
“Ayo kita tinggalkan tempat ini,” ajak Sean berlalu. “Tidak ada waktu lagi untuk kita berlama-lama di sini!”
Sean melangkahkan kakinya, meninggalkan pria bermantel yang terduduk lemas. Menahan sakit di dada, sesak rasanya tak bisa mengalahkan Lausius.
“Tapi pangeran. Dia terluka, apakah kita akan membiarkannya begitu saja?”
Driyad merengek, berjalan di sebelah Sean. Sean meliriknya. “Dia baik-baik saja. Jangan khawatirkan dia!” balas Sean tak begitu peduli pada pria itu.
Apapun keadaannya, Sean yakin dia pasti masih bisa hidup. Serangannya tak begitu dahsyat. Sean tahu batas mana dia menyerangnya.
“Baiklah pangeran, aku mengerti!”
Driyad tidak lagi berkata, hanya menurut apa kata Sean. Keempat pria itu berlalu, meninggalkan pria bermantel itu. Sedangkan pria itu, dia kembali memuntahkan darah segar. Kali ini, jumlahnya cukup banyak. Tumpukan es, telah membuatnya tak bisa bergerak leluasa. Punggungnya terasa remuk, bongkahan es tak bisa di ajak negoisasi dalam hal ini.
“Aku gagal mendapatkan Lausius kali ini. Aku ..., uhuk!”
Lagi-lagi dia menyeringai darah yang keluar dari sela bibirnya. Tak ada pilihan lain, dia harus menepati janjinya. Melepaskan Sean, jauh lebih baik dari apapun.
“Aku ..., aku akui kalau dia tak bisa di tebak. Benar apa yang dikatakan oleh Zumirh, pangeran Lausius ini sangat kuat. Mungkinkah, karena kekuatan jiwanya menyatu dengan banyak elemen. Dia ..., akh. Dadaku terasa makin sesak.”
Mungkin dia hanya ingin mencoba sesuatu yang tidak pernah dia lakukan sebelumnya, namun ini berakibat fatal bagi keselamatannya sendiri. Beruntung, pria ini tak mati di bunuh oleh Sean.
Memandangi Sean dari kejauhan, pria ini mencoba bangkit walau tertatih-tatih dan tak bisa berdiri tegak seperti sebelumnya. Akan tetapi, dia tetap berusaha kuat.
Menarik kembali kipasnya yang terpental jauh—menancap di bongkahan es, pria ini membuka sayapnya. Setelah itu, dia terbang meninggi mengitari dua tebing lalu menghilang di sana.
Sean tahu, dia tak akan bertindak lebih jauh lagi. Sean meliriknya sekilas, tapi tak begitu lagi memperhatikannya lagi setelah itu.
“Pangeran. Bagaimana cara melaluinya?” tanya Amuria. “Batu ini sangat keras. Aku tak bisa membelahnya!”
Berhenti di depan tumpukan batu yang membeku, ketiganya berusaha membuka jalan yang tertutup itu.
Sean, dia mencabut pedang merahnya yang berada di punggungnya. Kemudian, Sean menghantamnya di batu-batu yang sulit di hancurkan. Seketika, tumpukan batu penghalang itu hancur lebur. Tak tersisa, membuka jalan untuk Sean dan yang lainnya.
“Wow. Pangeran. Kau ...!”
Driyad ingin bergumam takjub, tapi Sean lebih dahulu menghentikannya.
“Ayo jalan. Kita tak punya waktu lagi. Udara makin dingin, kalian pasti sudah merasakannya!”
“Benar pangeran. Rasanya, kulitku seperti di tusuk ribuan jarum—karena begitu dinginnya udara di sini.”
Driyad tersenyum sumringah, dia bahagia lantaran akan keluar dari tempat ini. Sementara itu, kedua rekannya begitu apatis pada serigala ini.
Sean terus saja berada di depan, sedangkan ketiga pria itu asik bergumam masing-masing. Jalan yang di lalui memang membeku. Beruntung, sepatu yang digunakan mereka adalah sepatu jenis kulit, jadi tetap hangat ketika bersentuhan dengan es.
“Ngomong-ngomong. Kemana tujuan kita sekarang?” tanya Amuria pada Crypto.
“Ikut saja pangeran. Dia lebih tahu dari segalanya.”
Driyad menyela, dia ikut berkata. “Tapi, aku dengar dari Tuan agung. Kita akan menuju ke kuil Pharagos,” katanya memberitahu. Dia menggandeng kedua rekannya itu. Sok akrab, benar saja. Pria satu ini memang selalu melakukan begitu. Tapi, Crypto yang paling tidak suka dengan perilakunya. Dia menampik tangan Driyad dari bahunya.
“Tentang kuil Pharagos?”
Driyad menganggguk saat Amuria mengulangi ucapannya.
“Bukankah kuil itu, adalah kuil yang di jaga oleh para raksasa dari batu. Tidakkah kau ingat, terakhir kalinya kita di sana?”
Driyad mengangguk lagi, ketika Amuria menambahkan sedikit ucapannya. “Saat itu, kita bersama pangeran Lausius sebelumnya. Tapi kita gagal mendapatkan kemenangan. Pangeran terluka, lalu dia di tangkap oleh Elius. Begitulah yang terjadi, membuat kita menjadi hewan hingga ribuan tahun.”
“Kau mencoba mengenang?” lirih Crypto sinis.
“Jauh lebih dari itu. Mengenai kisah konyol, bahkan aku ingin melupakannya. Tapi sayang, aku tak bisa. Dia terlalu sulit untuk di hilangkan dari ingatan ku,” ujar Driyad mendetailkan ucapannya.
Amuria memukul kepala Driyad bagian belakang, kemudian dia berkata apatis. “Kau selalu membuat masalah. Melupakan pangeran Lausius yang dahulu, justru kau menolak sejarah hinggap di kepalamu!” katanya ketus dan cuek.
Setelah pria itu memukul kepala Driyad, Amuria mempercepat langkahnya. Dia menyamai langkah Sean, yang sudah menjauh dari mereka beberapa meter.
Crypto demikian, di akhir tatapannya, dia melirik sinis Driyad. “Melupakan masa lalu. Kau bisa apa?” katanya ikut mengintimidasi Driyad.
Bagai bocah yang di marahi Ibunya, Driyad memasang wajah polos. Terdiam meratapi nasibnya yang malang. Butuh pikiran jernih untuknya, agar bisa memahami dirinya yang sebenarnya.
“Wei. Kenapa kalian selalu menindasku!” teriak Driyad protes.
Kedua rekannya acuh, bahkan tak begitu peduli pada pria yang di tinggal sendirian di belakang mereka. Amuria terkekeh geli, dia melirik Crypto.
“Bagaimana menurutmu? Apakah Driyad sangat cocok dengan kerbau dungu?” sikutnya membual.
“Jauh lebih dari itu. Aku sangat berharap dia seperti kerbau. Dia sangat lamban!” timpal Crypto senada—yang membuat Amuria makin terkekeh geli.
Sean, dia menggeleng saja. Melihat kelakuan ketiga pria itu, dia bahkan tak berkomentar sedikitpun. Kecuali ....
“Kita berhenti di sini. Jika kalian lapar, kalian bisa memakan apapun yang ada di tempat ini!”
Di depan Sean ada hamparan kebun buah, bunga dan semacamnya. Tingginya hanya beberapa meter, namun di penuhi oleh bunga-bunga cantik berwarna merah muda dan biru. Kelopaknya berguguran, membuat tanah nampak berwarna karena di tutupi bunga-bunga cantik ini.
Ada buah apa saja di sana. Ada tumpukan bunga merah dan biru, yang Sean tak tahu bunga jenis apa. Mereka bertebaran dimana-mana, seakan itu menggantikan daun yang berguguran.
Tak ada daun di ranting pepohonan yang Sean lihat. Semuanya tergantikan oleh bunga-bunga cantik, biru dan merah muda yang mendominasi penglihatan mereka.
“Kita istirahat di sana saja pangeran. Aku rasa, di sana tak ada seorangpun!”
__ADS_1
Amuria menunjukkan jarinya ke arah sebuah gazebo bercat putih. Di atapnya ada burung Phoenix emas. Sean hapal, burung itu selalu jadi ikon banyak bangunan yang dia temui.
“Baiklah. Malam ini kita akan berisitirahat disana.”
Sean menuju ke gazebo di tengah hutan di penuhi bunga cantik dan buah-buahan. Mereka berhasil keluar dari lembah es, yang dingin.
Di dalam gazebo, ada kursi kayu dan meja bundar. Ada teh di atas meja, masih hangat. Sean mengedarkan pandangannya, mencari siapa yang baru saja duduk di sana.
Tangan Sean menyentuh kursi yang mengelilingi meja, dia merasakan kehangatan di sana.
“Sepertinya, ada yang baru saja berada di sini tadi,” ucap Sean menerka.
“Tapi siapa pangeran?” tanya Crypto.
“Kita pastikan dahulu. Aku rasa, orang itu berada di sekitar sini!”
Sean kembali menelisik sekeliling, di kebun berbunga ini tak ada siapapun. Tapi ....
“Tunggu. Bukankah ini lembah ular?” kata Driyad mulai menyadari.
“Maksudmu?” Sean melirik cepat.
“Pangeran lihat. Ada banyak ular di semua pohon. Kita berada di lembah ular. Lembah paling mematikan yang ada di tanah ini. Aku pernah melalui tempat ini, tapi sudah lama sekali.”
Driyad mencoba menjelaskan, kedua rekannya berpikir demikian.
“Benar. Ini lembah ular, tempat ribuan tahun yang lalu, yang pernah kita kunjungi bersama pangeran Lausius sebelumnya!” ujar Amuria kembali mengingat masa lalu.
Sean menghela napas, kemudian dia duduk di kursi kayu tanpa sandaran. Menuangkan secangkir teh, lalu Sean menghirup aromanya.
“Teh ini merah, se-merah darah. Aromanya seperti aroma mawar ungu, namun lebih pekat. Dan ....”
Sean, mencelupkan jari telunjuknya kedalam teh. Ketiga pria yang memperhatikan apa yang Sean lakukan, tiba-tiba terkejut. Membuat Amuria berkomentar.
“Pangeran. Tangan pangeran ....”
“Ini reaktor dari darah dan bisa ular. Bukan sungguhan teh!”
“Maksud pangeran, ini semua ....”
Sean mengangguk ketika Crypto mencoba menebak arah tujuan ucapannya.
“Dua wanita penjaga lembah ular ada di sini. Mereka sedang memperhatikan kita!”
Sean menumpahkan teh hangat itu ke kulit tangannya. Di sana, api keluar membakar tangan putih Sean. Membuat tangan Sean menghitam.
“Pangeran. Itu sangat berbahaya.”
“Syukurlah pangeran. Aku kira, Anda akan terluka tadi.”
Driyad merasa lega, pasalnya kulit putih dan segar Sean sangat nampak akan terluka. Apalagi tadi menghitam karena terbakar oleh cairan yang Sean tumpahkan pada tangannya.
Namun, itu tak berlangsung lama. Benar saja, kulit Sean kembali pada rupanya semula. Seperti tak terluka sama sekali, Sean benar-benar kebal terhadap racun yang ingin membakarnya.
Dari dahan pohon, dua orang wanita cantik mengawasi keempat pria yang duduk di gazebo mereka. Salah satunya tersenyum bahagia.
“Kau lihat. Pangeran itu. Dia begitu tampan. Dia benar-benar membuat semua wanita di tempat ini menjadi luluh akan rupanya.”
“Lupakan kekaguman mu padanya Site. Ingat, kita harus menjerat pangeran Lausius, agar dia menjadi milik kita!”
Teman di sebelahnya menegur, membuat angan-angan wanita bernama Site ini buyar. Kedua wanita berpakaian putih, dengan kecantikan yang mungkin sulit terukur. Riasan sempurna, sintal kelapa yang indah.
Namun itu tak kalah indah dengan sintal kepala yang Sean kenakan.
Di leher kedua wanita itu, mengikat seekor ular cobra masing-masing. Sesekali, ular-ular itu mendesis kejam.
Di sekitar lembah, pepohonan memang cantik. Di penuhi oleh bunga, tapi sayang itu sangat berbahaya. Sebab, ada ular berbisa ikut mendiami pepohonan.
Sean melirik lagi tempat sekitar, kali ini Sean tahu kalau ada yang memantau mereka.
“Keluar! Jangan bersembunyi dari hadapan ku!”
Kedua wanita itu saling memandangi wajah mereka masing-masing. Heran, itu sudah pasti. Bagaimana mungkin Sean tahu keberadaan mereka.
“Apakah pangeran Lausius itu tahu keberadaan kita?” tanya Site pada wanita di sebelahnya.
Wanita itu mengangguk. “Dia tahu keberadaan kita. Sebaiknya kita keluar.”
Tak ada pilihan lain, selain melompat turun dari persembunyian mereka. Muncul di hadapan Sean, mereka menghampiri gazebo bercat putih itu.
“Hou. Pangeran Lausius. Begitu tampan dan mempesona. Kau begitu memikat kami para wanita dari lembah ular. Sangat senang melihat Anda pangeran!” ujar Site berbasa-basi dengan mulut manisnya.
Sean diam, dia tak merespon.
“Apakah dua wanita ini adalah Site dan Ruydh?” tanya Amuria menyela. “Dua wanita pemilik gazebo ini. Yang sering di sebut sebagai pembunuh bayaran untuk memburu pangeran Lausius?”
Ruydh tersenyum menggoda. “Amuria sangat memahami ku!”
“Siapa yang tak tahu dua wanita iblis seperti kalian. Penggoda ulung, lalu memusnahkannya dengan racun. Ternyata rumor itu benar, bukan angin lalu saja.”
“Kau mencoba memprovokasi kami?” sahut Site berang.
__ADS_1
“Haha ..., kau marah. Itu artinya kau memang benar-benar penggoda rendahan!” ledek Driyad di ikuti kekehan. Dia tak sanggup membayangkan bagaimana melihat dua wanita di hadapannya menggoda pria-pria tampan lalu membunuhnya.
“Hei, katakan. Bagaimana caranya kalian akan menggoda pangeran Lausius?” tantang Amuria memperolok.
Kedua wanita berkalung ular itu makin geram, seakan harga diri keduanya terinjak-injak oleh ucapan pria itu.
“Kau sudah cukup menghina kami. Kau harus mati!” ujar Ruydh berang.
Satu tangannya terangkat, mengode pada ular-ular di sekitarnya. Ular-ular itu pun memahami perintah Tuannya, mereka kemudian turun dari tempat mereka hinggap. Mendekati gazebo, ular-ular itu mengelilingi gazebo tanpa celah.
Beberapa di antaranya mengikat erat di pilar gazebo, mendesis geram. Ada yang sudah merayap di kaki Sean, ada pula yang nyaris menggigit leher Sean.
Driyad, dia sedikit takut. Ngeri melihat desisan ular-ular yang siap menyemprotkan cairan beracun mereka.
“Hei. Kau curang!”
“Apakah kau protes?” tanya Site.
“Tentu saja. Kau memerintah ular berbahaya ini. Jangan bilang jika inilah cara kalian membunuh para mangsa.”
Driyad melipat kedua tangannya, melakukannya dengan sombong.
“Kau terlalu meremehkan kami. Kau harus mati!”
Driyad membesarkan matanya, tiba-tiba saja? Gila. Bahkan Driyad belum sempat mencabut pedangnya.
Para ular sudah siap menggigit Driyad, namun Amuria dan Crypto tak kalah cepat. Mereka mencabut pedangnya masing-masing, lalu menebas ular-ular yang sudah bergerak memangsa.
“Berhati-hatilah. Racun mereka begitu mematikan. Jangan sampai ada yang terkena!”
Crypto memperingati, sambil terus menghalau serangan ular. Driyad mengangguk mengerti, dia ikut membalas serangan ular yang huru hara menyerang.
Sean terdiam, dia tak melakukan apapun. Kecuali memperhatikan tindak tanduk kedua wanita itu.
Sedangkan ketiga pria pengawal Sean, mereka di paksa keluar dari gazebo. Menghentikan setiap ular yang hendak memangsa Sean.
Dua wanita itu berdiri di hadapan Sean. Sean masih belum merespon.
“Pangeran. Kau saat ini terkepung. Racun ular ku sangat mematikan. Apakah kau sanggup menumpas jumlah mereka yang tak terhingga.”
Site berkata dengan sombongnya. Sean, dia masih saja tenang. Dia tahu kalau ular itu sangat beracun, tetapi itu tak akan berpengaruh apapun padanya.
“Aku datang ke sini hanya untuk bermalam. Tapi kau membuat kekacauan. Aku harus berbuat apa agar kau memaafkan semua kesalahan dan kelancangan kami!”
“Hou. Rendah hati sekali pangeran Lausius ini!” sahut Ruydh mendekati Sean.
Mengitari Sean, dia mencoba menggoda anak itu. Lidah basahnya menjilati kulit wajah Sean. Sean tak merasa geli, hanya jijik yang mendominasi jiwanya.
“Site. Bagaimana, apakah ada konsekuen untuk pangeran agar bisa kita maafkan?” lanjut Ruydh bertanya pada rekannya.
Site mendekat. Jari jemari tangannya yang putih ikut membelai lembut wajah Sean.
“Lausius setampan ini. Siapa yang tak bisa memaafkan kesalahannya. Hanya saja, kami butuh kekuatan energi mu pangeran. Di tambah bentuk yang indah. Semua wanita ingin memiliki sesuatu dari mu.”
Sangat menjijikkan, bahkan tangan Site sudah masuk kedalam dada Sean. Meraba bagian kenyal di dalam sana, membuat Sean menahan diri untuk tidak bertindak gegabah.
“Bentuk tubuh yang indah. Sangat sempurna, cocok dengan nama Lausius yang melekat!” lanjut Site memuji.
Dari depan Site menggoda, dari belakang Ruydh membelai wajah Sean. Sean tentu makin muak melihat kelakuan mereka, namun Sean berusaha tak begitu peduli akan perilaku mereka yang di anggap Sean di luar batas wajar.
“Aku tidak meminta apapun. Hanya Berhenti bertindak.”
Site tersenyum miring. “Kita perlu menguji dahulu sebelum memaafkan semua kesalahan ini. Telah mengusik lembah ular. Itu sesuatu yang tabu!”
Sean melirik sekitar, ketiga pria itu sudah terjebak. Ular-ular itu mengepung Crypto, Driyad dan Amuria. Mereka saling membelakangi, sebab ular-ular itu makin mendekat.
“Jika aku bisa mengalahkan kalian. Apakah kalian bersedia tidak menggangu kami?”
“Apakah ini sebuah penawaran?” tanya Ruydh ingin tahu. Ucapan sok manisnya, benar-benar sudah muak di lihat oleh Sean.
Sean mengakui, kalau mereka cantik. Tapi, itu tak cukup membuat Sean terpana.
“Penwaran ini hanya berlaku untuk malam ini. Besok kami akan pergi sebelum matahari terbit!” ucap Sean melanjutkan kata-katanya.
“Bagaimana jika kau kalah pangeran!” goda Site lagi.
“Kalian boleh memiliki ku seperti apa saja yang kalian inginkan.”
“Baiklah kalau begitu. Kita buktikan, siapa yang akan menjadi pemenangnya kali ini.”
Dengan senang hati, Site menyetujui permintaan Sean. Bagi keduanya, ini penawaran yang menarik.
Mereka tak pernah terkalahkan oleh siapapun. Cukup mudah bagi mereka, untuk menaklukkan Sean.
“Hanya gelar Lausius, kita tak perlu khawatir kalau dia akan menang,” bisik Site pada Ruydh.
“Tapi, kita belum tahu kekuatannya. Bagaimana jika dia menang. Maka kita akan kehilangan Lausius tampan ini?”
Site menggeleng. “Jangan khawatir. Dia tak akan mampu mengalahkan kita. Dia sama seperti Lausius sebelumya. Dia terlihat lemah!”
††††
__ADS_1
Votenya jangan lupa ya. Biar semangat nulisnya. 😊😊😊