
Sean memicingkan matanya. Dari kejauhan, Sean melihat sesuatu yang seharusnya membantu Sean menemukan jalan itu.
“Ya! Itu. Aku sudah menemukannya.”
Di udara, Sean makin semangat untuk mendekat dan turun kebawah. Sebab Sean sudah menemukan tempat yang dia cari, yaitu kuil ular.
Kuil yang berdiri di gurun, dan ada tebing bebatuan di belakang kuil ular itu. Dan tidak jauh dari kuil ular, pintu itu berada. Ya, Sean mulai berimajinasi sekarang.
Sean melihat-lihat, ada patung ular di dalam halaman kuil. Patung ular besar itu kokoh berdiri, sementara ada pepohonan kelapa, oasis dan beberapa air mancur kecil di sana.
Kuil itu terbuat dari bebatuan granit hitam legam. Dan ada kolam kecil di sana. Sean juga ingat, kalau di sana Medusa pernah melakukan penyembahan pada dewa ular. Wanita itu memberitahu Sean, dan dengan semangatnya Sean menapakkan kakinya di kuil ular.
“Jika aku sudah sampai di kuil ular. Itu artinya aku sudah dekat dengan pintu itu.”
Sean menelisik di sekeliling tempat, utamanya di halaman luar kuil. Aman. Sean tak melihat seorangpun di sana.
Sean berjalan menuju ke dalam kuil, hari terlihat sudah makin menggelap.
“Sebaiknya aku bermalam di sini saja. Besok aku akan menuju ke pintu keluar itu.”
Rasanya tubuh Sean makin lelah, apalagi terbang amat jauh melintasi gurun yang luas.
Ketika Sean hendak menuju kedalam kuil hitam legam ini, Sean melintas di sebuah kolam yang lumayan. Dan Sean tahu, pasti kolam itu pernah di gunakan oleh Medusa.
“Airnya jernih. Juga banyak bunga wewangian di sini. Pasti wanita ular itu menggunakannya sebagai tempat berendamnya.”
Peduli apa, Sean mengambil sedikit air—meminumnya, dan.....
“Oh. Air ini amat lezat dan nikmat!” ucap Sean terkejut. Sungguh, Sean merasa air di tengah padang gurun ini amat nikmat. Apalagi airnya sejuk, bahkan dahaga Sean langsung segar rasanya walau hanya meminum seteguk saja.
“Harus kah aku membersihkan dahulu tubuh ku di sini?”
Sean mulai tergiur akan kesejukan air ini. Pikiran untuk berendam sesaat di dalam kolam ini, memikat Sean. Tanpa berpikir dua kali, Sean memutuskan untuk menenangkan diri di sana.
Seakan sedang berada di spa, tempat di mana dirinya selalu menemani sang Ibu ketika pulang sekolah. Sean merasakan rileksasi di sana.
Salah satu bunga teratai ungu menghampiri Sean. Bunga indah itu terbawa oleh angin yang berembus sedikit kencang, memaksa bunga terapung ini mendekati Sean—yang tengah memejamkan matanya. Sean sadar akan kehadiran bunga yang mengapung di permukaan air ini.
“Bunga yang unik,” ujar Sean takjub pada bunga teratai, yang di dalam kelopak bunga itu ada api. “Kau terbuat dari api. Kau sangat cantik kawan.”
Sean memperhatikan dengan jelas. Benar, semua bunga yang mengapung di atas air ini, di dalam kelopak masing-masing terdapat api.
Sean baru menyadarinya tadi, sebelumnya Sean tak tahu akan ada bunga semacam itu di tempat ini.
Angin malam berembus agak kencang. Tidak seperti biasanya, malam itu amat dingin pekat Sean rasa.
Mata Sean menelisik ke sekeliling—ketika dirinya mendengar suara berisik di balik semak-semak. Kulitnya mulai terasa berbeda dari sebelumnya, dingin.
“Siapa di sana?”
Sean memicingkan matanya, keluar dari air, menghampiri semak-semak yang bergoyang tak karuan. Sean tertarik melihat, siapa yang tengah mengusiknya di saat sedang santai seperti ini.
“Jessica. Itu kau kah?”
Sean berjalan perlahan mendekati semak-semak, sesekali matanya menyipit. Menyaksikan dengan baik siapa di balik semak-semak itu.
“Apakah Jessica di sana?” gumam Sean pelan. Sean membuka semak-semak, dan sialnya......
ROARK!!!
Sean terpekik kaget, membuatnya mundur menjauh dari semak-semak berduri tajam itu.
“Gort!”
Oh, bukan ini yang Sean harapkan Sebenarnya. Kenapa ada makhluk itu di sini, bahkan Sean tak tahu dari mana asal mereka. Apalagi mereka ada di sini, di mana Sean berada. Seolah, mereka tahu kemana Sean pergi.
Jumlah mereka amat banyak, membuat Sean menarik paksa pedang yang dia tinggalkan di pinggir kolam tempatnya berada tadi.
Dengan kekuatan di tangannya, pedang itu menemui tuannya.
“Kalian mencoba menakut-nakuti ku rupanya!” ucap Sean yang sudah siap bertarung. “Namun, itu tidak cukup membuat aku takut bung. Justru kalian menemui orang yang tepat, pengganti malaikat pencabut nyawa kalian.”
Para Gort yang mirip siluman serigala dan kerbau itu mendengkur keras. Setelah bersuara dengan dengkuran yang cukup keras, beberapa Gort menyerang Sean.
Sean tersenyum kecut, pedang di tangan sudah siap di ayunkan. Dan....
“Mencoba bermain-main rupanya. Hiya.....”
ZRASH, ZRET
Sean melumpuhkan satu persatu dari para Gort. Akan tetapi, kabar buruknya adalah. Setiap satu yang mati, maka ada beberapa Gort lain yang datang di balik semak-semak.
Susah payah Sean menumpas mereka, namun tetap saja. Jumlah mereka makin banyak, memaksa Sean harus bekerja ekstra.
“Hiya.....”
__ADS_1
Sean melompat ke udara, dengan sihir yang kini dia miliki, Sean menghantam beberapa tubuh Gort.
“Itulah pembalasannya jika kalian berani melawan ku!” lirih Sean puas.
Dari belakang, Sean tak menyadari kalau sebenarnya ada beberapa Gort yang sudah menunggu saat yang tepat ini.
Tanpa di sadari, Sean berhasil di ringkus, sampai tubuh Sean terhempas menggusur di tanah.
Sakit, sangat sakit rasanya. Apalagi punggung Sean tak memakai baju, sehingga menciptakan luka gores di sana.
“Oh. Mereka berhasil mengalahkan ku!” keluh Sean kesakitan.
Belum usai dia mengeluh, beberapa Gort datang mendekat. Mata Sean membelalak ketika satu Gort mengayunkan kapaknya, siap menghujam Sean.
Apakah mereka ingin membunuh ku?
Sean tak bisa menghindar, alhasil, dia hanya terpaku ketika kapak tajam bak belati itu mendarat di wajahnya.
“Tidak..... Ibu.....”
Sean berteriak. Napasnya terengah-engah, dengan paksaan Sean membuka matanya. Dadanya berdegup kencang, seolah ini kali pertamanya dia gugup dan gemetar.
“Apakah tadi hanya mimpi?” ujar Sean terhanyuk.
Dia memeriksa seluruh tubuhnya, baik-baik saja. Tak ada yang terluka.
“Benar. Ini hanya mimpi,” katanya lagi agak lega.
Mata Sean ingin mengedar, di mana dia tertidur. Ketika mendongakkan kepalanya, Sean kaget.
“Akh... kau...”
Tidak hanya kaget, Sean makin ternganga ketika lidah setajam duri itu menjilati bersih wajahnya.
Mata Sean di paksa membulat besar, karena si hitam hadir di depannya.
“Kau..... Sejak kapan di sini?” tanya Sean.
Bodohnya Sean, nyatanya dia bertanya tidak akan di jawab. Ligong, bahkan dia tak menggubris perkataan Sean. Dia hanya asik pada wajah Sean, menjilatinya, juga mengelus lembut kepalanya di tubuh Sean.
Tak lama setelah bertingkah bermanja-manjaan, Ligong mengerat di tubuh Sean. Ya, Sean baru sadar. Kalau dia tertidur di dalam kuil yang agak gelap. Kecuali ada beberapa lampu api yang di pasang di mulut patung ular.
“Ligong ada di sini. Tetapi kenapa aku tidak melihat Jessica dan yang lainnya. Dan...... Sejak kapan aku sudah tertidur di dalam kuil ini. Kenapa aku tidak sadar kalau aku sudah berada di dalam tempat gelap ini.”
Benar, jika Ligong ada di sini. Namun tak ada yang lain, hanya si macan bercahaya ini yang ada hadapan Sean.
“Aku tahu, kau di sini pasti tidak bersama mereka. Kau akan bersama ku kawan. Kita akan keluar dari tempat ini.”
Sean mengusap lembut kepala Ligong, hewan penurut itu terlihat agak sayu.
****
Obor api yang tertancap di patung ular, Sean ambil. Mengedarkannya, menelisik bangunan klasik yang syarat akan makna. Sepanjang Sean melihat, hanya ada ukiran ular. Dan....
“Oh. Apa yang sedang kau lakukan?”
Sean menoleh, Ligong sedari tadi mengigit bokongnya. Hewan bercahaya ini, terlihat seperti sedang menunjukan sesuatu. Entah, Sean tak paham. Dia hanya menarik Sean, menggigit pelan lengan remaja ini, menuju ke sudut kuil. Di dekat pintu.
“Apa yang sedang kau tunjukan pada ku kawan?” tanya Sean penasaran.
Ligong menunjuk gemas ke arah dinding yang di pahat sempurna. Sean mengikuti instruksinya, dan..... Sean memicingkan matanya ketika melihat gambar yang di gurat indah ini. Relief, Sean melihatnya sebagai relief.
“Bukankah ini aku?” kata Sean tertegun. Sean tidak mungkin salah, gambar yang terukir indah di dinding kuil berbatu hitam legam ini, memang dirinya yang tergambar jelas di sana. Jari jemari Sean menyentuh gambar di dinding itu, sedetik kemudian, ada cahaya yang keluar dari sana. “Wow....”
Sean mengedipkan matanya beberapa kali, mulutnya ternganga lebar. Cahaya putih itu menampilkan kisah di masa kelam.
Kisah kecil Sean, kisah di mana dia masih balita. Di timang manja oleh sang Bunda, bahkan Sean terlihat imut di sana.
Lebih mirip bioskop, hanya saja ada sedikit perbedaan. Sean tidak dalam sebuah mimpi—di mana dia bernostalgia di masa kecil.
“Ibu..... Bukankah itu aku?”
Ligong, makhluk itu bercahaya itu mengusap lembut kepalanya di bahu Sean. Menandakan, mungkin membenarkan ucapan Sean. Itu Ibunya, juga dirinya. Mereka sedang bermain.
Sean melirik Ligong, matanya berkaca-kaca, seakan sedang mengiba. Sean tersenyum, satu tangannya mengusap lembut kepala Ligong.
“Kau tenang saja. Aku tidak akan bersedih saat ini. Aku yakin, tidak lama lagi aku akan kembali bertemu dengan Ibu ku.”
Oke, Sean memahami perasaan Ligong. Dia pasti sedang merasakan apa yang Sean rasakan. Berpisah dari orang-orang yang paling dia cintai.
Sean memalingkan wajahnya, ingin kembali menyaksikan dirinya di masa kecil. Wajah sang Ibu tidak berubah, Sean mengenali wajah sang Ibu.
Namun, gambaran sang Ibu di depannya, kini berubah. Sean beberapa kali mengerjapkan matanya, gambar yang aneh.
“Mimpi itu......”
__ADS_1
Jelas, itu mimpi di saat dia belum memasuki tempat ini. Mimpi yang membuat Sean takut setengah mati. Mimpi di mana Sean melihat kematian kedua orang tuanya, mimpi yang memaksa Sean masuk dalam lembah kengerian.
“Bukankah...... Oh, Ibu,” teriak Sean.
Satu tangannya mencoba menggapai wanita yang ada di hadapannya. Wanita yang menggendong putranya dalam pelukn, seakan sedang melindungi balita kecil di dalam dekapannya. Sementara, ada seorang pria dengan pedang di tangannya—mencoba melindungi sang Ibu.
“Ayah,” kata Sean lagi. “Ayah melindungi Ibu dari para gort. Apakah Ibu sedang melindungi ku.”
Sean mengulurkan tangannya, karena tak bisa menggapai sang Ibu, Sean mencoba berlari menuju ke arah sang Ibu. Sean mencoba menembus dimensi, di mana ada jarak pemisah di antara mereka. Jarak kuil gelap, di batasi oleh dimensi putih bersih.
“Ibu, ini Sean Bu,” teriak Sean.
Sang Ibu menoleh, mengalihkan pandangannya pada Sean. Ketika Sean sudah memasuki dimensi yang di penuhi cahaya putih ini, mendadak kuil gelap yang membatasi tempat seputih kapas ini menghilang.
“Ada apa ini?”
Bingung, jelas Sean bingung. Bahkan Sean memutarkan badannya, mencari kemana kuil hitam tadi menghilang, juga bersama Ligong.
“Ligong. Ibu. Ayah. Kalian di mana!”
Semua menghilang, seiring Sean panik terjebak di tempat yang semuanya putih. Mereka hilang tanpa jejak, seakan lenyap seiring hilangnya kuil ular itu.
Tempat yang hanya menampilkan warna putih ini, lalu berubah menjadi sebuah...... Oh, kuil di atas awan.
“Ini.....” Oh, Sean ingat, dia pernah berada di tempat ini. Saat itu, dia bertemu dengan pria tua di..... “Bukankah ini di..... Istana Nebula?”
Benar, Sean ingat dengan jelas tempat itu. Tapi bedanya, kali ini Sean bukan berada di tempat itu. Di mana dia terbangun, di sambut dengan pandangan sempit. Kali ini Sean menatap tempat ini luas, semuanya berada di atas awan.
“Selamat datang di istana Metis.”
Ketika Sean sedang meluaskan pandangannya, suara itu datang dari berbagai arah. Dia menggema, suaranya beroktan tinggi.
“Siapa kau?” tanya Sean. Namun pandangannya masih sama, menelisik, mencari sumber suara.
Sean berputar, mencari siapa sosok yang berkata padanya. “Siapa kau. Cepat keluar, kau jangan bersembunyi.”
Dari belakang Sean, sosok yang bersuara menggelegar itu datang, melalui cahaya. Ah, mereka amat hebat, bahkan dari cahaya saja mereka dalam sekejap bisa datang.
“Nak.”
Sean berbalik ketika ada suara parau, di ikuti dengan tangan yang menyentuh kulit pundaknya.
“Kau?”
Pria tua. Dia mengangguk ketika Sean menatapnya terkejut. Sudut bibirnya menyeringai tersenyum ramah, satu tangannya mengurut lembut bulu-bulu panjang nan tebak, yang menggantung di dagunya. Rambut putih, Sean tahu, dia pria yang pernah menemuinya kala itu.
“Kau..... Bukankah kau yang kala itu bertemu dengan ku di.... Nebula?”
“Kau tidak lupa pada ku rupanya.”
“Jelas aku tidak lupa,” balas Sean. “Bahkan aku ingat detail wajah mu. Juga...... Tempat ini. Itu berbeda dengan apa yang aku lihat saat kita bertemu sebelumnya.”
Pria tua ini mendengus, di ikuti senyum yang lagi-lagi amat ramah menantikan dirinya.
“Kau ada di istana Metis. Tempat para surgawi yang di agungkan.”
Dengan bangga, pria tua yang Sean kenal dengan sebutan Shutanhamun ini, memberitahu keberadaan Sean di mana.
“Oh....”
“Ini kali kedua kita bertemu. Dan ketiga kalinya, kau akan tiba di istana Metis sesungguhnya.”
Sean mengernyitkan dahinya, antara bingung dan bimbang, seakan membawa Sean menggila memikirkan ucapan pria di hadapannya.
“Apakah.... Aku...... Di takdirkan bertemu dengan kau untuk ketiga kalinya?”
Pria itu mengangguk, membalikkan badannya, dia menatap awan-awan yang bergerak lamban di hadapannya. Sementara itu, banyak bangunan yang mengambang di udara, seakan tak ada gravitasi bumi di tempat ini. Setiap sisi bangun di dunia fantasi ini, mereka di hubungkan dengan tangga yang panjangnya tak karuan. Satu dan yang lainnya, membentang hingga menyatukan setiap istana megah yang berjajar sempurna.
“Kau di takdirkan menjadi ksatria di tanah kemakmuran ini. Tentu saja, kita akan bertemu di saat itu.”
“Di mana? Kapan?”
Sean bertanya memburu, mendekati pria tua, dan pria tua itu memutar tumitnya. Dia bersikap amat wibawa, satu tangannya melipat ke punggung, dan satu lagi menepuk ramah pundak Sean.
“Kau adalah tiang kehidupan makhluk di tanah kemakmuran. Di balik awan Metis, nama mu di agungkan!”
“Lalu? Mengapa harus aku. Mengapa kau mengatakannya pada ku!”
“Karena kau adalah keturunan cahaya. Kau adalah cucu ku. Kau yang sudah aku tunggu selama bertahun-tahun ini. Takdir mu sudah di tentukan.”
Tunggu, Sean sedikit tak mengerti atas ucapan pria tua ini. Sean ingin menuntut banyak pertanyaan, namun urung. Dia tak berhak bertanya banyak hal, yang jelas, Sean tidak mau terlibat apapun pada kisah si tua di hadapannya ini.
“Oke. Kau berkata apapun terserah. Asal kau jelaskan, kenapa aku melihat Ibu ku tadi. Dan juga, aku melihat ayah ku. Mereka sepertinya sedang di serang oleh para makhluk menjijikan itu. Kau pasti tahu sesuatu tentang mereka!”
Pria tua itu mendengkus tersenyum, menatap Sean penuh kasih sayang.
__ADS_1
“Kau.......”
TBC