
Ada apa dengan mu!!
Matahari sudah meninggi di langit.
Hari mulai menggelincir.
Semua pengguna resort banyak melakukan kegiatan diluar ruangan.
Ada yang berjemur menghitamkan kulit bak wanita berkulit coklat eksotis.
Bermain voli pantai, menikmati segarnya buah kelapa muda, spa yang nyaman, serta menikmati makan seolah semua penat hilang begitu saja.
Note: gambar ini hanya ilustrasi, dan merupakan gambar referensi dari pihak ketiga.
source: google.
Snorkling, menikmati air biru laut.
Hewan laut, ikan, penyu, dan sebagainya berenang bebas seolah mereka tak terusik akan kedatangan manusia.
Rumput-rumput laut, terumbu karang, air yang jernih semua menjadi keindahan yang spesial.
Pelancongan asing bertebaran mengarungi air laut.
Suara angin menderu.
Pohon kelapa bersuka cita bergerak mengikuti arah angin.
Sean, Jessica dan Edward sangat menikmati gebyar gebyur air laut.
Wajah mereka memancarkan kebahagian yang tiada Tara.
Menaiki sebuah sampan kecil yang telah mereka sewa sebelumnya dari nelayan, di atas sampan itu mereka asyik menyaksikan hewan di bawahnya.
"Aku tak percaya ini, wohooooo." Teriak Edward senang di atas sampan kecil itu.
"Aku pun begitu!" Sahut Jessica.
"Aku rasa kita harus menyelam, kalian lihat udang di bawah sepertinya inginkan kita menemuinya." Kelakar Sean seakan dirinya paham bahasa binatang.
"Aku setuju pada mu Sean," Jessica menjawab tanpa aba-aba langsung melompat kedalam air.
"Wohooooo, lihatlah Sean airnya sangat segar." Jessica kegirangan sambil kedua tangannya mencipratkan air kepada kedua pria di atas sampan itu.
Sean tertawa setuju atas ucapan Jessica.
Ia memulainya juga, ia mulai melompat kedalam air setelah melepaskan bajunya dan meletaknya di atas sampan.
"Wow.. Fantastis." Teriak Sean tak kalah girang.
Edward pun tak mau kalah.
Ia ingin menyaingi kedua temannya itu.
Remaja polos ini mengikuti jejak Sean.
Melompat kedalam air, menggebyar gebyurkan ombak laut.
Mereka sesuka hati membuang-buang air kewajah satu sama lainnya.
"Anak-anak, kalian jangan terlalu jauh berenang di sana!" Tuan Muller mencoba memperingati ketiga anak itu dari pinggir pantai.
Ya, seperti orang-orang pada umumnya mereka malah asik menghabiskan waktu didalam air sehingga mereka tak mendengarkan perkataan orang tua itu.
Mereka berenang makin kedalam laut yang dalamnya hanya empat meter.
Menangkap ikan dengan tangan kosong.
Sungguh luar biasa kegiatan mereka. Jauh lebih menyenangkan bermain seperti ini ketimbang duduk di rumah memainkan gadget. Pikir Sean seperti ini jauh lebih mudah mendapatkan teman baru dari pada menghabiskan waktu menatap si layar monitor.
"Nampaknya mereka tak mendengarkan ucapan ku," Keluh tuan Muller dari pinggir pantai.
Ia hanya menyaksikan ketiganya dari kejauhan seraya menyeruput kelapa muda segar di bawah payung pantai berwarna biru.
Tuan Muller tak habis pikir pada ketiga remaja itu.
__ADS_1
Sangat asyik sehingga tak menghiraukan orang-orang di sekitarnya.
"Hari mulai terik, sebaiknya kita kembali saja ke resort!" Ucap Edward menghentikan kesenangan mereka.
"Aku pikir begitu, bagaimana menurut mu Sean?" Jessica meminta pendapat Sean.
"Ada benarnya, sekarang makan siang pasti telah tiba!" Sean setuju untuk menghentikan renang mereka.
Satu persatu naik ke atas sampan.
Edward dan Sean bertugas mengayuh sampan kecil itu dengan dayung. Sementara
Jessica hanya menikmatinya saja. Menikmati Kayuhan sampan oleh kedua temannya itu.
****
"Uh. Sungguh asyik meskipun melelahkan," Ujar Sean lega karena tiba di penginapan mereka.
Ia merebahkan tubuhnya di atas empuknya kasur.
Sungguh nyaman.
Bagaikan sedang berada di sauna, Sean sangat menikmati rebahannya.
"Sean, bagaimana jika kita mengelilingi hutan?" Edward datang dari kamar mandi masih dengan handuk polosnya ikut merebahkan tubuh di kasur.
"Sayangnya aku harus menolaknya!" Jawab Sean tanpa pertimbangan.
Ia melanjutkan tidurnya, tak peduli pada Edward.
"Baiklah, aku bisa pergi sendiri!" Edward menjawab dengan ekspresi kecewa.
Ia pergi meninggalkan penginapan.
Ia ingin menghirup udara segar di hutan belakang resort.
Meskipun tanpa Sean.
"Hei eed, mau kemana kau?" Tanya jessica pada Edward. Keduanya berpapasan di depan resort kecil Sean dan Edward.
"Aku ingin ke hutan, menghirup udara segar!" Jawab Edward ketus.
"Oh, Oke... Baiklah. Tapi ingat kau berjalan jangan terlalu jauh. Nanti aku dan Sean akan menyusul mu." Jessica sedikit merasa aneh pada Edward terlebih melihat raut wajahnya. Tetapi Jessica tidak tahu apa itu permasalahan yang dihadapi oleh Edward.
"Ada apa dengannya?" gerutu Jessica dalam hati.
Ia ingin menghampiri Sean di tempatnya.
Edward pun begitu, ia berjalan ke hutan di belakang resort.
Edward selalu kesal pada Sean, baginya Sean adalah teman paling menyebalkan.
"Benar-benar sangat menjengkelkan! lagi pula aku bisa berjalan sendiri tanpa mereka," Gerutu edward sepanjang perjalanannya menyusuri jalan setapak di hutan yang ia lalui.
Tanpa sadar Edward telah melangkah di jalan yang ia sendiri pun tak tahu.
Ia melangkahkan kakinya semakin jauh masuk kedalam hutan.
Nampaknya ia mulai tersesat di dalam hutan yang begitu rimbun.
"Apakah aku sudah tersesat?"
"Ah, aku melupakan jalan pulang. Sial!" Teriak edward kesal sembari menendang batang pohon sebagai pelampiasan.
****
"Sean, apakah kau tertarik makan buah segar ini?" Jessica datang pada Sean membawa baki buah yang banyak.
"Terima kasih Jessica," jawab Sean menyukai tawarannya.
Mereka menikmati buah segar di dalam resort Sean.
Melihat pemandangan birunya air laut dari dalam resort dengan segala perasaan yang damai dan tenang.
Mereka tertawa, bercanda melihat tingkah satu dan lainnya.
Bersenda gurau hingga matahari terik pun hilang di gantikan matahari terbenam.
"Apa kau tahu edward tak akan tersesat jika pergi sendiri," Jessica penasaran pada reaksi Sean.
Ia mengubah pertanyaan itu lebih serius.
"Sekarang pukul berapa?" Sean balik bertanya pada Jessica dengan ekspresi wajah cemas.
__ADS_1
"Sekarang, mungkin saja pukul lima sore atau bahkan lebih!" jawab Jessica bingung karena ia tak tahu pukul berapa saat itu.
"Celaka!!! kita sudah melupakan edward hingga berjam-jam. Aku rasa ia sudah tersesat."
Sean beranjak dari tempat tidurnya, ia mengambil jaket tebal dan senter miliknya, mencoba pergi mencari edward.
"Hei Sean, kau mau kemana?" tahan Jessica pada Sean.
"Aku mau mencari edward."
"Aku ikut Sean!"
Jessica tak butuh ide untuk mengambil langkah ini.
Ia mengejar Sean yang keluar dengan tergesa-gesa.
"Ku pikir dia hanya bicara omong kosong!
aku tak pernah membayangkan jika ia nekat pergi sendiri," bicara Jessica di tengah perjalan mereka.
"Aku pun berpikir begitu. Tingkah kekanakannya itu kadang membuat ku khawatir," Sean mulai memperhatikan anak itu.
"Hari mulai menggelap, apakah ia akan baik-baik saja!" Jessica melanjutkannya.
"Entahlah, aku harap ia akan baik-baik saja."
Mereka berjalan menyusuri hutan.
hutan yang mulai menggelap.
Terkadang suara Auman anjing hutan serta hewan buas lainnya melolong keras.
Suara berisik khas hutan.
Terkadang juga suara burung hantu berbunyi mendengkur keras.
Membuat suasana hutan yang awalnya senja menjadi gelap itu makin menakutkan.
"Eed," teriak Jessica.
Ia menutupi mulutnya dengan kedua tangannya seolah membentuk sebuah pengeras suara.
Ia melakukannya berulang-ulang.
"Edward.. apakah kau bisa mendengar ku!" Sean juga berteriak.
Ia berteriak sekuat mungkin demi menemukan temannya itu.
Mereka memanggil nama Edward terus berulang-ulang.
****
Crack.
Kemudian ada suara lain yang terdengar familiar.
Suara itu datang dari belakang keduanya.
Suara ranting yang terinjak.
Sean mencari arah sumber suara.
Ia menyinari dimana suara ranting yang terinjak itu.
"Edward apakah itu kau?" tanya Sean.
Ia mencari suara itu lagi sambil menyinari pojok hutan.
"Eed, apakah itu kau!" Jessica ikut memastikan apakah itu Edward atau bukan.
"Eed, ayolah hari mulai menghitam. Kau lihat sekarang sudah pukul hampir jam tujuh malam." Jessica dengan nada cemasnya tak ingin Edward melakukan lelucon di tengah hutan.
Mereka berpikir satu dan lainnya bahwa Edward sengaja melakukannya.
membuat mereka cemas dan khawatir padanya.
Edward adalah tipe yang suka mencari perhatian! begitulah pikir Sean.
BERSAMBUNG.
**
**
__ADS_1
**
SARANJANA EPISODE 14