Adventure Of Lord Lausius

Adventure Of Lord Lausius
Episode 166


__ADS_3

Nekabudzer membawa Elius ke ruang bawah tanah, tempatnya dahulu berada. Tempat yang agak gelap, hanya ada beberapa lampu penerangan saja. Lampu api, menggantung di dinding yang tersusun dari batu dan di pahat dengan rapi.


Ada tiga patung besar, berdiri kokoh. Sebuah lantai mengkilap, bundar sempurna dan ada sebuah patung naga memuntahkan air mengalir bak pancuran.


Elius duduk di sebuah tempat yang menyerupai ranjang tidur, terbuat dari batu. Duduk bersila, Elius menerima serapan energi dari Nekabudzer.


Tidak lama, karena luka akibat serangan Zurry tidak terlalu kuat. Usai memberikan separuh kekuatannya untuk memulihkan tenaga Elius, Nekabudzer kemudian berdiri. Sambil memainkan jari tangannya. Memutar-mutar cincin di jemarinya.


“Zurry ternyata memiliki kekuatan yang dahsyat juga. Aku kira, hanya Zumirh yang mempunyai kekuatan neraka itu!”


“Aku rasa dia sudah lama memilikinya!” balas Nekabudzer menebak. “Namun diam-diam dia merahasiakannya, agar bisa menggunakannya di saat dia sedang terdesak.”


“Apakah kau baru menyadarinya juga?”


Nekabudzer mengangguk. “Dia bahkan bisa mengalahkan mu. Aku rasa, kekuatan Lausius itu sudah merusak jaringan inti dari kekuatan yang sudah lama kau kumpul. Itulah kenapa, kau rentan kalah saat bertarung dengan musuh yang memiliki kekuatan seimbang denganmu. Termasuk Zurry!”


Elius menarik napas panjang, kemudian dia berdiri tepat di sebelah Elius. Satu tangannya memegang dada, pertanda bahwa sakit masih melanda tubuhnya. Walau tak sepatah sebelumnya.


“Benar. Itu semua karena Lausius itu. Dia yang pertama kali mengalahkan aku. Bahkan dia bisa memusnahkan iblis neraka. Itu artinya, kekuatan yang dia memiliki benar-benar tak dapat di hitung hanya dengan dugaan. Bagaimana menurutmu Nekabudzer?”


Elius melirih Nekabudzer, pria itu mendesah.


“Kita lihat saja nanti. Jalan satu-satunya untuk menaklukkan Lausius itu, hanya ini yang mungkin bisa aku sarankan. Kita harus mengulangi peperangan tiga ribu tahun yang lalu!”


“Menangkap Lausius itu lalu membawanya kabur?”


Nekabudzer mengangguk. “Tak ada pilihan lain. Rencana ini terbukti ampuh. Kau berhasil mendapatkan Lausius itu bukan?”


Elius mengingat-ingat. Benar, selama ini dia berhasil mendapatkan beberapa Lausius sebagai persembahan untuk menambahkan keabadiannya, semua itu tidak terlepas dari peran Nekabudzer. Rencana yang dia buat oleh Nekabudzer, terbilang sangat teratur.


Elius mengurut dagunya. Mengangguk lemah, dia mulai memahami kembali rencana pengikut setianya itu.


“Jika ini yang terbaik menurutmu. Maka, kita akan mempersiapkan ribuan Gort. Aku yakin, kali ini pasukan tanah surga itu akan mengalami kehancuran yang berarti. Aku ingin, aku menjadi penguasa istana awan Metis seutuhnya!”


Elius mengepal erat tangannya. Ambisi itu lagi-lagi menyalakan semangat Elius untuk bertempur.


Senyum miring nan picik, sudah menjadi makanan sehari-hari bagi Nekabudzer. Seringnya dia melihat Elius tersenyum begitu, membuat Nekabudzer bosan untuk meliriknya.


“Simpan dahulu rasa senang mu. Kita perlu menyusun rencana ini. Agar kau bisa mendapatkan Lausius itu!”


††††


Sean duduk kembali kedalam gazebo. Sayap besar Phoenix itu melipat, menghilang di sela-sela punggungnya.


Ketiga pria yang ada di dekat Sean, tentu saja mereka akan takjub. Bahkan Driyad, dia tak bisa berhenti ternganga.


“Pangeran. Sayap itu, kau memilikinya. Sungguh kau membuat sebuah kejutan tak terduga!” kata Driyad yang masih saja tak bisa menghilangkan rasa kagumnya pada Sean.


“Bagaimana caranya pangeran mendapatkan sayap itu. Bahkan, belum ada yang pernah melihat sayap itu sebelumnya.” Amuria ikut berkata, dia memastikan bahwa dirinya tak bermimpi di malam hari.


“Aku tidak tahu bagaimana ini bisa terjadi. Tapi, aku rasa. Sayap ini jauh lebih ringan, juga kecepatannya dalam hitungan detik bisa melesat jauh.”


Sean terus memperhatikan dirinya. Sayap yang sudah menutup itu, kini kembali mengembang. Bahkan jarak kedua sayap itu, sampai keluar dari gazebo. Karena pada dasarnya gazebo itu terlalu kecil, jadilah sayap emas itu nampak besar—melebih gazebo.


“Aku kira itu hanya dongeng. Sayap itu di kabarkan tidak pernah ada, dan tidak ada juga yang pernah melihatnya. Kecuali, cerita dari mulut ke mulut mengenai sayap ini.”


“Apakah kau pernah mendengar mengenai sayap ini sebelumnya?” tanya Sean pada Crypto, saat pria itu mendetailkan ucapannya.


Crypto mengangguk. “Sayap itu milik seorang petinggi langit. Yang aku tahu, sebelum dia hancur menjadi cahaya, petinggi langit itu membuang sayapnya jauh dari surga. Dan dia pernah berkata, ribuan tahun kemudian akan ada yang mendapatkan sayap itu. Sayap itu terombang-ambing di langit, hingga jatuh ke sebuah lembah yang tidak di ketahui oleh siapapun. Beberapa orang mempercayainya, tetapi ada juga yang tidak. Itulah kenapa, mengenai sayap itu, aku rasa ini bukanlah sebuah dongeng semata. Tetapi, kenyataan yang telah mengubah pandangan orang lain.”


“Sayap burung surga?” ucap Sean mengulangi. “Sepertinya, ini tidak asing!”


Sean mengernyitkan dahinya. Dia mulai beranggapan lain akan hal yang baru saja dia dapat.

__ADS_1


Sayap emas itu mengeluarkan api, dan rasanya Sean makin menyatu dengan sayap itu. Sayap yang lebar, jika di rentangkan.


“Aku perlu mencobanya. Aku ingin menguji, seberapa hebatnya sayap ini!” ucap Sean, lalu dia keluar dari gazebo, ingin menguji sayap barunya.


“Pangeran, kau pasti bisa mengendalikan sayap itu!”


Dari dalam gazebo, Driyad mencoba menyemangati Sean. Sean tersenyum ramah, dia menghargainya.


Sayap mengepak, kibasan angin dari sayap itu membuat kelopak bunga yang berguguran, berhamburan ke udara. Sean kemudian terbang rendah, menjajal sayap baru itu. Berputar-putar, rasanya sayap itu seringan kapas.


“Bagaimana pangeran. Apakah kau merasa sayap itu spesial?” tanya Crypto dari bawah.


Sean mengangguk. “Sayap ini sangat ringan. Bahkan seringan angin. Dia benar-benar cepat!” balas Sean sumringah.


Kembali mengitari udara. Sean berputar kesana kemari. Memperhatikan sayapnya, Sean benar-benar di buat takjub.


“Tidak tahu, apalagi kejutan yang akan di tunjukan oleh pangeran. Dia benar-benar penuh misteri, bahkan tak terduga.”


“Kau mulai mengaguminya?” sikut Amuria menggoda.


Nampak nyata, bahwa Driyad lah yang paling bahagia melihat Sean memiliki keistimewaan tersendiri.


“Siapa saja akan kagum pada Lausius. Itulah kenapa, dia di buru oleh banyak pemuja jiwa abadi.”


“Kau mengakuinya?” lirih Crypto ikut menggoda.


“Ya, lebih baik begitu dari pada tak mengagumi pangeran sama sekali,” balas Driyad acuh tak acuh.


Masih di udara, kini Sean turun kembali. Sayap melipat, menandakan uji coba sayap barunya itu sudah berakhir.


“Aku rasa, energi ku malam ini meningkat drastis berkat sayap ini,” kata Sean mengadu pada ketiganya.


“Benarkah pangeran?” sahut Amuria girang.


“Sayap ini membawa energi positif. Aku yakin, dia benar-benar sayap Keberuntungan.”


“Crypto. Bagaimana, apakah kita bisa melanjutkan perjalanan kita?” tanya Sean meminta pendapat.


“Aku setuju saja. Tapi tidak tahu dengan Driyad dan Amuria.”


Menunjuk keduanya, Amuria dan Driyad seketika langsung menyetujui dengan semangat ajakan Sean untuk kembali melanjutkan perjalanan.


“Jangan ditanya pangeran. Bahkan energi ku semuanya terasa sudah terkumpul utuh!” balas Driyad lebih dahulu.


“Kau Amuria?” tanya Sean.


“Kapanpun pangeran ingin pergi, aku siap. Energi ku juga sudah membaik.”


“Bagus. Kita pergi sekarang!”


Sean lebih dahulu berjalan di depan. Ketiga pria itu mengikuti lagi langkah kaki Sean. Hutan berbunga ini sangat luas, tapi ada satu jalan. Jalan setapak, yang rasanya sangat lumrah di lalui oleh orang-orang kala melintasi lembah ini.


Sambil berjalan, Sean ingat pada misinya. Mengambil permata merah dari lembah air mata. Lembah khusus, yang menjaga permata merah dari siapapun yang mencoba mencarinya.


Lord Shutanhamun pernah berkata pada Sean, bahwa permata itu sangat berguna baginya. Sekaligus sebuah kesempatan bagi Sean, membuktikan dia layak dengan gelarnya.


Tempat itu, entah seberapa jauh lagi bagi Sean untuk tiba di sana. Sesampainya di sana pun, Sean mungkin harus berhati-hati. Sebab, tempat itu di jaga oleh beberapa patung yang sewaktu-waktu bisa hidup.


Sean tak ingin mengira-ngira, apa yang akan terjadi di sana. Terkadang, tebakan kenyataan tak sesuai dengan dugaan.


Namun, mengenai tempat itu. Sungguh, Sean akan menduga tempat itu pasti mengerikan. Ada banyak halangan dan rintangan, Sean merasa kali ini dia mulai tegang.


Patung batu raksasa, patung yang di peruntukkan menjaga batu permata itu. Sean Tak begitu bertanya mengenai detailnya, karena Sean malas bicara lebih banyak.

__ADS_1


Yang Sean ketahui, hanya mengambilnya saja Membawanya kepada Lord Shutanhamun lalu misi selesai. Hanya itu yang perlu Sean lakukan.


Hingga mereka keluar dari tempat yang di penuhi oleh bunga ini. Tiba di sebuah sungai, Sean sempat membasuh wajahnya sebentar. Memandangi wajahnya sekilas pada pantulan air yang jernih, kemudian kembali melanjutkan perjalanan.


“Pangeran!”


Sean menoleh saat Amuria menunjukkan jarinya pada sebuah gunung batu menjulang tinggi.


“Kita hampir sampai di lembah air mata!” lanjut Amuria berkata.


Sean memicingkan matanya. “Apakah itu tempatnya?”


“Benar. Kita nyaris sampai.”


Sean tahu mereka nyaris sampai, hanya saja. Ah, Sean merasa tempatnya benar-benar tak begitu ngeri. Tidak seperti yang Sean bayangkan seperti yang ada dalam otaknya.


Melihat apa yang akan di hadapi, Driyad lalu memasang wajah lelah berkepanjangan.


“Jalan batu berbonggol, lalu menanjak. Seharusnya kita tak melalui jalan ini. Kalian tahu, jalan ini sangat bermasalah bagiku. Aku benci jalan menanjak. Aku benci ketika sendi kakiku bergerak ke atas.”


Driyad mengeluh, mungkin mengadu pada Sean dan yang lainnya. Akan tetapi, Sean apatis. Dia justru melangkah menaiki jalan setapak itu, walau Medan berat. Batu-batu kali sebesar telapak tangan bahkan ada yang sebesar bola—kadang menyusahkan langkah kaki.


Oke, Sean sangat kejam pada Driyad. Dia tak peduli pada Driyad yang sebal pada jalur perjalanan yang rumit. Apapun itu, Sean tak begitu memahami keinginan Driyad. Merek telah tiba di tujuan, mana mungkin Sean berpikiran dia akan kembali.


“Kalian tak menghiraukan ku?”


Alih-alih ada yang berkomentar merespon kekesalannya, justru kedua rekannya mengikuti langkah Sean. Driyad merasa, dia benar-benar pengawal Lausius yang tak layak dan buangan.


Sementara Sean, dia sudah menjajaki jalan menanjak Dnegan kontur agak licin. Bebatuan di penuhi lumut hijau. Jadi, Sean perlu berhati-hati saat melalui jalan itu.


“Jalan menanjak, ada hutan, lalu sampai di lembah air mata. Apakah jalur yang kita lalui ini tidak salah?”


Sean melirik Crypto dan Amuria. Crypto membalas lebih dahulu. “Jalan ini tidak salah. Memang terbilang tumit, terkesan tak begitu berbahaya. Namun, pangeran harus berhati-hati. Ada banyak jebakan yang akan kita temui nanti.”


“Apakah pengamanan di sekitar kuil itu ketat?” tanya Sean lagi.


Amuria menggeleng. “Kami kurang memahaminya. Tetapi, seingatku, memang ada penjaga permata merah yang terbilang sangat tangguh. Mereka sulit di taklukkan hanya dengan sekali serangan!” balas Amuria menjelaskan.


“Tetapi itu bukan masalah pangeran,” sahut Crypto. “Hanya sekelompok patung besar yang menjaga. Bukan sesuatu yang berarti.”


“Namun tetap saja, mereka penjaga yang tangguh bukan?” bantah Amuria kontra.


Melihat keduanya berdebat, Sean menengahi. “Jangan mempermasalahkan sesuatu yang tidak kalian ketahui. Kita akan mencari kebenarannya nanti!” ucap Sean bijak.


Seketika, keduanya berhenti berkata saat Sean menyinggung. Dari belakang, napas Driyad terengah-engah mengejar ketiganya. Menanjak jalan berbatu dan licin, lutut Driyad terasa ingin mengatakan menyerah. Tetapi, dia tak sanggup mengatakannya.


Driyad melibas Amuria dan Crypto, Driyad selangkah berada di depan keduanya. Namun selangkah berada di belakang Sean.


Dia membungkukkan badannya, berusaha mengoptimalkan napasnya yang nyaris tak bisa menjangkau paru-paru.


“Jalan mu sangat lamban!” ledek Amuria. Menepuk pundak Driyad, kedua pria itu lagi-lagi mendahuluinya.


“Amuria. Kau selalu ..., Oh!”


Driyad berhenti bicara saat dia melihat ke bawah. Mulutnya ternganga, sebab kornea matanya menemukan tempat yang megah.


Berdiri di dua tempat yang kontras. Sisi kanan tebing menurun, sisi kiri juga tebing yang serupa dengan di sisi sebelahnya.


“Bukan. Ini bukan bukit. Tapi ini lembah ....”


“Air mata!” sahut Crypto.


Dan memang, mereka telah sampai. Driyad, dia bukan berimajinasi. Faktanya, memang mereka sudah sampai.

__ADS_1


“Tetapi mirip lembah!” sekali lagi, Driyad berargumentasi, Sesuai dengan apa yang dia lihat.


Amuria men-decak, di ikuti gelengan kepala. “Sudah salah, masih menganggap benar. Kau patut di sebut pria paling keras kepala.”


__ADS_2