
Elius masih memegang dadanya. Rasa sakit itu makin terasa, sesak bukan kepalang. Sesampainya di istananya, Elius duduk di tempat tidur kunonya. Pria ini pecinta sesuatu yang megah, bahkan tempatnya beristirahat pun harus mewah.
“Akh. Kenapa aku selalu gagal mendapatkan Lausius terakhir ini. Aku selalu di permalukan seperti ini. Kenapa!”
Elius membuang nampan, bejana bahkan gelas yang terbuat dari Kuningan emas murni—yang berisi arak dan buah-buahan. Melampiaskan amarahnya dengan benda-benda di sekitarnya, itulah Elius. Nekabudzer sebagai seseorang yang bersaksi atas tindakan ke-berang-an Elius, hanya terdiam.
Bukan dia takut pada Elius, namun tak cukup baginya untuk menenangkan amarah Elius. Hanya dengan kata-kata, bukan Elius namanya jika dia mau mendengarkan saran dari Nekabudzer.
“Bukan kau yang gagal, namun pada dasarnya Lausius muda itu yang sulit di taklukan,” ucap Nekabudzer menyela. “Seharusnya kau paham, bahwa ini bukanlah sebuah kesalahan yang disengaja. Tapi memang pada dasarnya anak itu kuat. Dua jiwa, kau tak akan mampu memisahkan jiwa itu secara bersamaan.”
“Lalu, apa yang harus aku lakukan agar anak itu bisa menjadi milikku?” teriak Elius berang. Dia memijat kepalanya, sakit jika terus memikirkan Lausius muda itu. “Sudah berkali-kali aku ingin mendapatkannya, namun dia mempersulit diriku!”
“Untuk hal itu, aku tidak memiliki jawaban pasti. Aku tak bisa berpikir jernih sekarang!”
Elius men-decak, kali ini dia berhenti menuntut Nekabudzer. Pria malang itu, dia sudah tak mampu berpikir dengan baik saat ini.
“Baiklah. Kau bisa pergi sekarang. Tinggalkan aku sendiri, aku tidak mau diganggu saat ini.”
Nekabudzer menoleh kearah Elius, pria antagonis itu masih memijat kepalanya. Di tempat tidur kebesarannya, Elius nampak tak menikmati waktu santainya.
“Kau berpikir tenang dulu. Biarkan aku memikirkan ide mengenai Lausius ini. Aku akan membiarkan kau sendirian.”
“Terserah kau, aku tidak peduli,” balas Elius apatis.
Nekabudzer tak lagi berkata, dia pergi meninggalkan mahligai besar Elius. Pria itu keluar, entah kemana dia pergi.
Elius masih di posisinya. Pria itu menjamah kepala, mungkin masih sakit di kepala memikirkan kekalahan dan di permalukan oleh Sean di istana awan Metis.
“Anak itu. Dia harus membayar atas semua perbuatannya. Aku harus melumpuhkan dia secepatnya!”
††††
Jessica duduk termenung di pinggir kolam. Dia melamun, sambil melempar batu kecil kedalam kolam. Kadang ikan-ikan risih akibat ulah gadis itu.
Ada jembatan kecil di sana, tak sampai empat meter. Kira-kira panjang jembatan ber-cat putih itu dua meter. Kolam itu mengalir cukup deras, membelah istana. Dibelakang Jessica ada pohon besar, pohon itu daunnya bercahaya penuh warna. Namun itu tak cukup menghibur bagi Jessica.
Yudhar dan Edward berdiri di jembatan. Keduanya asik memandangi ikan bercahaya yang menari girang di permukaan air, seraya sesekali bersenda gurau.
“Seberapa lama lagi kita berada di sini. Aku lelah menanti!”
Yudhar dan Edward melirik ke arah Jessica, gadis itu kini berdiri normal. Menepuk-nepuk bokongnya, mungkin mengusir debu yang menempel di baju cyborg-nya.
“Jika kau lelah, aku sarankan kau kembali ke kamar mu. Lagi pula, malam ini sangat dingin. Aku takut kau akan masuk angin nanti,” sahut Edward membual.
“Kau ... ”
“Hei, jangan bilang kau akan melempar ku dengan batu kerikil!”
Edward waspada, sedangkan Jessica, dia malah memasang ekspresi bingung.
“Apa maksud mu Eed?” tanya Jessica ingin tahu.
“Kau memegang ranting, dan di sekitar mu ada banyak batu kerikil. Aku yakin, kau pasti akan melampiaskan amarah mu melalui benda-benda kecil itu. Itulah kau, wanita bar-bar. Khas wanita pegulat.”
Jessica menoleh kanan kiri. Benar apa yang di katakan oleh Edward, ada banyak batu kerikil dan juga dia sedang memegang ranting kecil. Namun, Jessica masih sadar. Tidak akan dia melakukan hal konyol itu.
“Kau kira aku gila?”
Edward apatis. “Biasanya kau melakukan itu pada ku.”
Jessica menggertak giginya, dia geram di sebut seperti itu. Yudhar yang melihat keduanya adu bicara, benar-benar tak mengerti apa yang mereka lakukan.
“Apakah kalian sedang bertengkar?” tanya Yudhar pada Edward.
“Bukan aku yang memulai, tapi dia yang memprovokasi ku,” kata Edward mengelak.
“Kau ....”
“Sean!”
Sean datang dari belakang Jessica bersama Crypto dan yang lainnya. Secepatnya Edward menyebut nama anak itu agar bisa mengalihkan amarah Jessica. Jessica yang mengepal keras tangannya, geram lantaran Edward memprovokasinya, kini terdiam. Perhatian Jessica kini berpindah pada Sean.
“Sean, kau ....”
“Aku akan pergi, Jessica,” kata Sean memotong ucapan Jessica. “Bersama Crypto, Driyad dan Amuria.”
“Kau ingin meninggalkan kami?” Edward menyela.
Sean menggeleng. “Aku harus menyelesaikan misi ini, agar kita bisa keluar dari tempat ini secepatnya.”
__ADS_1
“Tapi Sean, kau ....”
“Jessica!!”
Sean menatap wajah anak itu. Dia terlihat sendu ketika melihat Sean akan pergi. Sean memegang kedua tangan Jessica, mencoba membuat anak itu mengerti.
“Kepergian ku hanya sementara. Sampai aku menyelesaikan misi ku, maka aku akan secepatnya kembali. Kau jangan khawatir pada ku. Aku akan baik-baik saja,” ucap Sean tenang. “Ini semua aku lakukan agar aku bisa membawa kalian keluar dari tempat ini. Ku mohon, kalian percayalah pada ku.”
“Jessica, Edward. Benar apa yang dikatakan oleh Sean. Kalian harus percaya padanya. Ini semua demi kalian berdua,” sahut Yudhar menyela. Mungkin, dengan membenarkan ucapan Sean, keduanya akan mengerti.
Namun Jessica, gadis itu justru tak bisa santai saat ini.
“Sean. Kau ....”
“Pangeran, sebaiknya kita pergi sekarang. Kita tak memilki banyak waktu,” sahut Crypto menyela.
Sean menoleh kearah Crypto sebentar, lalu berpaling lagi pada wajah Jessica. “Aku akan pergi sekarang. Aku harap, kalian baik-baik saja di sini selama kepergian ku. Yudhar, aku ingin kau menjaga Edward dan Jessica untukku. Aku percayakan semua ini padamu selama kepergian ku.”
Sean kini melirik anak itu, dan seperti yang kalian ketahui. Anak itu selalu semangat dalam segala hal.
“Tentu saja pangeran. Aku akan melakukannya dengan sungguh-sungguh. Perintah mu adalah sebuah kehormatan bagi ku!”
Edward membalas dengan suka cita. Sean senang mendengar ucapan anak itu. Sementara Jessica, dia sendu melihat kepergian Sean.
“Jessica, aku pergi dahulu.”
“Oh ..., baiklah,” balas Jessica pasrah.
Sean melirik Yudhar dan Edward sebelum dia pergi. Keduanya terdiam. “Aku ingin kalian berdua tetap bersama dengan Jessica. Aku akan kembali secepatnya!”
Edward mengangguk. “Aku akan menunggu mu Sean. Aku akan menantikan mu, sampai kita keluar dari tempat ini bersama.”
“Itu pasti,” balas Sean. “Kia akan keluar dari tempat ini bersama-sama.”
“Ayo Pangeran,” ajak Amuria. Ketiganya siap meninggalkan ketiga anak yang berada di kolam itu.
Jessica tengadah. Dia tak ingin Sean pergi, namun dia tak sanggup menahannya. Jessica dan kedua temannya memperhatikan langkah Sean yang hendak keluar dari istana.
Edward kuyu, mendesah, mengembuskan napas lelah. “Kepergian Sean, aku harap dia kembali dengan selamat. Aku tak ingin dia kenapa-kenapa.”
“Tenang saja Eed, dia pasti kembali!” sahut Yudhar. Tangannya menepi dipundak Edward.
“Ayo kita masuk. Udara malam mulai dingin,” ajak Jessica pada kedua temannya.
Jessica membalikan badannya, meninggalkan kolam beserta kedua temannya. Edward mengekori Jessica.
Yudhar masih memandangi punggung kedua anak itu Setelah menjauh beberapa meter, Yudhar menggeleng.
“Mereka seperti sedang berkabung. Padahal pangeran pergi demi misi. Dasar, manusia!”
Setelah mengomel, anak itu ikut melangkahkan kakinya masuk kedalam istana, meninggalkan kolam. Malam itu, padahal indah menurut Yudhar.
Malam yang sangat berbeda dengan malam-malam sebelumnya. Apalagi kolam kecil itu ikan-ikan keluar, menari girang. Yudhar menebak, kalau malam ini adalah malam keberkahan.
Lord Shutanhamun berdiri diantara kolam dan pelataran istana. Ketiga anak itu berlalu dari pandangannya, pria tua ini tersenyum tipis sambil membelai lembut jenggotnya.
“Hah ..., anak-anak ini. Mereka benar-benar teman yang sangat mengerti Lausius.”
Pria tua itu melihat keatas, rembulan bersinar terang. Menyinari istana emas ini. Setelah menatap rembulan, dia kemudian berlalu dari kolam.
Anak-anak tadi tidak melihatnya, namun pria tua ini dengan jelas melihat dan mendengarkan ucapan mereka. Sangat mendramatisir, itulah yang membuat Lord Shutanhamun terkekeh geli melihat tingkah mereka.
††††
Sean dan ketiga pengawalnya sudah memasuki hutan. Setibanya di tempat ini, hutan yang akan Sean lalui agak gelap, tetapi ada sedikit cahaya di dalamnya. Cahaya dari tumbuhan dan bunga-bunga. Setidaknya, itu cukup sebagai lampu penerangan.
Sean memimpin jalan, pada dasarnya Sean tak tahu arah. Namun, insting saja.
Sean mengikuti kata hatinya, kemana dia harus melangkah. Benar saja, apa yang Sean lakukan ternyata sesuai dengan rute jalan yang dia ambil. Kadang ketiga pria di belakangnya membenarkan insting Sean.
“Seberapa jauh lagi kita akan sampai menuju ke gunung itu?” tanya Sean.
Ketiga pengawal Lausius itu berjalan beriringan, mereka berada di belakang Sean.
“Kita akan sampai di gunung Mossarus, jika menggunakan sayap, pangeran,” balas Crypto lebih dahulu.
“Tetapi itu hanya membuang-buang energi saja,” sahut Amuria kontra. “Saat ini, energi yang sangat penting dan harus kita jaga.”
Crypto melirik sekilas. “Setidaknya itu lebih cepat dari apa yang kita bayangkan.”
__ADS_1
“Tetapi itu pantang bagi kita, pria beruban!” ucap Amuria lagi. Dia masih kontra, bahkan meledek ucapan Crypto.
Driyad hanya menjadi saksi bisu saja atas perdebatan kedua rekannya. Dia malas berkata, apalagi Sean saat ini sudah menjadi Tuannya. Driyad tak berani ikut campur dalam permasalahan kecil ini.
“Tunjukan jalan yang akan kita lalui,” Sean melirih keduanya. Di depan Sean ada jalan yang menyabang, Sean bukan tak tahu harus melalui jalan yang mana. Namun dia butuh pendapat ketiganya, yang sudah terbiasa hilir mudik di dalam hutan ini.
Dengan cepat Driyad berani menjawab. “Kita memilih jalur kanan,” katanya memberitahu. “Utu jalan yang sudah terbiasa dilalui para Lausius sebelumnya.”
“Bagaimana jika kita memilih jalur disebelah kiri?” tanya Sean penasaran. Jalannya fokus kedepan, dia tak menoleh sedikitpun sejak mereka meninggalkan istana berlapis emas itu.
“Jalan di sana terjal, dengan kontur bukit terputus. Tak ada jembatan, kecuali kita menghabiskan tenaga untuk terbang menyebrangi lautan lahar panas. Tapi itu ide yang buruk. Banyak halangan dan rintangan di sana,” jelas Amuria.
“Bagaimana dengan yang di kanan?” tanya Sean lagi, ingin tahu.
“Itu jalur yang biasa dilalui oleh para Lausius. Kita harus mengikuti jalan itu.”
Amuria menjelaskan lagi, menjelaskan kembali seperti apa yang diucapkan oleh Driyad sebelumnya.
Sesampainya diujung jalan, tepat di ujung hutan yang ada jalan menyabang. Sean tiba-tiba berhenti. Dia mengangkat tangan kirinya, pertanda bahwa yang di belakang harus ikut berhenti.
“Ada apa pangeran? Kenapa tiba-tiba berhenti?” tanya Crypto bingung.
Mata Sean melirik kesana kemari, dia belum menjawab pertanyaan Crypto.
“Aku rasa ada yang sedang mengintai kita,” ujar Sean waspada. Namun dia tetap tenang menghadapi situasi ini. Anak itu sudah terlatih dewasa dalam menanggapi suatu masalah.
“Siapa pangeran?” sahut Driyad bertanya.
Mata bercahaya Sean lagi-lagi menyorot tajam kearah semak-semak di sisi kanannya. Tumbuhan itu bergoyang, Sean tahu ada seseorang di sana.
“Keluar!” ucap Sean lantang.
Matanya terus menginterupsi semak-semak itu, dari sana mendadak muncul makhluk mengerikan. Dia seperti ....
“Penyihir buta!”
Amuria masih mengenali si gembel dan berotak gila itu. Tubuh tak karuan itu tetap tak bisa menutupi mata ketiga pengawal Lausius itu untuk mengenalinya.
“Kau ..., apa yang kau lakukan di sini?” Crypto menginterupsinya.
Si Moore, penyihir buta yang sebelumnya bertemu dengan Sean di telaga kematian. Dia berada di hutan gelap mencekam ini, Sean tak begitu menanggapi keberadaannya. Sedangkan ketiganya, justru terkaget melihat kedatangan si buruk rupa.
“Jika kau datang hanya untuk mengganggu. Sebaiknya kau pergi, jangan berulah disini,” ujar Sean dingin.
“Sombong kau Lausius!” Moore menjawab sambil meninggikan suaranya. “Kau telah membunuh teman ku di telaga kematian. Kau harus membayarnya.”
Sean hanya meliriknya, lalu ..., Sean tak peduli. “Tak ada waktu untuk menjamu mu. Sebaiknya kau pergi dari hadapan ku,” ucap Sean lagi. Kemudian Sean melangkahkan kakinya, meninggalkan si penyihir gembel pengganggu.
“Hei, kau ....” Suara parau Moore tak di tanggapi, Sean tetap melanjutkan langkahnya. “Kurang ajar, kau harus mati di tangan ku Lausius!”
Moore melempar senjatanya kearah Sean. Lirikan mata tajam Sean cepat menangkap serangan itu. Sean menghindari serangan itu sekejap mata, membuat pedang Moore menancap di pepohonan. Bahkan ketiga pengawalnya tak tahu jika ada pedang yang menyerang Tuannya.
Tanpa mengedipkan matanya, Moore tak tahu kalau Sean sudah di belakangnya. Sean memegang pundak Moore, tak tahu kenapa pegangan Sean membuatnya mematung. Cengkraman Sean tak terlalu kuat, namun anehnya, Moore merasa dia tak ada tenaga untuk bergerak.
“Pangeran!!”
Sean tersenyum saat Amuria memanggilnya. Sean tahu, pasti mereka bertiga terkejut melihat kekuatan Sean bak angin. Atau, bisa jadi mereka khawatir akan keselamatan Sean.
“Kau ..., apa yang kau lakukan pada ku!"
“Itu hanya segel penghenti gerakan. Kau akan kembali bergerak besok,” jelas Sean memberitahu.
Masih dengan ekspresi yang sama, ketiganya ternganga. Sean tak menjelaskan dengan detail bagaimana dia bisa melakukannya.
Sean hanya melanjutkan jalannya, saja.
“Ayo berangkat. Biarkan dia sendiri. Besok dia kembali bisa bergerak.”
Sean kembali menjadi pemimpin jalan, dia berada di depan.
“Bagaimana Pangeran bisa melakukan hal itu?” tanya Amuria membisik di telinga Crypto.
Mereka memandangi punggung Sean yang tegap berjalan di depan. Mereka takjub padanya, pada rupanya, juga pada kekuatannya.
Pria itu (Crypto) menggeleng, lalu ikut melangkahkan kakinya. Menyusul Sean yang sudah di berjalan menjauh di depannya. “Aku kira, Lord Shutanhamun yang mengajari pangeran kekuatan ini.”
“Bisa jadi,” timpal Driyad membenarkan.
Amuria ikut mengangguk. “Kemungkinan,” katanya juga senada dengan ucapan kedua rekannya itu. “Setelah di pikir-pikir.”
__ADS_1
††††