Adventure Of Lord Lausius

Adventure Of Lord Lausius
Episode 58


__ADS_3

Usaha akan selalu membuahkan hasil. Mungkin kata-kata ini sedikit berlaku untuk Sean dan sahabatnya. Ya, kini pintu goa terbuka sedikit melebar. Walau sepenuhnya tidak terbuka dengan sempurna tetapi itu cukup untuk mereka masuk sekalian dengan tubuh besar Driyad.


Tidak tahu apakah tubuh makhluk itu bisa sepenuhnya masuk kedalam atau tidak, anak-anak tidak bisa berpikir jernih saat itu.


Ide mereka telah buntu seiring panik yang melanda kengerian yang dialami oleh ketiganya.


Peluh dan keringat membanjiri tubuh di Sertai rasa takut akan serangan para mosarus membuat tubuh anak-anak gemetaran hebat. Dada Sean khususnya, sudah berdegup amat kencang, siapa pun pasti akan merasakan hal yang sama jika berada di posisi anak-anak.


"Driyad. Masuklah! Pintu sudah terbuka!" Sean meneriaki Driyad yang sedang menghalau beberapa serangan mosarus.


Di dalam goa Sean sedikit lega karena berhasil menyelamatkan kedua temannya. Tetapi dia tidak bisa tenang jika sahabatnya si serigala ajaib tertinggal di luar sendirian.


Perasaan khawatir dan was-was menyelimuti suasana hati Sean saat itu. Apalagi tubuh Driyad mulai berkucuran darah akibat cakaran tajam yang ia terima dari kuku tajam mosarus. Serangan brutal makhluk itu setidaknya telah menyakiti temannya.


Suara Driyad mengaung mengganas menakuti para mosarus tak ada gunanya. Walau bersuara keras khas rimba, mosarus merasa tertantang oleh makhluk sekecil Driyad.


Namun bagi Driyad, hal konyol jika melawan makhluk itu seorang diri. Mau tak mau melarikan diri adalah jalan yang tepat.


Terlihat Sean menantikan kedatangannya di depan pintu goa, memandanginya bagai seorang anak yang melihat kematian ibunya.


Dari jauh, bayang-bayang wajah Sean nampak mengingatkannya pada seseorang yang amat ia kenali.


Melihat Sean seperti orang yang tak bisa ia lupakan, membuat Driyad lari tunggang langgang meninggalkan serangan para mosarus. Secepat kilat serigala ini berlari menuju pintu goa.


Dia mengamini teriakan Sean yang menginginkan dirinya masuk goa.


Kesigapannya membawa tubuh besar berbulu itu sedikit terbebas dari ancaman walau para mosarus mengejarnya. Di pintu goa yang terbuka hanya separuh dari ukurannya itu, memaksa Driyad menyempitkan tubuh agar bisa melesat sempurna masuk berlindung di balik dinding goa.


"Ce--pat.... Tarik .... Dia... Masuk... Ke... Dalam...." teriak Sean terbata-bata pada kedua temannya yang ikut membantu menarik tubuh besar Driyad. Sekuat tenaga Sean membantu Driyad ter-jeblos masuk dalam goa.


Tubuh berat dan besarnya agak menyusahkan sampai-sampai Sean tak mampu membantunya masuk dengan cepat.


Dibantu kedua sahabatnya, Sean mengeluarkan sisa-sisa kekuatan yang ia miliki menarik paksa tubuh berbulu ini.


Susah, sudah pasti itu tantangan bagi Sean. Namun karena tekadnya yang kuat membuat makhluk itu bisa masuk.


Perjuangan membantu makhluk ini sedikit mendramatisir dan amat mencekam.

__ADS_1


Di balik luar dinding, mosarus tak bisa meraih mereka karena sama halnya seperti Driyad. Mereka juga terhalangi besarnya labu. Mereka mencakar-cakar labu yang menghalangi pintu masuk goa hingga labu besar itu tercabik-cabik.


Lega! Tentu Sean sudah merasakannya. Nafas yang terengah-engah tadi perlahan mereka atur sedemikian rupa kembali normal.


Sean melepaskan kelegaannya dengan duduk bersandar di depan pintu goa.


Sean mengambil nafas panjang melepaskan ketakutan sesaat-nya itu.


Tidak peduli makhluk di luar mencakar-cakar, bahkan meraung-raung ingin mencabik tubuh mereka, Sean hanya ingin mengembalikan nyawanya yang serasa menghilang dari tubuh.


Keringat sudah pasti membanjiri tubuh. Sesekali Sean menarik ulur bajunya karena gerah menyelimuti badan.


"Terima kasih anak-anak!" Seru Driyad. Dia tahu, tanpa bantuan ketiga anak itu dia mungkin saja sudah menjadi santapan para mosarus.


"Lupakan ucapan terima kasih mu itu. Melihat kau selamat, aku bahagia." Jessica dengan wajah lesu dan peluh yang mengucur deras merespon ucapan Driyad.


Dia terlihat sangat lelah dan tak berdaya. Mungkin seluruh tenaganya sudah terkuras habis sebab besarnya labu penghalang yang mereka singkirkan dan besarnya tubuh Driyad yang ia tarik membuat anak ini sedikit tak ada tenaga lagi.


Di tengah peluh yang mulai lesu. Mungkin Sean dan Jessica tak akan percaya atas apa yang mereka dengan.


"Sean!" Suara itu memanggil namanya dengan jelas.


Namun di lorong goa yang gelap mereka tak bisa melihat sepenuhnya siapa pemilik suara itu. Sean menyipitkan matanya. Dia sedikit curiga pada suara yang ia dengar. Samar-samar dia mengenali suara itu.


"Apakah kalian mendengar suara itu?" Tanya Sean kapada Jessica dan Yudhar. Dia memastikan bahwa bukan hanya dirinya yang mendengar suara itu, tetapi semua telinga.


Keduanya mengangguk setuju dengan pertanyaan Sean.


Jessica merespon pertanyaan Sean karena dia mulai mengenali suara itu.


"Aku seperti mengenali suara ini Sean. Apakah kau juga memiliki feeling yang sama seperti ku?"


"Senada! Aku juga merasakan hal yang sama dengan apa yang kau pikirkan." Sambar Sean setuju.


"Oi... Omong-omong apa yang kalian diskusikan? Apakah aku bisa ikut perbincangan rahasia ini?" Yudhar menyela. Dia ingin tahu rahasia kedua anak itu.


Jessica menyunggingkan bibirnya. Dia tidak terima pembahasan Eed di ketahui oleh anak itu. "Tidak boleh. Ra-ha-sia! Kau pasti mengerti rahasia? Sesuatu yang tidak boleh di ketahui oleh orang lain." Jessica memulai sifat ketusnya pada Yudhar. Setidaknya sifatnya sudah di pahami oleh anak itu.

__ADS_1


"Sean!" Suara ini masih menggema. Di dalam goa memang benar-benar terdengar seperti suara Eed memanggil.


"Apakah ini perasaan ku saja? Ataukah ini memang nyata bahwa itu suara Eed?" Sean memastikan kembali suara itu. Dia tidak yakin itu Eed, tetapi suara itu terus memanggilnya.


"Dari pada bertanya-tanya tidak ada kepastian seperti ini. Sebaiknya kita susuri tempat ini saja Sean. Jauh lebih baik menemukan Edward secepatnya ketimbang berpetualang tanpa akhir Seperti ini." Jessica menyarankan. Dia memberikan ide pada Sean walau terkesan tidak sabaran.


Ya, Jessica memang sudah tidak sabar mengakhiri perjalanan di tempat ini. Semua yang telah ia lalui membuatnya tak kuat lagi menerima kenyataan bahwa tempat berbahaya akan mereka jumpai setiap saat.


"Baiklah! Aku merasa ide mu oke juga dari pada tidak menemukan Eed sama sekali." Sean setuju dengan kata-kata Jessica.


"Tetapi? Bagaimana dengan luka Driyad? Lihatlah, dia terluka sedikit parah."


Hampir saja anak-anak melupakan Driyad yang malang. Tubuhnya terluka cukup dalam saat itu. Jessica sepenuhnya memperhatikan Driyad yang malang walau dia selalu ketus pada semua orang dengan sikap wanitanya yang tidak pernah mengalah.


"Benar juga. Tetapi aku tidak paham obat apa yang akan di baluri untuk luka Driyad!" Sean memikirkan sejenak obat apa yang biasa di pakai untuk luka di alam liar seperti ini.


Sembari memikirkan ide obat ini, Yudhar sudah pasti adalah jalannya. Sean melirik anak itu, terlintas dalam pikiran Sean bahwa anak ini tahu bagian ini.


"Yudhar! Kau pasti memahaminya bukan?"


"Ehm... Aku tahu." Yudhar menyambarnya dengan cepat ucapan Sean.


"Daun Legundi! Kurasa daun itu bisa mengobati luka parah ini." Dia melanjutkan ucapannya.


Sean mengangguk, dia sepenuhnya mempercayakan semua ini pada Yudhar. Sebab anak itu sudah lama tinggal di hutan, sudah pasti dia paham seluk beluk dunia perhutanan.


Tahu bahwa dia akan di obati, Driyad berusaha tegar agar kekhawatiran anak-anak tidak begitu berlebihan.


"Dari pada memikirkan luka ku ini. Sebaiknya kita cepat mencari sumber suara ini. Siapa tahu bahwa teman kalian itu ada di dalam." Driyad mengingatkan misi Sean sebelumnya. Menemukan Edward dan membawanya pulang.


Sean mengerti, tetapi dia tidak bisa mengabaikan Driyad yang terluka begitu saja. Sekali jalan dua nyawa terselamatkan. Mungkin begitu yang Sean pikirkan.


Menemukan Edward laku mencari daun Legundi itu untuk menyembuhkan luka Driyad.


Sean menganggap ide ini tidak terlalu buruk. Lagi pula pikir Sean luka Driyad masih bisa di tahan. Sean bisa merasakannya, pasti perih bagi makhluk itu menahan luka terbuka seperti itu.


Dan juga suara yang terus saja memanggil namanya sesekali menghilang. Namun tak lama muncul kembali. Sean di buat penasaran dengan suara siapa yang terus saja memanggil namanya itu.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2