeran memang ksatria yang abadi!”


Amuria bersua bahagia, tapi bagi Crypto itu keajaiban kecil dari seorang Lausius. Dia yakin, pasti masih ada rahasia lain dari anak yang sedang berjalan di depan mereka.


Amuria mempercepat langkahnya, menyusul langkah yang jalannya tak ada kata lelah itu.


Amuria melirik Driyad, lalu berkata: “Kita lihat, apakah kali ini kita berhasil membawa sebuah petuah untuk Lord Shutanhamun?”

__ADS_1


“Itu bisa saja. Pangeran saat ini bersama kita,” sambar Driyad senada.


††††


__ADS_2