Adventure Of Lord Lausius

Adventure Of Lord Lausius
Episode 78


__ADS_3

Cuit! Cuit! Cuit! suara burung-burung pagi berkicau menggema di seluruh penjuru hutan.


Matahari pagi sudah muncul di atas menerangi seisi hutan dan bayangan sinarnya menyilaukan pelopak mata.


Di balik pepohonan, sinar matahari yang sudah lumayan terik ini, menembus dedaunan hingga ke dasar tanah.


Sean terbangun, saat matanya terkena silaunya sinar yang menusuk kornea.


Sean mengucek matanya, melihat sekeliling. Dia menutupi matanya dari silaunya sinar matahari dengan punggung tangannya.


Sean tidak menyangka pada akhirnya dia akan tertidur juga, entah sejak kapan dia memejamkan matanya, Sean belum menyadarinya. Terlihat Jessica dan Driyad masih belum bangun, mereka sangat pulas.


Sean beranjak, dia ingin mencari makanan. Perutnya sudah bergetar pagi itu. Sean menengok kanan dan kiri, berharap ada sesuatu yang bisa dia makan.


Sean jalan sedikit tertatih-tatih, sambil memegang perutnya seperti ibu-ibu yang sedang mengandung.


Jessica mendeham. Dia mulai bangun dari pejaman mata yang panjang. Hal pertama yang Jessica lihat adalah, Sean tak ada di tempatnya. Sontak Jessica kaget, takut Sean meninggalkannya.


"Sean!" teriak Jessica panik. Matanya membelalak menyapu sekeliling.


"Aku di sini," jawab Sean. "Ada apa?"


"Syukurlah!" Jessica mengelus dadanya. Dia lega bahwa Sean ternyata berdiri di sekitarnya. "Ku pikir kau akan pergi meninggalkan ku. Aku sangat cemas jika kau melakukannya."


Jessica membangunkan dirinya terpaksa, dia menghampiri Sean yang ada di depannya. "Kau mau kemana?" tanya Jessica. "Sepagi ini sudah seperti siap-siap pergi saja."


"Aku hanya lapar," jawab Sean. "Karena itu aku berdiri di sini, mencari makanan," Sean menepuk-nepuk perutnya, tanda bahwa dia lapar. "Apa kau juga lapar?" Sean menyikutnya.


"Sangat lapar," balas Jessica singkat. Dia menguap, membuka mulut lebar-lebar sambil meregangkan seluruh tubuhnya. Senam, mungkin begitu isyaratnya.


"Sebaiknya, kita cari makan. Aku rasa di sekitar sini pasti ada kebun buah atau semacamnya," Sean menyarankan dengan ide cemerlangnya.


"Ehm.... Tunggu," Jessica menahannya. "Kita bangunkan Driyad dahulu, dia ahli dalam menemukan ladang makanan," kata Jessica yang tak ingin melupakan serigala itu.


Sean hanya mengangguk, dia tak berkata apapun lagi.


Driyad yang tertidur pulas, perlahan membuka matanya karena tubuh terguncang paksa oleh Jessica. Dia sempat menguap saat anak itu memaksanya.


"Uh.... Bau...." Gerutu Jessica. "Nafas mu seperti bau bangkai tikus. Aku membencinya," Jessica menutup rapat hidungnya. Tidak kuat bagi Jessica menghirup nafas yang terbuat dari jutaan bangkai. Jessica meledeknya, nyata di hadapan Driyad.


Driyad tidak memperdulikan perkataan Jessica, justru dia pergi mendekati Sean. Dia bermanja-manja-an di tubuh Sean. Rasa ngantuk-nya masih melekat di mata, sehingga dia dengan tubuh bermalas-malasan merebahkan kembali badannya tepat di kaki Sean.

__ADS_1


Dia melingkar di kaki Sean, menyatukan seluruh tubuh, seakan menjadikan Sean adalah sebuah guling kasur.


Sedangkan Jessica yang memaksanya bangun, justru tak di hiraukan.


"Aku tak percaya ini, dia tak peduli pada ku!" Jessica menuntut. Jessica tersenyum kecut mendengus, dia tidak terima di perlakukan diskriminasi oleh Driyad. "Dia makhluk paling menyebalkan yang pernah aku temui!" ucap Jessica mengadu pada Sean.


Sean tak tahu harus berkata apa-apa, selain melihat tingkah konyol Driyad.


"Hei kawan," tegur Sean. "Ayolah bangun, hari sudah semakin terik!" seru Sean memaksa.


Driyad bagai makhluk pengerat. Dia bertindak seperti tak memahami bahasa Sean. Dia tidak peduli pada mereka yang memaksanya bangun.


Sean dan Jessica berulang kali membangunkan makhluk itu, namun usaha mereka gagal. Dia tak mau membuka matanya lagi.


"Apa sebaiknya kita tinggalkan saja dia, Sean?" Jessica menyarankan.


"Oh, tidak... Itu ide yang terlalu buruk bagi ku!" jawab Sean tak setuju pada Jessica. "Cari ide lain, yang lebih keren."


"Lalu? Bagaimana kita akan membangunkannya? Ide keren seperti apa yang kau maksud." Tanya Jessica sederhana.


Sean, kembali mendongak kepalanya ke atas. Dia mengurut dagu, mencari ide fantastis. "Aku pikirkan dulu ide ini."


"Jangan terlalu lama, usus ku sudah menangis meminta makanan!" pinta Jessica


"Ide apa?" Jessica menyambut antusias.


Sean tersenyum, dia menatap Jessica picik. "Kita tarik saja dia," Sean memberitahu Jessica akan ide konyolnya. "Keren bukan?"


Mendengar ide itu, justru Jessica makin bertambah lesu. Dia menghela nafas sayu tak bertenaga. "Ha-ha..... Ide konyol dari mana itu?" Jessica merespon, gaya bicaranya sudah lemas. "Tubuh besarnya saja sudah cukup menghabiskan tenaga ku, bagaimana mungkin, aku, dengan tenaga ku yang hampir punah ini menyeret makhluk pemalas ini menuju ladang makanan, mimpi buruk bagi ku!" Jessica bersua ketus.


"Kau tak perlu khawatir, biarkan aku yang menariknya," balas Sean menawarkan diri.


"Terserah," Jessica hanya bisa pasrah.


Karena Sean berniat ingin menariknya, sementara Driyad tidak mau membuka mata, terpaksa bagi Sean harus membawanya sedikit tergopoh-gopoh.


Jessica menjadi pemandu perjalanan. Terkadang dia berhitung, menyemangati Sean. "Satu, dua, satu dua, Sean kau pasti bisa," inilah ucapan penyemangat Jessica, dia hanya berkata seperti itu.


Sean mengerang setiap kali menyeret bulu bertubuh besar ini. Wajah Sean di penuhi keringat, tak sanggup rasanya bagi Sean menarik makhluk sebesar ini.


Sean setidaknya sudah menarik tubuh Driyad tanpa bantuan apapun hingga keluar dari hutan. Lebih tepatnya, di pinggir hutan yang berbatasan dengan lereng bukit berumput hijau.

__ADS_1


Tubuh Driyad meninggalkan jejak di tanah saat dia di boyong oleh Sean. Yang membuat Sean takjub adalah saat makhluk itu tidak sadarkan diri dalam berbagai situasi. Dia tak bergeming saat guncangan melanda tubuhnya.


Usaha keras Sean dalam menarik Driyad, kini membawanya tiba di sebuah tebing tinggi. Tepat di bawah Sean, terdapat hamparan bukit-bukit sedikit datar dengan pepohonan beragam.


Mereka ada di puncak tinggi, menatap ke bawah, tempat yang hijau karena tertutupi oleh rumput hijau segar.


Sean dan Jessica terpana saat melihat betapa sejuknya pemandangan. Dan Jessica ternganga saat hujan melanda tepat di depan matanya. Hujan lebat yang melanda mengguyur lereng bukit di bawahnya, yang berjarak satu meter dari tempat Sean dan Jessica berdiri.


Awan-awan terlihat cerah, sementara hujan turun deras. Itu nampak sesuatu yang sulit di cerna oleh akal pikiran. Namun itulah kenyataannya, kenyataan yang Sean dan Jessica lihat.


Angin dari barat berhembus menuju hutan di belakang Sean dan Jessica. Angin yang membawa percikan air hujan dari perbatasan hutan di dataran tinggi dengan lereng bukit di bawahnya. Lebih mirip jurang, begitulah yang jelas di rasakan oleh Sean dan Jessica.


Percikan air yang di bawa angin ini, sedikit mengenai tubuh mereka bertiga.


Jessica, khususnya, dia menutup diri dengan tangan berharap bahwa, derasnya air hujan tak memusuhi dirinya.


"Wohooooo....." Ucap Jessica. "Santai bung, aku sedikit basah oleh mu," kata Jessica bergurau.


Sean pun merasakannya, hujan melanda dirinya.


Tubuh besar Driyad yang pulas karena tidurnya setelah lelah bertarung semalam, kini membuka kelopak matanya.


Percikan air yang juga menyiram tubuhnya, membuat mata Driyad sayup-sayup terbuka.


"Whow!" teriak Driyad kaget. Hal pertama yang ia lihat adalah jurang yang dalam.


Ya, Sean meletakkan tubuh Driyad tepat di bibir tebing. Kepalanya sengaja menggantung, namun Sean tak melakukannya dengan serius. Hanya karena melihat keindahan bukit di bawah tebing, membuat Sean melupakan makhluk itu.


"Kau sudah bangun?" tanya Sean.


"Dimana ini? Di mana api? Kenapa semak-semak berubah menjadi tebing mengerikan seperti ini?" Driyad berkata. Dia nampak kaget karena di suguhkan oleh tempat yang sudah berbeda.


Jessica menyiram Driyad dengan air hujan, berharap makhluk ini sadar. "Kau bertanya di mana ini?" Jessica menggerutu. "Kau bertanya pada kami, jelas saja kami tidak tahu ini di mana? Kau tahu, kalau kami baru pertama kali di sini. Jika kami tahu tempat di seluruh kota ini, percayalah, kami pasti tidak akan bersusah payah membawa mu kemari!" Jessica ahli dalam berkata sewot.


"Oh. Maafkan aku, aku lupa," Driyad mengaku, dia mengalah. "Ku pikir kita masih ada di dalam hutan."


Jessica memberitahu Driyad. "Kau tahu? Sean hampir saja mati kehabisan tenaga oleh kau yang tak mau membuka mata dari tadi. Lebih lagi, kami hampir mati kelaparan karena kau yang egois," Jessica menuntutnya, dia melimpahkan segala kesalahan pada Driyad.


Driyad mengaku, dia hanya bisa terdiam menerima omelan Jessica tanpa ujung. Dia melirik Sean, anak itu mengangkat bahunya, dia bersikap seakan mendukung Jessica.


Driyad mencoba mengulurkan kepalanya pada Sean, dia berharap Sean akan luluh lalu memaafkannya. Seperti sebelumnya, saat dia menjulurkan kepalanya, Sean akan membelainya lembut.

__ADS_1


Tapi Jessica menghentikannya, dia memekik dan meninggikan suaranya. "Sean tidak akan menghentikan langkah ku untuk mengomeli kau, serigala jelek," ledek Jessica. "Kami akan memaafkan kau, asal bawa kami menuju ke buah-buahan di sana!"


BERSAMBUNG


__ADS_2