
Marmaida & Danau Suci
Driyad menyusul kedua anak yang melangkah di jalan yang salah itu. Kini tubuh besarnya beserta Sean yang ada di punggungnya sudah menyamai langkah Jessica dan Yudhar.
"Kalian salah jalan." Driyad menegur berkata singkat dan bicara sedikit serius.
"Hah.... Bagaimana mungkin. Aku tahu pasti ini jalannya." Balas Jessica bersikap sok tahu.
Dia lebih mempercayai instingnya ketimbang mendengarkan kata-kata Driyad.
"Benar. Lihat saja! Jalan di sini bahkan mengarah ke danau itu. Aku yakin pasti penduduk melalui jalan ini." Yudhar ikut membenarkan perkataan Jessica. Kali ini Yudhar bicara senada dengan gadis itu seperti sebelumnya.
"Kenapa kau selalu mengikuti dan membenarkan kata-kata ku. Kau seharusnya kreatif mencari perkataan mu sendiri."
Jessica mulai sadar bahwa Yudhar terus saja setuju perkataannya. Dia tidak menyukai hal ini jika ada orang lain ada yang sepemikiran dengannya.
Mendengar ucapan ketus Jessica membuat Yudhar menyungging kan bibirnya. Dia sedikit jengkel karena harus kembali berdebat dengan gadis ini. Dia lalu menimpali ucapan Jessica dengan kata-kata sengit. "Mulut ku yang bicara. Kau seharusnya tidak membatasi hak orang lain untuk bicara."
Usai bicara Yudhar langsung memalingkan wajah jutek. Namun Jessica justru memekikkan suaranya sedikit meninggi. "Kau!" Pekikan suaranya di ikuti dengan kepalan tangan menahan amarah.
"Kalian berdua selalu saja berkelahi. Mungkin aku akan membuatkan kalian sebuah slogan 'Tiada hari tanpa berkelahi' mungkin kata itu cocok dengan perilaku kalian." Sean yang duduk di atas punggung Driyad menyeringai keduanya.
"Jangan pedulikan kami Sean. Ini masalah ku dengan dia. Dia sangat menyebalkan." Bantah Jessica yang masih bersikap sewot.
Sean hanya bisa mengalah saat dia di tanggapi ketus oleh Jessica. Sean tidak pandai berdebat, hanya saja dia sedikit kesal saat dua anak manusia itu selalu bertengkar tiada henti.
"Kalian selalu bertengkar. Sebaiknya kalian cepat naik ke punggung ku. Karena kalian sudah salah jalan dan saling membenarkan diri masing-masing."
Driyad merendahkan badannya sambil mengomeli kedua anak itu.
Jessica memang masih berekspresi kesal, tapi saat hewan itu mengatakan kebenarannya. Gadis ini tidak lagi berulah membantah. Kecuali dia akan di tinggalkan oleh Driyad sendirian di dalam kebun raksasa ini.
"Baiklah. Kali ini aku mengalah, tapi ingat! Bukan berarti bahwa aku tidak mempercayai jalan ini. Aku benar soal jalan ini. Kau camkan itu wahai tuan serigala." Kata Jessica yang tidak bisa menurunkan egonya.
Bahkan di saat seperti itu pun dia masih percaya pada kata hatinya. Sayangnya Driyad bukan tipe yang suka membantah anak kecil. Dia bersikap sekenanya saja. Dia makhluk yang paling berwibawa.
__ADS_1
Jessica menaiki punggung Driyad menyusul Sean yang sudah duduk dengan tenang di atas hewan itu. Dia sedikit terpaksa melakukannya, mengingat bahwa dia jauh lebih tahu dari Driyad mengenai sungai itu.
"Apa kau tidak ingin naik? Atau kau masih ingin berdiri di situ sampai bebek bertelur emas." Di atas punggung Driyad Jessica kembali meneriaki Yudhar yang terbilang lamban ini.
Yudhar mendercit sembari menatapnya sedikit sinis. Yudhar ikut menaiki tunggangan itu. "Bukan berarti aku menuruti perkataannya." Umpat Yudhar dalam dadanya. Dia masih saja sebal pada tingkah anak itu.
Di atas punggung Driyad mereka menikmati udara yang berhembus amat sejuk di tengah panasnya sinar matahari. Anak-anak itu pada akhirnya mandi matahari.
Bahkan Jessica yang duduk di belakang Sean mulai mencium bau rambut sahabatnya itu. Bau rambut matahari.
Kini mereka sudah dalam suasana damai. Driyad menuntun mereka menuju ke danau. Langkah kaki Driyad kini membawa anak-anak meninggalkan kebun buah raksasa ini.
Sepanjang mata memandang, terhampar buah tomat segar yang besarnya dua kali dari tubuh mereka ini memenuhi tanah.
Bahkan tidak tampak sedikit pun dari hamparan kebun yang luas itu areal kosong. Yang ada hanyalah merahnya tomat-tomat memenuhi seluruh permukaan tanah yang luas.
Mereka bisa melihatnya dengan jelas sebab tubuh besar nan tinggi. Driyad membuat sepasang mata-mata itu menyapu bersih hamparan ladang buah raksasa ini dari atas bukit yang jalannya sedikit menanjak. Terkadang juga menurun lalu menanjak kembali. Tidak ada warna lain yang mereka temui selain warna merahnya tomat.
Perjalanan mereka menuju ke danau yang asih lama sampai membuat tubuh mereka sedikit mengeras sebab tomat yang sempat mengubah penampilan mereka kini mulai mengering. Perjalanan siang itu sedikit memakan waktu, hingga pada akhirnya mereka melalui sebuah air terjun yang indah.
Sungai dengan air terjunnya yang cantik ini membuat anak-anak kembali terpesona. "Apakah ini sungainya?" Tanya Sean pada Driyad.
"Aku pikir itu danaunya. Lagi pula aku hanya asal menebak." Sean bergumam menyerah bicara.
"Apakah masih jauh perjalanan ini." Kali ini Jessica yang bertanya. Dia tidak ingin ketinggalan dalam pembicaraan Sean dan Driyad.
"Sebentar lagi kita akan tiba. Tempat itu tidak jauh dari sini." Jawab Driyad meyakinkan Jessica.
Lalu Driyad melanjutkan langkahnya meninggalkan kawannya buaya yang sedang menepi di pinggir sungai beratap kan air terjun lengkap dengan tebing yang menjulang tinggi.
Hutan di sekitar tempat yang mereka lalui mirip dengan hutan yang ada di film fantasi dan seperti serasa di surga. Sean tidak pernah berpikir jika dia bisa melihat hijaunya pepohonan ini di selingi dengan warna-warna yang setiap saat berubah. Bahkan di new York sekalipun dia tidak pernah mendapatkan tempat senyaman ini.
Driyad membawa anak-anak melalui jalan setapak dengan kontur tanah kering dan di sisi sebelah mereka adalah ngarai. Jalan kali ini sedikit menyempit, tidak seperti jalan sebelumnya. Ketika jalan setapak yang mereka lalui di kebun tomat raksasa itu sangat lega, namun kali ini jalan yang mereka hadapi sedikit berlereng dan tandus. Bahkan amat mengerikan melalui tempat ini.
Suara burung-burung berkoar di atas tempat yang tandus ini. Lebih mirip goa namun tanah yang di pijak oleh Driyad berwarna sedikit cokelat terang nyaris berwarna putih.
__ADS_1
Gerusan air ngarai di bawah tebing berdebur sangat deras. Suara yang mereka tangkap sangat menyejukkan walau terkesan liar.
Driyad melangkah kakinya menuju ke arah barat tepat di mana matahari hampir terbenam. Perjalanan menuju danau yang di maksud oleh Driyad makin memantik anak-anak penasaran.
Perjalanan memakan waktu hingga setengah hari. Walau begitu senja sore itu di ngarai yang terlihat indah ini tidak membuat anak-anak lelah menyaksikan.
Bahkan sesekali Jessica membisik di telinga Sean karena takjub pada tempat ini. "Sean aku sangat menyukai tempat ini."
Sambil tersenyum takjub Jessica merasa suasana hatinya sangat sejuk menikmati alam liar.
"Aku juga menyukai tempat ini. Bahkan aku ingin pindah ke sini rasanya." Sean membalas senada dengan gaya bicaranya yang khas.
Tak lupa burung-burung berbagai macam terbang kesana kemari melintas di atas kepala.
Mereka sudah melalui berbagai Medan dan juga berbagai tempat bahkan sudah mendengar berbagai suara yang menyejukkan.
Hari benar-benar sudah menggelap.
Dan satu hal yang membuat mereka takjub, yaitu bunga-bunga yang menghiasi perjalanan mereka. Bunga-bunga itu bersinar terang berwarna-warni.
"Sean! Kau lihat itu. Bahkan pohon-pohon di sini bercahaya terang bagai di sinari oleh lampu hias." Teriak Jessica sambil menunjukan keindahan malam.
Sean mengangguk setuju atas apa yang mereka lihat. Tidak lupa! walau malam, kupu-kupu masih berkeliaran menghisap nektar. Yang tak kalah membuat Sean takjub adalah sayap kupu-kupu pun ikut bercahaya penuh warna malam itu.
Perjalanan yang amat menyegarkan menurut Sean.
"Sean? Tidak kah kau mencium bau wangi segar ini. Apakah kau merasakannya juga." Dengus Jessica yang mulai teralihkan pada keindahan lainnya malam itu.
"Iya. Aku menciumnya juga. Wangi segar seperti parfum mahal." Timpal Sean yang ikut mendengus.
"Itu bunga raflesia atau bunga bangkai. Bunga langka yang hanya tumbuh di sini. Jika di dunia manusia bunga itu berbau sangat menyengat busuk seperti bangkai. Tetapi di tempat ini adalah kebalikannya." Yudhar yang duduk di belakang menyahut bicara keduanya.
Tepat di tengah hutan itu semua memancarkan warna-warni mereka seakan berlomba-lomba siapa yang paling terang.
"Tunggu! Bagaimana kau bisa tahu akan bunga ini. Bukan kah kau baru saja memasuki tempat ini." Jessica membantah seraya curiga pada pengakuan Yudhar.
__ADS_1
Dengan tenangnya Yudhar justru membalas sedikit bergurau. "Kau pikir aku anak yang bodoh. Di pedalaman hutan tempat ku tinggal pun ada bunga semacam itu. Mereka memang seperti itu pada dasarnya."
BERSAMBUNG