Adventure Of Lord Lausius

Adventure Of Lord Lausius
Episode 169


__ADS_3

Zurry bangun agak terkatung-katung. Seakan berat baginya berdiri tegap, pria itu masih menahan sakit yang terus mendera.


“Lausius itu. Masih saja tak bisa aku kalahkan. Dia ..., uhuk!”


Darah hitam segar, keluar dari mulut Zurry. Bau anyir itu, begitu pekat. Tak ada yang menolong Zurry di lembah air mata ini. Hanya dirinya sendiri, sedangkan Sean dan yang lainnya sudah pergi.


Langkah Zurry agak tertatih. Seolah begitu berat ketika dia ingin melangkah. Kemudian, ingatan Zurry kembali di mana dia bisa datang ke lembah air mata ini.


Saat badai salju turun, Zurry tak sengaja melihat bayangan cahaya dari tubuh Sean yang berpendar. Di dalam hutan, saat Zurry mencoba mengobati lukanya.


Tahu bahwa Sean ada di dekatnya, maka Zurry langsung mengekori perjalanan Sean dan pengawalnya hingga kedalam lembah air mata ini.


“Namun sayang, aku masih gagal!” ucapnya berang.


Zurry mengepal keras tangannya. Sampai bergetar tangan itu, Zurry benar-benar di buat malu dan terhina atas kekalahannya kali ini.


“Baru kali ini aku mengalami masalah sesial ini. Jika bukan karena Lausius dan keajaibannya. Aku pastikan, bahwa aku tak akan melepaskan anak itu!”


Begitu kesalnya Zurry atas kekalahannya dalam melawan Sean, sampai-sampai seekor tikus yang sedang melintas di hadapannya pun dia basmi.


Menggunakan senjata kecil mematikan miliknya, Zurry membidik tepat sasaran. Tikus malang itu mati, lalu mengering hingga menyisakan kulitnya saja.


Itu pertanda, bahwa senjata beracun itu sungguh mematikan. Ingatan Zurry terus saja berjalan pada satu titik, yaitu Sean.


“Aku akan membalasnya pada peperangan tiga ribu tahun. Aku pastikan dia akan membayar semua yang telah di lakukannya.”


Zurry mengepakkan sayapnya, terbang meninggalkan lembah air mata dalam keadaan kesal.


††††


Sudah menjauh dari lembah air mata, kini Sean dan ketiga pengawalnya memasuki sebuah hutan. Pepohonan mapel merah, menghiasi hutan. Dan dedaunan kering bercabang lima, berguguran selama Sean melintas di bawahnya.


Malam hari, bulan terasa menyinari setiap sudut hutan yang hening dan sedikit mencekam. Bulan juga terasa amat dekat rasinya.


Langkah Sean dan para pengawalnya agak memburu. Karena misi terakhir sudah selesai, dan ini saatnya mereka kembali.


“Pangeran. Apa sebaiknya kita menuju ke perbatasan. Meminjam kuda prajurit, agar cepat sampai ke pusat kota. Aku yakin, saat ini Lord Shutanhamun pasti sudah menantikan kedatangan kita.”


Sean menilik Amuria. “Seberapa jauh jarak dari sini menuju ke perbatasan itu?” tanya Sean, yang mungkin ide dari Amuria ini ada benarnya. Menunggangi kuda, sesuatu yang kemungkinan sangat membantu perjalanan Sean kali ini.


“Kita menuju ke selatan. Tidak lama lagi, kita akan menemukan jembatan sungai Mosapus. Kita akan sampai besok pagi ke istana.”


Pencetus ide, Amuria memang sangat brilian dalam hal ini. Sean mengikuti saran Amuria.


“Baiklah, aku setuju saran mu,” balas Sean.


Mempercepat langkah, Sean tak ingin membuang waktu. Hingga sampai di tempat yang di maksud oleh Amuria.


Sebuah jembatan emas, menyatukan dua sisi yang terbelah oleh anak sungai Mosapus. Sungai emas, yang mengalir deras. Gemercik Aira, begitu terasa menyejukkan kalbu.


Menyebrangi sedikit jembatan itu, kini mereka tiba di sebuah benteng dengan dinding tinggi. Dinding perbatasan kota, yang di buat dari baja. Jelas, tak ada susunan bata, itulah kenapa Sean bisa menebak kalau dinding perbatasan di buat dari baja.


Kemungkinan baja itu tertanam di tanah, agar pondasinya makin kokoh. Tinggi benteng sekaligus dinding pelindung ku itu lebih dari dua puluh meter. Bentangan dinding pembatas, Sean yakin tak terhingga panjangnya.


Sejauh mata memandang, yang terlihat hanyalah benteng besar. Di atas benteng ada banyak prajurit yang hilir mudik bak sedang berada di pasar tradisional.


“Pangeran datang!”


Melihat kedatangan Sean dan beberapa pengawalnya, seorang prajurit berteriak pada pada prajurit lainnya. Dengan sigap mereka memberikan sebuah penghormatan atas kedatangan Sean. Membungkuk di hadapan Sean, mereka begitu menyambut kedatangan anak itu.


“Siapkan empat kuda,” perintah Sean pada salah seorang prajurit. “Kami akan kembali ke istana awan Metis sekarang.”


Dengan segera, prajurit berbaju besi dan bertombak tajam menyiapkan apa yang Sean inginkan.


Tak butuh waktu lama, kuda-kuda yang di pinta Sean telah tiba.


“Pangeran. Kuda yang pangeran inginkan sudah kami siapkan!” ujar prajurit lainnya.


Di depan pintu perbatasan yang kokoh, ke empat kuda gagah sudah siap di tunggangi. Masing-masing menunggangi kudanya.


“Terima kasih atas bantuannya. Kami akan pergi sekarang.”


Sean menepuk pundak prajurit yang telah menyediakan kuda untuknya. Setelah itu, Sean menaiki kudanya. Sean memilih kuda berwarna putih tanpa sentuhan warna lain. Kuda itu tampak menawan. Sangat cocok dengan Sean. Ketika di sentuh, kuda itu nampak bersahabat dengan Sean.


Ketiga pengawal Sean juga sudah siap sedia, tak lama mereka langsung memecut kuda. Mengikuti langkah kuda Sean, mereka saling buru memburu dalam mempercepat langkah hewan itu.


Suara ringkik kuda, kini meninggalkan tempat perbatasan. Melesat secepat mungkin, Sean mulai ahli dalam berkuda.


“Misi ini telah selesai. Aku akan kembali. Edward, Jessica, tunggu aku. Aku akan datang!”

__ADS_1


Seraya menunggangi kudanya dengan kecepatan tinggi, Sean terus kepikiran pada wajah kedua sahabatnya. Itulah kenapa, Sean begitu memburu ingin cepat tiba di kota sebelum fajar tiba.


††††


Jessica berdiri di puncak istana. Ada menara berisi lonceng besar di sekitar puncak istana, yang tingginya tak akan bisa di bayangkan.


Sebuah istana yang yang luas. Bukan istana emas yang biasa di diami oleh Jessica kala menunggu Sean. Tapi istana dekat dengan pintu masuk kota. Berdiri di atas tebing bebatuan, salju turun menerpa.


Edward mengajak anak itu bermain ke istana lain di Awan Metis. Tempat yang di penuhi emas, tapi Jessica ingin menikmati salju. Itulah kenapa, Edward mengajaknya kesini.


Jessica berkata pada Edward, bahwa dia bosan selalu melihat emas di mana-mana. Dan, inilah alasannya kenapa dia ingin pergi ke suatu tempat yang tidak ada emasnya.


Beruntung, Yudhar menyarankan tempat ini. Jadi, Edward bisa mengajak gadis pemarah itu mengelilingi semua sudut istana.


“Di luar dingin. Kau nanti masuk angin jika terus berada di sini!”


Jessica menoleh, Edward berdiri di sebelahnya. Keduanya berada di dinding pembatas antara jurang dan istana. Di depan Jessica dan Edward, adalah pusat kota—yang di penuhi oleh cahaya terang.


“Aku sedang menantikan Sean. Kapan dia akan kembali.”


“Kau merindukannya?” tanya Edward.


Jessica memanyunkan bibirnya. “Dia sahabat terbaik kita. Bagaimanapun, aku akan selalu merindukannya. Aku tak akan pernah melupakan Sean sampai kapanpun!”


“Tetapi, kau menyiksa dirimu sendiri, Jessica!”


Jessica melirik Edward. “Ini tidak seberapa, di banding tidak melihat wajah Sean. Kau tahu itu!”


“Bukan Sean, tapi pangeran!” ucap Edward mengingatkan. Anak itu selalu lupa.


“Maaf, aku sudah terbiasa memanggilnya begitu.”


Edward paham, Jessica memang sulit mengganti panggilannya pada teman akrab mereka. Butuh waktu untuknya mengubah panggilan dari Sean, menjadi pangeran Lausius.


“Kau kedinginan?” tanya Edward ketika melihat Jessica menggosok bahunya.


Jessica mengangguk. “Tak masalah. Aku bisa menahannya.”


Edward mengernyitkan dahinya, kemudian dia men-decak sebal. “Kau seharusnya menjaga sendiri kesehatanmu. Jika kau sendiri tidak peduli pada dirimu sendiri, bagaimana bisa kau khawatir pada Sean yang sekarang kita tak tahu bagaimana keadaannya.”


Meskipun kesal pada ulah Jessica, namun Edward tetap berbaik hati. Dia melepaskan mantel rubahnya, lalu menggantungnya pada bahu Jessica.


“Semoga kau tak kedinginan,” ucap Edward apatis. Lalu, menatap kembali kota yang ada hadapan mereka. Kota yang jaraknya tidak terlalu jauh, namun dari atas kota yang bercahaya itu nampak indah.


“Aku kuat. Aku tak merasakan dingin!” balas Edward acuh. “Jangan pikirkan aku!”


Jessica menggeleng saat melihat anak itu mengingkari ucapannya sendiri.


Tangan lembut Jessica, menangkap beberapa salju yang turun. Dia tersenyum saat salju itu menghampiri mantel yang dia kenakan.


Pikiran Jessica kemudian teringat pada masa kecilnya. Masa kecil ketika bermain salju bersama Sean. Kadang memerankan tokoh fiksi, Mr. Frost.


Tokoh legendaris yang sering Jessica impikan untuk bertemu dengannya. Tapi sayang, kisah masa kecil kala menikmati salju ini tak bisa di ulangi. Tak ada Sean yang Jessica lihat sekarang.


Jessica mendesah, membuang napas lelah. Anak itu menepikan dagunya pada dinding tempatnya berdiri. Dinding di puncak istana, sebagai pembatas jurang—yang tingginya sebatas dada.


“Eed," rengek Jessica. Edward membalasnya dengan dehaman. Jessica kembali melanjutkan ucapannya. “Apakah menurutmu, Sean yang kita kenal, benar-benar nyata?”


Edward melirik Jessica, alisnya terangkat—pertanda bahwa dia bingung. “Apa maksudmu?” tanya Edward bingung.


“Kau tahu. Aku begitu merasa ini terkadang seperti sebuah mimpi. Bertemu dengan Sean, pria yang tampannya tak begitu manusiawi. Kadang aku berpikir, bahwa ini sebuah mimpi. Apakah kau merasakannya sama seperti yang aku rasakan?”


Edward menggeleng. “Tidak,” balasnya singkat.


“Kau tidak merasakan bahwa ini seperti sebuah mimpi?” tanya Jessica lagi.


Edward mengerjapkan matanya, namun dia mengerti maksud Jessica.


“Oh, jadi maksudmu, kalau semua ini hanya mimpi semata. Dan Sean, hanya pria yang bisa kau temui dalam mimpi?”


Jessica mengangguk. “Itulah yang aku pikirkan. Bahkan dia tidak layak di katakan sebagai manusia, tapi seorang dewa ketampanan. Apakah kau merasakan hal yang sama seperti yang aku rasakan?”


Edward men-decak. “Kau ini. Mana mungkin ini sebuah mimpi. Sean teman kita, kau mengada-ada!”


“Itu aku kira hanya mimpi.”


Jessica memalingkan wajahnya, kembali menatap bangunan megah di hadapan mereka.


Edward meliriknya sekilas, lalu kembali memalingkan wajahnya dari batang hidung Jessica.

__ADS_1


“Edward. Jessica!”


Dari belakang kedua remaja itu, Yudhar datang. Jalannya agak tergopoh-gopoh, menghampiri keduanya dengan napas memburu.


“Hei, Yudhar. Ada apa? Kenapa kau terburu-buru begitu?” tanya Jessica.


Yudhar membungkuk, sambil menarik napas dalam-dalam. “Di luar. Aku ....”


“Kau tarik dahulu napasmu. Kau coba tenang dahulu, pelan-pelan. Ceritakan semuanya jika kau sudah menormalkan napasmu,” kata Edward, menyela.


“Di luar. Pangeran! Dia ....”


“Maksudmu Sean?” Jessica menyahut.seraya menebak.


Yudhar mengangguk. “Benar, dia sudah tiba bersama ketiga pria itu. Dia ....”


“Dia sudah datang? Secepat ini?”


Jessica terpekik kaget, baru saja dia membahas Sean dengan Edward tadi. Ternyata, semua ini tak di duga, dia datang. Membuat Jessica, memutar kakinya, meninggalkan puncak istana.


“Hei. Aku belum selesai bicara!” teriak Yudhar.


“Kau bisa menjelaskannya nanti,” balas Edward berteriak.


Edward menyusul Jessica, dia meninggalkan Yudhar sendirian di puncak istana. Anak itu terpaku, alih-alih di tanggapi justru dia malah di tinggalkan sendirian.


Yudhar men-decak. “Haruskah aku mengadukan perilaku mereka pada pangeran? Aku rasa, aku harus melakukannya.”


Yudhar ikut meninggalkan puncak menara. Tak lupa, Yudhar menoleh sebentar. Dia menjentikkan jarinya, membunyikan lonceng besar yang menggantung di dalam kuil Piragua. Menggunakan sihir yang dia miliki, lonceng itu berbunyi.


Suara lonceng itu menggema, suaranya menjangkau hingga ke pusat kota.


“Kerja yang sempurna. Aku sekarang, jadi pahlawan istana Metis.”


††††


Berlari secepat kilat, Jessica menuju ke benteng istana. Tempat yang lumayan tinggi, beberapa tingkat lebih rendah dari tempatnya semula berdiri.


Dari kejauhan, dia melihat Sean menunggangi kudanya. Anak itu sangat cepat. Melihat Sean, Jessica tersenyum senang, pasalnya Sean telah kembali.


Pintu masuk kedalam istana ini terbuka lebar, prajurit menyambut kedatangan Sean. Jessica kembali berlari menuju ke depan pintu istana, dalam sekejap dia telah berdiri di depan Sean yang sedang menuruni kuda tunggangannya.


“Jessica. Kau ....”


“Sean ....”


Jessica tersenyum pada Sean, tapi Sean malah mengerutkan keningnya. Jessica menyambut kedatangannya, ini jarang terjadi.


“Kau baik-baik saja bukan selama aku pergi?” tanya Sean.


Jessica mengangguk. “Aku baik-baik saja. Aku ....”


Jessica memainkan jari tangannya, dia gugup saat Sean menatapnya. Jantung Jessica makin berdegup kencang, Di tambah dia merasakan panas di cuaca dingin bersalju. Apakah Jessica sedang merona? Jawabannya hanya Jessica yang tahu.


Sean, dia tahu apa maksud Jessica. Sean langsung memeluk gadis itu.


“Maafkan aku telah membuatmu khawatir.”


Jessica terdiam, antara senang dan gugup kala mendapatkan pelukan hangat dari Sean. Dua hal itu yang mendominasi pikiran Jessica. Jessica menutup matanya, menikmati pelukan sehangat bulu rubah.


“Sean. Aku ....”


Sean memegang wajah Jessica, menatap wajah anak itu. “Kau merindukan aku?” tanya Sean ingin tahu.


Jessica mengangguk. “Aku ..., aku ....”


Sean kembali tersenyum padanya, lalu Sean memeluk lagi tubuh Jessica. “Akan baik-baik saja. Kau tak perlu merindukan kepergian ku!”


Melihat pelukan Jessica dan Sean, Crypto dan dua rekannya terhanyut dalam kisah romantis kedua remaja itu. Edward pun demikian, dia juga melihat adegan ini.


Edward? Bahkan dia tak ingin menyela keduanya. Dia mengalah, mendekati ketiga pengawal Sean, lalu membisik pada Driyad.


“Tidakkah mereka sangat cocok?”


“Sangat, sangat, sangat cocok,” balas Driyad berulang-ulang. “Aku yakin, dia pasti akan menjadi satu-satunya permaisuri pangeran Lausius. Mereka begitu membuat orang lain merasakan sebuah getaran cinta. Dan, mereka nampak serasi, sama-sama tampan dan cantik. Apakah ini yang dinamakan cinta?”


Edward mengangkat kedua bahunya. “Aku tidak pernah mengenal apa itu cinta. Kau jangan tanyakan padaku!”


“Hei. Aku kira kau paham sesuatu. Bukankah kau manusia?”

__ADS_1


Driyad menyikut bahu Edward, anak mengaduh kesakitan.


††††


__ADS_2