Adventure Of Lord Lausius

Adventure Of Lord Lausius
Episode 91


__ADS_3

Beberapa saat sebelumnya


Di pinggir sungai, Driyad yang membaringkan badan di dekat Amuria, menyadari kalau kedua anak itu cukup lama bepergian.


Driyad menunggu, tapi dia tidak khawatir. Keduanya tidak jauh dari pinggir sungai, tak ada yang perlu di pikirkan. Di tengoknya arah di mana Sean dan Jessica pergi. "Mungkin mereka sedang menyantap buah itu hingga kenyang, sebentar lagi mereka akan kembali," ucapnya tanpa ada rasa was-was.


Perlahan, Amuria mulai sadar. Saat membuka matanya, samar-samar yang terlihat tubuh besar serigala itu. Tubuhnya masih agak lemah, tapi, racun itu sudah pelan-pelan berkurang.


"Kau sudah bangun?" Driyad menegur. Tubuh perkasa itu menggelengkan kepalanya kasar. Ke kanan ke kiri, mungkin dia merasa pengar karena racun anak panah itu. "Kau baru saja sadar, sebaiknya istirahat dulu," saran Driyad.


Amuria membuang nafas panjang, asap-asap uap cuaca itu keluar dari hidungnya. Amuria memang lemah, terlalu beresiko jika dia pergi dalam keadaan terluka. Ada benarnya, istirahat sebentar di pinggir anak sungai yang jernih ini. Di dekat api, sudah lama tidak melihat ada api di sana. Amuria bukan manusia yang bisa menyalakan api, sehingga keberadaan elemen panas itu membuatnya agak Bernadi.


Amuria kembali melanjutkan tidurnya, menutup mata, tetapi tidak terlelap. Dia sadar, para makhluk busuk itu sewaktu-waktu akan menyerang. Amuria teringat pada kejadian tadi, dia bertemu dengan dua anak manusia. Wajah kedua anak itu terngiang dalam bayangannya. Semakin menutup mata ingin menghindar dari bayangan Sean dan Jessica, entah kenapa justru semakin membuatnya merasa ada sesuatu yang berbeda dari anak itu.


"Dia siapa? Dia aneh. Dia berbeda dari anak-anak pada umumnya. Dia, seperti..... Ada aura yang bisa membuat semua makhluk tunduk padanya. Dia..... Seakan seperti memiliki jiwa yang rangkap. Jiwa yang kuat, jiwa yang bisa membuat orang lain merasakan bahwa dia..... Adalah, anak itu. Mungkinkah dia...?"


"Ada apa?" Driyad penasaran. Tubuh Amuria terlihat tak tenang, kadang ke kiri kadang juga ke kanan. Menggosok dan menyapu tanah. "Kenapa kau terlihat gelisah? Apa yang membuat kau begitu tak bisa diam? Apa kau memikirkan sesuatu yang mengganjal?"


"Siapa anak yang kau bawa itu?" Amuria bertanya. "Dari mana kau membawanya? Kau menemukan anak itu di mana?"


Driyad berpikir, tak ada lain kedua anak yang di maksud oleh Amuria adalah Sean dan Jessica. "Sean dan Jessica," jawabnya singkat. "Ada apa? Kenapa dengan mereka berdua? Apa mereka membuat mu terluka?" tanya Driyad setengah memburu panik.


"Dimana mereka sekarang?"


Driyad menoleh ke arah belakang tubuhnya. "Mereka mencari makan di sana," dia menunjuk ke arah kebun buah raksasa.


Amuria memicingkan matanya, dia fokus mengarah ke tempat Sean dan Jessica pergi. "Kenapa kau membiarkan mereka pergi tanpa pengawasan. Kau tahu, di sana sangat berbahaya. Mosarus, di saat-saat seperti ini, mereka akan melintasi tebing bukit itu," Amuria mengingatkan.


"Aku tidak menyadari hal ini. Aku lupa jika di saat seperti ini mereka akan kembali ke selatan!" ungkap Driyad. dia mengakui kelalaiannya.


Benar saja, Driyad benar-benar lupa. Mosarus sering hilir mudik di mana-mana, mereka adalah musuh alami Amuria. "Aku lupa. Mereka pasti masih di sana."


"Sudah berapa lama mereka pergi?" tanya Amuria.


"Hampir satu jam berlalu."


"Celaka!" Amuria tahu, anak-anak itu sudah dalam situasi mencengkam. Dia memaksa terbangun dari tidurnya walau dia sendiri masih lemah gak berdaya. "Aku harus kesana," ucapnya. Lalu dia berlari secepat dan semampunya. Bayang-bayang wajah anak itu membuatnya tertarik untuk bertindak.


"Kau mau kemana? Luka mu belum sepenuhnya pulih," Driyad mengingatkan. Makhluk itu, dia penuh misteri. Unik rasanya bagi Driyad melihat dia tidak bersikap garang. Terakhir kali melihatnya di perbatasan saat dia dan Herren bertemu dengan makhluk ini sedang bertarung hebat melawan mosarus.


"Ini jauh lebih penting dari pada meninggalkan anak-anak itu," ucap Amuria. Dia menoleh sebentar, Driyad belum juga beranjak dari santainya menikmati istirahat malam. "Kau mau ikut, atau kau merelakan keduanya menjadi santapan lezat para Mosarus!"

__ADS_1


Benar, dia harus ikut. Driyad yang menuntun keduanya selama berjalan di tempat ini. Melewati manun, memasuki sadon, melintasi bukit Tuksila, juga danau osirus. Dia yang bertanggung jawab atas semua ini. Kenapa sekarang dia tidak mengkhawatirkan anak-anak itu. Driyad ingat, terakhir kali dia pernah bertarung dengan mosarus. Tubuhnya penuh luka, makhluk itu sangat kuat. "Anak-anak itu adalah tanggung jawab ku, mereka adalah teman ku."


Melihat Amuria sudah berjalan setengah menjauh, tak ada pilihan lain. Hanya menyusul mereka, ini pilihan terakhir. "Kenapa kau begitu mengawatirkan mereka?" Driyad bertanya, langkahnya sudah menyamai langkah Amuria yang agak mulai melamban. Mungkin karena luka di tubuhnya, sehingga dia tidak bisa leluasa berjalan. "Ehm.... Kalau di ingat-ingat, terakhir kali, kau bersikap apatis pada anak-anak itu. Lalu kenapa kau sekarang begitu peduli."


Taring panjang itu benar-benar menakutkan untuk di lihat. Namun bukan Driyad namanya jika harus takut hanya melihat taring panjang yang putih nan bersih itu.


"Itu bukan urusan mu," jawab Amuria sinis. Sekilas matanya melirik, tapi tidak lama. Dia benci menatap orang lain, selain lawan jenisnya. "Jangan pernah berkata sok akrab pada ku. Lain kali kau harus mengingatnya!"


"Dia masih saja tidak berubah," Driyad bergumam pelan.


Amuria yang peka pada suara, dari pinggir sungai sudah merasakan sesuatu yang aneh. Dia berhenti sejenak, di pejamkan matanya. Telinganya mengikuti suara yang masuk ke gendang telinganya.


IGH! IGH! Suara erangan dan pekikan ini terdengar ada di balik bukit tebing bebatuan. Terdengar juga suara seorang gadis memanggil nama "Sean" tentu ini membuatnya yakin, pasti kedua anak itu dalam masalah.


"Ada apa kau berhenti? Apa kau mendengar sesuatu?" tanya Driyad. Dia bersikap tiba-tiba, aneh rasanya jika makhluk itu terdiam.


"Benar! Mereka dalam masalah yang berbahaya," ucap Amuria. Sesaat setelah itu, dia langsung berlari kencang. "Mereka ada di sana. Mereka dalam bahaya."


"Hei, apa yang terjadi!" teriak Driyad.


Amuria tidak menjawabnya, dia melihat ke arah Driyad sejenak, tak lama dia kembali fokus pada jalannya.


Amuria sudah menduga, anak-anak itu dalam masalah. Dari jarak beberapa meter, dia melihat Sean sudah dalam cengkraman. Jessica sudah menggelayut di udara, hal ini memantik ke-berang-an Amuria.


GRRRRR!! Suara erangan ini sangat menakutkan. Raungan Amuria memang juaranya dalam menggelegar.


Karena moncong-moncong itu siap menampung makanan lezat, dengan sigap Amuria meloncat ke udara, lalu.... Hup..... Makhluk buas ini menerkam semua mosarus yang di lihatnya.


Hingga semua makhluk itu, berakhir dalam kematian yang tragis.


Seperti itu kejadian tadi. Sean berpikir mereka akan musnah dalam perut si berisik mosarus. Suaranya melengking di udara. Menjengkelkan jika terus mendengarnya. Gendang telinganya serasa sakit saat suara itu memekik keras.


Sean, Jessica dan Driyad kembali ke tempat semula. Api mereka. Tempat itu tadi di tinggalkan, mereka akhirnya kembali menuju api di pinggir anak sungai itu.


Malam sudah menggantikan siang. Amuria terlelap dalam tidurnya, di dekat api, mungkin dia ingin menikmatinya kehangatan.


Di dekat api, keempat makhluk itu duduk menikmati panasnya api. Hanya Sean dan Jessica yang masih termangu. Sean merasa bosan, dia tidak bisa memejamkan matanya. Hanya...... Mencoret-coret tanah, menggambar asal-asalan, lalu........ Kadang juga memainkan api yang menyala. Tentu bosan jika di tempat itu tak ada apapun? Kecuali... Hanya tempat yang penuh fantasi. Semua yang di lihat adalah keindahan, potongan surga yang terjatuh. Sean memikirkan ini sedari tadi.


Jessica yang juga duduk termangu, ikut lelah. Dia tidak mau berkata, lagi pula pikirnya tak ada yang perlu di bahas. Eed, ah, mungkin ide gila yang pernah di temui jika membahas anak itu. Kehilangan dirinya, sebuah kekesalan bagi Jessica.


Dari balik semak-semak, Jessica mendengar sesuatu. Rumput besar itu bergoyang, sementara tak ada angin yang melintas. "Sean," Jessica membisik pelan. "Tidakkah kau mendengar suara itu?"

__ADS_1


Angin. Kemungkinan, angin yang membuat suara di semak-semak. Sean melirik Driyad, dia juga ikut terlelap. "Mungkin angin berhembus, kau jangan terlalu berpikir yang tidak-tidak."


"Tidak, Sean," tandas Jessica. "Itu sesuatu yang berbeda."


Sean berpikir, itu hanya sesuatu yang tidak berguna. Atau... Sejenis tikus hutan yang mengganggu. "Lebih baik kau tidur, besok kita melanjutkan perjalanan." Tak ada ucapan lain, selain mengehentikan bualan konyol Jessica.


"Huh, dia selalu begitu," Jessica menggerutu sebal. Kata-kata Sean membuatnya lebih memilih tidur. Ucapan itu ada benarnya, Jessica membaringkan badan di atas batu besar.


Sean tidak tidur, dia tetap duduk sambil menopang dagunya di tangan. Menarik ulur kayu api yang menyala. Ah, benar-benar menjengkelkan bagi Sean, dia harus masuk ke tempat aneh ini.


"Tidurlah Sean, kau juga perlu istirahat," Jessica menoleh. Dia memperingati anak itu, dia bebal pada perintah. "Kau jangan terlalu banyak berpikir. Kau perlu istirahat yang cukup."


"Kau tidur saja. Jangan terlalu memikirkan aku," jawab Sean singkat.


Setidaknya pikir Jessica dia sudah memperhatikan temannya itu. Dia teman yang baik, jarang menemukan teman seperti dia. Jessica berpikir demikian.


Tapi, Sean tahu ada sesuatu di balik semak-semak yang baru saja dia bahas dengan Jessica. Matanya melirik tajam di balik semak-semak itu. Di angkatnya pedang merah yang ia letakkan di sebelahnya.


Sean yakin, ada makhluk yang sedang mengintai mereka. Perlahan Sean mendekati semak-semak. Dia menyibak ranting-ranting kecil berdaun itu. Keyakinan membuatnya teguh, bahwa itu..... Gort.


Krasak krusuk suara di balik semak itu, membuatnya makin penasaran. Sean, dia dengan cepat menebas rumput yang bergemuruh itu.


ZRASH! SHRING! ......Kena. Pikir Sean begitu. Ada makhluk mati yang terkena pedangnya. Sean membuka semak-semak itu, hatinya bertanya? "Apakah itu gort?"


Namun sayang, dia tidak menemukan gort atau apapun, kecuali..... Seekor tikus tanah. Ukurannya sebesar..... **** hutan. Sean memperkirakan besarnya begitu. Begitu besarnya tikus itu, dia sudah mengotori pedang merah Sean dengan darah busuknya.


Cukup ampuh membunuh mangsa, setidaknya pedang pemberian Dewi Handita ini berguna.


"Aku pikir dia gort. Menyebalkan," Sean menggerutu. Sebal rasanya karena bukan makhluk itu yang dia temukan.


Saat Sean memutar badannya, tepat di depan wajahnya sepasang taring Amuria berdiri menakuti dirinya. "Akh...." teriak Sean kaget. Dia terjatuh di balik semak-semak, makhluk itu hampir membuatnya mati terkejut.



*Amuria adalah harimau bertaring panjang. Biasanya hidup di suhu relatif dingin, mereka memiliki bulu yang tebal dan lebat sehingga memungkinkan menahan diri dari dinginnya salju.


Ukurannya sangat besar, tiga kali dari ukuran harimau pada umumnya*.


BERSAMBUNG.


Jangan lupa tinggalkan like dan komentar kalian ya. ^^°^^

__ADS_1


__ADS_2