
Sean mendekati batu permata itu. Tak ada siapapun di lembah air mata ini. Itulah kenapa, Sean merasa jalannya sudah tak ada halangan. Tak ada yang menggangu saat-saat yang Sean harapkan ini.
Ketiga pria di belakang Sean, hanya memperhatikan punggung yang berjalan tegap sempurna itu. Rasanya, semudah ini berjuang bersama Sean.
“Tidak ku sangka. Ternyata, jalan kita mendapatkan permata itu sangat mudah. Aku pikir, kita akan menemukan kesulitan berarti,” tutur Driyad senang.
Amuria mengerutkan keningnya, melirik sosok Driyad yang sedang bernostalgia pada jalan mereka yang panjang.
“Mudah mengatakannya. Tapi sulit untuk di pahami.”
“Ya, setidaknya begitu. Aku sangat berharap, takkan ada lagi halangan yang menerjang perjalanan kita.”
Driyad melipat kedua tangannya. Tak ada lagi yang mereka cemaskan saat ini, kecuali memperhatikan Sean yang sedang mengarah pada permata merah delima itu.
Crypto, dia melirik kedua temannya. Kemudian angkat bahu, kakinya terabaikan untuk meninggalkan keduanya. Mengekori Sean, Crypto agak apatis pada keduanya yang sedang berbincang.
“Tidakkah kau berpikir, kalau Crypto terlalu ketus. Aku sebal pada sikapnya yang dingin.”
Amuria menyikut bahu Driyad, usai memandangi punggung pria berambut putih panjang itu, dia ikut menyusul dari belakang. Tak lupa, Driyad juga berjalan sejajar dengan Amuria.
“Kau terlalu berlebihan dalam menilai orang lain. Lupakan masalahmu dengan Crypto, atau kau akan di pukulnya hingga kau meminta ampun.”
“Hei. Dia takkan sekejam itu!” protes Driyad.
Amuria menyungging sinis. Dia tak tahu apapun, kecuali diam.
Setibanya di dekat Sean, Crypto berkomentar. “Pangeran. Apakah ini terlalu mudah untuk di ambil!”
“Aku pikir demikian!” jawab Sean. Sama seperti Crypto, Sean merasakan sesuatu yang aneh. “Semoga, ini sesuai dengan apa yang kita harapkan.”
“Benar pangeran. Kita semua berharap ini awal yang baik. Tapi, tidakkah ini terlalu umum. Tak ada penjagaan, seakan permata ini memang di peruntukkan untuk engkau.”
Sean mengangguk. “Seperti ucapanmu. Semoga ini, adalah jalannya yang terbaik.”
Crypto memang cemas, Sean pun demikian. Tapi, tak ada gunanya berpikiran yang tidak-tidak. Seharusnya, begitulah yang terjadi.
“Pangeran. Bentuknya sangat luar biasa. Apakah kau merasa kalau permata merah delima ini benar-benar memiliki sebuah energi yang kuat?” Driyad ikut berkomentar. Dia ikut takjub pada benda itu.
“Aku tahu. Tapi sulit memahami apa yang terjadi pada benda ini jika kita ambil.”
Lagi-lagi, Sean membalas setiap komentar dengan ucapan yang agak ragu. Sean tak begitu pandai menerka lebih jauh akan rahasia yang ada di batu itu. Kecuali, mengira-ngira, kalau benda itu ada sisi magisnya.
“Semua akan di jelaskan nanti, jika pangeran sudah mengambilnya!” Amuria berinisiatif.
Yang membuat Sean setuju pada ucapan itu. Sebenarnya Sean masih ragu, bagaimana dan apa yang akan terjadi jika dia berhasil mengambil benda itu.
Tapi, Sean tak begitu memikirkan hal ini. Yang terpenting bagi Sean adalah, dia telah berhasil mendapatkan benda penting itu.
Tak ada penjagaan khusus dari permata itu. Bahkan tak ada satu sihir pun yang melindunginya. Dengan leluasa, Sean meraih benda merah yang menyala itu.
Ukurannya sebesar telapak tangan. Usai mengambilnya, Sean menyembunyikan benda itu dibalik bajunya.
“Ayo kita pergi,” ajak Sean pada ketiga pengawalnya. “Kita telah menuntaskan misi. Kita harus segera kembali ke istana.”
“Dengan senang hati, kami menuruti perintah pangeran!”
Amuria membungkuk, bak seorang ksatria yang berwibawa.
Jalan Sean yang tegap, kembali dia menjadi yang terdepan. Tetapi, baru beberapa langkah saja dia berjalan. Seorang datang, melalui sebuah cahaya kuning.
Cahaya itu muncul dari balik patung besar lainnya. Tak lama kemudian, sosok itu muncul, di ikuti dengan tawa yang angkuh.
“Ehm. Lausius rupanya. Memiliki keberanian datang ke kuil ini. Maka, memiliki keberanian pula untuk lepas dari genggamanku!”
“Zurry!”
Zurry melahai terbahak-bahak ketika Sean menyebut namanya dengan lantang. Bahkan terkejut, membuat Zurry makin berbangga diri.
“Pangeran. Kau hampir lupa. Aku juga masih hidup. Bagaimana bisa kau datang ke tempat ini tanpa diriku!”
“Apakah kau mengikuti kami. Sejak kapan kau melakukannya?” Amuria menyahut bertanya, dia mulai tersulut berang pada pria itu.
Zurry, dia terbang beberapa meter dari hadapan Sean. Menurut Zurry, ini agak lancang ketika Amuria berani menyelanya. Tapi, itu tak membuatnya ikut dalam kemarahan, justru dia semakin tertantang untuk membasmi para pria tak berguna itu.
“Sebenarnya. Aku ingin jujur,” kata Zurry ingin mengakui. “Bahwa sebenarnya aku datang kemari karena melihat jejak kalian di dalam hutan salju. Dan ya, aku akui jika aku sangat terobsesi dengan pangeran Lausius. Kalian sudah tahu kalau aku adalah pria paling ambisius.”
“Dan keinginan mu hanya satu, yaitu pangeran Lausius!” timpal Driyad. Mencabut pedangnya, dia berusaha menyerang Zurry lebih dahulu, tapi Crypto menarik pundaknya lebih cepat.
__ADS_1
“Jangan gegabah. Biarkan dia berkata semaunya. Kau jangan tersulut akan permainannya!” tegas Crypto memperingati.
“Tapi aku perlu membuatnya berhenti untuk tidak mengikuti pangeran!”
“Biarkan aku yang menyelesaikan semua ini,” sahut Sean pada percakapan Crypto dan Driyad. “Kalian semua tanggung jawabku. Biarkan aku yang melakukan semua ini.”
“Tapi pangeran. Ini tidak adil untuk pangeran!”
Sean melirik Driyad. “Jangan khawatir. Aku yakin, aku bisa membuatnya berhenti melakukan semua perbuatan yang telah dia lakukan selama ini.”
“Haha ..., Lausius. Sebelumnya, kau berhasil mengalahkan aku. Juga membunuh adikku, Zumirh. Apakah kau tak menyesali perbuatanmu? Terlebih, kau pintar dan licik. Sebaiknya, kau bersiap-siap meminta pada dewa di langit agar mengampuni mu.”
“Apakah atas sebuah dosa?” sambar Sean bertanya.
Zurry kembali tersenyum picik. “Dosamu sebagai seorang Lausius adalah, telah membunuh makhluk yang tak sepantasnya kau bunuh. Jadi, seharusnya kau memahaminya Lausius!”
Mata Sean memicik ketika Zurry terbang mendekatinya. Pedangnya ingin menyangsang Sean. Namun, Sean menyadari hal itu.
Dengan segera Sean berhasil menghindar. Pedang tajam Zurry berjarak satu senti dari pelipis matanya.
Sean terdorong mundur hampir tersungkur. Karena kesigapannya, Sean berhasil berdiri dengan kuda-kuda membungkuk.
Berdiri tegap, Sean mengeluarkan pedangnya menggunakan sihir. Di ikuti dengan sayap emas itu mengembang sempurna.
Zurry terperangah. “Sayap Phoenix!” ucapnya terkejut. “Sayap burung surga itu. Bagaimana dia bisa mendapatkannya. Bukankah sayap itu hanya sebuah cerita leluhur yang tak berdasar. Bagaimana bisa sayap itu ada yang memilikinya.”
Seakan tak percaya, Zurry di buat terdiam sesaat. Apa yang bisa dilakukan oleh Zurry? Hanya bisa ternganga melihat kepakan sayap yang besarnya dua kali lipat dari sayap cahaya yang dia miliki. Dia tahu, sayap itu memiliki kekuatan yang tak sebanding dengan sayap biasa.
“Kau inginkan aku menjadi milikmu. Baiklah, aku akan mengabulkan semua keinginanmu!”
Mengangkat pedangnya, Sean menyerang Zurry. Pria yang ada di hadapan Sean, jelas dia tak bisa mundur. Satu hal yang paling di benci oleh Zurry yaitu mundur saat menantang. Dan ini saatnya, Zurry tak bisa membuang tenaganya lagi, hanya untuk memburu Lausius.
“Hiya ....”
Suara Sean yang memekik di atas Zurry, membuat pria ini menangkis pedang yang siap menanggalkan kepalanya.
Suara dentingan pedang Zurry dan Sean, sangat nyaring. Keluar kekuatan dari kedua pedang yang sedang bertemu itu.
Zurry, sekuat tenaga mencoba menangkis kekuatan serangan dari Sean. Karena begitu dahsyatnya tenaga anak itu, kuda-kuda kaki Zurry nyaris tertekuk.
Zurry menyeringai tersenyum miring, saat Sean berhasil di pukul mundur.
“Kau kira bisa semudah itu mengalahkan aku. Mimpi saja kau Lausius tak berguna!”
Belum usai terdengar suaranya berkata di telinga Sean, Zurry terbang secepat kilat menuju ke arah anak itu. Kecepatannya tak terhingga, menebas pedangnya sembarangan ke arah leher Sean.
Beruntung kornea mata bercahaya Sean cepat menangkap bayangan Zurry. Sehingga Sean berhasil menahan pedang yang nyaris memenggal kepalanya.
“Dia kuat. Bagaimana ..., itu bisa ....”
Sean hampir tak bisa menahan kekuatan Zurry. Sungguh, kekuatannya tiba-tiba meningkat drastis. Jauh dari apa yang Sean pikirkan.
Zurry makin bersemangat mengalahkan Sean, apalagi tenaga Sean terasa makin melemah walau ada sayap Phoenix yang menjadi tameng untuk anak itu.
Zurry melepaskan serangan pedangnya, lalu menghilang dari hadapan Sean. Tak lama, Zurry kembali muncul, namun kali ini datang dengan kecepatan penuh.
Dia memutarkan tubuhnya, mengelilingi Sean. Membentuk sebuah tornado, membuyarkan konsentrasi Sean. Sean tak tahu dimana tubuh pria itu berada, yang Sean lihat dia di kelilingi oleh bayangan tubuh secepat angin, selembut salju.
“Dia ..., kekuatan apa ini?”
Sean kebingungan. Dasarnya, Sean tak memahami kekuatan dari Zurry. Bahkan, untuk menyerangnya pun, Sean ragu.
Melihat Sean hilang dibalik bayangan hitam tubuh Zurry, ketiga pria pengawal Sean memasang ekspresi cemas.
“Celaka. Bayangan ini, bagaimana pangeran bisa mengatasinya.” Amuria, dia sungguh sangat gusar.
“Apakah perlu kita bantu pangeran?” saran Driyad.
“Tidak,” balas Crypto membantah. “Kita lihat sebentar lagi. Apakah pangeran bisa mengatasinya. Jika tidak bisa, maka kita akan membantumya.”
Kembali pada Sean. Perhatian ketiga pria itu, masih terpaku untuk tornado yang berputar mengitari tubuh Sean.
Sangat sulit, Sean di buat kebingungan saat bayangan itu terus berputar tanpa henti.
“Jalan satu-satunya, aku harus menebas sembarangan!”
Pikir Sean demikian. Tanpa negosiasi, Sean menghujam pedangnya pada tubuh Zurry. Seketika, tornado dari bayangan tubuh Zurry, menghilang. Tapi sayang, itu tidak berhasil.
__ADS_1
Zurry terlihat baik-baik saja bahkan dia makin lincah. Tersenyum, seakan permainan ini baru saja di mulai.
“Lausius. Selamat tinggal!”
Teriakan Zurry, di ikuti serangan kecepatan yang amat tak bisa terkontrol. Membabi buta, pedang Zurry menghajar Sean.
Kecepatannya tak bisa di prediksi, kadang menghilang dan muncul kesana kemari. Sean, yang dia lakukan hanya menahannya. Mata Sean agak jeli, tapi ini berakhir.
“Matilah kau Lausius!”
Teriakan Zurry itu, membuat Sean terpental saat pedangnya menghantam tubuh Sean. Sean terjatuh, begitu keras.
Tubuhnya menghantam dinding batu, juga menciptakan kerusakan berarti di sana. Batu-batu itu terbelah, tumpukannya menimbun tubuh Sean.
“Pangeran!”
Amuria bergegas menuju ke arah Sean. Di ikuti kedua rekannya. Amuria membongkar bebatuan, mencari tubuh Sean yang tertimbun.
“Pangeran!” Amuria berteriak histeris.
Crypto makin sumringah, Sean berhasil di buatnya terpental. Dia terbang mendekati Sean yang di hampiri ketiga pria tak berguna di mata Zurry.
“Lausius. Kau akhirnya bisa aku lumpuhkan. Begitu sulitnya aku membuang-buang tenaga dan waktu ku selama ini, hanya karena mengejarmu. Namun, malam ini. Oh, sungguh ini malam keberuntungan ku. Haha ....”
Tertawanya sangat bahagia, seakan seisi dunia dan langit sedang me-rahmati dirinya yang sedang beruntung.
Sementara itu, Crypto tak bisa membuang waktu untuk mengeluarkan tubuh Sean dari tumpukan batu itu. Berkat bantuan kekuatannya, dia memindahkan bebatuan itu, dan dalam sekejap tubuh Sean mulai nampak.
Dia tak sadarkan diri, tubuh Sean makin melemah. Matanya terpejam, hanya sinar di tubuhnya yang benderang.
Tangan Crypto memegang dada Sean. “Pangeran masih bernapas. Dia sepertinya terluka,” katanya setelah memeriksa detak jantung Sean.
“Apakah ini akan mengakibatkan luka yang cukup parah!” tanya Driyad.
“Aku rasa, karena terlalu kuat menerima pukulan dari Zurry, tubuh pangeran mengalami luka yang sulit di jelaskan. Aku tak tahu, kekuatan apa yang di gunakan oleh Zurry. Dia tiba-tiba bisa menjadi lebih kuat. Juga bisa meningkatkan kekuatannya dalam sekejap. Aku yakin, Zurry telah merencanakan hal ini jauh-jauh hari.”
“Apakah ini adalah kekuatan rahasia Zurry?” sahut Amuria menebak.
“Kita akan tahu nanti. Tapi, kita harus membantu pangeran dahulu. Dia ....”
“Pangeran!” sebut Driyad terkejut.
Crypto tak bisa melanjutkan lagi ucapannya, saat Sean tiba-tiba membuka matanya. Sorot mata itu tajam, mengarah pada Zurry. Zurry yang terbang di hadapan Sean, terbelalak kaget.
“Bagaimana bisa dia hidup kembali. Kekuatan ku, bahkan Tak ada satupun yang bisa menandingi kekuatan ini. Tapi kenapa dia bisa mematahkan kekuatan dahsyatku!”
Zurry merasa ada sesuatu yang aneh dari tubuhnya. Bukan tubuhnya, tapi kekuatannya itu yang menjadi sumber pertanyaan Zurry. Memandangi Sean, anak itu menyorotinya tajam, seakan siap menghunus dirinya.
Benar saja, dalam hitungan detik Sean bangkit. Kepakan sayap emas itu melebar sempurna, dan pedangnya mengarah ke Zurry.
Sama seperti yang dilakukan oleh Zurry tadi, Sean menyerangnya dengan kecepatan tinggi tanpa aba-aba. Suara dentingan pedang Zurry menangkis setiap serangan Sean.
Benar-benar cepat, Zurry saja di buat keheranan dimana tubuh Sean berada.
Dan buruknya, Zurry kalah telak. Sean menerjang dada Zurry, sampai membuat pria itu mengalami nasib yang sama—seperti yang Sean alami. Tubuh Zurry menghantam patung besar yang berdiri kokoh.
Patung itu roboh, begitu kuatnya terjangan Sean. Beruntung, patung itu roboh tak menimpanya, tapi patung itu roboh ke arah Sean.
Sean menahan beratnya massa patung, hanya dengan satu tangan. Tubuh Sean bercahaya, tapi dia terus memandang Zurry yang terduduk lemas.
“Aku tak akan membunuhmu. Anggap saja, kali ini kau beruntung!” ujar Sean memperingati.
Sean membanting patung besar itu dari tangannya. Berbalik, Sean meninggalkan pria yang hampir sekarat itu.
Zurry, di sela-sela tubuhnya yang terkulai lemah. Merogoh pakaiannya, Zurry mengeluarkan sebuah senjata rahasia. Benda kecil itu mata tajam, dan di setiap sisi benda itu berisi racun.
Senjata andalan Zurry ini, memiliki lima mata pisau. Setelah mengeluarkan senjata rahasia itu, dia melemparnya ke arah tubuh Sean.
“Pangeran!” Amuria berteriak.
Sean menoleh. Sayap Sean terbuka, menjadi tameng saat senjata itu menyangsang bahunya. Beruntung, senjata itu tak ada apa-apanya dengan kekuatan dari sayap yang Sean miliki.
“Dia ....”
Zurry hening, tak berkata apapun lagi.
††††
__ADS_1