Adventure Of Lord Lausius

Adventure Of Lord Lausius
Episode 128


__ADS_3

Sean terbangun dari tidurnya. Setelah berdiskusi dengan Medusa mengenai kepergian mereka semalam, wanita itu beride. Kalau mereka harus berangkat pagi ini menuju ke pintu perbatasan.


Sean mengedarkan pandangannya, ketika matanya terbuka. Yang Sean lihat hanya tempat tidur kosong.


Semalam Sean tidur di sebelah Medusa, di mana ada tempat tidur batu berbentuk segi empat sempurna. Nyaris tanpa celah yang tidak nampak di setiap sisi.


Ada dua tempat, Sean menggunakannya satu. Dan satu lagi Medusa yang menempatinya. Tempat tidur kuno, walau sakit semua rasanya tulang ketika menenggelamkan mimpi di sana. Setidaknya, ada tempat untuk bermalam.


Cicitan burung terdengar hingga celah-celah setiap goa. Lorong yang semalam Sean lalui, kini memancarkan cahaya seutuhnya. Cahaya matahari.


“Apakah dia sudah bangun?” gumam Sean ketika tidak mendapati Medusa di tempatnya. Sean menuju ke lorong yang mengarah ke tebing. Instingnya mengatakan kalau dia ada di sana.


“Sejak kapan kau ada di sana?”


Sean berdiri di sebelah Medusa. Dugaannya benar, wanita berekor ini ada di pinggir tebing. Menyaksikan burung-burung berkicau, kupu-kupu bersayap indah hinggap di jemarinya.


“Pangeran sudah bangun?”


Alih-alih menjawab Sean, Medusa justru berkata lain hal. Sean mengangguk, kemudian dia duduk di pinggir tebing. Sama persis seperti More kala itu duduk di sana. Medusa mulai mengenangnya. Sean memposisikan dirinya tepat seperti seseorang yang paling di kenal Medusa.


“Kau merelakan aku pergi membawa semua kekuatan yang seharusnya menjadi milik mu. Apa kau tak keberatan?”


Sean melirik Medusa, dan yah. Yang Sean dapatkan sepagi ini adalah senyuman kecut wanita itu.


“Bahkan jika aku tidak rela, apakah kekuatan itu akan di takdirkan menjadi milik ku!”


Oh, bodohnya Sean. Dia lupa, kalau sebenarnya semalam Medusa sudah mengatakan—jika Sean-lah pemilik kekuatan dari dua permata dan roh dewa ular itu, secara absah.


Tidak di ragukan lagi, kekuatan itu tidak bisa di pindah tangankan atau berganti kepemilikan.


“Maaf, jika aku mengambil hak mu.”


Medusa memahaminya. Dan Medusa tidak mungkin akan mengambil sesuatu yang sudah menyatu—tidak bisa di pisahkan lagi. Dan ini takdirnya, Medusa bukan pemilik dari dua batu yang selama ini telah dia jaga.


Ketika mereka sedang berbincang, menikmati alunan lagu dari alam yang menyejukkan sukma. Medusa yang berdiri dengan menatap hamparan hutan di tebing tepat di hadapannya ini, gendang telinganya menangkap suara yang berbeda.


Suara yang belum pernah dia dengar, hilir mudik di sekitar goa. Belum pernah sekalipun Medusa mendengar suara hentakkan sekeras ini. Jelas kalau Medusa mulai melirik kesana kemari. Manik-manik matanya amat jeli.


“Kau kenapa?” tanya Sean ketika dia mendapatkan Medusa hening.


“Aku merasa, ada yang datang ke mari?”


“Siapa?”


Sean memutarkan matanya jengah, ikut menelisik sekeliling. Mencari siapa yang di maksud Medusa.


“Sepertinya ini adalah makhluk gunung.”


Sean berdiri, di ujung tebing itu, Sean mengikuti Medusa yang menuju ke arah semak-semak di sisi lain goa. Ada jalan setapak di pinggir goa, sementara di sisi sebelahnya adalah sungai berbatu yang dalam.


Jika ada yang terjatuh ke bawah sana, bisa jadi mati. Atau sekarat, Sean tak tahu. Prediksinya begitu.


“Kau sudah mendapatkannya?” tanya Sean lagi.


Medusa masih mengedarkan pandangannya. Tidak lama kemudian, dia mengeluarkan anak panahnya.


“Mereka bersembunyi di balik semak-semak itu!” kata Medusa sambil membidik anak panahnya ke arah rerumputan tinggi.


Sean mengangkat pedangnya, dia siap membantu.


ZIT!!!


Medusa melepaskan satu anak panah. Tepat menembus rerumputan, dari sana terdengar suara mengerang. Sesaat kemudian—


ROARK!!


Tiga ekor makhluk aneh muncul. Melompat ke udara, melewati Sean dan Medusa. Lalu mendarat di belakang keduanya. Mereka tiba, jumlahnya tidak banyak, namun mereka berbadan besar. Layaknya..... Gorila! Ya, Sean melihatnya begitu.


Tangan mereka besar, keras bagai batu. Lebih tepatnya, memang batu. Kemungkinan tangan mereka terbuat dari batu.


“Makhluk apa itu?” tanya Sean.


“Mereka adalah makhluk hutan.


Pemangsa daging, dan kanibalisme.”


Wow. Ngeri, Sean sudah merinding mendengarnya.


“Mereka tidak mudah di hadapi. Tetapi, aku bisa mengatasi mereka,” kata Medusa lagi.


Medusa maju, menyerang lebih dahulu. Ketiga makhluk itu mengerang keras, menepuk-nepuk dada. Salah satu di antara mereka menghentakkan tebing goa, tanda bahwa mereka makhluk kuat.


“Hei,” teriak Sean pada Medusa. “Kau.....”


Oh, Sean di buat kesal oleh wanita itu. Dia menyerang lebih dahulu tanpa dirinya. Terpaksa, Sean tak mau kalah oleh seorang wanita.

__ADS_1


“Jangan lupakan aku,” kata Sean yang mulai menggelora ingin ikut bertarung.


ROARK!!!


“Hiya.....”


Sean melompat ke udara, pedang merahnya ingin menebas satu makhluk gunung itu. Namun—bukan tidak berhasil serangan Sean. Akan tetapi mampu di tangkis.


Suara pedang yang beradu dengan tangan sekuat batu, memercikkan sedikit api.


Sean makin menggelora, membuat Sean berputar ke udara untuk sesaat. Lalu mendarat sempurna di hadapan makhluk itu. Sean melongos, mengoles jempolnya di hidung.


“Kau makhluk kuat rupanya!” seru Sean girang. Belum pernah dia bermain-main dengan makhluk seperti ini sebelumnya.


“Pangeran. Hati-hati!” kata Medusa memperingati.


Sean menoleh, senyum kecup penuh ledekan menghiasi wajah Sean—dan itu tidak cocok dengan wajah menawan sempurnanya.


“Kau jangan khawatir. Aku bisa mengatasi mereka semua,” teriak Sean optimis.


Sekali lagi, Sean berlari kilat, tiba-tiba sudah ada di depan makhluk gunung itu. Sean menebas apa saja yang ada di makhluk ini. Sama seperti sebelumnya, dia amat kuat. Sean menebas kakinya, tak ubah sama seperti tangan. Tetap keras.


Sean tidak peduli dia kuat, Sean tetap semangat menghadapi makhluk ini.


“Hiya.....”


Sean meloncat ke udara, menyerangnya dari atas. Sedangkan Medusa menyerang dengan santainya. Di bantu oleh anak panahnya, makhluk gunung itu tak bisa mengentas serangan Medusa dengan mudah.


Satu anak panah Medusa menembus satu makhluk gunung bertubuh besar. Dan satu lagi masih menyerang Medusa. Pertarungan yang tidak seimbang, bagi Medusa bukan sesuatu yang sulit di lakukan.


“Matilah kau!”


Karena berulang kali makhluk gunung itu tak bisa di tuntaskan dalam sekali serangan. Maka, Sean menggunakan taktik baru.


Sean berputar ke belakang, dan Sean menemukan celahnya.


ZRAT!!


Pedang merah Sean menembus punggung makhluk gunung. Seketika makhluk itu roboh, Sean tersenyum girang. Dengan sombong dan berbangganya Sean, dia menginjak tubuh tak berdaya itu.


“Kau mengusik ku. Maaf, kau harus berakhir menjadi mayat kali ini,” kaya Sean angkuh.


Sean mencabut pedangnya dari punggung makhluk gunung ini. Seal agak sebal, ternyata pedangnya itu menembus hingga pusat jantungnya.


Sean tersenyum kecut, pedangnya dia tepikan di pundak. Menentengnya dengan sombong menuju makhluk yang menyerang Medusa.


“Kalau begitu, kau harus mati di tangan ku makhluk jelek,” kata Sean berang bercampur antusias. “Hiya.....”


Sean melompat ke udara, pedangnya memenggal kepala makhluk di bawahnya. Tepat.


Sean membelah kepala makhluk itu hingga ke bagian pinggul. Alhasil, makhluk gunung itu terbelah menjadi dua bagian.


“Begitulah jadinya jika kau berani mengusik ku!”


»»»»»»»»»»»


Dewa iblis tertawa terbahak-bahak ketika tahu Nekabudzer dan yang lainnya kalah melawan Sean.


Di singgasananya yang bahkan lebih besar dari sepuluh ekor gajah, dia merasa lebih baik dari beberapa hari yang lalu.


Ya, dia memilih kabur ketika kalah melawan Nekabudzer. Ternyata, Nekabudzer bukan lawan yang sepadan, jadilah kenapa dewa iblis lebih memilih menghindar untuk saat ini. Dia bukan kalah, hanya ingin menguji kemampuan Nekabudzer. Sampai mana kekuatan itu menandingi dirinya.


“Katakan. Apa rencana mereka mengenai Lausius itu?” dewa iblis bertanya pada Xavier. Pria itu tertunduk, namun tidak segan dia berkata penuh antusias.


“Mereka akan mencegat pangeran itu di pintu perbatasan. Aku mendengar rencana mereka sebelum aku pergi meninggalkan istana Medusa.”


“Hahahah...... Apa kau yakin Nekabudzer akan berkata begitu?”


Xavier mengangguk. “Mereka akan menunggu pangeran Lausius itu di perbatasan. Aku yakin sepenuhnya, kalau mereka akan kesana.”


“Hemp.....” dewa iblis menyeringai. Seharusnya ini adalah kesempatan bagus untuk membalaskan dendamnya pada Nekabudzer. Pelariannya kemarin, sebenarnya adalah sebagai alibi, ingin membuktikan kalau Nekabudzer masih sama seperti sebelumnya. Benar saja, kali ini dewa iblis sudah tahu titik kelemahan Nekabudzer. Yaitu Lausius. “Kalau begitu, kita akan ikut menunggu pangeran itu di perbatasan. Kita lihat, apakah kali ini Nekabudzer mampu mengalahkan aku. Tidak akan aku beri dia kesempatan kedua untuk mengalahkan aku!”


“Tetapi. Bagaimana  dengan Zumirh dan Zurry?” Xavier agak cemas. Dia tidak mau melupakan Zumirh, dia iblis yang sama kuatnya.


“Dia. Kau kira aku akan menganggapnya lawan yang kuat!”


“Bukan begitu dewa,” Xavier kontra. “Dia salah satu kaum iblis yang menginginkan jiwa Lausius itu. Bagaimana jika dia selangkah lebih maju dari Elius dan Nekabudzer.”


“Kita akan pikirkan itu nanti. Yang terpenting, pangeran Lausius itu harus ada di tangan kita nantinya.”


»»»»»»»»


“Kita jalan ke arah mana?” tanya Sean. Medusa ada di sebelahnya. Mereka jalan beriringan.


Melewati jalan setapak, di tengah hutan yang sunyi.

__ADS_1


“Lurus saja. Di depan, kita akan menemukan perbatasan gurun dan hutan ini.”


Medusa cukup mengenal tempat ini. Karena Medusa sering hilir mudik di sana. Mereka menuju ke pintu Padang pasir, jalan menuju ke kota Saranjana.


Sesekali Sean melirik Medusa, wanita itu nampak berekspresi datar. Biasanya dia terlihat tegas, dengan kontur rahang keras.


“Jika sudah melewati perbatasan ini. Pangeran cukup melewati ngarai Utara. Aku hanya bisa mengantar pangeran sampai di gerbang perbatasan.”


“Kau tidak mengantar ku sampai di pintu ajaib itu?” tanya Sean.


“Aku tidak bisa melakukannya,” balas Medusa. Pandanganya tetap fokus ke depan, tidak berani menoleh ke arah Sean. “Pintu itu adalah dimensi lain. Untuk bisa menemukan pintu itu, pangeran hanya perlu memejamkan mata. Pintu itu ada di timur tebing ngarai.”


Sean berimajinasi. Pasti pintu itu yang di maksud oleh Crypto dan Gordon. Pintu yang selalu berubah-ubah posisinya, tergantung siapa yang melihat celah pintu dimensi ini.


“Lalu. Bagaimana aku tiba di pusat kota itu?” tanya Sean lagi.


“Akan ada sekoci kecil. Melalui sungai Mosapus, sekoci kecil akan menuntun pangeran tiba di sana. Jika beruntung, pangeran akan menemui jalan menuju ke pusat kota melalui jembatan awan metis.”


“Bagaimana jika aku tidak beruntung?”


Medusa meliriknya nanar. “Apapun keberuntungannya, pangeran akan tetap tiba di peradaban awan Metis.”


“Maksud mu... Kota Saranjana?” Sean menerka.


Medusa mengangguk. “Nama lain dari peradaban awan Metis.”


Tidak terasa, keduanya sudah tiba di ujung hutan. Di depan mereka ada gurun, hamparan pasir gersang dan panas walau masih pagi.


“Aku hanya bisa mengantar pangeran sampai di sini. Maaf, aku tidak bisa melewati fase ku menuju ke pintu perbatasan.”


Mereka berdua berhenti di pinggir hutan. Sementara di sisi lain hutan, panasnya api Surya mulai terasa.


“Terima kasih sudah menuntun ku tiba di sini. Aku akan pergi sekarang.”


Sean memandangi wajah Medusa sekali lagi. Namun Medusa acuh, tak sanggup dia melihat wajah Sean untuk terakhir kalinya.


“Sebaiknya pangeran pergi sekarang, tidak perlu kembali ke Padang pasir Medusa. Aku akan melupakan semua ingatan ku tentang pabgeran. Ingatan yang pernah bertemu dengan Lausius sebelumnya.”


Medusa beralih, kembali menggeolkan bokong dan ekornya, memasuki kembali ke hutan.


“Selamat tinggal!” ucap Sean pelan.


Sean demikian, dia meninggalkan batas gurun dan hutan. Menapaki kaki di tengah panasnya gurun. Medusa tidak melihat wajah Sean sedari tadi, namun Sean tak menganggapnya penting. Sean ingin fokus pada jalannya saja.


Medusa melirik sebentar ke arah Sean karena berat meninggalkan anak itu tadi. Sekali tengok, Sean sudah menghilang. Medusa berlari ke arah tempatnya meninggalkan Sean. Harapannya hanya satu, semoga Sean mampu membawa kejayaan di peradaban awan Metis.


Sampai di pinggir perbatasan, benar saja. Sean sudah menghilang. Agak kecewa, sudut wajah Medusa di tekuk sendu.


“Semiga kau bisa menemukan pintu itu. Dan kau bisa kembali ke asal mu.”


Medusa kembali, memasuki hutan. Akan tetapi, ketika membalikkan badannya, Sean tiba-tiba muncul di depan Medusa.


“Bwaa....”


“Oh!!” Medusa terpekik kaget, kepala Sean muncul tepat di wajahnya. Anak itu menggantung di pepohonan, layaknya kelelawar.


“Apa kau mencari ku?”


Medusa acuh. Dia mengabaikan Sean. “Pangeran. Kenapa kau kembali?” tanya Medusa. “Bukankah kau sudah meninggalkan hutan ini tadi!”


“Karena aku belum mengembalikan ini?”


Kebiasaan Sean, dia mengambil sesuatu di kuil ular dalam goa tempat mereka bermalam. Sebuah tempat lilin, dan itu sering Sean lakukan—semenjak berpisah dari dua sahabat konyolnya. Mungkin, Sean sudah ketularan tingkah keduanya.


“Sejak kapan....”


“Tadi. Sebelum kita pergi kesini.”


Yah, Medusa hanya bisa menahan rasa lelah. Medusa berbalik, Sean turun dari pepohonan tempatnya menggantung. Ide konyol itu, kekanakan sekali.


“Mengapa pangeran kembali?” tanya Medusa lagi. “Waktu pangeran tidak banyak. Mereka mungkin akan datang kembali mencari pangeran.”


“Kau sendiri,” Sean membalikan pertanyaan. “Apa yang membuat kau kembali ke sini. Kau tidak sedang menantikan ku bukan?”


Medusa mengernyitkan dahinya, kekanakan sekali jika dia mengakuinya.


“Terserah kau saja. Sebaiknya pangeran pergi sekarang. Jangan sampai dewa iblis dan yang lainnya tiba. Aku yakin, mereka tidak lama akan tiba di sini.”


“Namun aku sudah datang!” sahut seseorang—yang membuat Medusa memutarkan bola mengedarkan pandangannya.


Sean amat mengenal suara ini. Suara wanita yang pernah dia temui sebelumnya. Zumirh!


“Dia tiba!”


TBC

__ADS_1


__ADS_2