Adventure Of Lord Lausius

Adventure Of Lord Lausius
Episode 53


__ADS_3

Nimfa part empat


Mendengar Sean mendapati ide cemerlang, Yudhar sedikit memalingkan perhatiannya pada Sean.


"Apa Sean yang kau temui! Katakan pada ku ide indah mu itu." Kata Yudhar bertanya penasaran.


Sean dengan senyum sumringah, ingin memecahkan misteri ini setelah berpikir keras mengenai mantera yang di ucapkan oleh para nimfa yang berterbangan tak karuan melintas di atas kepalanya.


"Sebenarnya para nimfa ini ingin memberitahu bahwa pintu itu bisa terbuka hanya jika kita bisa memahami apa yang ia ucapkan." Kata Sean memulai berbicara mengenai idenya.


"Memahami ucapannya?" Sambar Jessica yang ingin tahu.


Sean mengangguk kan kepalanya. Dia membenarkan ucapan Jessica. "Ya, sebenarnya mereka melantunkan nada-nada itu bukan karena sedang berkabung. Tetapi aku rasa mereka sedang menunjukkan kunci pintu itu." Ujar Sean kembali dengan gaya bahasa yang siap membuat kedua anak itu akan takjub.


Kemudian Sean melanjutkan ucapannya, menjelaskan sedetail-detailnya pada Yudhar dan Jessica. "Coba kalian perhatikan awal dari kata yang mereka lantunkan. 'Peri menangis di balik kendi' Sebenarnya yang menangis tak lain adalah mereka.


Lalu mereka menyembunyikannya di balik air mata yang berpeluh mengiba itu. Aku tidak yakin sebenarnya, tetapi kemungkinannya itulah jawaban atas teka teki ini." Sean mencoba mendefinisikan setiap kata yang di ucapkan oleh nimfa.


"Lalu, apalagi Sean. Aku mulai tertarik mendengar cerita mu itu." Potong Yudhar yang mulai memasuki alur cerita ber-intuisi ini.


Yudhar ingin mengetahui kisah ini, tetapi Jessica? Jangankan ingin tahu. Bahkan dia tidak peduli pada kisah tidak bermakna ini.


"Dan kata di balik kendi? Kupikir, setelah aku melihat seluruh ruangan. Mencari sesuatu yang berhubungan dengan kendi', hanya ada satu tempat yang memungkinkan untuk di sebut dengan kendi. Yaitu vas bunga! Bukankah vas bunga mendekati benda yang mirip kendi." Sean melanjutkan ceritanya sambil menunjuk vas bunga berwarna biru yang ada di pojok ruangan.


Kedua temannya menoleh ke arah yang di maksud Sean. Kemudian Yudhar dan Jessica saling melempar pandangan satu sama lainnya. Ketidak pedulian Jessica tadi nyatanya membuat gadis itu mulai memancing rasa penasarannya.


Sean mendekati vas bunga biru itu. Bentuknya tidak besar hanya seperempat lengan tetapi di ukir amat cantik. "Dan jika dugaan ku benar, maka seharusnya ada sesuatu di balik vas bunga ini. Jika kita menggabungkan kata keseluruhan itu berarti bait pertama syair itu merajuk pada vas bunga ini." Tambah Sean yakin jika tebakannya benar.


"Tepat Sean! Tepat sekali apa yang kau katakan. Jika kata "peri menangis" di gabung dengan kata "di balik kendi" maka sebenarnya mereka menunjukkan bahwa rahasia sebenarnya ada di balik benda itu. Aku yakin ada sesuatu di balik vas itu." Yudhar menyela, dia kali ini jauh lebih mengerti dari sebelumnya. Bahkan jauh lebih pintar dari sebelum keluar dari danau Osirus.


"Ya! Kau benar sekali." Balas Sean setuju pada argumentasi Yudhar.


Senada dengan apa yang Yudhar pikirkan, Sean langsung menumpahkan isi vas bunga itu. Dan tanpa di duga sebuah benda keluar dari dalamnya.

__ADS_1


"Kunci!" Pekik ketiganya keheranan.


"Wow! Sean! Kau memang benar-benar jenius," puji Yudhar berbangga hati membanggakan Sean.


Kunci yang keluar dari kendi kecil itu membuat mereka terpana. Bahkan Sean harus mengakui keunikan teka teki yang di buat para nimfa. "Jadi ini maksudnya kata 'kucing menghilang." Ucap Sean sudah memahami pokok misteri.


"Jangan-jangan yang di maksud oleh kata di telan lubang adalah lubang kunci ini." Jessica mulai menyambung pada ide-ide hebat Sean.


"Yah benar. Kunci dan lubang kunci di pintu itu saling berkaitan. Tidak tahu apa yang terjadi di dalamnya, simbol kepala singa itu sama seperti kepala kunci ini. Mereka sama-sama berkepala singa." Pungkas Sean memberitahu Jessica.


"Aku sangat berharap bahwa itulah kuncinya. Aku sudah muak dengan misteri di kota ini." Kata Jessica yang masih saja bersikap apatis dengan ego tak bisa merendah walau untuk sesaat.


Tidak peduli dia selalu mencemooh ide gila keduanya. Jessica kini beralih mengikuti alur keduanya.


Rasa penasaran mulai menyelimuti perasaan ketiga anak itu. Mereka ingin melihat kejadian apa selanjutnya yang akan di tunjukan oleh pintu itu setelah mereka membuka panel kunci.


"Aku menebak bahwa di dalam sana adalah tempat yang sangat cantik." Jessica berbicara sesumbar seakan dia lah yang paling berjasa menemukan semua misteri ini.


Seperti sebelumnya Yudhar sekalu berseberangan dengan Jessica. "Ya, kau paling hebat dalam menebak." Tukas Yudhar mengolok-olok nya.


Perlahan pintu mulai terbuka. Dan suara keras mulai berbunyi dengan sendirinya.


CEKLAK


Pintu terbuka membuka lebar. Sinar putih menyambut kedatangan anak-anak bahkan sangking putihnya sinar itu tak sanggup bagi Sean dan kawan-kawan untuk melihat ada apa di balik pintu itu.


Mereka menutup mata dari sinar terang ini melalui lengan-lengan mereka. Tetapi sayangnya, justru terbukanya pintu itu di ikuti dengan guncangan keras melanda manor usang ini. Gempa, seperti itulah yang Sean dan sahabatnya rasakan.


"Sean, ini gempa." Teriak Jessica. Tubuh mereka terguncang dan ingin mencari perlindungan.


Dia merayap-rayap meraba dinding tua manor. Mencari perlindungan di tempat aman. Cahaya putih bersinar terang di ikuti guncangan sedikit hebat ini, memaksa anak-anak lari menjauh dari pintu itu.


Mereka lari tunggang langgang meninggalkan cahaya tanpa memastikan apa yang terjadi di dalam pintu.

__ADS_1


Tepat di anak tangga menuju ke lantai utama, manor tua ini perlahan berubah. Seperti ada sihir yang mengubah tempat ini, manor usang tak berbentuk kini menampakkan sesuatu yang sangat indah.


Tangga yang di pijak anak-anak yang sebelumnya adalah lantai papan yang hampir lapuk di makan usia, kini berubah menjadi cantik dengan. Karpet merah menjalar sepanjang tangga.


Tanaman rambat yang merusak bagian bangunan perlahan tertarik keluar. Dinding-dinding manor yang berlubang perlahan tertutup sempurna di gantikan dinding berlapis emas.


Suara runtuh mengikis dinding manor terdengar makin keras seiring berubahnya bangunan usang ini menjadi manor emas.


Anak-anak seakan tidak percaya apa yang baru saja mereka lihat. Cerita yang di ungkapkan oleh Driyad nyata adanya. Manor nimfa ini benar-benar adalah emas yang tak terlupakan.


Mata anak-anak membelalak tak karuan mengikuti alur perubahan langit-langit manor yang sebelumnya bangunan tua kini menjadi manor emas. Siapa yang akan percaya hal semacam ini ada. Tetapi Sean dan para sahabatnya telah melihat secara langsung.


"Ini emas!" Seru Jessica takjub.


Tidak ada kata-kata lagi yang bisa di ungkapkan oleh Jessica selain terpesona. Kemilau emas menyuguhkan pemandangan lain dari tempat ini.


Tempat yang semula redup dan berlampu remang-remang kini berubah menjadi lebih bercahaya akibat Kilauan emas. Para nimfa yang terbang kesana kemari kini menghilang seiring cahaya di manor ini mengubah penampilan bangunan lapuk.



Dan di balik pintu yang mereka tinggalkan tadi nyatanya membuka sebuah misteri lain. Kejeniusan Sean dalam membuka rahasia manor tua ini ternyata membangunkan seorang Dewi cantik yang tertidur ribuan tahun.


Dari pintu itu tersembunyi peti mati yang berdiri tegak besar layaknya sebuah lemari. Peti berukuran khas dengan warna cokelat sedikit gelap. Perlahan peti itu terbuka dan seseorang keluar dari dalamnya.


Tidak lama setelahnya, dia menghilang di tengah sinar putih yang menyilaukan mata anak-anak tadi. Mereka tidak sempat melihatnya karena sinar itu sulit di tembus oleh mata mereka.


Konsekuensinya adalah menyebabkan kebutaan karena cahayanya lebih terang dari cahaya matahari. Atau bisa berbahaya lebih dari melihat gerhana matahari.


Anak-anak tidak bisa menyembunyikan rasa takjub akan manor emas milik nimfa ini. Seisi bangunan berubah total meninggalkan lusuhnya bangunan setengah berkarat tanpa keindahan sedikit pun.


"Jangan katakan bahwa ini mimpi." Kata Jessica yang tidak pernah percaya pada apa yang ia lihat. Dia tidak bisa mempercayai segala sesuatu yang nampak di matanya begitu saja.


Walau dia takjub tetapi dia ingin memastikannya lebih dahulu, ini mimpi atau hanya ilusi semata.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2