Adventure Of Lord Lausius

Adventure Of Lord Lausius
Episode 39


__ADS_3

MUSAFIR


Anak-anak sedang dalam perjalan menuju ke pusat kota saranjana. Kota megah yang di gambarkan sangat elok bahkan kota yang tiada tandingnya di kehidupan nyata manusia.


Mereka kembali melintasi perbukitan, gunung, danau, Savana, dan kembali lagi di jalan yang menanjak, melandai turun bahkan berkelok-kelok. Semua kembali mereka lewati dengan Lika liku yang amat pelik.


"Tuan driyad!" Jessica menghentikan langkah mereka yang sudah lumayan jauh dari kota desa perbatasan.


"Bisakah kita berhenti sejenak!" tawar Jessica pada asgart muda yang jalannya pun amat cepat.


"Aku benar-benar sudah lelah dan tak cukup tenaga untuk berjalan!" Jessica bicara dengan nada mulai mengeluh lemas.


"Apakah benar kau benar-benar lapar?" driyad menyimpang terduduk.


"Benar! bahkan aku belum makan pizza pun seharian ini?" keluh Jessica.


Sean menyikut gadis itu.


"Kau pikir ini di kota new york!" dengan nada bahasa lelucon.


"Apa itu pizza?" Yudhar menyambar ucapan itu dengan cepat.


"Bahkan pizza pun kau tak tahu?" gerutu jessica sebal pada Yudhar.


"Hei, kau pikir manusia hutan seperti ku ini pandai segala hal seperti kalian? setidaknya aku berusaha ingin tahu sesuatu!" tukas Yudhar ikutan Sewot.


Driyad menyaksikan anak-anak itu tak pernah akur dalam situasi apapun. Mereka selalu membuat keributan kecil yang terkadang membuat driyad menghela nafas panjang meskipun dirinya seekor serigala.


"Mari kita istirahat lebih dulu jika kalian sudah merasa lelah!" sela driyad dengan ide cemerlang.


"Apakah tempat yang penuh makanan itu masih jauh!" Jessica kembali bertanya dengan nada semakin lemas.


"Kita hanya perlu berjalan beberapa jam lagi, untuk sampai di tempat itu. Tetapi kondisi kalian masih sedang lemas karena kekurangan gizi. Sebaiknya kita kumpulkan dulu tenaga sebelum melanjutkan perjalanan!" balas driyad dengan yakin.


"Baiklah! aku tak bertanya lagi!" Jessica menyerah, dirinya paham bahwa ia sudah benar-benar lesu.


Semua tubuh itu memilih terduduk sejenak di bawah pohon besar. Dimana pohon itu cukup membantu mereka dalam menahan panasnya terik matahari siang.


Alang-alang kering menutupi Padang rumput yang luas dengan daunnya yang menguning.


Daun maple merah ikut menyemarakan warna alam yang indah itu.


Cuitan burung serta suara kawanan monyet menyeruak dengan riang dan gembira.


Kawanan rusa dan burung-burung bermigrasi nampak enak di pandang.

__ADS_1


Bahkan Jessica menyesal karena dirinya tak membawa kamera digitalnya. Jika tidak dia akan membuat sebuah vlog tentang alam yang indah itu demi mengabadikan momen langka ini.


"Aku tahu dimana kalian bisa mendapatkan makanan!" ucap driyad di sela-sela panasnya trik matahari siang. Dirinya mendapatkan alternatif lain menuju tempat yang lebih dekat menuju gundukan makanan.


Semua ia lakukan demi anak-anak.


"Benarkah?" dimana itu? " Jessica bersemangat riang.


"Ayo ikut dengan ku?" driyad memulai.


"Masalah makanan pun, wanita ini sangat bersemangat!" Yudhar memulai umpatan.


Namun Jessica tak peduli pada ucapan buruk Yudhar, baginya makan adalah ide yang bagus untuk mengembalikan tenaga.


"Sean? ayo kita mencari makan?" seru jessica pada Sean dengan antusias.


Sean menggeleng setuju dan bergegas menuju tempat yang di maksud driyad.


Mereka menaiki sebuah perbukitan bagai musafir yang sedang menempuh perjalan jauh.


Nafas anak-anak mulai tersengal-sengal karena tak kuat menanjak jalan setapak perbukitan yang amat tajam mencuat keatas.


Kaki mereka gemetaran tak pasti dengan tubuh setengah lunglai diikuti dengan cuaca yang sedikit panas.


"Aku juga!" Yudhar membenarkan ucapan Jessica seraya tangannya memegang pinggang seakan memberi tahu driyad bahwa dirinya sedang encok.


Sedangkan Sean? hanya dia yang tak merasa kelelahan dari kedua teman-temannya.


Jika berbicara tentang tatanan diksi, mungkin driyad akan memuji setiap tindakan Sean yang wibawa dan tangkas.


Driyad selalu saja di buat terpana akan pesona Sean.


Ia sungguh jatuh hati pada sikap Sean yang selalu menjaga teman-teman itu seakan dirinya telah menemukan pangeran yang selama ini ia cari. Dia ada di dalam tubuh Sean pikir driyad.


Dia (Sean) memiliki hal unik dan istimewa sehingga siapa pun yang melihatnya pasti akan merasa tertarik dan ingin tahu lebih dalam tentang identitas Sean.


"Wajah anak ini sama tampannya dengan pangeran, seakan pangeran sudah terlahir kembali. Dia berjiwa pemimpin dengan sikap tangkas dan tegas yang luar biasa. Dia cerdas dalam menentukan sikap namun ia pengertian. Matanya se-biru laut, hatinya se-kukuh gunung mhosephous dan jiwanya sekeras batu pualam. Apakah anak ini seistimewa yang aku bayangkan!" driyad berujar dalam hati sambil sepasang mata birunya melirik Sean dengan reaksi curi-curi pandangan.


"Dari tubuh anak ini memancarkan aura yang menarik. Tetapi dia tak mengetahui seperti apa aura itu, dan bagaimana bisa. Sekilas sepasang matanya memang benar mirip namun ia jauh lebih gesit dan cerdas di luar dugaan," lanjut driyad yang diam-diam memperhatikan Sean dalam tenang.


"Lebih baik kita duduk di bawah pohon itu sejenak sebelum menuju ke sana!" saran Sean pada semuanya.


"Itu bukan ide yang buruk!" singgung Jessica lesu.


"Aku setuju!" Yudhar selalu ikutan dalam hal ini, apapun itu ia selau setuju seakan tak ada ucapan lain maupun tindakan inisiatif lain yang bisa ia tunjukan.

__ADS_1


Pikir Jessica bahwa anak-anak hutan biasanya lebih gesit dan tangkas dari anak kota seperti yang pernah ia saksikan dalam film Tarzan namun setelah menyaksikan Yudhar, semua itu mematahkan stigmanya yang berpikir positif nan imajinatif.


Dia tak ubahnya seperti anak-anak bodoh lainnya. Bahkan tak ada yang bisa di harapkan dari seorang Yudhar meskipun ia hidup di hutan bertahun-tahun bukan berarti dia tahu setia sudut di hutan yang pernah mereka lalui.


Mereka memilih duduk di bawah pohon besar mirip pohon sakura, namun lebih besar dari bunga sakura yang mereka pikirkan. Dengan daun berwarna-warni ala pelangi dan bertangkai ganjil lima sekilas mirip daun marijuana.


Pohon itu memiliki bunga yang tak kalah cantik sehingga anak-anak teralihkan fokusnya dengan ketakjuban pohon besar berbunga lebat itu.


Pohon itu berdiri tepat diatas bukit yang di kedua sisinya amat curam dengan jalan setapak yang mulus. Rumputan hijau menghiasi tempat itu.


"Sungguh pohon yang luar biasa indah!" takjub Jessica.


Di sekeliling Savana bukit itu di tumbuhi jamur berwarna merah muda, biru, putih, hitam pekat, ungu, hingga berwarna jeruk Sunkist.


"Itu adalah pohon magaru ungu. Pohon ini adalah jenis pohon hidup yang menerangi kota ini sepanjang malam. Biasanya pohon ini hanya ada di negeri dongeng, tetapi aku tak percaya jika ini beneran nyata!" Sean menjawab rasa takjub Jessica.


"Bagaimana kau bisa tahu Sean? apakah kau sedang menggunakan mesin pencari internet (Explorer) saat ini! Dimana Sean kau menyembunyikan gadget mu?" Jessica penasaran bagaimana Sean bisa sepaham akan pohon yang bahkan baru kali pertama ini ia lihat.


Dimana pun itu, ia tak akan pernah melihat pohon semacam ini di dunia manusia baik itu di botani maupun di kebun bunga.


"Apa yang di katakan Sean benar! pohon magaru ungu ini adalah pohon abadi. Dia takkan mati di terpa badai bencana apapun karena kemampuaanya dalam beradaptasi dengan lingkungan sekitar dan juga berkat dari penguasa sehingga sering di sebut dengan bunga mawar surga. Pohon ini bukan hanya satu, tetapi banyak menutupi semua wilayah ini!" driyad membenarkan ucapan Sean seraya moncongnya menunjuk kearah bawah bukit.


Sepasang mata anak-anak ikut teralihkan melihat mata asgart yang melirik kebawah bukit.


"Wow!" takjub Jessica atas apa yang ia lihat di bawah bukit.


"Apakah ini semua pohon magaru ungu itu?" ucap jessica yang terpana akan apa yang ia lihat.


"Ya, pohon ini adalah pohon yang sering di sebut dengan pohon surga yang kemudian di sembunyikan keberadaannya dari manusia.


Karena jika pohon ini hidup di alam manusia maka kelangsungan pohon abadi ini berlangsung memudar seiring rakusnya tangan-tangan jahil yang tak bisa diam untuk merusak muka bumi," jelas driyad.


Anak-anak merasa malu mendengar ucapan driyad yang dengan jujur nyata memang benar.


Mereka paham betul bahwa dunia yang mereka masuki ini bukan hanya mitos belaka, tetapi sengaja di sembunyikan keberadaannya demi menjaga semua yang ada di dalam kota itu dari jahadnya perangai manusia yang rakus. Meskipun itu dari sudut pandang Jessica, namun jelas semua ini berkaitan.


Apa yang mereka lihat saat itu, adalah sebagai bukti bahwa negeri dongeng sebenarnya ada meskipun sulit di percaya kebenarannya.


BERSAMBUNG.


Dalam episode kali ini penulis ingin meminta partisipasi pembaca agar memberikan dukungan pada novel ini dengan me-rating atau memberikan ulasan bintang 🌟 lima.


Agar penulis semangat dalam menulis, jangan lupa tinggalkan komentar kalian dan juga saran kritik kalian di novel ini agar penulis lebih giat dalam berkarya.


Terima kasih.

__ADS_1


__ADS_2