Adventure Of Lord Lausius

Adventure Of Lord Lausius
Episode 46


__ADS_3

Marmaida & Danau Suci


Di tengah pasang surut gelombang air yang bercahaya ini. Sesosok makhluk yang teramat besar bahkan jauh lebih besar dari kapal layar, menampakan moncongnya.


Paus biru, Sean melihatnya seperti itu. Dia sangat besar bahkan mulutnya jauh lebih lebar dari sebuah lobby kafe kebanyakan di kota new York. Dia tidak bergigi, justru gigi hewan itu nampak seperti tirai yang menjuntai bagai hiasan di depan kamar.


Hewan itu memunculkan kepalanya di permukaan air seraya membuka lebar mulutnya.


Dari moncongnya itu, terlihat seorang wanita cantik berkulit putih dan bermata yang indah bersinar sangat elok di pandang keluar dengan wibawa bagai wanita kehormatan.


Para Marmaida menundukkan kepala saat Dewi itu keluar dari mulut hewan yang ia tumpangi. Di dalam mulut paus besar itu terdapat sebuah tempat duduk atau singgasana yang terbuat dari kerang cantik.


Termasuk Driyad, dia juga ikut menyambut kedatangan penguasa Osirus. Namun ketiga anak manusia itu tak mengerti apa yang harus mereka lakukan selain hanya terpaku saat melihat kecantikan wanita yang tampak bagai peri itu.


Dewi itu bernama Dewi Handita. Dia menampakkan kakinya di atas permukaan air seraya berjalan mengambang di atasnya. Seolah dia sedang berjalan di atas kaca transparan seperti kisah ratu Bilqis dari negeri Saba.


"Aku sudah mendengar desas desus ini wahai Asgart. Dan aku tidak menyangka kau telah membawa orang yang paling di tunggu oleh kota SARANJANA ini." Seraya berjalan Dewi Handita mengibaskan gaunnya yang cantik berwarna biru senada dengan yang di kenakan oleh Jessica. Dia bicara sambil berjalan seakan-akan dia seperti sedang mengikuti pertunjukan catwalk Victoria secret.


Dia tidak seperti para kawanan Marmaida lainnya yang memiliki ekor, namun wanita satu ini berkaki. Bahkan kakinya amat putih bersih seputih tahu dan mulus bebas bulu.


Dia tidak akan basah oleh air danau suci ini, sebab dia putri dari Asparos pemilik danau cantik Osirus ini. Wanita itu melihat Sean, dan dari tubuh Sean memancarkan sinar cantik.


Hanya Dewi Handita yang mampu melihat cahaya dari dada Sean.


"Aku tidak membenarkan ucapan mu Dewi Handita, hanya saja aku kurang yakin. Meskipun dia bukanlah anak yang ditunggu-tunggu oleh kota dongeng ini, aku tetap menyukainya." Driyad paham jika Handita bisa melihatnya sebagai anak yang spesial, namun Driyad meragukannya.


Senyum manis tergambar di wajah Dewi Handita. Ratu Marmaida yang berjalan menuju ke arah Sean ini, dengan tangannya yang lembut mengangkat Sean dari dalam air.


Melalui kekuatan dan kesaktiannya yang keluar melalui jari jemarinya yang lembut, Dewi Handita membiarkan Sean berpijak di atas permukaan air sama seperti dirinya.


"Ow..." Sean sedikit kaget karena tiba-tiba tubuhnya melayang tertarik di atas udara. Kini dia berdiri tepat di sebelah Dewi Handita.


Jessica dan Yudhar tercengang saat melihat temannya melayang di udara. Seolah semuanya seperti mimpi.


Sementara Sean juga tidak percaya bahwa dia saat itu bisa menginjak air suci itu layaknya kaca akuarium transparan.

__ADS_1


"Para Asgart tidak di bekali pengetahuan untuk mengenali utusan yang telah di tunggu ribuan tahun lalu. Namun hari ini, di danau Osirus ini. Anak itu telah berdiri tepat di hadapan ku." Kata Dewi Handita bicara bijaksana. Bahasanya sangat sopan dan terlatih. Dia pandai dalam bertutur lemah lembut.


"Bagaimana jika dia bukan anak yang di tunggu-tunggu itu. Akankah dia tidak bisa kembali lagi kedunia manusia!" Driyad membantah. Dia mengkhawatirkan Sean, takut-takut anak itu tidak bisa keluar dari kota ini.


Sekali lagi, Dewi Handita dengan bijak meyakinkan Driyad sebuah kebenaran. "Bahkan jika dia bukan anak itu, maka aku sendiri yang akan mengeluarkan dan membebaskan anak ini keluar dari kota ajaib ini."


Kata-kata Dewi Handita membawa titik terang bagi Driyad. Seperti yang di ketahui olehnya. Siapa saja manusia yang masuk kedalam kota bernama SARANJANA ini, maka mereka di pastikan tidak bisa keluar kecuali dengan izin lord shutanhamun.


"Baiklah Dewi Handita. Aku memang tidak secakap kau untuk mengenalinya, tetapi aku yakin kau pasti bisa melakukan yang terbaik." Kata Driyad yang kali ini sudah sepenuhnya percaya pada ramalan Dewi Handita ini.


Dewi Handita mengangguk, dia sudah yakin bahwa Sean adalah anak yang ia maksud.


Sean sebenarnya tak mengerti apa yang mereka bicarakan. Hanya saja dia sedikit bingung mendengar kata-kata kedua makhluk hebat itu dalam berbincang.


Anak yang di tunggu-tunggu? Sean berpikir keras mengenai hal ini. Dia sejujurnya ingin sekali tahu apa maksud dari perkataan mereka. Tapi tetap saja dia tidak memiliki keberanian untuk bertanya.


Handita menatap wajah Sean yang penuh pertanyaan. Dia mendongak wajah Sean yang sempat tertunduk. Dia melihat sepasang mata Sean yang bersinar indah itu menatap wajahnya. Dari wajah Sean terpancar galaksi alam semesta.


Dewi Handita kembali tersenyum saat melihat seisi alam semesta ada di mata mata Sean yang berbinar itu.


"AHM... Ehm.... Nama ku.... Sean." Sean menjawab sedikit gagap karena tidak berani menatap wajah Handita yang mempesona.


Dewi Handita sedikit menyungging tersenyum. Dengan wibawa dia mencoba membuat Sean tidak gugup saat melihatnya.


"Kau jangan terlalu takut pada ku. Aku tidak akan mencelakakan diri mu."


"Maafkan aku. Mungkin aku belum terbiasa melihat anda Dewi." Balas Sean yang masih tidak berani menatapnya.


Dewi Handita kembali tersenyum saat melihat tingkah polos Sean. "Nama manusia mu cukup bagus. Sean Leander Fujioka Hou. Selera Edna cukup baik dalam menamai putranya yang tampan ini." Dewi itu memuji Sean.


Namun Sean tak mengerti bagaimana bisa dia mengetahui namanya. "Bagaimana bisa anda mengetahui nama ku? Bahkan aku pun baru pertama kali melihat anda di sini."


"Tidak di ragukan lagi. Bahkan aku juga menyukai nama itu." Bukan menjawab pertanyaan penasaran Sean, justru ratu para Marmaida itu malah berkata lain.


"Ya.. setidaknya dia melupakan pertanyaan ku." Gumam Sean mencemooh.

__ADS_1


Seluruh tempat yang Sean lihat amat cantik bahkan suara paus yang membawa Dewi Handita sesekali terngiang menggema.


Terkadang hewan mamalia besar itu mengibaskan ekornya dan menciptakan sedikit gelombang di danau ini.


"Oh iya. Apakah kalian mencari teman kalian yang hilang?" Dewi Handita bertanya, dia tidak menebak hanya saja dia ingin tahu apa yang akan di katakan oleh anak-anak itu.


Sean mengangguk, dia membenarkan ucapan Dewi Handita. "Benar, dia sudah menghilang sejak beberapa hari yang lalu."


"Tidak perlu terburu-buru untuk menemuinya. Dia ada di sekitar sini. Dia baik-baik saja, hanya sedang kebingungan yang ia rasakan saat ini." Dewi Handita mengatakan hal ini karena dia bisa melihat masa depan. Bahkan dia mempunyai kemampuan menebak masalah yang di hadapi manusia.


Karena manusia adalah makhluk polos sehingga pikiran mereka sangat terbuka, mudah terbaca oleh wanita yang di anggap oleh orang-orang sebagai makhluk mitologi ini.


Sean tak bisa menyangkal bahwa Dewi Handita memang hebat. Mungkin benar saja bahwa dia tahu keberadaan Edward di mana. "Itu... Benarkah kau tahu di mana sahabat ku itu? Maksud ku, bisakah kau memberitahu di mana dia sekarang. Aku sangat mengkhawatirkannya." Sean sedikit mengiba berharap Dewi ini bisa membantunya.


"Kau tidak perlu memikirkan hal ini. Dia aman. Dia baik-baik saja saat ini." Tukas Dewi Handita meyakinkan Sean.


Sean hanya bisa pasrah saat dewi itu mengatakan kabar baik tentang Edward. Tetapi tetap saja bagi Sean bertemu dengan Edward jauh lebih baik ketimbang tidak sama sekali.


"Baiklah. Aku mengerti." Tukas Sean bicara lesu.


Dewi Handita di buat menggelengkan kepalanya melihat tingkah Sean yang kekanakan khas remaja belasan tahun.


Sean datang ke kota ini tidak sendirian, tetapi bersama Jessica dan Yudhar.


Dewi Handita melirik kedua anak itu yang masih terendam dalam air. "Kau pasti Jessica, dan kau Yudhar. Apakah aku berkata benar?" Kata Dewi Handita pura-pura menebak padahal sebenarnya dia tahu siapa kedua bocah itu.


Jessica mengangguk, dia membenarkan perkataan Dewi Handita. "Benar, aku Jessica! Sahabat Sean!"


Yudhar pun ikut mengangguk kepalanya seperti Jessica. Walau berat, Yudhar mencoba melakukannya.


Lirikan Dewi Handita itu membuat ratu para Marmaida ini kembali mengeluarkan sihir dari telapak tangannya. Dia mengangkat tubuh dua bocah itu melayang di udara.


"Wow!" Sama seperti ekspresi Sean yang melayang di udara, Jessica juga mulai takjub pada sihir Dewi ini.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2