
“JANGAN LUPA TINGGALKAN LIKE, KOMENTAR DAN RATE BINTANG LIMANYA YAH. SEMOGA KISAH FANTASI INI BISA MENGHIBUR KAKAK-KAKAK SEKALIAN. SALAM MANIS, AUTHOR.”
_____________________________________________
“Matilah kau!”
Dari belakang Medusa, Xavier datang. Pedang di tangannya siap menghujam Medusa, namun lirikan mata bercahaya Sean mengetahuinya.
Sean dengan cepat, menarik Medusa, menghindar dari serangan pedang Xavier.
Sayap cahaya Sean mengembang, terbang rendah, lalu sedikit menjauh dari Xavier dan dua orang itu—Elius dan Nekabudzer.
“Terima kasih pangeran,” Medusa berkata. Tangan Medusa melingkar di leher Sean, matanya menatap lembut siluet mata yang bersinar indah ini. Sean membuat Medusa merasa benar-benar tak bisa melupakan Sean. Dan selalu menganggap kalau Sean adalah More.
“Kau harus waspada. Mereka sepertinya tidak hanya mengincar aku saja. Tapi kau juga!”
Sambil berkata, Sean melirik kesana kemari. Mata yang bercahaya ini menyoroti orang-orang di sekitarnya.
“Baiklah. Terima kasih pangeran telah membantu ku.”
Medusa tersenyum. Perlakuan Sean padanya amat lembut. Dan Medusa merasa amat nyaman menerima kehangatan dari remaja ini.
“Hemp.....” Xavier sedikit menyungging tersenyum, lirikannya amat tajam melihat Medusa dan Sean. “Jika kau tidak mau menyerahkan Lausius pada ku. Maka kau berhak mati di tangan ku iblis ular!” kata Xavier pada Medusa, sambil mengacungkan pedangnya.
Xavier kembali bertindak. Kecepatannya menembus retina mata. Sampai-sampai Medusa tak sadar jika orang itu ada di hadapannya. Dengan pedang tajam itu, siap menusuk pelipis anak mata Medusa.
Namun Sean, dengan mata yang mampu merespon kecepatan lawan, menahan pedang Xavier. Walaupun ada Medusa dalam pelukannya, itu tidak menghalangi dirinya untuk memperisaikan diri.
TING!
Wajah Sean terlihat berang. Menggertak giginya, seakan siap melahap Xavier.
“Aku yang akan membunuh mu lebih dahulu raja neraka!” teriak Sean membalas.
Sean mengerahkan kekuatan penuh, mendorong tubuh Xavier menjauh darinya.
Xavier terhuyung, membuatnya berguling di udara beberapa saat. Terjatuh dengan posisi kuda-kuda berwibawa. Xavier sedikit menjaga egonya dalam bertarung. Xavier tersenyum, lagi-lagi dia tak bisa mengalahkan Lausius.
“Huh. Ternyata Lausius benar-benar tidak bisa di remehkan.”
Sean melongosnya, seakan Sean tak peduli pada orang itu. “Kau harusnya tidak datang di istana Medusa. Atau aku sendiri yang akan menghancurkan mu!”
“Sombong!”
Bagi Sean? Entah kenapa dia sering membantu Medusa setiap kali dia di Serang atau dalam bahaya. Mungkin karena Sean ingat dengan janji Medusa pada kaumnya, itulah kemungkinan kenapa Sean bertindak sebagai pelindung.
Janji yang ingin membawa kaumnya mencapai puncak keabadian, meninggalkan kesengsaraan dan tindasan serta pelecehan. Itulah yang membuat Sean kagum pada sosok Medusa. Walau Sean malas mengakuinya.
“Ini saatnya kita menyerang,” ucap Elius pelan. Nekabudzer mengangguk, pedangnya sudah berayun.
“Kalau begitu, langsung saja kita sering intinya. Medusa, kemudian kau membawa Lausius sebelum Xavier mendapatkannya lebih dahulu.”
Keduanya sepakat, kali ini mereka menyerang bersama-sama.
“Hiya......”
Sean menoleh, ketika dia menurunkan Medusa dari pelukannya. Elius telah bertindak, Sean mengangkat pedangnya. Menepis pedang yang hampir menusuk pelipis matanya.
TANG TING
Sean memaksa Elius bertarung dengan kekuatan penuh dan kecepatan tinggi. Sayap-sayap bercahaya Sean mulai mengembang, membantunya dengan mudah mengentas Elius.
Xavier tidak tinggal diam. Dia kali ini berada di pihak Elius. Menyerang Sean bersamaan, pikirnya dengan mudah mengalahkan anak itu.
“Kita bekerja sama kali ini. Lupakan perebutan Lausius, kita harus bersatu agar secepatnya Lausius ini lumpuh,” kata Xavier pada Elius.
Pria beruban putih ini mengangguk, dia setuju pada saran raja neraka. Mereka berdua menyatukan kekuatan, menyerang Sean dengan tenaga dahsyat.
“Kalau begitu, kalian harus menerima kekalahan kalian kali ini!” pekik Sean membalas dengan kekuatan dari pedang merahnya. “Hiya......”
Kedua orang yang menyerang Sean mendengus, memandang bersamaan. Lalu balik menyerang Sean yang terbang tinggi di udara.
Nekabudzer bertarung melawan Medusa, dan seperti dugaan Medusa. Dia lawan yang seimbang.
Suara dentingan pedang menggema di istana Medusa. Membuat para kaum ular panik hingga membuat kaum ular bersembunyi di dalam istana Medusa.
“Ratu ular tidak akan mudah di kalahkan. Kau jangan terlalu membanggakan kekuatan mu Nekabudzer!” teriak tetua kaum ular.
Dia membantu Medusa menyerang Nekabudzer. Akan tetapi, kekuatan tetua ular tidak sebanding dengan kekuatan Nekabudzer.
Dia terpental, hingga membuatnya tak berdaya. Lemah, namun beruntung serangan Nekabudzer tidak terlalu kuat. Bisa-bisa tetua kaum ular sekaligus penasihat Medusa ini sekarat akibat tenaga Nekabudzer.
“Itulah kenapa kau berani mengusik Nekabudzer!”
“Kau terlalu sombong Nekabudzer,” Medusa mendengus.
Tidak lama, dia mengepakkan sayapnya. Kembali melanjutkan serangannya pada Nekabudzer.
__ADS_1
Dan lagi-lagi, pria itu berhasil menghindar dari serang Medusa. Sama halnya dengan Medusa, yang terus bisa memberikan perlawanan berarti.
“Kali ini kau harus lenyap di tangan ku!”
Karena sulit mengalahkan Medusa, Nekabudzer mulai berang. Dengan senyum pahitnya, dia mencoba menyerang Medusa dengan kekuatan yang selama ini jarang dia pergunakan.
Medusa membalasnya dengan senyuman kecut. Matanya bersinar, di ikuti kekuatan api biru menghiasi tubuh.
“Kalau begitu. Aku akan menjadi malaikat maut mu kali ini Nekabudzer. Dan akan aku buat kalian menderita kekalahan karena mengusik dewi ular!”
“Cih. Kekuatan ku yang akan membunuh mu lebih dahulu!”
»»»»»
BRUK
Sean berhasil menuntas serangan Elius dan Xavier. Mengusik keduanya hingga terpental membentur di dinding batu istana Medusa.
Keduanya memuntahkan darah segar bersamaan, yang keluar dari sudut bibir masing-masing.
“Sial. Dia masih tangguh dari perkiraan ku!” kata Xavier pada Elius.
Elius memegang dadanya, sambil menyeka darah yang mengucur. Punggungnya terasa mau patah saat terbentur di batu itu. Bahkan meninggalkan jejak reruntuhan di bebatuan.
“Lausius ini benar-benar tak bisa di anggap remeh. Dia..... Uhuk...”
Elius terseok, kali ini dia tidak mampu lagi menyerang Sean. Pun demikian dengan Xavier, seluruh tulangnya terasa remuk.
Setelah melihat kedua lawannya terhuyung tak mampu lagi bangkit. Sean mengalihkan pandangannya pada Medusa.
Lagi-lagi, rasanya Sean tak berani mengabaikan Medusa di saat seperti ini. Padahal Sean tahu, sebenarnya ini adalah peluangnya untuk kabur. Namun, niat itu urung Sean lakukan. Dia memilih tetap ada di istana Medusa.
“Hiya......”
Serangan Nekabudzer membuat Medusa kewalahan. Walau mereka sama-sama kuat, namun sayang. Itu tidak cukup membuat Medusa membendung kekuatan Nekabudzer.
Sialnya, Medusa terkena salah satu serangannya. Membuat Medusa terjatuh ke bawah, sebab sayapnya terasa patah saat cahaya menembus setiap inci dari balungnya.
Terjangan keras dari kekuatan Nekabudzer, membuat Medusa memuntahkan darah. Darah yang jatuh ke pasir itu berubah menjadi sebuah bunga liar. Aneh, tetapi itulah rahasia Medusa.
“Hahaha...... Rasanya aku kurang puas jika belum membunuh kaum ular!”
Dari atas, pria itu agak menyombongkan diri. Bahkan Sean di buat berang melihat keangkuhan Nekabudzer.
“Maafkan aku Medusa. Kali ini aku harus mengakhiri umur mu!”
“Ini waktunya kita bertindak.”
Dari puncak menara istana Medusa, Zumirh kian memulai aksinya. Mengepakkan sayapnya, kemudian menukik ke bawah, ikut menyerang Medusa.
Zurry tidak tinggal diam, dia juga ikut Zumirh. Mengepakkan sayap, menyerang Medusa.
“Kau dan aku bersama-sama menyerang Medusa dan Nekabudzer. Ini kesempatan langka bagi kita,” kaya Zumirh. Mereka terbang senada, sayap-sayap bercahaya mereka sudah mengembang sempurna.
“Hiya!”
Sialnya bagi Nekabudzer, dia baru menyadari kalau kedua iblis kakak beradik itu ikut menyerang.
Nekabudzer yang belum sampai menyerang Medusa, lebih dahulu terkena kekuatan Zumirh. Membuat tubuhnya terpental cukup jauh. Sampai terseok tak bertenaga.
“Hah.... Dua iblis itu!”
Sean ingat, Zumirh dan Zurry pernah bertemu dengannya di tebing bebatuan. Ketika hendak memasuki gurun pasir ini.
Melihat mereka yang mengeluarkan kekuatan besar mengarah pada Medusa. Apalagi wanita ular itu terlihat tak berdaya dan terluka. Sean dengan cepat memposisikan diri.
Di bantu oleh sayapnya, Sean secepat mungkin tiba di tubuh Medusa. Melindunginya dan menutupi tubuh ular itu dari serangan kekuatan besar Zumirh dan Zurry.
BLAR
Cahaya dahsyat dari kekuatan Zurry dan Zumirh mengenai tubuh Sean. Menyilaukan mata, membuat sepasang saudara itu terpercik akan kekuatan cahaya. Membuat sayap keduanya berhamburan. Tak mampu mengatasi kekuatan itu, mereka ikut terpental.
“Ah.....” teriak Zumirh yang merasa terbakar akibat percikan cahaya dari Sean. Zurry menangkap tubuh adiknya, terbang menjauh dari dimensi api Sean.
“Anak itu berhasil menggabungkan jiwanya dengan jiwa dewa ular serta dua batu permata. Saat ini dia tidak bisa di atasi dengan mudah.”
Zurry memberitahu adiknya, Zumirh. Sambil memeluk Zumirh, Zurry memperhatikan tangan wanita ini.
“Tangan ku.”
“Ini adalah efek dari kekuatan api Lausius itu,” Zurry menyahut. “Tangan mu terbakar!”
“Ah. Kak. Dada ku.” Lagi-lagi Zumirh merasakan keluhan yang dahsyat.
“Kau akan baik-baik saja. Efek bakar ini akan hilang beberapa saat lagi.” Zurry menenangkan.
Sementara, cahaya di bawah sudah perlahan meredup. Xavier, Elius, bahkan Nekabudzer terpana. Mereka terlambat. Kini Lausius di hadapan mereka sudah memiliki dua jiwa sekaligus.
__ADS_1
“Ternyata Medusa..... Sudah..... Berhasil menyatukan dua kekuatan besar itu!”
Dengan ucapan yang terputus-putus, Xavier menjelaskan. Dia tahu, setelah melihat cahaya dari tubuh Sean.
“Kita terlambat!” Elius mengeluh. Namun tak ubahnya, Sean tetap menjadi yang terkuat dari yang lainnya.
»»»»»»
“Kau baik-baik saja bukan?” tanya Sean pada Medusa. Sean memeluknya erat, melindungi wanita ular ini segenap jiwa dan raganya.
Medusa mengangguk, sepasang matanya tak bisa lepas dari lensa yang bersinar indah ini. “Aku baik-baik saja. Terima kasih sudah membantu ku.”
Tak peduli Sean mengabaikan atau mengedarkan pandangannya. Bagi Medusa, dia beruntung—karena mendapatkan perhatian dari Lausius.
“Celaka. Dia ternyata sudah menggabungkan jiwanya dengan jiwa dewa ular dan dua permata itu. Jika aku tidak segera mengalahkan Lausius ini. Tidak tahu apakah aku akan ada kesempatan kedepannya.”
Nekabudzer bergumam pelan. Sorot matanya tak bisa lepas dari Sean yang terus memancarkan cahaya keabadian itu.
Kabar buruknya, Zumirh dan Zurry juga bertindak. Membuat pergerakan Nekabudzer terhambat dan bisa jadi itu adalah ancaman.
“Lauisus. Kau benar-benar Lausius yang kuat dan tangguh. Tak ku sangka, ternyata kau jauh lebih sempurna dari semua saudara mu!”
Sean menatap nanar Zurry yang sedang berkata, sinisnya lirikan Sean membuat Zurry terkecut untuk tersenyum.
“Zurry, kita jangan buang-buang waktu. Sebaiknya kita serang dia. Bukankah ini lebih baik, apalagi Nekabudzer, Elius, dan Xavier terluka parah. Kita akan banyak kesempatan jika menyerangnya secara bersamaan!”
Zurry menyunggingkan senyuman manis, ide adiknya ini memang brilian.
“Kalau begitu, kita hadapi bersama-sama!” teriak Zurry menggema.
Dia terbang secepat kilat, menuju ke Sean dengan mengutus serangan di balik pedang berkepala elang surga miliknya.
Zumirh tidak tinggal diam, dia ikut menyerang. Sambil membuka lebar kipas tajamnya, satu tangan Zumirh menghardik Sean dengan ribuan jarum yang sempat dia gunakan untuk melumpuhkan Sean kala itu. Serangan dari udara ini, tidak serta Merta membuat Sean lengah.
“Mereka menggunakan teknik itu lagi,” gumam Sean pelan.
Matanya memicing, menyaksikan dua kekuatan yang sedang menyasar tubuhnya.
Sean ingat, saat menyerang Medusa, kedua orang itu menggunakan teknik rahasia pribadi yang sama mereka gunakan saat ini.
Sean tidak bergeming, bukan berarti dia akan kalah. Namun Sean sedang memikirkan kecohan dari setiap serangan dua bersaudara ini.
“Pedang elang itu kekuatannya hampir menyerupai kekuatan surga. Di tambah jarum yang mampu melumpuhkan mangsa. Jelas, jika aku terkena jarum itu maka akan melumpuhkan sel syaraf ku.”
Sean sekali lagi mengedarkan mata bercahayanya itu pada dua orang yang menyerangnya. Sekali lagi, Sean memprediksi, dan........ Dapat.
Sean nampaknya menemukan cara mengalahkan dua orang itu.
“Pangeran. Hati-hati!” ketika Sean hendak berbalik untuk menyerang, Medusa mengkhawatirkan dirinya.
Sean mengangguk. “Aku berjanji. Akan melindungi mu!” balas Sean.
Sedetik kemudian, Sean mengibarkan sayapnya. Tebang ke udara, balas menyerang Zumirh dan Zurry.
“Hiya....”
Sean memutarkan pedang merah besarnya itu. Sorot sinar sudah menyala di permukaan pedang yang terukir dengan indah burung surga—dari kitab Avrida. Burung Herrera, itulah nama burung surga yang terukir indah di pedang merah Sean.
Nama burung yang di gunakan oleh para Marmaida, untuk menamai istana Asparos, pemilik sungai suci. Yaitu kuil Heres.
Sean memainkan dengan lincah pedang yang beratnya puluhan kilo itu, menangkis setiap jarum yang siap menyapa tubuhnya.
Dentingan suara antara jarum dan pedang, makin menambah semangat Zumirh untuk terus menancapkan jarum kecil-kecil itu ke tubuh Sean.
Sampai Zurry dan Sean bertemu, Sean mengerahkan kekuatan besarnya. Menghantam pedang yang akan menghunusnya.
“Hiya!”
Celaka bagi Zurry, nampaknya Sean bertarung penuh amarah dan emosi. Zumirh ternganga, sebab saudaranya itu terlihat dalam kungkungan Sean.
“Tidak. Zurrry!”
Sedetik kemudian, pedang Zurry terpental menancap di pasir dan tuannya terhempas menabrak beton penyangga istana Medusa.
“Zurry!”
Zumirh melemparkan jarumnya untuk yang terakhir kali pada Sean, lalu dia mengejar Zurry yang sudah terluka parah. Lemparan terakhir dari jarum itu, tepat mengenai Sean.
Berbeda dari sebelumnya, kali ini Sean tidak merasakan efek apapun dari jarum Zurry.
“Xavier, Elius. Ini saatnya kita menyerang!” kata Nekabudzer menggebu.
Kedua pria itu sepakat, menganggukkan kepala. Dan siap mengangkat pedang mereka lagi.
“Hiya!”
BERSAMBUNG
__ADS_1