Adventure Of Lord Lausius

Adventure Of Lord Lausius
Episode 06


__ADS_3

RENCANA


"Sayang minumlah teh madu ini, selagi hangat. Ini akan membantu mu lebih rileks." Nyonya Jane memberikan secangkir teh hangat pada suaminya yang nampak lelah dan lusuh.


"Aku menambahkan sedikit ginseng Korea didalamnya." Lanjut nyonya Jane bicara.


Tuan dean duduk di sofa dengan menyandarkan tubuhnya.


Kepalanya menghadap ke langit-langit rumahnya.


Ia meregangkan segala otot-otot nya yang terasa kaku.


Sementara nyonya Jane menemani suami tercinta duduk di sebelahnya.


"Apa kau tahu? Petter memberi tahu ku bahwa sel syaraf Sean hampir saja rusak. Beruntung ia cepat menanganinya." Nyonya Jane memecahkan kebuntuan bicara keduanya.


Nyonya Jane memulai bicara yang sedikit lebih serius.


"Aku tahu pasti ini akan terjadi!" Suami nyonya jane bicara cemas dan khawatir.


Guratan urat wajah tuan dean nampak jelas.


Urat lelah yang bercampur cemas mendalam.


"Sebaiknya kita tetap merahasiakan ini. Bahkan kita lupakan saja apa yang pernah terjadi. Karena aku yakin LORD SHUTANHAMUN pasti sudah menemui sean," Ucap Tuan dean bicara tak karuan.


"Entahlah!! entah mengapa aku sangat takut jika waktu itu akan segera tiba. Aku takut Sean akan tahu semua misteri ini" Nyonya Jane ikut cemas seolah tak ada semangat hidup dalam dirinya.


Dalam keadaan yang hening, pasangan suami istri ini memasang wajah murung.


Mereka tak percaya jika waktu itu telah tiba.


Waktu yang akan menguras emosi dan peristiwa.


Waktu yang akan membawa mereka kembali ke masa itu, masa yang tak bisa keduanya lupakan.


Kesedihan pasti akan memuncak dari seorang Nyonya Jane. Bahkan ia rela bertukar nyawa agar peristiwa itu tak kembali maupun datang menagih janji.


...


Seberapa kerasnya mereka memikirkan peristiwa kelam itu, badai kengerian tentu saja tetap akan menjadi masa lalu yang tak akan bisa terlupakan.


Sean yang berada di kamarnya kini datang menghampiri ibu dan ayahnya yang sedang santai di ruang keluarga menikmati hangatnya teh ginseng.


"Ayah ibu, kalian sedang santai." Sean menghela lamunan kedua orang tuanya.


"Hey, ah tentu saja sayang!" ibu Sean terbangun dari sofanya menghampiri Sean.


"Apakah kau ingin minum teh ginseng hangat?" ibu Sean menawarkan sebuah kemanjaan padanya.

__ADS_1


"Tidak Bu, Sean hanya ingin membahas RENCANA liburan kita."


"Aku rasa, aku sudah menemukan tempat liburan yang cocok untuk rekreasi keluarga."


Sean memulai dengan ekspresi gembira.


"Benarkah!, apa kau yakin tempat ini akan cocok untuk liburan kita nanti," ucap Ibu Sean ikut gembira.


"Dimana, apakah kita pernah kesana sebelumnya?" Lanjut ibu Sean girang.


"Tentu saja kita belum pernah kesana.


Karena tempat ini sangat indah, bahkan lebih indah dari yang ibu dan ayah bayangkan."


Sean mencoba membuat kedua orang tuanya penasaran.


"Benarkah? apakah tempat itu sangat istimewa sehingga kau membuat ayah dan ibu penasaran!" sambar ayah Sean yang tak ingin ketinggalan topik hangat ibu dan anak itu.


"Tentu saja ayah, bahkan aku telah memesan tiket daring kesana." Sean sekali lagi bicara girang.


"Aku ingin tahu, tempat apa yang kau maksud. Apakah lebih indah dari pulau galapagos atau lebih indah dari Miami beach? Ayah Sean bertanya seraya mencoba menebak.


"Nampaknya ayah tak sabar ingin tahu tempat apa itu? baiklah kurasa aku harus menunjukan tempat itu." Bicara Sean seolah-olah telah sukses membuat kedua orang tua itu terhipnotis oleh rasa penasaran yang amat besar. Sean kemudian mengeluarkan peta dunia yang telah ia tandai sebelumnya.


"Ayah ibu, lihatlah ini," Sean berkata penuh percaya diri sambil jari telunjuknya menunjuk ke arah peta yang telah ia tandai.


"Aku telah memilih Bali sebagi tempat liburan kita kali ini." Senyum Sean pada kedua orang tuanya.


"Aku rasa itu ide yang buruk." Respon Ayah Sean menyambar tak setuju.


"Bagaimana jika kita liburan ke Hawaii? bukankah Hawaii juga indah."


"Sayang bagaimana dengan mu?"


Tuan Dean meminta pendapat istrinya.


Ia menyangkal ide Sean yang brilian itu.


"Kurasa itu ide yang membosankan.


Bahkan kita hampir setiap tahun kesana. Terakhir kali kau meninggalkan tas mahal ku di hotel HONOLULU . Dan aku masih saja tak terima jika kembali menginjakkan kaki di sana," Hardik ibu Sean kesal pada kejadian konyolnya itu.


"Tidak, kali ini Hawaii akan jadi tempat liburan kita selama dua pekan. Kalian tak boleh membantah," Ucap Tuan Dean menggerutu sewot.


"Ayah bukankah kita telah mengunjungi Hawaii secara rutin setiap tahun, bahkan; Kolombia, Venezuela, hingga seluruh Amerika latin dan Amerika Selatan telah kita kunjung. Tak lupa kita juga sering mengunjungi daratan eropa, ada baiknya jika kita mengunjungi negara yang berada di luar Amerika, apalagi Asia. benua yang sangat indah, aku rasa ayah akan setuju pada Sean." Sean memberikan saran dengan semangat.


"Tidak. Bahkan aku tak akan mengizinkan kalian liburan hingga keluar daratan Amerika!" ayah Sean membantah sarannya secara mentah-mentah dengan nada sedikit emosi yang menggebu-gebu.


Ini kali pertama sang ayah bicara dengan nada yang begitu tinggi dan keras pada putranya Sean.

__ADS_1


"Kenapa ayah selalu melarang pergi ke kota-kota di wilayah Asia. Apakah ada sebuah rahasia yang ayah sembunyikan?" sekali lagi Sean sesumbar mengucap kata yang mengundang emosi sang ayah.


"Ayah tetap tak akan mengizinkan kamu liburan ke Bali ataupun Asia. Bagi ayah Amerika adalah rumah kita. Jadi ayah harap kau jangan membantah ayah lagi."


Ayah Sean mencoba menahan emosinya yang meluap-luap bak egonya telah tergores oleh pisau tajam.


Untuk kedua kalinya ia melayangkan ucapan kasar dan nada tinggi pada putranya. Dengan spontanitas ia merajuk pada Sean karena tak memahami sang ayah.


Sementara Nyonya jane hanya melihat anak dan ayah itu bertengkar. Ia tak tahu apa yang harus ia lakukan.


Akankah ia memihak sang anak? atau memihak sang suami yang sedang emosi menjadi-jadi itu.


Nyonya Jane bingung dan pusing oleh perdebatan anak dan ayah itu.


"Aku rasa lebih baik kita mengunjungi GRAND CANYON, Nyonya Lopez pernah mengunjungi GRAND CANYON bulan lalu. Dia bilang GRAND CANYON sangat indah!" Nyonya Jane mencoba melerai keduanya melalui ide terselubungnya.


"Tidak Bu, aku tetap ingin liburan ke Bali. Aku sangat ingin kesana, ke Asia. Bukankah ibu berasal dari Indonesia? lalu kenapa ibu tak pernah membawa ku mengunjungi Indonesia, apakah ada sebuah rahasia yang kalian sembunyikan dari Sean?" Sean memancing rasa ingin tahunya dari sang ibu.


"Bukankah kita adalah orang Asia? lalu mengapa kita tak pernah kembali ke negara asal ayah dan ibu?" lanjut Sean pada bicaranya tadi.


Bingung!! itulah yang nonya Jane rasakan.


Ia tak tahu harus menjawab apa pada sean. Ia hanya terpaku terdiam tak bergeming.


"Sudah ayah katakan, jangan pernah bahas tentang liburan mu ke negara yang konyol itu. Bahkan Bali tak ada apa-apanya dengan kota los angeles. Jauh lebih cantik air terjun niaga di bandingkan tempat liburan yang kau ingin kunjungi itu!" kembali tuan dean bicara sembarangan.


"Ayah rasa kamu harus mengerti apa yang ayah katakan. Semua ini demi kebaikan mu." Tuan Dean bicara dengan nada sedikit menurunkan amarahnya. Ia sadar bahwa ia terlalu keras bicara pada putranya itu.


"Pasti ada sebuah rahasia yang ayah dan ibu sembunyikan dari Sean. Dan jika itu kemauan ayah, lebih baik tak perlu perdulikan lagi tentang RENCANA liburan yang konyol ini," Ucap Sean dengan wajah semrawut sewot dan kesal.


Kemudian ia meninggalkan kedua orangtuanya itu dalam wajah murung.


Ia naik ke lantai atas dengan kecewa di dada.


Kecewa pada rencana yang gagal.


Gagal karena beda pendapat, beda keinginan dan beda RENCANA.


"Berengsek!" Teriak Sean kesal seraya membanting bantal melampiaskan amarahnya yang terpendam.


Lalu Sean merebahkan tubuhnya itu di kasur empuk dengan ekspresi kesal melanda seluruh emosi dan pikirannya.


BERSAMBUNG...


...


catatan kecil penulis:


"Think right, do the best."

__ADS_1


.....


SARANJANA EPISODE 06


__ADS_2