
Suara gemercik air di tebing yang tingginya beberapa meter ini, mengundang kesejukan. Ah, tapi bangkai itu merusak. Bangkai manusia yang berada tak jauh dari air terjun kecil ini amat menyengat, merontokkan bulu hidung saat menghirupnya.
"Cepatlah Sean kau menyalakan lilin itu. Aku sudah tidak kuat menghirup aroma busuk ini," keluh Jessica. Gadis ini benar-benar sudah tidak sanggup menghirup aroma yang membuatnya menahan nafas beberapa saat.
"Tunggu sebentar, aku sedang berusaha," kata Sean. Dia sedang menyalakan api dari batu. Tidak ada pemantik api modern, hanya batu yang bisa di gunakan olehnya saat itu.
"Oh, aku sudah lelah dengan semua ini," Jessica mendesah.
Gordon men-decak melihat tingkah Jessica yang sama dengannya. Tingkah yang tak sabaran. Pria itu menjadi pemerhati saja. Melipat tangannya di dada, menyandarkan punggungnya di batu air terjun. Ada jalan kecil menanjak menuju ke air terjun itu, tapi terputus karena ada air yang terjun deras. Ada batu juga di situ, semacam dinding penghalang di antara jalan kecil setapak dengan air terjun.
Sementara itu, Sean sibuk dengan batu untuk menyalakan ranting-ranting kering. Beberapa saat setelah itu, api pun menyala. Huh, ini yang di tunggu-tunggu oleh keduanya. Keahlian Sean dalam membuat api memang ada di tingkat tertinggi.
Walau sebenarnya Sean anak kota, siapa sangka. Bahkan Jessica saja sempat meragukan anak kota itu yang ahli dalam hutan. Tidak hanya ahli dalam membuat api, dia juga pandai dalam segala hal. Dia jenius, si Sean patut diacungi jempol.
Saat Sean menaruh lilin kecil di atas piringan emas itu. Kedua orang itu rupanya sangat menantikan hal ini. "Semoga dugaan ku benar," ucap Sean yang bimbang.
Jika benar, maka itu pintu keluar. Jika salah, mungkin dugaan Sean kurang tepat. Tapi prediksi Sean selalu tepat, Sean mencoba yakin walau bimbang mengenai pintu keluar dari kampung itu.
Di letakkan piringan berisi lilin kecil itu di dalam kolam buatan. Bagusnya adalah, kolam hasil gerus-an dan bendungan penduduk. Sehingga air terjun tidak langsung mengalir begitu saja, tapi tertampung. Ada penyumbat di jembatan yang panjangnya kurang dari dua meter.
Kedua orang yang memperhatikan Sean, kini memasang ekspresi harap-harap cemas. Bagaimana jika tidak berhasil? Jessica sudah berpikir sedemikian rupa.
Sejujurnya Jessica sungguh meragukan Sean. Walau Sean tidak pernah gagal, tapi kali ini kecemasan itu membawa Jessica sedikit berdoa dalam hatinya.
Dan, yang terjadi. Tiba-tiba.....
SRUK!! Batu penghalang penutup jalan kecil di air terjun itu terbuka. Air terjun yang mengalir juga mendadak berhenti. Ya, jalan keluar itu benar-benar ada air terjun itu.
"Kau benar, Sean?" teriak Jessica. Mulutnya ternganga lebar, uh anak ini akhirnya bisa bernafas lega. Dugaan sahabatnya benar, itu pintu keluar yang di maksud para roh. "Kau benar. Ini seperti jalan keluarnya!" seru Jessica yang kini mulai percaya bahwa sebenarnya kerja keras membuahkan hasil.
"Wohooo...... Kau hebat nak," puji si Gordon. Dia mengelus kembali rambut Sean. Anak itu benar-benar tak bisa di ragukan lagi. "Ayo kita masuk. Kita lihat, apakah ini jalan keluarnya atau bukan."
Sean menyeringai sedikit tersenyum. Dia juga sama seperti kedua orang itu. Sama-sama tak yakin jika ada pintu keluar di balik air yang terjun dengan deras ini.
Saat batu penghalang itu terbuka, sebenarnya yang terlihat adalah seperti goa, namun gelap. Beruntung sesaat sebelumnya mereka menemukan penerang jalan. Sehingga tempat gelap ini bisa tersinari. Sebenarnya, ini goa kecil yang jalan masuknya pun seukuran si Gordon. Saat mereka menyusuri goa kecil ini, ternyata tidak terlalu panjang, tapi sangat pendek.
Mungkin jarak antara pintu masuk dengan pintu keluar dari mulut air terjun tadi hanya berjarak puluhan meter. Di depan mereka sudah terlihat seperti ada bebatuan. Ada alam bebas, dan...... Ehm, ternyata mereka muncul di sebuah tebing. Di depan mereka lagi ada tebing yang terpisah oleh jurang. Dan...... Mereka menemukan hutan itu lagi. Hutan....... Cahaya.... Ya, itu hutan yang bercahaya. Semua yang ada di seberang jurang bercahaya indah, penuh warna, bahkan fantastis.
Ini benar jalan keluar. Ada jembatan kecil di depan mereka. Saat Sean menoleh ke kanan. Ada tiang batu besar yang berdiri tepat di pinggir tebing. Batu itu aneh. Sean mendekatinya, di permukaan batu ada ukiran membentuk lingkaran sempurna layaknya labirin. Lalu mengeluarkan cahaya merah terang.
"Batu ini mengeluarkan cahaya," Sean berkata takjub. Dia menyentuh sinar yang keluar dari batu itu. "Apakah kau tahu batu ini apa?" tanya Sean pada Gordon.
Gordon mengangkat kedua bahunya. "Tidak tahu," jawabnya. "Aku belum pernah melihat ada batu bercahaya terang seperti permata merah delima ini."
"Aku rasa batu ini ada kekuatannya!" seru Jessica menyahut. Dia juga ikut menyentuh permukaaan batu yang bersimbol itu. Sinar-sinarnya membuat mereka terpukau takjub. "Apa mungkin batu ini yang menjadi perebutan. Sehingga membuat penduduk kampung itu mati di tindas oleh orang-orang Hurian?"
"Bisa jadi," Sean setuju. "Kemungkinan para penduduk kampung itu ingin melindungi batu ini sehingga terjadilah penindasan terhadap penduduk kampung."
Sean berpikir kalau jalan keluar ini tidak mudah di temukan oleh siapapun kecuali penduduk kampung. Mereka sengaja merahasiakan batu itu dari orang-orang Hurian di tempat yang sulit di tebak seperti ini.
Karena merahasiakan dengan rapat tentang batu ini, kemungkinan inilah penyebab kenapa para roh itu menunjukkan sebuah jalan.
Tapi Sean tidak ambil pusing, terserah batu itu mau di perebutkan oleh siapapun. Dia juga tak begitu peduli.
"Sebaiknya kita pergi dari sini sekarang. Kita harus melewati serangkaian perjalanan yang akan melelahkan nanti."
__ADS_1
Anak itu suka memutuskan sebuah imajinasi orang lain. Mungkin itu keahliannya.
Mereka melewati sebuah jembatan yang menggantung. Di ujung jembatan terpasang dan di kaitkan dengan pohon yang berada di ujung sisi tebing.
Seisi hutan itu nampak cantik, banyak hewan malam berterbangan kesana kemari sekedar memamerkan cahaya cantik mereka. Semua bercahaya, indah, bahkan daun-daun tak kalah cantiknya saat malam.
"Tuan Gordon, bisakah kau menceritakan pada ku kenapa kau bisa terjebak di perkampungan itu?" ucap Sean. Sambil berjalan, agak asik kalau mendengar cerita kisah di masa lalu. Sean suka mendengarkan sebuah kisah.
"Tidak ada yang menarik," balasnya apatis.
"Oh, iya. Aku pikir juga begitu." Pikir Sean seharusnya dia tidak bertanya seperti itu. Pria gemuk ini pelit bercerita, padahal Sean yakin, bahwa dia memiliki banyak kisah di masa lalu.
Gordon melirik Sean yang jalan selangkah menyamai dirinya. Anak itu terlihat benar-benar ingin tahu segala hal mengenai dirinya. Melihat wajah Sean, entah kenapa dia merasa seakan anak itu memiliki ketertarikan tersendiri.
"Aku akan menceritakan kisah lain mengenai diri ku," ucap Gordon. "Tapi aku tidak ingin membahas mengenai kenapa aku terjebak di perkampungan mati itu. Tentu kau sudah tahu alasannya kenapa."
"Kau yakin?" Sean bersemangat.
Pria itu mendeham. Lagi-lagi dia mengurut jenggotnya. Jalan yang mengekang itu benar-benar membuatnya nampak perkasa.
"Sebenarnya aku sudah lama menjadi prajurit tempur. Mungkin kalian tidak percaya kalau aku sudah berusia lebih dari ribuan tahun."
"Ribuan tahun?" Jessica menyahut. Dia penasaran, setua itu pria gemuk ini. "Apakah kau sudah hidup hingga selama itu?"
"Itulah kenyataannya," jawab Gordon. "Setiap tiga ribu tahun sekali akan ada peperangan besar melawan para Gort di tanah gersang. Aku yang lahir ribuan tahun ini sudah berkontribusi berperang melawan mereka yang bringas dan buas itu. Jika aku tidak salah, mungkin lebih dari puluhan kali aku bertempur di Medan perang."
Mendengar pengakuan itu, Sean tidak begitu yakin. Tapi dia berkata benar. Itulah faktanya kalau Gordon sudah berusia ribuan tahun. "Lalu? Apakah kau sejak kecil sudah terbiasa melihat peperangan besar ini?" Sean ingin tahu.
Gordon mengangguk. "Itulah kenapa aku sangat membenci para Gort dan juga orang-orang Hurian. Mereka membelot, lebih mementingkan kepentingan di atas keuntungan. Mereka bekerjasama dengan makhluk-makhluk menjijikan itu. Oleh karena itu, peperangan Troya ini sebentar lagi akan kembali berlangsung. Tujuh ratus tahun lagi peperangan itu akan tiba," katanya memberitahu.
"Jika kau tak menyadarinya, tentu kau akan menganggapnya lama," ujarnya pada Sean. "Tapi sayang, tujuh ratus tahun itu tidak cukup lama. Jika di dunia manusia waktu itu memang lama. Tapi di sini, rasanya begitu cepat."
Ou, Sean merasakan tempat ini benar-benar penuh misteri. Sean sampai takjub mendengar penjelasan Gordon mengenai waktu mereka yang begitu singkat. "Lalu, sejak kapan kau beralih menjadi seorang ksatria di Medan perang?" tanya Sean lagi. "Kau terlihat begitu banyak misteri."
"Sean," Jessica menyikut temannya itu. "Mengapa kau bertanya masa lalunya. Bukankah itu sama saja kau sedang mengorek kisahnya sendiri?"
"Aku tidak bermaksud begitu," jawab Sean membisik pelan. "Aku hanya ingin tahu saja."
Gordon yang mendengar percakapan kecil keduanya tidak merasa terganggu. Justru kisah lama itu membuatnya harus tetap tegar.
"Akan aku ceritakan pada kalian kisah ku menjadi kstaria di Medan perang," katanya dengan baik hati menceritakan masa lalunya.
Lalu untuk sesaat Gordon mengenang kisahnya.
****
Dahulu, jauh beribu-ribu tahun yang lalu. Saat Gordon berusia masih sangat kecil. Dia hidup dengan aman dan damai bersama kedua orang tuanya. Di perkampungan yang ramainya hampir tak kalah dengan ramainya desa-desa lain seperti desa Mouli dan Manun.
Anak-anak merasa kegirangan setiap kali matahari terbit. Karena suasana ramai, anak-anak pedesaan tepat dimana dia tinggal bersama orang tuanya itu selalu antusias kala orang-orang menyuarakan suara mereka di perkampungan.
Hingga pada suatu hari, ada serangan para vandal dari Hurian. Mereka menyerang penduduk kampung, membakar rumah-rumah, pasar, tempat ramai lainnya. Membunuh juga menindas para penduduk termasuk orang tua Gordon.
Pria itu ingat, saat kematian orang tuanya, para Hurian tanpa ampun membelenggu kedua orang tuanya menggunakan pedang besar bahkan menebas kepala orang-orang kampung untuk di jadikan saksi kebuasan mereka.
Tak hanya sampai di situ, mereka juga bekerja sama dengan para Gort dalam menumpaskan penduduk kampung. Anak-anak di gantung di tiang eksekusi, beruntung bagi Gordon dia bisa selamat setelah orang tuanya menyembunyikan dia di sebuah sekoci kecil.
__ADS_1
Suara penderitaan, suara jeritan, suara orang-orang kesakitan, kini menjadi sebuah kisah paling menyakitkan bagi Gordon untuk di ingat.
Teman-temannya, keluarga, orang-orang yang di cintainya harus mati mengenaskan.
Gordon berang, namun apa daya. Dia hanya anak kecil yang tak memiliki kemampuan apapun. Hingga Gordon masuk ke kota saranjana. Melalui sekoci kecil milik orang tuanya, Gordon kecil mengarungi sungai emas Mossapus hingga menembus kota yang cantik itu.
Di sana dia bertekad mengembangkan diri, hingga dia mampu membalaskan kematian orang tuanya beserta kedua saudaranya itu.
Hingga pada akhirnya, dendam Gordon tak bisa di selesaikan hanya dengan membunuh para Gort saja, tapi..... Mereka para Hurian. Mereka— yang seharusnya bertanggung jawab atas semua ini.
****
Gordon menceritakan kisahnya kepada kedua anak itu. Mereka duduk sebentar di bawah pohon besar. Ada api menyala yang menemani mereka bertiga. Gordon menceritakan seperti apa dirinya di masa ribuan tahun yang lalu.
"Lalu, untuk apa mereka melakukan peperangan ini?" tuntut Sean meminta penjelasan.
"Alasannya, satu. Kota saranjana yang megah. Dengan emas menyelimuti kota, tempat yang ramai. Semua keindahan ada di kota ini."
"Mendengar cerita mu, itu artinya dendam mu pada orang-orang Hurian itu belum tuntas. Apakah kau masih menyimpan dendam ini?" Kali ini Jessica yang menyahut bertanya.
Pria gemuk ini meneguk segelas air dari dalam cangkir. Menenggaknya hingga dia merasa benar-benar membasahi tenggorokan yang hampir kering itu. "Sejujurnya, dendam ku bukan hanya kematian orang tua dan kedua saudara ku saja. Tapi dendam ini juga membawa putri ku dan juga istri ku yang malang?"
"Kau memiliki seorang anak?" Jessica seakan tak percaya. Pikirnya dia pria tanpa biduk rumah tangga.
"Mereka mati mengenaskan, sama halnya seperti yang kedua orang tua ku alami beserta kedua saudara ku," katanya menjawab. Gordon terlihat sayu, mengingat-ingat masa lalunya.
"Aku yakin, kau suatu saat bisa menumpaskan para iblis itu," hibur Sean pada wajah yang sudah sendu itu.
Gordon menepuk pundak Sean. Anak ini benar-benar membuatnya teringat pada masa di mana dia pernah muda. "Kau tahu. Selama ribuan tahun, baru kali ini aku melihat Lausius muda yang tangguh nan berani seperti mu. Kau berbeda dari Lausius lainnya."
"Jika aku boleh tahu, siapa itu Lausius? Kenapa kalian selalu berkata seperti itu pada ku," kata Sean penasaran.
"Ehm," Gordon mendeham. "Lausius adalah keturunan Shutanhamun yang sudah di takdir-kan dalam sebuah kitab kuno. Tuan Shutanhamun sangat percaya pada takdir dan ramalan. Dan semua yang sudah di ramal dalam kita benar-benar terjadi. Di mana ada seratus pangeran Lausius yang akan lahir. Dari semua itu, tidak ada satu pun Lausius yang berumur panjang. Semua mati dalam peperangan Troya. Dan perhitungan dalam ramalan kitab itu menyebutkan seratus Lausius, namun setelah di ramal kembali. Hanya ada sembilan puluh sembilan Lausius. Sebagai pembeda Lausius dengan orang-orang lainnya adalah, terletak pada paras mereka yang menawan. Mereka memiliki darah secerah sinar, ada simbol tersendiri di tubuh mereka, dan yang bisa melihatnya hanya orang-orang tertentu."
"Lalu, apa hubungannya dengan ku?"
"Jelas ada," jawab Gordon. "Para Lausius terlahir berhati malaikat. Mereka suci, putih dan bersih. Paras mereka yang menawan, mampu menarik siapa saja yang melihat rupa mereka. Dan kau, salah satunya. Kau kemungkinan adalah Lausius terakhir itu."
Tidak," bantah Sean cepat. "Aku bukan Lausius yang kalian maksud itu. Sungguh. Bahkan Ibu ku hanya pekerja di Amerika, Ayah ku pun begitu. Mana mungkin aku seperti yang kau katakan."
"Kau akan tahu siapa diri mu nanti, nak," pria gemuk ini kembali menenggak minumannya. "Jika aku tidak salah. Kau benar-benar orang yang di tunggu-tunggu itu."
"Ah, Tuan beruang. Mungkin kau salah mengenai diri ku. Aku hanya seorang anak remaja biasa, bukan Lausius yang kalian maksud," kilah Sean tak setuju.
Bagaimana mungkin dia adalah Lausius yang sering di maksud oleh orang-orang yang dia temui. Jujur, Sean benci jika di bandingkan apalagi di sebut sebagai Lausius siapalah itu.
"Kau tidak perlu memikirkan perkataan ku. Mungkin aku salah, tapi mungkin juga aku benar."
"Mengenai?" sahut Sean.
"Lausius?" jawab Gordon singkat.
"Oh," Sean mendesah. "Lagi-lagi Lausius. Ku pikir kau sedang berkata lain."
Sean memalingkan wajahnya, Lausius itu membuatnya geram. Jika bertemu dengan si Lausius itu, mungkin Sean akan memakinya. Dia tidak mau salah paham mengenai dirinya dan Lausius.
__ADS_1
BERSAMBUNG