Adventure Of Lord Lausius

Adventure Of Lord Lausius
Episode 113


__ADS_3

"Pangeran mencoba kabur meninggalkan istana Pharos. Juga membawa Ligong pergi. Hukuman apa yang akan di jatuhkan Dewi Pharos pada pangeran? Apakah di rajam? Atau di hukum penggal!"


Tanpa basa-basi, dia langsung berkata. Mulutnya itu amat hemat dalam berkata, gayanya sok berwibawa, Sean kurang menyukai Crypto yang angkuh.


"Hei. Aku tidak peduli kalau aku akan di hukum rajam atau di penggal. Lagi pula, aku tidak takut pada mu!" seru Sean menegaskan. Dia menunjukan kegarangannya pada Crypto.


"Bagaimana dengan Ayah mu?" singgung Crypto.


"Kalian hanya membual. Aku tidak akan mempercayai kalian lagi!"


"CK, CK," Crypto menggeleng. Sean benar-benar tak bisa di kendalikan. "Aku memang tidak pandai membantah. Tapi, perjalanan pangeran muda akan aku kawal bersama beberapa prajurit. Kali ini pangeran tidak boleh menolak."


Crypto lebih memilih mengalah. Anak itu pikirnya pantas saja bisa sampai di tempat ini. Karena keras kepalanya itu yang membawanya hingga memasuki kota Saranjana. Meninggalkan orang tuanya, sungguh—Sean anak yang membuat orang-orang geleng kepala.


"Hei, aku tidak suka kau memanggil ku pangeran!" pekik Sean berang. "Aku benci di panggil seperti itu," kata Sean mendengus sebal. Dia agak ketus, apalagi Crypto terus mengikutinya kemanapun dia pergi.


"Apa yang terjadi diantara mereka berdua?" bisik Jessica pada Gordon.


"Pangeran sedang kesal pada Crypto. Mulai saat ini, kau harus patuh padanya," balas Gordon membisik.


"Pangeran?" Jessica mengerutkan alisnya. Pangeran yang di maksud adalah Sean. Tidak masuk akal, namun..... "Kau sedang tidak membual bukan?" kembali Jessica membisik.


Gordon menggeleng. "Tanda di tubuhnya membuktikan dia pangeran Lausius. Tidak mungkin aku membual pada kenyataan!"


Kepala Jessica terasa pusing mendengar pengakuan Gordon. Pangeran yang di maksud oleh pria gemuk itu membuat Jessica berpikir keras. Dia memperhatikan wajah Sean dengan seksama.


"Apa benar Sean pangeran?" tanyanya pada diri sendiri. Terlihat memang tanda itu terus bersinar. Wajah Sean juga menarik perhatian, jelas Jessica di lema. Di satu sisi dia percaya Sean pangeran Lausius, di sisi lain Jessica tak percaya. Sebutan Lausius sudah beberapa kali di dengar Jessica. Walau Jessica sudah berulang kali mendengar nama itu, namun sebelum-sebelumnya Jessica tak begitu menghiraukan tentang Lausius.


Tapi, saat ini. Nama Lausius itu membuatnya tertegun. "Sean adalah pangeran. Dan pangeran adalah Sean. Dari mana asal muasalnya? Apa benar dia pangeran? Atau...... Apa mungkin mereka sedang menipu ku?"


Meskipun Jessica ragu, tetapi melihat Crypto yang patuh pada Sean, sedikit membuktikan kebenaran bahwa Sean adalah Lausius. Namun tetap saja, keraguan membawa Jessica pada kebimbangan akan pengakuan yang baru saja di ucapkan Gordon.


Tidak peduli seberapa keras Sean merajuk padanya. Sikap kekanakan itu membuat Crypto harus bersabar. Melayani Lausius adalah ikrar yang sudah ia ucapkan.


"Pangeran. Kau tak memakai baju sejak semalam apalagi menerobos salju. Apakah pangeran tidak kedinginan?" tanya Crypto yang kini beralih bicara pada hal lain.


Sean melipat tangannya di dada, dia bersikap cuek, acuh tak acuh pada Crypto. "Tidak perlu pedulikan aku. Aku tidak mau menerima semua kebaikanmu!"


"Apa pangeran yakin tidak mau memakai pakaian pemberian ku?"


"Tidak perlu. Aku bisa tahan cuaca panas maupun dingin," balas Sean. Setelah berkata pada Crypto, dia lalu berlalu meninggalkan pria yang berdiri diantara beberapa prajuritnya.


"Dia masih menganggap ku musuh," kata Crypto pelan seraya menggeleng. Kemudian dia membalikkan badan mengekori Sean yang sudah meninggalkan bukit.


Gordon dan Jessica sudah berlalu bersama Sean. Mereka berjalan beriringan. Sean sesekali melirik ke belakang, Crypto masih saja mengikutinya.


"Hei," tegur Sean. "Kenapa kau masih mengikuti ku! Aku sudah bilang, jangan mengikuti langkah ku kemana pun aku pergi." Sean agak kesal, Crypto terus mengikutinya dengan beberapa prajurit bawaannya.


Crypto bersikap berwibawa, dia tidak menghiraukan ucapan Sean. Crypto tetap pada langkahnya, mengabaikan mulut Sean yang berang padanya.


"Sean. Sudahlah. Percuma kau marah-marah padanya. Dia tak akan menggubris perkataan mu." Jessica menepuk pundaknya. Kekesalannya pada pria yang sudah mendahului jalan mereka tak akan ada ubahnya.


Sean mendengus, dia kembali berjalan. Kali ini langkah kakinya menyamai Crypto. "Jika kau tidak mau mendengarkan ucapan ku, agar tak lagi mengikuti ku. Maka kau harus bawakan pedang ku!" Sean bersikap angkuh, melempar pedang merah besarnya pada Crypto. "Punggung ku terasa patah karena terus-menerus menggendongnya," keluh Sean pada Crypto.


Pria itu cekatan menangkap pedang yang di lemparkan padanya. Crypto kembali kepalanya menggeleng, Sean melakukannya tiba-tiba. Crypto memberikan pedang Sean itu pada prajurit yang berjalan di belakangnya, sesaat kemudian melirik Sean. "Apa pangeran sudah tidak bersikap keras kepala lagi?"


Sean berjalan sambil melipat kedua tangannya. Dia masih tetap ketus pada Crypto. "Jangan pedulikan aku. Kau bagi ku tetap saja, orang yang menyebalkan."

__ADS_1


Crypto mendesah, mengembuskan nafas panjang. "Dia masih menganggap ku musuh," katanya pelan. "Pangeran yakin tidak mau menerima pakaian dari ku?" katanya lagi menawarkan. Di sudut mukanya, terlihat dia penuh harapan agar Sean menerima pakaian yang dia bawakan itu.


"Tidak!" balas Sean cepat. "Kebaikan mu mengandung makna terselubung. Aku tidak suka pada kebaikan palsu mu itu." Sean masih ketus, baginya, Crypto masih sama menyebalkan seperti sebelumnya.


"Huh. Anak ini benar-benar membuat ku harus bersabar." Crypto kembali mendesah pelan. Jujur, demi apapun, Sean adalah anak pertama yang membuatnya kuat-kuat menahan rasa sebal.


Mereka berjalan melintasi hutan yang seperti biasanya. Hutan yang sering Sean jumpai. Mereka tiba di sebuah jembatan kecil di ujung hutan. Ada tebing di ujung hutan ini yang membelah hutan lebat dengan tempat yang agak gersang di depan.


Saat baru sampai di jembatan. Ligong, macan hitam yang terus bersinar bersamaan dengan tanda di dada dan punggung Sean ini, tiba-tiba mencegat langkah Sean.


Ligong menutup jalan Sean. Tubuh besarnya juga menutup akses jembatan yang ingin di lalui para pejalan itu.


"Hei, kawan. Ada apa? Kenapa kau menutupi jalan kami?" tanya Sean pada Ligong.


Ligong meraung-raung, meloncat-loncat hingga membuat jembatan kayu yang terikat tali itu ikut bergoyang. Macan hitam itu menunjukan ekspresi seperti mengisyaratkan sesuatu.


"Dia kenapa Sean?" tanya Jessica.


Sean mengangkat kedua bahunya. "Mungkin dia ingin aku membelainya," balas Sean.


Sean menjulurkan tangannya, mengelus lembut kepala Ligong. Mungkin karena Sean sedari tadi mengabaikannya, jadi makhluk itu sedikit depresi. Tapi—Ligong itu masih tetap sama seperti sebelumnya. Walau Sean sudah mengelusnya, hewan takdir itu tetap menunjukkan ekspresi aneh.


"Kau kenapa kawan?" tanya Sean keheranan. "Apakah kau ingin mengatakan sesuatu?"


"Tunggu!" Crypto menyela. Melihat ada keanehan pada Ligong, membuat Crypto sedikit waspada. "Sepertinya dia ada di sini?"


"Siapa?" sahut Jessica.


"Uli!" kata Crypto sambil mencabut pedang besarnya dari punggung. "Keluar kau. Jangan bersembunyi seperti cicak."


"Hahahaha......" terdengar suara lengkingan itu berasal dari pohon besar di belakang mereka. Tak lama kemudian, Uli keluar meloncat dari dahan pohon. "Akhirnya persembunyian ku ketahuan oleh Crypto yang tampan."


"Gadis manis masih mengingat ku rupanya?"


"Kau!" Jessica agak berang. Dia mencabut panahnya, siap membidik Uli.


Tapi Crypto menahannya, "Uli bukan tandingan mu," katanya pada Jessica.


"Akhirnya Crypto sadar kalau aku bukan tandingan gadis kecil ini. Kau tahu, kedatangan ku kesini hanya untuk satu tujuan."


"Lausius," sahut Sean.


Uli menyeringai tertawa. Sean akhirnya paham apa maksudnya. "Aku tidak mau ada pertarungan saat ini. Sebaiknya kau menyerahkan diri mu, agar tempat ini tak ada darah yang tumpah."


Belum usai kata-kata itu, Sean tanpa pikir panjang langsung melancarkan serangan. Dia meloncat di udara, lalu kakinya menerjang tepat di dada Uli, hingga wanita itu terpental beberapa meter.


"Uhuk?!" Uli menumpahkan darah segar. Serangan Sean sangat cepat, berbeda dengan Sean yang pernah dia temui di istana Sadon kala itu. "Kau semakin kuat saja."


"Karena kau selalu mengacau. Aku benci melihat kau yang selalu mengikuti ku," ucap Sean. Dia berdiri tepat di depan wanita yang tengah menahan sakit di dadanya.


"Apa? Kau tahu itu?" Uli membelalak kaget. Ternyata— "Sejak kapan kau menyadari kehadiran ku yang selalu mengikuti mu."


"Sebelum aku memasuki perkampungan mati itu. Kau selalu mengikuti ku, juga, benda di saku mu itu terus bersinar. Aku tahu, saat tanda di dada ku bersinar, benda di tangan mu juga bersinar. Bukan hanya benda mu, tapi Ligong ku juga bersinar." Sean jongkok di depan Uli yang tak berdaya, merogoh koceknya. Sean mengambil sebuah gelang bundar sempurna dari saku Uli. "Karena benda ini, kau tahu dimana pun keberadaan ku," kata Sean padanya.


Dan, memang yang terlihat. Gelang itu bercahaya biru saat Sean mengambilnya. Sean lantas menjauhkan gelang itu dari Uli.


"Kenapa? Kenapa dia secepat itu menyadarinya? Bukankah jiwa asalnya belum tumbuh. Kenapa dia bisa tahu kalau aku mengikutinya?" Uli bertanya-tanya. Ternyata Sean satu langkah lebih maju dari perkiraannya.

__ADS_1


"Aku ampuni nyawa mu saat ini. Sebaiknya kau pergi, sebelum aku benar-benar membunuh mu," kata Sean lagi sambil membelakangi Uli.


Jessica melihat, Sean kali ini sudah berubah. Dia jauh lebih tangguh dan gagah di samping dia pintar. "Sejak kapan dia seperti itu?" ucap Jessica pelan.


"Sejak kau melihatnya," balas Gordon yang diam-diam mendengar pertanyaan Jessica. "Jiwanya perlahan akan terungkap!"


"Benarkah?" Jessica membesarkan matanya, sungguh. Jessica belum tahu banyak mengenai rahasia Sean.


Bahkan Crypto yang sempat geram pada Uli, mengurungkan niatnya untuk bertindak. "Anak ini di luar dugaan. Dia mengacau!"


Saat Sean berkata sambil membelakanginya, Uli, tanpa sepengetahuan Sean. Dia mencabut dua belati dari but—nya. "Kau pikir, kau jauh lebih kuat dari ku!" ucapnya lalu menyerang Sean.


Sean melirik kebelakang, sebelum serangan itu sampai. Sean mengangkat kakinya, lagi-lagi kaki Sean mengenai dada Uli. Wanita itu terpental untuk kedua kalinya. "Kali ini, kau benar-benar sudah menguji kemampuan ku untuk membunuh mu. Maka, akan aku percepat pertemuan mu dengan raja neraka!"


Setelah wanita itu terpelanting bahkan keras. Pedang besar Sean yang di bawa oleh prajurit, melayang menghampiri Tuannya saat Sean menengadahkan tangannya ke arah pedangnya. Bagai ada magnet, pedang dan tangan Sean saling tarik menarik.


"Argh!!!!" erang Sean. Dia meloncat ke udara, siap menghunus pedang itu ke tubuh Uli yang memegang dadanya kesakitan.


"Pangeran! Sean!" Gordon dan Jessica ternganga. Sean amat bringas, keduanya bersamaan memanggil anak itu.


"Celaka. Jiwa asal Lausius hampir terungkap. Aku harus menghentikannya." Crypto bertindak, dengan kecepatan secepat kilat, dia menahan pedang Sean. Crypto tahu, perlahan-lahan Sean akan tahu masa lalunya. Anak itu tidak bisa menyembunyikan identitasnya walau belum Sean sadari.


TING!! Adu pedang itu membuat pedang besar Sean tak sampai melukai tubuh Uli.


"Pangeran tidak boleh melakukannya. Jiwa asal pangeran belum terbentuk sempurna," ucap Crypto.


Tanda lahir di punggung dan di dada Sean, bersinar tiada hentinya. Di ikuti mata Sean yang juga ikut bercahaya. Crypto tahu bahwa itu bukan Sean yang mengendalikannya, tetapi jiwa di dalam tubuhnya yang berusaha menguasai Sean.


"Cepat pergi dari sini. Jika kau tidak mau mati sekarang!" teriak Crypto pada Uli. Sekuat tenaga dia menahan Sean, agar tidak melakukan tindakan yang akan merusak jiwanya.


Perintah Crypto ini, dengan sigap di patuhi oleh Uli. Dia memilih kabur meninggalkan buruannya dari pada mati tak berguna. Uli berlari secepat mungkin, kekuatan Sean bukan tandingannya saat ini. Sekali tendang saja, seluruh tubuh Uli terasa remuk bagai di lindas batu.


Walau Uli merasakan sakit di dadanya, dia tetap memaksa berlalu. Mati konyol di hadapan buruannya, sungguh memalukan bagi Uli.


"Pangeran. Kau harus sadar, jiwa mu belum sepenuhnya sempurna!"


Sekuat tenaga, Crypto menahan gempuran pedang milik Sean. Dia benar-benar kuat, Crypto tak sanggup menahannya lebih lama lagi.


Gordon yang melihat peluh Crypto yang sudah mengalir itu, dengan Godam besarnya, dia melerai adu pedang itu.


TANG! TING!


Keduanya bisa di lerai setelah Godam itu menghantam pedang Sean. Dia meloncat ke udara, dengan kekuatan penuh, Godam itu menghentakkan kedua pedang yang sedang beradu.


Seketika keduanya terpental, dan Sean mulai sadar. Anak itu kembali ke pemikiran normalnya.


"Kau tak kenapa-kenapa kan?" tanya Gordon pada Crypto sambil membantunya memapah berdiri.


"Aku tidak mengapa. Hanya saja, pangeran. Tenaganya lebih kuat dari sebelumnya," kata Crypto. Dia memberitahu Gordon, bahwa Sean sudah mulai menampakkan jiwa Lausius—nya. Crypto menahan sakit di dadanya, kekuatan pedang Sean dan Tuannya tak bisa di bendung.


Jessica menghampiri Sean, dia melihat Sean juga seperti menahan sakit di dadanya. Sesaat setelah itu, Sean jatuh tersungkur dengan lutut lebih dahulu menyentuh tanah. "Kau baik-baik saja, kan, Sean?" tanya Jessica. Dia agak mengkhawatirkan temannya itu. Jessica berusaha membantu memapah Sean agar kembali berdiri normal.


"Aku baik-baik saja, hanya dada ku sedikit sesak." Sean masih agak kuat, berpegangan pada gagang pedangnya yang tertancap.


Sean berusaha berdiri normal, Jessica membantunya memapah berdiri. "Kau sepertinya terluka. Kita cari tempat istirahat dahulu, agar kau bisa memulihkan diri mu." Sungguh, Jessica tidak terpikirkan kalau Sean sudah berbeda dari sebelumnya.


Juga, tanda itu. Mirip tato, tapi tulisan itu sulit di manipulasi. Tulisan tanda lahir Sean di dada, terukir amat indah, tidak bisa hilang. Pikir Jessica, tanda yang bercahaya itulah yang menyebabkan Sean seperti orang lain.

__ADS_1


Tulisan yang terukir itu, sesekali Jessica membacanya. Tulisan berukir indah itu tidak bisa di baca dengan mudah. Tetapi, Dewi Pharos yang bisa membacanya, tulisan berukir itu memiliki makna. Yaitu, "FILII LUCIS yang berarti PUTRA CAHAYA."


BERSAMBUNG


__ADS_2