
Semar raksasa'
Langkah kaki Sean yang sedang kesal membawa mereka ke sebuah lembah tandus dengan bebatuan berwarna sedikit lebih terang dari karamel.
Batu-batu besar menjulang tinggi dengan kontur tebing bebatuan yang terjal.
"Sean, apakah kau masih marah?" Yudhar bertanya. "Ayolah Sean, jangan merajuk seperti itu. Kau tak perlu marah seperti itu hanya karena belum menemukan sahabat mu itu," Yudhar berkata sok menghibur.
"Tidak! Hanya sedikit kesal," Sean membual, dia membalasnya cuek.
"Ehm.... Kurasa memang seharusnya kau sedikit kesal. Terutama pada aku dan kekasih mu si beruban putih yang selalu bertengkar setiap saat."
Sean melirik Yudhar dengan tatapan nanar dan tajam. "Omong kosong," kata Sean ketus.
"Ayolah kawan!" Yudhar membujuk. "Kau jangan marah pada kami. Aku tahu salah ku banyak pada mu, karena selalu bertengkar dengan si penyihir. Tetapi, jangan marah seperti itu, tidak enak di lihat pepohonan di hutan ini." Yudhar berkata lelucon, berharap Sean akan terhibur.
Bukannya terhibur, Sean justru menatapnya tajam. "Kau tak perlu berkata melucu. Tak akan ada yang mendengarnya." Sean melangkahkan kakinya lebih cepat dari sebelumnya. Dia mendahului Yudhar.
"Betul Sean. Memang tak ada yang mendengar kan aku di sini." Yudhar berhenti. Dia menyerah untuk membujuk Sean.
Driyad dan Jessica mengekori keduanya dari belakang. Di balik bahu Sean yang agak lebar, dia datang mengagetkan Sean. "Sean!"
Sean meliriknya sekilas, dia masih kesal. "Ada apa?" Jawab Sean singkat.
"Tidak! Ku pikir kau tidak akan berbicara lagi pada ku."
Sean berhenti sejenak, dia membalikkan badannya, memandang tubuh Jessica. "Setidaknya aku sudah berusaha."
"Berusaha marah!" Jessica menebak. "Atau, berusaha meninggalkan aku di hutan ini?"
Sean menarik nafas panjang. Dia tidak pernah berpikiran akan meninggalkan gadis yang kata Yudhar adalah wanita beruban putih. "Tidak sama sekali!" Tegasnya.
"Oh! Ku pikir kau sedang berpikiran untuk meninggalkan ku."
Driyad menyamai langkah Sean, sementara Yudhar sudah sedikit lebih dahulu berjalan meninggalkan mereka.
Anak itu sudah berjalan di depan, tidak jauh, hanya berjarak beberapa meter.
"Sean! Ehm..... Omong-omong, maaf soal ini." Driyad mulai bicara, tapi sedikit ragu untuk mengungkapkan ucapannya.
"Maaf? Tentang apa?" Sean penasaran. Dia ingin mendengarkan apa permasalahan itu.
"Tentang perjalanan ini," Driyad tahu dia bersalah karena terlalu lamban untuk menemukan sahabatnya Sean, si Edward. "Maksud ku, maafkan aku, jika selama perjalanan ini, aku kurang cepat dalam menemukan sahabat mu itu," Driyad berkata menyesal seakan semua kesalahan di limpahkan padanya.
Sean mengerti. Seharusnya dia tidak berkata seperti itu tadi. Dia agak canggung saat ingin bicara pada Driyad sebab hilangnya Edward tidak ada kaitannya dengan makhluk itu. "Tidak! Seharusnya aku yang meminta maaf pada mu," Sean sedikit malu mengatakan permintaan maaf pada Driyad. Dia merasa malu untuk berkata, juga gugup. Sean menyembunyikannya di balik salah tingkah.
"Kau yakin tidak marah pada ku!" Driyad bertanya karena kurang yakin atas jawaban Sean.
__ADS_1
Sean mengangguk, dia hanya kesal sesaat, dan emosinya sudah mulai terkontrol. "Maafkan aku. Seharusnya aku tidak mengatakan apa-apa yang menyinggung kalian." Ekspresi wajahnya agak sayu, Sean tidak malu mengakui kesalahannya. "Lagi pula, Eed menghilang karena ulah ku. Aku harus bertanggung jawab atas apa yang aku lakukan."
"Sean, hentikan bicara mu yang mengarah pada penyalahan diri sendiri," Jessica menepis kata-kata Sean yang sesumbar. "Kau bukanlah manusia yang seburuk itu. Justru aku bangga pada mu. Bangga pada kejeniusan dan tanggung jawab mu dalam melindungi sahabat-sahabat mu. Kau bukanlah teman yang egois, justru kau yang terbaik dari seluruh teman yang pernah aku temukan."
Driyad setuju dengan ucapan Jessica, Sean memang anak yang seperti di katakan oleh gadis itu. "Apa yang di katakan Jessica adalah kenyataan nya Sean. Kau harus yakin bahwa, kau bisa menemukan sahabat mu. Percayalah pada ku," Driyad ingin menenangkan Sean. Itulah kenyataannya, bahwa Sean anak yang spesial di mata siapa pun yang mengenalnya.
Sean mendengar kata-kata itu, sedikit tertegun. Dia memikirkan kata-kata mereka yang memuji dirinya itu. Walaupun begitu, Sean tidak bisa menampik dari kesalahan yang ia perbuat, yakni membiarkan Eed pergi seorang diri.
Sean melamun sejenak. Tetapi, suara keras membuat dia terkaget. Suara jeritan dari arah tebing tandus. Suara Yudhar menjerit seperti sedang dalam suatu masalah.
"Itu Yudhar," kata Sean terkaget.
"Ya, aku mendengarnya juga!" Sahut Jessica.
Tanpa pikir panjang, Sean langsung berlari menuju sumber suara jeritan itu. Suara yang tidak jauh dari tempat dia dan Jessica berbicara.
"Sean tolong aku!" Suara Yudhar memekik keras.
Sean berlari kencang, dia ingin tahu kenapa anak itu menjerit menggila seperti itu.
Jessica menjadi yang pertama melihat Yudhar dalam sedang dalam masalah. Tubuhnya terlilit sebuah tumbuhan rambat yang agak besar. "Sean!" Jessica berekspresi panik. "Lihat, dia terlilit!" Kata Jessica menunjuk anak yang dalam masalah itu.
"Oh tidak! Anak itu terjerat dalam kantung semar," Driyad bersua, dia paham tentang ladang luas yang terlihat kosong nan tandus itu.
Sean, tanpa pikir panjang langsung menarik dan membantu Yudhar terbebas dari jeratan Semar pemangsa daging itu. Tumbuhan raksasa dengan daun menjalar telah menangkap tubuh Yudhar.
"Sabarlah, aku akan menarik........ Mu.... Keluar.... Da-ri..... Sini!" Sean terbata-bata dalam bicara di selingi dengan tenaganya menarik tangan Yudhar agar terbebas dari tanaman merambat itu.
Sebagian tubuh Yudhar sudah terbungkus oleh lilitan daun kantung Semar yang aneh itu. Jessica, Driyad dan Sean menariknya sekuat tenaga.
Pohon yang semula berdiri tegak, kini sedikit merunduk karena tarik ulur dengan tenaga makhluk di bawahnya. Tidak tahu apakah moncong Driyad yang menggigit daun berjalan ini dalam menarik Yudhar keluar dari masalahnya kuat atau tidak. Yang pasti, Driyad melakukannya sehebat yang pernah ia miliki.
"Kau bertahan..... Lah!" Seru Sean menenangkan anak itu, sambil menariknya keluar tak karuan. "Kau akan segera...... Bebas!"
Kekuatan tenaga Jessica, Sean dan Driyad amat kuat. Sehingga pohon besar tegak itu makin merindukan batangnya. Usaha mereka sukses, perlahan lengan Yudhar yang mereka tarik makin menurun kebawah.
Pohon raksasa bernama Semar itu mulai mengalah.
"Ayo Sean! Sedikit lagi...... Dia.... Akan.... Terbebas!" Jessica meneriakinya agar bersemangat.
Peluh dan keringat normal terjadi saat tubuh sedang bekerja keras. Perlahan lilitan tumbuhan liar berwarna hijau itu makin merunduk di ikuti suara nafas anak-anak yang sudah tak karuan.
Tetapi, rasa-rasanya usaha mereka kurang beruntung. Mereka berpikir pohon itu mengalah dan akan melepaskan Yudhar.
Benar tumbuhan itu melepaskan tubuh kecil Yudhar yang tak seberapa, namun daunnya yang melilit justru melepasnya dengan secara tiba-tiba. Hingga mengenai tangan Sean, daun yang keras seperti rotan dan lunak tak bertulang ini membuat lengan Sean memerah.
Sean melepaskan tarikan lengannya pada Yudhar karena kaget oleh tamparan keras daun jalar Semar yang aneh itu. Dan, akibatnya, justru tubuh Yudhar terlempar ke udara.
__ADS_1
Dia terhempas bagai batu terbang.
"Yudhar!" Jessica meneriaki anak itu. Dia khawatir di atas usaha mereka yang gagal.
"Oh tidak... Dia akan terluka jika terjatuh!" Kata Sean berkata sedikit panik. Apalagi Sean memperkirakan anak itu akan terjatuh di hamparan tanah terbuka yang tandus dengan kontur batu di mana-mana.
Di udara Yudhar berteriak sejadi-jadinya.
Sean berusaha mengejarnya, namun Driyad menahannya. "Hentikan Sean, kau tidak boleh masuk kedalam," kata Driyad menghentikan gegabah Sean. Dia lalu melempar batu ke tanah terbuka yang ada di hadapan mereka.
Lemparan batu itu seketika membuka seluruh tumbuhan Semar yang bersembunyi di balik tanah. Semar-semar itu memekar lebar.
Raksasa, seketika ladang yang semula kosong dan tandus kini berubah menjadi hutan Semar yang lebat. Daunnya raksasa dan ada juga yang menjalar.
"Tetapi bagaimana dengan Yudhar," Sean mengkhawatirkan anak itu.
Namun Jessica, anak ini malah menjerit histeris. "Sean, tuan serigala. Lihat Yudhar." Jessica menunjuk tubuh anak itu. Di udara, tubuhnya di sambar oleh makhluk mirip mosarus.
Melihat tubuh Yudhar tertangkap oleh cengkraman mosarus, Sean berinisiatif kembali ingin menolongnya.
Sean berlari mengejar Yudhar, dia meninggalkan Jessica dan Driyad. Tetapi, tubuh besar Driyad menghalangi anak itu. "Sean! Tidak ada gunanya lagi kau mengejarnya!" Kata Driyad bicara lesu.
"Apa maksud kau bicara seperti itu."
Ekspresi murung nampak jelas terlihat dari mata Driyad. Mungkin dia akan mengatakan hal yang tidak baik untuk Sean. "Dia kemungkinan tidak akan selamat lagi."
"Apa yang kau katakan tuan serigala!" Sahut Jessica. Dia masih tidak mengerti atas apa yang di katakan Driyad.
"Maafkan aku, jika aku harus mengatakan bahwa anak itu tidak selamat. Bahkan dalam tumbuhan Semar itu dia sudah menunjukan tanda-tanda akan meninggalkan kalian. Di tambah mosarus, makhluk itu tidak akan melepaskan Yudhar begitu saja."
"Tidak. Aku harus tetap menolongnya," Sean bersikeras menuruti kemauannya. "Aku harus membantunya. Dia harus selamat," Sean memberontak. Dia melepaskan paksa halangan tubuh besar Driyad.
"Kau tidak boleh kesana. Usaha mu tak akan ada artinya, Sean!" Driyad membentaknya. "Kau harus mendengarkan kata-kata ku. Dengarkan aku!"
"Jika aku tak menyelamatkan dia, lalu siapa yang akan menyelamatkan Yudhar!" Sean menuntut. Sean menyerah, dia mulai sayu.
Sean sudah paham jalur pembicaraan Driyad. Dia berkata bahwa usahanya dalam menyelamatkan anak itu akan sia-sia.
Sean menangis di balik bulu-bulu halus Driyad sambil menendang kaki serigala ini. "Kenapa! Kenapa semua ini terjadi begitu saja!" Sean menuntut keadilan.
"Sean! Tenangkan diri mu!" Jessica dapat merasakan apa yang di rasakan oleh Sean. Kehilangan sahabat walau dia menyebalkan. Jessica memeluknya, dia juga ikut menangis. "Sean. Kau sudah melakukan yang terbaik. Kau tidak perlu menyesali kepergian Yudhar."
"Bagaimana aku bisa tenang!" Sean memekik marah. "Kalau Yudhar harus mati di depan mata dan kepalaku sendiri. Apa yang harus aku tenangkan dengan melihat kepergiannya!"
"Aku tahu." Jessica berempati. "Aku juga merasakan apa yang kau rasakan Sean. Jadi, jangan salahkan dirimu sendiri, aku mohon. Tenanglah!" Jessica memeluknya erat.
Sean menangis, dia tak bisa menahannya. Walau Yudhar menyebalkan, baginya orang-orang yang pernah ia temui adalah sahabatnya.
__ADS_1
BERSAMBUNG.