
"Aku sudah mengantuk!" Kata Jessica. "Aku tidur lebih dahulu Sean, mata ku tak bersahabat." Jessica mulai menyerah. Setelah beberapa saat perang melawan kantuk-nya.
"Ok," jawab Sean singkat.
"Kau juga tidur Sean, jangan terjaga." Jessica memerintah, dia perhatian pada Sean walau terkadang menyebalkan.
"Aku juga ingin tidur sejenak Sean!" Driyad menguap, nafasnya terlunta-lunta di udara. "Kau jangan terjaga!" Dia mengulangi perkataan Jessica.
Jessica, Sean dan Driyad memilih istirahat di dekat sebuah bebatuan mirip goa, tetapi tak berpintu. Mungkin sejenis bukit bebatuan atau lereng bukit di balik hutan.
Api menyala, Driyad dan Jessica terlihat sudah memejamkan mata. Jessica memilih menyandarkan punggungnya di batang pohon. Sedangkan Driyad tertidur pulas di dekat api, menggeletak di tanah.
Sean memandangi kedua temannya itu, dia tidak ngantuk dan hanya memainkan sebatang ranting kecil lalu mencoret-coret tanah. Dia menggambar wajah ibu, ayah, Eed, Jessica dan Yudhar.
Sean mungkin amat merindukan orang-orang yang ia cintai.
Sean menghela nafas sedikit panjang, mungkin bosan baginya berjam-jam mencoret-coret tanah. Mengguras-nya berantakan dengan seni lukis yang ia buat abstrak entah apa rupanya.
Udara malam berhembus sedikit dingin dan kencang. Pohon-pohon ikut bergoyang kesana kemari karena mengikuti irama angin yang berhembus.
Sean menengok kiri kanan, melihat bahwa semua yang ada di sekitarnya tak bisa hening karena angin dari barat ini.
Terkadang, sesekali, di balik semak-semak, rumput liar itu bergoyang. Sean bangkit dari duduknya, dia memastikan apa yang terjadi.
Sean waspada, dia melirik ke semak-semak, melihat ada apa di balik rerumputan yang tinggi hampir menyamai tubuh Sean. Rumput-rumput di sana bergoyang kesana kemari.
Dia memeriksanya, melihat siapa yang mengusik.
Dan yang Sean temui hanya semak-semak tanpa rimba. "Mungkin angin?" Sean berpikir, setelah di lihatnya tak ada apapun di semak-semak itu.
Dia kembali duduk, menyandarkan tubuhnya di batang pohon. Mata Sean mulai tersayup-sayup mengantuk. Bola matanya sudah berat untuk terbuka.
Bahkan Sean tak mampu melawan rasa kantuknya itu walau dia sudah mengurut pelipis matanya.
"Kenapa aku tiba-tiba mengantuk seperti ini?" Sean bertanya pada dirinya sendiri. "Tidak biasanya!" Sean membuka bola matanya sebesar mungkin, demi menghilangkan kantuk yang mulai menyerang.
Tetapi, Sean mulai menyerah. Dia tak kuat menerima keadaan ini. Jalan satu-satunya adalah, menerima kenyataan bahwa dia harus memejamkan mata.
"Sebaiknya aku tidur, besok harus kembali melanjutkan perjalanan," Sean kini benar-benar harus tenggelam dalam mimpi di malam yang panjang.
Di bawah sinar rembulan yang sedikit cerah, Sean berharap perjalanan besok tidak terlalu sulit.
Di balik semak-semak ada beberapa makhluk berkulit kehijau-hijauan dengan hidung tergantung sebuah benda berbentuk bundar, sekilas mirip gelang.
Mungkin itu anting-anting makhluk yang nampak menyeramkan. Mereka memiliki rupa sedikit seperti makhluk genetasi atau mutan antara manusia dan bison atau kerbau hutan.
Telinga lebar, kulit tebal berwarna hijau berambut sedikit panjang bertanduk runcing dengan celana compang camping selutut.
Wajah mereka benar-benar mirip seperti kerbau hutan menyeramkan, tubuh kekar seperti manusia. Sedikit mengerikan.
Di semak-semak mereka memperhatikan Sean dan kedua sahabatnya.
Melihat Sean sudah mulai pulas, beberapa makhluk itu menyarankan untuk menyerang.
Insting membunuh mungkin sudah melekat pada makhluk itu, bahkan tanpa berpikir dua kali mereka langsung keluar dari persembunyian mereka lalu menyerang Sean, Driyad dan Jessica.
__ADS_1
Roar...
Suaranya menggelar, Sean dengan segera terbangun saat suara yang mengaum keras.
"Siapa kalian!" Sean memekik bertanya. Dia sedikit terkejut. Bahkan Jessica dan Driyad ikut terbangun.
Karena terkejut, pedang besar Sean yang melekat di punggungnya ia cabut sebagai refleksi atas kejutan para makhluk itu. Sean mengacungkan mereka senjata.
"Mereka para gort. Hati-hati, mereka buas," Driyad memberitahu. "Kita harus selalu waspada!"
Sean, Jessica dan Driyad mulai bertindak berhati-hati. Para gort telah mengepung mereka. Apalagi jumlah mereka ada banyak, lebih dari tiga.
"Apa yang harus kita lakukan Sean?" Tanya Jessica membisik. "Mereka amat banyak," Jessica mulai was-was.
"Entahlah!" Jawab Sean. "Aku tidak bisa berpikir jernih sekarang."
"Anak-anak, jangan lengah!" Driyad memperingati. "Mereka adalah makhluk kuat!"
Sean mengangguk, dia tahu bahwa mereka pasti makhluk yang kuat. Tak terkalahkan.
Roar...
Suara para gort terdengar menakutkan. Walau begitu, Sean tidak takut pada mereka, hanya ngeri yang menyelimuti diri masing-masing.
Para gort mulai mengepung, dan satu gort menyerang Sean.
Sean dengan pedang besarnya menangkis serangan itu.
Dengan senjatanya, Sean berhasil melumpuhkan satu gort. Tapi gort yang lainnya ikut menyerang setelah satu gort terluka.
Jessica sedikit ahli dalam memanah, melalui senjata yang pernah di berikan oleh Dewi Handita, Jessica menancapkan beberapa anak panahnya tepat mengenai kepala-kepala gort.
Mereka bertarung sedikit sengit. Bahkan Driyad gigih melumpuhkan satu gort. Pertarungan mereka jauh lebih mencekam saat Driyad yang bertubuh besar harus tersungkur-sungkur ke tanah.
Tenaganya dan tenaga gort yang ia hadapi sedikit imbang. Mereka bertarung adu gulat hingga masuk-masuk semak.
Jessica dan Sean terkepung. Sebisa mungkin mereka berusaha ingin melumpuhkan makhluk-makhluk yang berjumlah puluhan itu.
"Sean! Mereka sangat kuat!" Jessica bicara pelan, mereka saling membelakangi badan.
"Benar. Mereka jauh lebih kuat," jawab Sean. "Bahkan, aku saja tidak bisa mengendalikan pedang ini. Dia sangat berat!" Kata Sean mengeluh.
"Bukan waktunya untuk menyerah Sean! Atau kita akan mati di tangan cakar-cakar tajam itu," Jessica menyemangati Sean.
Nafas-nafas para gort yang mengepung Sean dan Jessica terlihat tersengal-sengal tak karuan. Dari hidung berantingkan benda besar itu, nafas mereka menyembulkan asap di tengah dinginnya malam.
Dan tepat di depan Sean, satu gort melayangkan cakarannya pada Sean.
Sambil dia mengerang keras. Gort bertindak membrutal.
Sean menangkis cakaran itu menggunakan pedangnya. Dia tertatih-tatih menggunakan senjata pemberian Dewi Handita itu.
"Argh......" Sean mengerang, dia berusaha kuat menahan serangan gort yang menyerangnya. Tubuh Sean perlahan mulai tak seimbang, kuda-kudanya sedikit sempoyongan.
Kegigihan Sean untuk mengalahkan makhluk itu harus segera di akhiri atau dia akan mati di tangan makhluk menjijikan ini.
__ADS_1
"Sean!" Jessica berteriak. "Gunakan teknik taekwondo mu Sean!" Kata Jessica mengingatnya.
Mendengar perkataan Jessica membuat Sean teringat pada turnamen yang pernah ia lakoni. Di mana dia selalu menjadi juara taekwondo dengan mengalahkan lawan-lawannya yang terbilang selalu juara.
"Benar!" Sean berkata yakin. "Anggaplah ini sebuah pertandingan."
Mengingat dirinya pernah menjadi seorang atlit yang berprestasi, Sean dengan segenap raganya mengalahkan gort yang ada di hadapannya. Dia membanding gort yang bertarung dengannya bagai lawan yang pernah ia kalahkan dalam pertandingan taekwondo.
Sean mengeluarkan semua kekuatan yang ada. Tekadnya membuahkan hasil, dia membanting tubuh gort yang dua kali lebih besar dari tubuhnya itu hingga tersungkur.
"Argh...." Sean kali ini mengerang dengan kekuatan membara. Sean sedikit membrutal dalam menyerang. Dia melayangkan pedang, tepat mengenai leher lawannya gort. Sean memenggalnya tanpa nurani.
Sean ingin membantu Jessica yang mulai terkepung, dia gagah kali ini. Sean mengerang lagi, kali ini dengan kekuatan penuh. Apa lagi posisi Jessica sudah terdesak, keahlian memanah Jessica belum begitu mahir sebenarnya, oleh karena itu untuk menancapkan banyak panah tak mudah di lakoni oleh Jessica.
Sean melancarkan kekuatan manusianya yang tak sebanding dengan kekuatan para gort. Dia tak peduli jika harus terluka. Demi menyelamatkan Jessica, Sean menyerang tanpa takut dia sendiri celaka.
Sean melayangkan pedang besarnya. Walau berat, dia tetap berupaya.
Tapi, salah satu gort berhasil mengatasi serangan brutal Sean. Tubuhnya terkena serangan tanduk gort.
Sean terpental melayang di udara lalu tubuhnya terjatuh keras di tanah.
Pedang yang ia gunakan sebagai senjatanya, kini terjatuh jauh meninggalkan tuannya.
"Sean!" Jessica berteriak. Dia mengkhawatirkan Sean.
Namun sayang, karena Jessica tak memperhatikan lawannya, tubuh Jessica tersambar oleh pukulan gort. Jessica, sama seperti Sean, dia terjatuh tersungkur.
Sean melihat Jessica sedikit terluka. Melihat kejadian ini, Sean mengepal tangannya penuh amarah. Dia menghentakkan tanah, Sean ingin membalaskan kekalahan Jessica.
Sama seperti sebelumnya, Sean seakan di rasuki oleh makhluk yang cukup kuat, mata Sean memerah terang penuh dendam.
Sean merasakan bahwa tubuhnya kini berbeda dari biasanya.
Tubuh Sean terasa seperti sedikit ringan, bahkan dari tangannya seperti ada kekuatan yang memaksanya untuk menyerang gort.
Sean menggertak giginya, dia bangkit dari rasa sakit terjatuh di tanah. Tanpa aba-aba dia langsung melayangkan serangan tajam kepada para gort bahkan tanpa pedang sekalipun.
Dia menyerang makhluk-makhluk menakutkan itu dengan tangan kosong. Kekuatan Sean kali ini jauh tak terbendung.
"Argh ....." Dia kembali mengerang. Tangan-tangan Sean menikmati seluruh tubuh gort yang perkasa itu bagai samsak hidup.
Satu persatu gort yang menyerangnya tersungkur hingga memuntahkan darah. Sean memukul mereka dengan keras tepat di dada hingga menyebabkan tulang dada mereka patah. Sean merasakan suara-suara retaknya tulang-tulang itu seperti menikmati cemilan renyah.
Nafas Sean tersengal-sengal. Dia tak bisa menahan kekuatannya. Para gort menjadi pelampiasan amarahnya, Sean bertindak kejam.
"Sean!" Dari jauh Jessica kembali meneriaki dirinya. "Di belakang mu Sean;" Jessica memberitahu.
Sean menoleh, mengikuti perkataan Jessica. Seluruh gort telah di musnahkan, hanya satu yang masih berani melawannya.
Dengan tatapan tajam, gort yang menyerangnya dari belakang menggunakan sebuah bandul besi besar, tanpa pikir panjang Sean mendaratkan kepalan tangannya tepat di wajah makhluk itu. Sementara satu tangan lainnya ia pakai menangkis bandul besi besar tajam yang berupaya mendarat tepat di kepalanya. Sean amat tangkas dalam bertindak.
Hingga tanpa rupa, begitulah akhir dari pukulan Sean. Sean melumpuhkan puluhan gort hingga tewas di tangannya.
BERSAMBUNG
__ADS_1