
Jessica menopang dagunya, duduk melamun di pinggir kolam istana. Pikirannya masih untuk Sean, anak itu sudah selama ini belum kembali. Siapa yang tak akan kesal menunggu, itulah yang Jessica rasakan.
“Kau masih menunggu pangeran datang?”
Yudhar mendadak muncul di hadapan Jessica, membuat lamunan remaja itu buyar, berhenti berangan-angan. Dia duduk di sebelah gadis itu.
Memandangi kolam yang berisi ikan warna-warni, malam itu terlihat cerah. Bulan berada di posisi paling dekat. Tapi sinarnya tak begitu menyakiti mata.
“Aku khawatir padanya. Itulah kenapa, aku sangat menantikan kehadiran pangeran!” kata Jessica, agak kuyu. Melampiaskan semua gundah gulana yang sedang dia hadapi. Mungkin, Yudhar bisa membantunya menghilangkan rasa bosan di tempat asing ini. Jika bicara padanya.
Mendengar keluhan Jessica, Yudhar mencoba memahami gadis itu. Menghiburnya, bisa jadi memperbaiki suasana hati Jessica. Itu mungkin.
“Kau tak perlu se-cemas ini. Pangeran pasti akan kembali, tidak lama lagi. Kau cukup mendoakannya, itu sudah lebih dari cukup.”
“Bagaimana jika itu tidak terjadi? Bagaimana jika dia tak akan pernah kembali lagi. Aku takut dia menghilang.”
“Kau tak yakin pada pangeran?”
Jessica mengangguk. “Bagaimana aku bisa yakin kalau dia baik-baik saja. Dia tak memiliki kemampuan khusus. Itulah yang membuat aku begitu mengkhawatirkannya.”
“Itukah yang membuatmu terpaku terus memikirkan dia?” Yudhar menebak. Jessica mengangguk lagi.
“Tak bisa di pungkiri, kalau Sean teman terbaikku!”
Yudhar men-decak, membuang napas lelah—memperhatikan Jessica yang selalu lunglai.
“Ini bukanlah sebuah perpisahan yang lama. Tapi, menjalankan misi, rasanya aku yakin kalau pangeran akan kembali!”
“Namun ini tak semudah yang kita bayangkan,” bantah Jessica kontra. “Sean. Dia sangat lemah. Aku tahu anak itu, lebih dari apapun.”
“Kau tak percaya pada apa yang tak bisa kau yakini. Kau hanya belum melihat kualitas pangeran. Lalu, bagaimana bisa kau akan tenang dan berhenti untuk memikirkan pangeran—jika kau sendiri meremehkan kemampuan orang lain.”
“Maksudmu?” Jessica memandang wajah Yudhar, dengan tatapan penuh. Anak itu—Yudhar mencebikkan bibirnya, mengulu* tersenyum.
“Kau tentu tahu ....”
“Kalau Sean tak akan kembali secepat ini!”
Edward tiba-tiba menyahut. Dia turun dari atas pohon, membuat kedua anak yang sedang duduk di pinggir kolam, tertahan menatapnya.
Edward melangkahkan kakinya, mendekati kedua anak itu. Lalu dia duduk di tengah-tengah mereka. Merangkul akrab Yudhar, Edward begitu santai. Sampai-sampai, Jessica menatapnya curiga.
“Kau ..., sejak kapan kau ada di atas pohon?” tanya Jessica penasaran.
“Aku?” Edward menunjuk dirinya sendiri. Dia ikut bingung kenapa dia berada di sana.
“Tentu saja kau. Kau kira, siapa lagi yang aku maksud?”
“Ku pikir, kau bertanya pada Yudhar!?”
Jessica men-decak. “Aku harus melatih kesabaran ku, untuk tidak mengumpatmu Eed! Aku mohon, jangan membuat aku marah sekarang juga!” gerutu Jessica sebal.
Edward terkekeh geli, satu tangannya menggaruk kepalanya. “Haha. Aku kira, kau sedang membual! Bagaimana mungkin aku akan lupa kalau teman wanitaku begitu galaj.”
Yudhar melirih anak itu dengan tatapan sinis, kemudian meledeknya. “Edward memang yang paling lamban!”
“Hei, aku tak selamban itu!” protes Edward sebal. “Kau saja yang begitu tak menyukai kehadiran ku!”
“Eed!” rengek Jessica. “Jika kau kesini hanya untuk berdebat. Aku rasa, sebaiknya aku pergi.”
“Kau ingin meninggalkan aku sendirian di sini?”
__ADS_1
Edward menarik tangan Jessica yang sudah berdiri. Mencoba meninggalkan Edward, Jessica merasa tak bersalah padanya.
“Ada Yudhar. Kalian bisa bercumbu di belakang ku. Aku tidak akan menggangu!”
“Hei. Aku masih normal. Mana mungkin aku akan bercumbu dengan pria jelek seperti dia!”
Lagi-lagi, Edward begitu sebal pada apa yang dia ucapkan. Oke, bagi Edward ini bukan masalah. Itu hanya guyonan Jessica, tapi bagi Yudhar? Sungguh dia sangat, sangat kesal kala di singgung begitu.
“Akubtak suka padanya. Aku hanya suka pada pangeran. Dia tampan dan manis, aku hanya cinta dia!”
“Apa?”
Mendengar pengakuan Yudhar, Jessica membesarkan matanya. Dia tak percaya, Yudhar mengakuinya. Kalau dia ....
“Apakah kau gila. Mana mungkin aku akan menyukai pria!” tandas Yudhar menghentikan kegilaan Jessica.
“Hampir saja aku tertipu.” Edward mengelus dadanya, beruntung dia tak sampai mendengar kenyataan—bahwa Yudhar akan sungguh-sungguh menyukai Sean.
“Oh. Aku kira kau akan menyukainya.”
Sama halnya seperti Edward, Jessica juga hampir tertipu ulah anak itu. Jika tidak, Jessica benar-benar akan membunuh Yudhar jika dia sampai menyukai Sean.
††††
“Aku akan membuatmu, menyusul kematian adikmu.”
Mendengar ucapan sombong Elius, membuat Zurry tersenyum miring.
“Kau terlalu meremehkan kekuatan musuh mu Elius. Kau tidak tahu, siapa aku!”
Zurry menampik pedang Elius. Meskipun pedang Elius sudah merobek kulit leher Zurry, namun pria itu berhasil membuat Elius terdorong mundur. Pedang Zurry, sempat menancap di dada Elius.
Elius terluka, darah segar keluar dari balik baju kebesarannya. Tetapi, itu tak membuat Elius merasakan sakit. Justru dia tersenyum puas.
Mengepakkan sayapnya, Elius terbang dengan serangan brutal pada Zurry. Pria ini, dia menghindar dari dentingan pedang Elius yang nyaris merogoh nyawanya.
“Kau ingin melucuti ku. Kita lihat, seberapa hebatnya kau!”
Zurry juga tak ingin ketinggalan. Dia mengeluarkan kekuatan dahsyatnya. Menyerang Zurry dari segala arah, pria ini menyadari kekuatan Elius. Kecepatan bak angin itu, dia merasakannya.
Di setiap pedang yang akan menghunus Zurry, dia akan tahu dimana pedang Elius akan berlabuh.
Percikan kekuatan, makin menambah suasana pertempuran di dalam istana Elius ini.
“Melihat Elius tak bisa mengalahkan Zurry. Besar kemungkinan, dia akan terluka.”
Nekabudzer, dia menjadi pemerhati yang handal. Melihat kecepatan dari Zurry, Nekabudzer mencoba melerai pertempuran hebat ini.
“Nekabudzer. Apa yang ingin kau lakukan?” tanya Xavier.
“Aku akan menghentikan pertarungan ini!” balas Nekabudzer, dengan kedua pedang dan cambuknya sudah dia keluarkan.
“Apakah sebaiknya, kita biarkan saja mereka bertarung. Kita tunggu, siapa yang akan keluar menjadi pemenangnya!”
“Tak ada waktu untuk berpikir seperti itu. Aku akan melakukannya.”
Xavier menggeleng. “Nekabudzer. Dia benar-benar tak bisa di ajak kerja sama,” gumam Xavier pelan.
Mengetahui kenyataannya bahwa Nekabudzer masih pad pendiriannya. Apa yang bisa di lakukan oleh Xavier?
Terpaksa, Xavier harus diam saja. Memperhatikan pertarungan ini, baginya sangat mengasyikkan. Dia memang tak akan mendapatkan keuntungan apapun dari keduanya. Tetapi, dengan adanya saling uji kekuatan, Xavier bisa mengukur sejauh mana mereka unggul darinya.
__ADS_1
Dua kekuatan yang sedang beradu, begitu dahsyat terasa. Nekabudzer datang, dia langsung menepis keduanya. Hingga menyebabkan, keduanya terpental secara adil.
Elius, dia terpental dengan kuda-kuda sempurna. Sama seperti Zurry, dia bahkan sedikit mengalami luka.
“Kau kira, dengan melerai pertarungan ini. Aku akan mundur?”
Zurry menatap kesal wajah Nekabudzer. Sambil menahan sakit, Zurry mencoba menahan luka di tubuhnya.
“Zurry. Kau dan Elius sama-sama terluka. Bagaimana bisa, aku tidak melerai pertarungan ini,” kata Nekabudzer.
“Huh. Omong kosong. Aku tidak peduli siapa yang akan mati. Bagiku, dendam ini harus segera di tuntaskan!”
Zurry kembali mengangkat pedangnya. Menyerang lagi Elius, pria ini sangat tak bisa membendung amarahnya sendiri.
“Luka mu akan parah jika kau nekat melakukannya!”
Nekabudzer mencoba memperingati dan menahan gempuran amarah Zurry. Tapi, alih-alih membantu, justru pria ini terpukul mundur hingga beberapa meter dari posisi semulanya.
“Jika kau sayang pada nyawamu, maka jangan halangi aku membalas dendam atas kematian Zumirh!”
“Kekuatan apa ini. Kenapa aku merasa tidak bisa menahannya,” gumam Nekabudzer pelan.
Dia memperhatikan sekali lagi Zurry, kali ini bukan pria itu yang ingin dia pahami. Tetapi kekuatannya tadi. Kekuatan yang berhasil membuatnya mundur kala menghalau Zurry.
“Elius, matilah kau!" pekik Zurry berang.
Mengangkat pedangnya, Zurry menghujam Elius dari udara. Tak ada pilihan lain bagi Elius, selain menahannya.
Suara dentingan pedang Elius, terdengar nyaring. Dia menghalau pedang Zurry.
“Tidak semudah itu kau bisa membunuhku Zurry!”
Zurry tersenyum miring, menatap jijik wajah Elius. Setelah itu, dia memutar pedangnya, secepat kilat, Zurry menerjang Elius hingga dia terpental.
Elius menahan sakit di dada. Dia berdiri sempoyongan, mencoba untuk tetap kuat. Walau punggungnya terbentur dinding istana, namun itu belum cukup baginya untuk bersenang-senang.
“Jika tadi aku tidak di halangi oleh Nekabudzer. Mungkin kau sudah mati sejak awal kita bertarung. Tapi, kali ini. Aku pastikan kau tak akan pernah bisa menghirup udara segar. Ucapkan selamat tinggal atas kematian mu Elius!”
Kembali mengangkat pedangnya, Zurry berusaha menyerang pria yang berdiri agak sempoyongan itu. Zurry masih tangguh untuk di hadapi Elius.
Elius, dia tak tahu harus bagaimana mengalahkannya. Yang Elius lakukan saat ini adalah, dia terdiam. Matanya fokus pada pada satu tujuan. Yaitu, pedang Zurry.
“Selamat tinggal Elius. Selamat bertemu dengan raja neraka. Hiya ....”
Melihat serangan Zumirh begitu dahsyat, Nekabudzer dengan cepat mengeluarkan senjatanya. Sebuah belati kecil bundar sempurna, ada lima mata pisau tajam.
Nekabudzer melempar belati itu, tepat di dada Zurry. Dan, pria itu dengan segera mundur setelah tahu ada begitu banyak senjata mematikan Nekabudzer datang padanya.
Zurry mencoba menangkis, tapi sayang dia gagal. Satu belati tajam Nekabudzer terkena dan menancap di dadanya.
Memaksa Zurry terdorong mundur hingga memuntahkan darah segar di sela-sela bibirnya. Sedangkan Nekabudzer, secepat mungkin yang dia bisa, memapah Elius lalu menghilang.
“Elius ...! Akh ....”
Rasa sakit tak bisa lagi di tahan oleh Zurry. Tubuhnya melemah setelah terkena serangan senjata dari Nekabudzer.
Memuntahkan darah segar kembali, memaksa Zurry harus enyah dari istana Elius. Dia membuka sayapnya, kemudian terbang meninggalkan istana Elius.
“Hanya segini pertarungan mereka?”
Seakan tak percaya, Xavier kebingungan atas apa yang dia lihat.
__ADS_1
“Hampir saja aku tahu, kalau Zurry mampu membunuh Elius.”