
“Kalian jangan bergerak!” teriak Sean. “Ular itu sangat sensitif terhadap gerakan. Ciptakan gerakan seminimal mungkin. Jangan sampai kalian menjadi korbannya.”
Sean tahu, para ular berbisa itu sangat mematikan. Sekali gigit, para korbannya akan hancur menjadi debu. Sean pernah melihat ular ini di ruangan manuskrip istana Metis. Ular yang sama persis dengan apa yang dia lihat.
“Tapi pangeran, mereka makin mendekat!” ucap Driyad memburu panik.
“Jangan khawatir, mereka tak bisa melakukan sesuatu tanpa gerakan. Mereka akan berhenti jika kalian tak bergerak.”
“Apakah cara ini berhasil?” tanya Crypto seraya waspada.
Sean mengangguk. “Ikuti apa yang aku katakan. Amuria, kau yang paling waspada. Tetap tenang!”
“Baik pangeran! Aku mengerti!” balas Amuria mengangguk paham.
Kedua wanita yang ada di hadapan Sean tersenyum miring. Kala melihat Sean yang terus berusaha meyakinkan ketiga pria itu.
“Rencana buruk, mereka kira ini akan berhasil. Haha ....”
Tertawa Site di hadapan Sean, tak membuat Sean berang. Sean tak akan marah jika di ledek, hanya membuktikannya dalam pertarungan, itu bisa membungkam keduanya.
Menatap Sean sebentar, setelah itu, keduanya mengeluarkan pedang masing-masing.
Hal yang paling di benci oleh Sean, yaitu pertarungan. Sean sebenarnya enggan melawan seorang wanita, namun apa boleh buat. Dia harus melakukannya—agar bisa terbebas dari kedua wanita itu.
“Hiya ...!”
Sean terbang rendah, menyerang dua wanita itu tanpa senjata apapun. Site dan Ruydh tersenyum, kemudian Site berkata pada rekannya.
“Tidakkah pangeran ini sangat meremehkan kita?”
Ruydh mengangguk. “Dia akan kalah. Kita lihat saja nanti!” katanya—kemudian membalas serangan Sean.
Sean berhasil menghindar, terbang berputar ke belakang Ruydh. Kini giliran Site, dia menyerang Sean dari belakang.
Mata bercahaya itu, bersinar—menandakan bahwa Sean benar-benar harus waspada. Site dan Ruydh menyerang ketenangan Sean, dan anak itu masih bersikap santai.
Sean berulang kali menghindar dari serangan pedang Site dan Ruydh. Sayap Sean yang semula berwarna merah muda, kini berubah menjadi kuning keemasan.
Perintah untuk tidak bergerak, nyatanya membuat ular-ular itu tak melakukan apapun selain dia di tempat, mendesis tak karuan. Driyad, dia sebenarnya yang paling takut ketika melihat lidah ular menjulur.
Ketiga pria itu memperhatikan Sean dari bawah, sambil takjub melihat kepakan sayap Sean yang kini membentuk sayap burung. Menyadari hal itu, Crypto mulai sadar bahwa Sean sudah mendapatkan sayap baru.
“Sayap Phoenix. Sayap suci dari surga. Pangeran berhasil mendapatkannya. Ini sebuah keajaiban,” gumam Crypto takjub.
“Memangnya ada apa dengan sayap itu?” tanya Amuria ingin tahu. “Sayap biasa. Tak ada yang spesial bukan?”
“Tidak!" bantah Crypto. “Sayap Phoenix emas. Sayap yang sulit di miliki oleh siapapun. Sayap itu berasal dari surga tertinggi, jarak rentang sayap itu mencapai empat meter. Api melapisi bulu-bulu yang lebat. Kecepatannya puluhan kali lipat dari sayap cahaya. Keunggulannya, sayap itu bisa di gunakan untuk menembus istana langit. Dan pangeran, dia berhasil mendapatkan sayapnya secara tidak sengaja di tempat ini!” seru Crypto senang.
“Apakah sehebat itu sayap emas Phoenix?” tanya Driyad ingin tahu. Sama seperti Amuria, Driyad benar-benar di buat penasaran akan sayap yang di jelaskan oleh Crypto tadi.
“Sangat hebat. Kecepatannya tak tertandingi dari sayap biasa. Itulah kenapa, orang yang memiliki sayap ini sangat beruntung,” jelas Crypto.
“Oh. Begitu beruntungnya pangeran mendapatkan sayap itu.”
__ADS_1
Driyad berdecak kagum, sungguh dia takjub dengan apa yang dia lihat saat itu.
“Apakah kau yakin jika ucapan mu benar?”
Amuria kembali mencecar bertanya. Tuntutannya, sungguh harus di Sergai keyakinan.
Crypto mengangguk. “Kita lihat saja nanti!”
Crypto kembali memperhatikan sosok yang terbang gagah dengan sayap barunya. Sayap kuning emas, terentang sempurna. Lebar, cocok dengan pemiliknya.
Walau Amuria tak paham, namun dia ikut bahagia kala mendengar ucapan dari Crypto. Driyad, dia pun demikian. Dia tak akan menyangka atas apa yang dia lihat.
“Apakah sayap itu benar-benar ada?” tanya Driyad ingin tahu. Sekali lagi dia memastikan kalau ini bukan mimpi, tapi nyata.
Crypto mengangguk. “Dahulu pernah di rumorkan hanya sebagai cerita tak berdasar. Tapi setelah melihatnya secara langsung, maka aku yakin bahwa itu benar-benar sayap Phoenix surga.”
Kembali pada Sean, perhatian ketiganya tak pecah melihat pertempuran di udara itu. Sean, dia sangat lincah menghindar dari kekuatan dua wanita itu.
Kadang mengeluarkan senjata dari sihir alkemia, namun Sean bisa melibasnya dengan sayap yang tebal dan kuat.
Setiap pedang yang di tebas oleh Site dan Ruydh, berhasil Sean hindar. Site mengeluarkan sihirnya, dan Sean membalas sihir itu dengan kekuatan yang setimpal.
“Kekuatannya cukup dahsyat. Ternyata kita yang di remehkan oleh Lausius itu,” ucap Ruydh menyadari—bahwa Sean bukanlah lawan yang patut di rendahkan.
“Benar! Tenagaku hampir saja habis!” balas Site nyaris kelelahan. “Dia ..., dia juga berhasil membangunkan sayap emas milik sang Phoenix. Dia jauh lebih kuat dari pada kita saat ini!”
Kekuatan Sean makin mendominasi, menjajah kedua sihir wanita itu.
Sean, dia makin menjadi. Mengeraskan rahangnya, dia menambah volume kekuatannya hingga membuat Site dan Ruydh terdesak oleh sihir masing-masing.
Satu tangan Site menahan gempuran kekuatan Sean, dan satu lagi menarik ular-ular yang mengepung Driyad, Crypto dan Amuria.
“Ini jalan satu-satunya, kita harus mengambil kekuatan ular!” kata Site, hampir menyerah.
Ruydh mengangguk. “Kalau begitu, racun ular ini akan membunuh Lausius secara langsung!”
Ular-ular yang mendekati Tuannya, tubuh mereka mendadak hancur. Melebur menjadi sebuah kekuatan, membantu menambah energi kedua wanita itu.
Sean mengernyit heran, dua wanita di bawahnya ini makin meningkat dalam jumlah kekuatan. Memaksa Sean, harus menambah masa kekuatan yang dia keluarkan.
“Mereka benar-benar tidak menyerah. Aku harus membuat mereka mundur!”
Sean menambahkan daya kekuatannya. Namun, dua wanita itu jauh lebih kuat dalam melepaskan energi masing-masing.
Sean belum begitu memahami kekuatan mereka, membuat Sean terdorong mundur. Berkat sayap itu, Sean hanya terdorong tak sampai terluka.
Dimensi kekuatan dua wanita itu mengarah pada Sean, dan Sean dengan segera melindungi dirinya dari kekuatan dahsyat itu—menggunakan sayap besar Phoenix. Itu cukup membuat Sean terlindungi dari serangan kekuatan Site dan Ruydh. Sayap yang melindungi Sean, hour sama kuatnya seperti tameng baja.
Dua wanita itu tertegun, sialnya sayap itu tak bisa di tembus. Justru membuat keduanya terjatuh dari udara. Menghantam di tanah, bahkan membuat kelopak bunga yang berguguran, berhamburan terbang.
Memuntahkan darah, Site dan Ruydh masih belum menyerah. Sambil menyeringai, darah yang keluar dari mulut mereka itu terasa tak ada artinya.
Berdiri tegak, Site kembali mengangkat pedangnya.
__ADS_1
“Jika racun ular ku tak bisa membunuh pangeran. Maka, bunga-bunga ku yang cantik ini akan memberikan sebuah arti bagaimana mati secara indah.”
Site terbang kembali ke udara. Memandang Sean penuh dendam. Dia memutarkan tubuhnya, membuka tangan lebar-lebar. Kelopak bunga yang memenuhi dan menutup permukaan tanah. Kini di tarik oleh kekuatan Site.
Bergumul di udara, bunga merah dan biru itu berputar membentuk tornado besar. Berputar kencang, sampai begitu terasa embusan anginnya.
“Kekuatan ini. Mirip kekuatan bunga Lotus. Dia mencoba membuatku terbelai oleh lembut dan wanginya bunga ini. Aku harus menghentikannya, sebelum dia bertindak lebih jauh.”
Sean mencabut pedangnya. Pedang merah, semula padam. Tak ada cahaya apapun tadi. Tapi, kini pedang se-merah permata itu, bersinar terang.
Bunga-bunga cantik milik Site, terasa makin kuat. Membentuk tornado dua arah, mencoba menyerang Sean dari sisi kanan dan kiri.
Sean sempat melirik masing-masing kekuatan itu, tak lama, Sean terbang menghindar.
Sean menebas bunga biru lebih dahulu, setelah itu Sean terbang di atasnya. Memandanginya tanpa reaksi, Sean mulai menghapal teori bagaimana menciptakan badai bunga.
“Aku tahu mekanismenya. Ini tidak mudah, tapi aku akan melakukannya!”
Pedang merah dengan kekuatannya, Sean kendalikan penuh. Menyerang kekuatan bunga milik Site. Dahsyatnya kekuatan pedang Sean, membuat bunga yang membentuk tornado besar hancur.
Satu tornado biru, hancur. Kelopaknya terkoyak, berhamburan jatuh ke segala arah. Kini, Sean membidik bagian merah. Kelopak itu ikut terkena cahaya kekuatan Sean, dan membuatnya bernasib sama seperti bunga sebelumnya, hancur berantakan.
Melihat kekuatannya hancur, Site merasa dia kalah telak. Dan Sean kini membidik tubuh wanita itu.
“Ini saatnya, kau harus pergi!” teriak Sean mengganas.
Ruydh ternganga, matanya terasa membesar dua kali lipat dari sebelumnya. Kekuatan pedang merah Sean sudah menuju ke arah Site, dengan cepat Ruydh terbang menuju ke arah Site. Dia tidak bisa tinggal diam saat Sean membalikkan keadaan, menyerang rekannya itu.
Melindunginya dengan kekuatan dari kelopak bunga, tabir pelindung Ruydh tak terlalu begitu kuat. Dahsyatnya kekuatan pedang merah Sean, membuatnya kekuatan itu pecah.
Ruydh dan Site terjatuh akibat terkena kekuatan Sean. Tepat di hadapan ketiga pengawal Sean, keduanya jatuh sempoyongan.
Sayap Sean kini mengepak turun ke bawah. Menanggalkan kembali pedangnya di punggung, Sean menatap keduanya.
“Aku tidak ingin membunuh kalian. Hanya berniat menguji, tidak lebih!”
“Kau menang. Kami tidak bisa bertahan lebih lama lagi. Kau ...,”
Ruydh berhenti berkata, saat tangannya memegang dadanya. Satu tangannya lagi emegang tangan Site, tak lama kemudian, tubuh keduanya hancur menjadi bunga.
“Hah? Kenapa mereka ..., hancur seperti itu? Menjadi bunga, bahkan mereka belum meminta ampunan dari pangeran!”
Driyad kebingungan, aneh. Keduanya terlihat begitu tangguh sebelum bertarung. Tapi tak sesuai dengan perkiraan mereka. Site dan Ruydh menghilang, memang tidak ada yang spesial. Namun itu nampak tak biasa di mata Driyad.
“Jiwa mereka terlalu lemah! Itulah kenapa, mereka mudah hancur menjadi bunga. Itu wujud asli mereka,” kata Sean memberitahu.
“Lalu, bagaimana dengan ular-ular tadi? Mereka hilang!”
Sean mengerdikkan bahunya. “Aku hanya tahu, mereka akan kembali hidup. Mereka tak benar-benar hancur.”
“Bagaimana itu bisa terjadi pangeran?” tuntut Driyad bertanya.
“Kau akan memahaminya nanti!” balas Sean singkat.
__ADS_1
Usai berkata, Sean lalu kembali menuju ke gazebo. Ketiga pria itu, mereka memperhatikan Sean. Ada keraguan di dalam pikiran mereka, namun juga ada rasa takjub saat melihat anak itu memiliki sayap baru.