
Heksodus membawa anak-anak ke sebuah tempat rahasia. Dia memboyong ketiganya kedalam bilik rahasia yang tersembunyi di balik dinding batu.
Sean tak akan percaya sekali lagi atas rahasia yang di tunjukan heksodus. Di bilik dinding rahasia ini, ternyata menyimpan keindahan yang luar biasa.
Terdapat bangunan terbuka yang langsung menghadap ke luar. Di sana Sean melihat air terjun, tebing tinggi, sungai mengalir hijau dan hutan lebat beserta pepohonan buah raksasa yang teratur dan terawat.
Perhatian. Gambar hanya ilustrasi, sebagai pemanis imajinasi dan pengisi artikulasi.
Tidak mewakili ide penulis.
Sean bergumam takjub. "Ini sungguhan nyata?" Sean berkata sambil matanya melihat seluruh pemandangan di bawah kuil. Air terjun, terjatuh bebas ke sungai. Air terjun ini tepat mengalir di bawah lantai kuil heksodus tempat Sean berpijak.
"Inilah keindahan heksodus," Dewi heksodus berbicara. Dia mendekati Sean yang sedang memandangi pemandangan indah di mata Sean. "Rahasia heksodus adalah, ketika kau memasuki kuil ini, maka kau akan melihat sesuatu yang berbeda," Dewi heksodus menjelaskan.
"Ketika kau melihat ku berubah menjadi wanita muda, itu adalah bentuk pengubahan pandangan. Di dalam kuil terdapat semacam sihir pengubah bentuk, dan itulah mengapa kau bisa melihat aku berubah setiap kali melewati dinding kuil."
"Ternyata kau sejak awal memang tidak terlihat sebagai seorang wanita tua?" Sean menerka. "Seperti itu yang kau maksud bukan?"
Heksodus sedikit menyungging tersenyum, lalu menatap pemandangan alam. "Itulah rahasia heksodus, dunia keabadian di balik awan metis."
Sean tidak bisa membayangkan, betapa takjubnya dia pada kuil, heksodus dan juga apapun yang ada di tempat ini. Dia men-decak kagum sampai tak bisa berkata apapun lagi.
"Aku sangat mencintai tempat ini," Jessica berdiri tepat di sebelah Sean, dia ikut menikmati pemandangan ini.
"Aku juga," timpal Sean senada. "Aku tidak bisa berpikir jernih melihat semua ini," Sean melanjutkan kekagumannya.
Driyad lebih memilih merebahkan tubuhnya di dekat Sean yang berjarak beberapa meter. Dia enggan melihat pemandangan yang menyejukkan mata itu, bosan baginya melihatnya.
"Kau tidak ingin menikmati pemandangan ini, tuan serigala!" Sean menegur.
Driyad memanjangkan lehernya, membuka mata sejenak, namun kembali dia menyantai-kan kepalanya. "Kalian saja yang menikmatinya, aku lelah," jawab Driyad polos.
"Itulah dia," Jessica menyela. "Si pemalas."
Sean hanya bisa pasrah, lagi pula dia tak ingin di ganggu oleh siapa pun saat menikmati angin yang menderu masuk kedalam kuil di pinggir tebing ini.
Sean ingin berkata memuji tempat yang begitu indah, nyaman, menyejukkan mata dan sedikit damai penuh ketenangan. Namun ia bungkam, sebab tak ada yang bisa menggambarkan semua imajinasinya ini.
Namun, heksodus tiba-tiba berteriak panik. "Gort.... Mereka datang!" dia menunjuk pada Sean bahwa gort mencoba mendekati mereka.
Sean melihatnya, makhluk-makhluk mengerikan itu memanjat tebing yang cukup tinggi ini. Kuku-kuku tajam jelas amat buas, Sean mulai ngeri melihat penampakan mereka.
"Apa yang harus kita lakukan Sean? dari mana mereka datang?" Jessica meradang ikutan panik.
"Entahlah, aku tak tahu," jawab sean. "Kita harus melawannya!" Sean berseru memberanikan diri. "Kita harus melawannya Nyonya heksodus, atau mereka tak akan berhenti menyerang!" Sean memberitahu, dia meminta pada wanita itu.
Heksodus menggeleng, dia enggan bergeming. "Mereka terlalu banyak, sulit mengalahkan mereka," heksodus lebih paham mengenai semua ini, jauh kedepan.
"Apapun yang terjadi, kita harus melawan," Sean bertekad kuat. Kemauannya sangat tinggi, dia siap bertempur.
Heksodus sedikit berpikir keras, lalu. "Ada baiknya begitu," dia berkata setuju. "Tapi bagaimana, mereka terlalu banyak," Dewi heksodus sedikit kurang yakin.
"Serahkan pada ku," Sean menyuarakan. "Aku bisa mengatasinya."
Dari bawah para gort mulai mengerumuni tebing-tebing kuil heksodus. Mereka menggeliat semangat mencapai puncak. Gort memiliki rupa berbagai jenis, kali ini Sean melihatnya dalam bentuk beberapa bagian. Terakhir kali dia melihatnya seperti siluman kerbau, namun kali ini ada sedikit seperti perpaduan serigala.
Mereka mengaung bersuara menyeramkan, khas makhluk hutan. Mereka giat memanjat tebing batu menuju ke atas kuil.
Beberapa gort ada yang sudah naik hingga sampai puncak. Jessica tak kalah ingin ketinggalan, di bukan gadis lemah, justru dia makin tertantang. Dengan panah pemberian Dewi Handita tempo hari itu, dia sangat semangat menegangkan anak panahnya yang siap menancap di tubuh musuhnya.
Jessica memegang bahu Sean, dia tak ingin ketinggalan mengenai pertempuran ini. "Jangan lupakan aku kawan," tandas Jessica.
Sean menaikan alisnya, dia menyukai gaya bicara Jessica. "Kau pasti paham mana yang baik," kata Sean menguji.
Jessica paham, Sean sedang berkata mengisyaratkan bahwa dirinya bisa di andalkan.
"Jangan pikirkan tentang kematian, Sean," teriak Jessica. "Mati urusan belakang, lebih baik kita tumpas-kan mereka sekarang, atau mereka yang akan menumpas-kan kita," Jessica bersemangat, dia amat membara.
Bahunya menenteng panah besar itu, siap membidik para gort yang membuatnya geram.
Sesekali Jessica melirik ke belakang, menengok tingkah konyol Driyad yang tertidur di situasi genting.
"Hoi," Jessica memekik. "Apa kau tak ingin ambil bagian dalam pertempuran ini," Jessica berbicara pada Driyad yang tak tahu malu.
__ADS_1
Driyad tertidur pulas tanpa menghiraukan anak-anak itu yang mulai sedikit mengkhawatirkan keselamatannya.
Mendengar teriakan Jessica, Driyad sedikit terganggu, dia membuka matanya sejenak, melihat apa yang di lakukan anak itu. "Hanya lelucon," ucap Driyad, lalu dia kembali memejamkan matanya.
Jessica melemparkan sebuah vas bunga kecil yang berada berjejer dekat dengan lengan Sean. Dengan berani dia melemparnya ke tubuh Driyad. Namun Driyad tak bergeming, justru dia mengubah posisi tidurnya.
"Biarkan saja dia," tegur Sean, pada Jessica. "Kita hadapi saja bersama," Sean berkata ikut membara. Tak peduli pada Driyad, sama saja bagi Sean, walau dia tak ikut ambil bagian, Sean menyukai pertempuran ini.
Jessica menuruti perintah Sean, dia fokus pada bidikannya.
Heksodus yang berdiri di sebelah Sean, juga tak mau kalah semangat dengan anak-anak itu. Dia mulai bicara, "anak-anak, jangan khawatir, aku ada bersama kalian."
Sean meliriknya sekilas, lalu dia tersenyum kecut sambil menenteng pedang besarnya. "Dengan apa kau akan membantu kami?" tanya Sean penasaran.
"Dengan tongkat ini," jawabnya. "Dia cukup kuat memukul wajah jelek gort," Heksodus membual.
Sean mendengus, terutama pada tongkat kayu berwarna hitam itu. Dia tidak yakin jika tongkat itu kuat, namun dia tak begitu peduli pada kuat atau tidaknya tongkat heksodus, dia hanya peduli pada sasarannya, si makhluk menjijikan.
Sean menarik nafas panjang sambil mengayunkan pedangnya siap menghunus salah satu gort yang sudah mencapai puncak.
Sean menghitung pelan dalam hati saat detik-detik kehadiran-nya makin mendekat. Dan, PRAK! BRUK.
Sean berhasil menjatuhkan satu gort hingga ke dasar bebatuan di bawah tebing. Dia mengirimkan kembali makhluk itu ke tempat asalnya, yakni di bawah kaki tebing.
Whooohook! teriak Sean kegirangan sambil mengepal satu tangannya menandai kepuasan. YES, dia berkata kecil.
Jessica tak ingin ketinggalan, satu gort menggeliat meloncat ke udara, berusaha ingin masuk kedalam lantai kuil. Jessica memanfaatkan kesempatan ini, bidikannya ia lepaskan tepat mengenai mata gort bertanduk kerbau.
Sedikit ahli, walau dia belajarnya otodidak. Jessica menikmati bidikannya dengan apik, melesat sempurna hingga membuat makhluk itu kembali ke asalnya juga, di dasar tebing bebatuan.
Jessica menjentikkan jarinya, dia nampak kecipratan girang Sean. "Itulah akibatnya jika melawan Jessica si rubah betina," dia memuji dirinya sendiri.
"Gadis Perancis memang tak bisa di ragukan lagi," sahut Sean dengan ekspresi puas. "Kau pantas mendapatkan penghargaan sebagai gadis terkuat sedunia," Sean memuji.
"Itu harus," balas Jessica. "Agar seluruh dunia bisa tahu siapa Jessica, si gadis Perancis berambut pirang," dia bersua mawas diri.
Bahkan heksodus yang anggun pun tak ingin ketinggalan melewati momen bahagia ini, dengan liciknya dia memukul kepala gort menggunakan ujung tongkatnya.
Gort yang sedang menggelayut di tebing bebatuan, seketika terjatuh saat heksodus memaksa tongkat kayunya memukul berulang kali kepala si makhluk bertanduk.
Wohooooo!
Sean dan Jessica terkekeh saat melihat ekspresi unik Dewi yang terlihat anggun ini.
Jessica membisik. "Lihatlah Sean, dia seperti baru kali ini menyerang gort," lelucon Jessica membuat Sean kembali tertawa.
"Seperti putri bangsawan yang takut kuman," celetuk Sean.
"Tidak!" Jessica membantah. "Lebih tepatnya dia seperti sedang memukul anak singa," Jessica menambahkan lelucon.
Sekonyong-konyong nya mereka bergurau sejenak, karena puas atas keberhasilan memukul satu persatu makhluk siluman itu, beberapa gerombolan gort kembali menggeliat. Mereka masih membawa teman-teman yang belum Sean dan Jessica hadapi.
Mereka masih berjuang naik ke atas.
Oow!! Sean terkejut, kali ini gort naik ke atas tebing dan datang makin banyak. Suara mengerang mereka terdengar menakutkan.
ROARK!
Suara yang jelas terdengar seperti suara serigala di padukan dengan suara harimau, singa dan semacamnya. Buas, Sean sudah ngilu mendengar Auman mereka.
Sean mengisyaratkan alisnya pada dua wanita yang ada di sisi kirinya. Seperti menyusun rencana.
Jessica mengerti, dia membalas isyarat Sean dengan anggukan di sertai senyuman pahit dan sorot mata yang picik.
Dan benar saja, sekali naik ada puluhan gort yang menyerang. Suara dan cakar-cakar mereka kontras menyeramkan.
"Argh....." Sean mengerang semangat membara. Sejak keluar dari ruangan helian kekuatannya, terutama tubuh kekarnya semakin tak bisa di prediksi. Dia semakin tangguh, mungkin tak akan terbendung.
Pedang besarnya yang selalu ia keluhkan karena berat, kini mulai terbiasa ter-ayun ringan. Seakan dia seperti sedang memegang pisau dapur ibunya, Sean menyerang membabi buta.
Nafas Sean tersengal-sengal, dia sangat antusias memusnahkan para gort yang datang silih berganti menaiki kuil.
"Aku menyukainya bung, yuhu!" seru Jessica.
Sean melihat anak itu, dia menggelengkan kepala, tak habis pikir bagi Sean melihat kemampuan beladiri Jessica yang mempuni. Sean bangga pada Jessica si gadis Perancis yang berani dan gagah mengalahkan dirinya.
Namun Sean melupakan bahwa dia sedang bertempur. Satu gort tiba-tiba kembali melayang di udara dan dengan cakaran mautnya, dia menancapkan keahliannya, yaitu mencakar dengan kuku sekeras martil.
__ADS_1
Beruntung bagi Sean cepat tanggap, dia dengan sigap langsung memasang pedang besarnya menjadi tameng melindungi diri.
Karena gort melakukan secara tiba-tiba, Sean tidak memasang kuda-kuda yang tepat. Sean terpental dan di pukul mundur oleh dorongan tenaga gort yang kuat hingga dia terpental.
Sean mendarat di tubuh besar Driyad yang sedang tertidur pulas bersama dengan pedang besarnya. Makhluk itu bahkan tak membukakan matanya saat Sean mendarat empuk di tubuhnya, seolah dia tak merasakan apapun.
"Sean, kau tak apa-apa?" Jessica melihatnya, dia mengkhawatirkan keselamatan Sean.
Sean mengangguk, dia menyoroti Jessica bahwa dia baik-baik saja.
Sean menyeringai, menatap makhluk bertubuh besar itu dengan tatapan dendam sambil menyunggingkan senyum licik.
"Mereka mulai bermain-main dengan ku," tandas Sean menantang.
Dia bangkit kembali, sambil mengangkat pedangnya. Gort yang mencoba menyerangnya dengan kuku-kuku tajam dan kuatnya, kali ini Sean tumpas-kan dengan meratakan seluruh kuku makhluk itu dalam sekali tebasan.
Keahlian Sean dan kelihaiannya dalam memainkan seni beladiri, membuat Sean sedikit gesit dalam bertindak.
Bagai kucing yang tersiram air panas, Sean menerjang gort yang sedang meratapi kesakitan-nya itu dengan kaki Sean yang kuat hingga terjatuh. Bahkan dinding pembatas teras kuil sampai rusak saat Sean menerjangnya.
Punggung gort teramat kuat, sampai-sampai pembatas kuil yang terbuat dari batu itu pun bisa hancur. Gort benar-benar makhluk yang tangguh untuk di hadapi.
Pertempuran mereka kembali sengit, ada ratusan gort yang mendaki tebing menyerang mereka di atas kuil.
"Mereka semakin banyak Sean," teriak Jessica memintanya waspada.
Sean mengangguk, dia mengerti atas peringatan Jessica. Sean berusaha mengantisipasi serangan makhluk-makhluk brutal ini. Si siluman kerbau dan siluman serigala itu makin memantik Sean bertindak ala suku ras bar-barian yang terkenal tak ada takutnya.
Sementara heksodus terlihat kewalahan menghadapi beberapa gort. Dengan cepat Sean memenggal gort yang menyerang heksodus dan membuangnya ke jurang bawah kuil.
"Maaf, aku bukan ahli perang," celetuk Dewi heksodus. Mungkin dia akan mengucapkan terima kasih atas bantuan Sean.
Sean melirik heksodus. "Aku tahu kau tak ada keahlian apapun, kau hanya perlu duduk dengan cantik. Aku akan menumpas-kan nya untuk mu!" seru Sean berlagak sok jagoan.
Jessica yang masih asik memanah, sedikit memberikan celetukan pada Sean saat dia berkata sok gagah. "Hei bung, perhatikan dulu lawan-lawan mu sebelum kau berkata sok hebat."
"Inilah keahlian ku," jawab Sean. "Ahli....... Dalam menumpas-kan para siluman itu," dia bicara mengganas sambil berlari menuju dua gort yang hendak menerkam Jessica.
Sring! Sring! pedang Sean menyayat tubuh gort tanpa ampun.
"Terima kasih bung," ucap Jessica. Dia merasa terselamatkan karena kejelian Sean.
"Tak masalah," balas Sean. Lalu dia kembali berlari kesana sini menyerang para gort yang berhamburan menyerang mereka bagai anak yang sedang menangkap capung.
Hingga pertarungan mereka tumpas-kan dengan baik.
Asap hijau yang menandakan darah para gort mengudara bagai asap kawah gunung yang hendak erupsi.
Anak-anak sedikit terbatuk-batuk karena darah gort yang aneh ini hampir menjangkau paru-paru mereka.
Sean terkadang mengibaskan tangannya di dekat hidung. Dia berusaha menyeka asap yang menyeruak masuk kedalam alat pernafasannya itu.
"Untung bukan darah beracun," celetuk Sean sambil sibuk memboyong tubuh-tubuh gort yang mati terkapar di lantai kuil.
Sean menyeretnya, membuang ke jurang bawah kaki air terjun. Puluhan telah di terjun bebaskan oleh Sean. .
Hingga lantai kuil heksodus benar-benar bersih dari najisnya darah makhluk bernama gort itu.
Lelah, Sean menghadapi serangan yang banyak dan bertubi-tubi ini. Dia hampir kehilangan seluruh tenaganya.
Sean mengambil nafas yang sempat tersengal-sengal.
Pertempuran yang tidak terlalu sengit ini, setidaknya memakan banyak tenaga. Peluh Sean tak bisa di tawar lagi.
BERSAMBUNG
Jangan lupa tinggalkan like, komentar, Vote dan juga kasih bintang lima ya untuk petualangan Sean and the gang.
Seberapa cintanya sih kalian pada Sean. Tulis di kolom komentar yah kesan kalian atas Sean yang berpetualangan di kota bernama SARANJANA ini.
Agar author tahu kalau ada yang antusias menyukai petualangan ini.
Salam manis, Sean dan teman-teman.
*Bonus picture dari beberapa tempat yang pernah di lalui Sean dalam petualangannya.
__ADS_1