Adventure Of Lord Lausius

Adventure Of Lord Lausius
Episode 132


__ADS_3

Ilustrasi



Ilustrasi kuil ular, semoga sukak.


_____________________________________________


Pria tua di hadapan Sean tersenyum tipis, membuat kumis yang menggantung nampak seperti sedang bahagia.


Sean mengerjapkan matanya hingga berkali-kali, mulutnya ternganga membentuk huruf O sempurna. Ya, Sean tak bisa mengabaikan wajah tua Lord Shutanhamun. Walau Sean tak begitu mengenalnya, namun Sean beberapa kali menarik kesimpulan kalau dia...... Dewa.


“Apakah kau dewa?” tanya Sean polos. Matanya berbinar, membuat si tua di depannya tersenyum sipu.


“Kau yakin jika aku seperti itu?”


Sean mengangguk. “Lebih dari apapun.”


“Namun aku bukan dewa.” Pria tua itu menggeleng. Sean mencebikkan bibirnya, matanya membulat besar. Pandangannya kalap, jengah terkejut.


“Lalu, kau siapa? Jika kau bukan dewa?” tanya Sean lagi. Anak ini makin penasaran, apalagi Surai rambut putihnya mengundang banyak pertanyaan dalam benaknya.


“Aku hanya seorang petinggi di tanah surgawi. Seseorang yang di agungkan banyak orang, namun aku bukan dewa.”


“Jika kau bukan dewa, lalu kenapa kau mau bertemu dengan ku. Bahkan aku sendiri tidak tahu, apakah harus berbangga ketika melihat mu, ataukah aku harus merendahkan diri. Kau adalah orang yang di agungkan banyak orang, lalu untuk apa kau bertemu dengan ku!”


“Kau....”


“Iya. Siapa aku?” sambar Sean. “Apakah aku punya alasan khusus bertemu dengan ku!”


Si tua berjalan pelan, mencoba menguasai keadaan. Sesekali dia menarik napas berat, kemudian memutar tumitnya, membelakangi Sean. Satu tangannya mengibas ke udara, sehingga nampak sebuah gambar...... Melayang di udara. Semacam..... Gambar pemanggil mimpi. Entahlah, Sean tak mengerti, bagaimana dia melakukannya. Yang jelas, Sean mengakui kekuatannya.


“Wow...” Sean ternganga terkejut. Hebat, bahkan Sean tak tahu sihir apa yang di gunakan oleh Tuan agung, sampai-sampai dengan mudahnya dia mengeluarkan gambar hanya dengan sekali merentangkan tangannya.


“Kau, Ibu mu, juga Ayah mu. Kalian di sudah di takdirkan menjadi ksatria yang akan melayani tanah surgawi.”


Seperti bioskop, seolah ada remote kontrol yang mengontrol setiap gambar yang di tunjukan oleh sihir hebat itu.


Pria tua itu dengan mahirnya menunjukan berbagai gambar, di mana Sean terlihat jelas seperti..... Ksatria. Ya, Sean tahu itu. Tetapi konyol jika Sean seorang ksatria yang tangguh, sementara tubuhnya kurus, kecuali tambahan. Perutnya keras, kekar, dan sedikit berotot walau menurut Sean kurus untuk seukuran pejuang di Medan perang.


Oh, Sean sedikit ingat. Orang-orang di komplek perumahannya, sering mengatakannya amat tampan. Sean seringkali mendengar pujian itu. Akan tetapi bagi Sean, dia tak begitu. Dia jelek, bahkan tak begitu menawan seperti yang di katakan kebanyakan orang.


“Oke, aku tidak peduli kau berkata apa,” Sean berkata, dia menyamakan posisi berdirinya, tepat di sebelah pria tua itu, Sean berusaha ikut mencairkan suasana. “Aku hanya ingin kau keluarkan aku dari tempat aneh ini. Aku sudah cukup mendengar ocehan mu!”


Pria tua itu lagi-lagi mendengus tersenyum, tangannya mengusap lembut jenggot tebal nan panjang beruban itu. Menatap Sean, semua orang melakukannya di tempat ini. Di mana Sean seharusnya tidak bertemu dengan orang-orang aneh ini.

__ADS_1


“Kau tidak ingin ikut dengan ku dahulu, mengelilingi istana di atas surga ini?” tanya pria tua itu.


Sean menggeleng. “Aku tidak mau menuruti kemauan mu. Sebaiknya kau kembalikan aku, bertemu dengan Ibu dan Ayah ku.”


“Secepat ini?”


Sean mengangguk. “Aku sudah bosan melihat orang-orang aneh, tempat aneh, dan semua yang aneh. Aku ingin segera meninggalkan tempat yang tidak masuk akal ini.”


“Kau yakin?”


Sean mengangguk lagi. “Lebih dari yang kau tanya.”


“Baiklah. Kalau begitu, kau boleh pergi jika itu kemauan mu.”


Hah... Sean terperangah. Bahkan Sean hanya sesumbar, namun segampang itu pria tua ini berkata, menuruti kemauannya. Dia mengabaikan Sean, lebih sering peduli pada rambut yang menggantung di dagunya.


Dia berkata santai. Tidak biasanya. Ketika di Nebula, bahkan dia tidak ingin aku pergi. Tetapi kenapa sekarang dia justru....


“Kau tidak menahan ku?”


Pria tua itu tersenyum picik, setelahnya, dia membalikkan badannya, membelakangi Sean lagi. Tak ada keraguan sedikitpun dari wajah itu, Sean mampu menilainya.


“Aku tidak berhak menahan mu di sini. Kau ingin pergi, maka aku tak bisa menahan mu.”


Benar. Dia tidak mau menahan ku. Si tua ini amat acuh pada ku sekarang. Dasar pria tua tidak berguna. Dia tidak mengerti apapun tentang diri ku.


“Bukan salah ku. kau yang meminta.”


Ya, Sean tahu itu. Bukan berarti, jika permintaannya harus di penuhi. Bukankah, setiap permintaan, tentu bisa di Kabul atau tidak. Seharusnya dia bertanya dahulu, apa alasannya.


Bahkan si tua tidak bertanya dahulu kenapa Sean melakukannya. Ingin cepat-cepat pergi dari tempat ini. Dia tidak melakukannya, dia hanya peduli pada satu hal. Yaitu jenggot itu, Sean sebal padanya. Sesekali Sean beride, ingin membakar atau mencukur habis rambut putih itu.


“Aku pergi sekarang. Kau jangan menahan ku!”


Sean meninggalkan si tua seorang diri. Pria tua itu masih sama, tak menoleh ketika Sean pergi. Sesekali Sean menoleh ke arah pria tua, namun tak ubahnya dia tak menahan Sean. Sampai langkahnya menjauh dari si uban putih.


“Aku kira, dia akan melarang ku pergi dari sini. Ternyata, dia tak melakukannya,” kata Sean berharap.


Sean mengambil jalan—layaknya benteng istana. Di sisi kanan kiri Sean ada awan, sementara di bawah istana, adalah pemukiman yang mengapung di udara. Bisa di bilang ini adalah jembatan seperti yang banyak di bangun di kota-kota terkenal.


Di Eropa, ya, Sean ingat. Dia pernah melihat jembatan yang di bangun menggunakan tumpukan batu. Sama seperti sekarang, Sean menemukan hal serupa di sini. Tetapi bukan jembatan khas Eropa yang Sean dapatkan. Hanya replikanya saja.


“Aku harap, aku tidak berada di Belanda.”


__ADS_1


****



****


Pandangan Sean fokus kedepan, dari jauh, Sean melihat seseorang yang amat dia kenal.


“Jessica?”


Sean menyipitkan matanya, dia yakin itu Jessica, gadis yang kini di bawa pergi oleh orang-orang berbadan besar. Mungkin prajurit.


“Benar. Itu Jessica,” ucap Sean dengan keyakinannya. “Jessica!” teriak Sean.


Sean mencoba mengejar bayangan gadis yang kini hilang di balik kabut yang pekat, menutupi jalannya.


“Jessica! Ini aku, Sean!”


Sean berlari cepat, dia ingin meraih gadis itu—agar tidak terpisah dengannya. Sean tidak mau kehilangan sahabatnya itu lagi. Apapun yang terjadi. Bagi Sean, cukup Eed saja yang menghilang, Jessica tidak.


Akan tetapi, karena Sean tak melihat pijakan jalan yang dia lalui, Sean tak sengaja terperosok ke bawah—ketika jalan kecil bebatuan yang di pahat sempurna itu terbelah secara tiba-tiba.


“Akh.... Jessica!” teriak Sean menggema.


Beruntung, Sean tidak langsung terjatuh ke bawahnya, akan tetapi Sean dengan sigap tadi langsung mendaratkan tangannya di ujung jalan yang terbelah ini. Sean bersusah payah ingin ke atas, sementara di bawah Sean adalah...... Ah, seram. Sean tak bisa mendeskripsikannya dengan spesifik.


Ketika menoleh ke bawah, Sean menyaksikan kalau di bawahnya adalah langit. Yang bahkan, jika Sean terjatuh kesana, Sean yakin, dia akan mati. Ngeri, apalagi ini adalah ketinggian. Ya, istana ini berdiri di atas langit, awan menyelimuti tempat seindah ini.


“Tidak. Aku tidak boleh mati di sini. Aku harus bisa menemukan Jessica dan Eed!”


Ketika dua nama itu membayangi pikirannya, Sean makin semangat untuk naik ke atas. Dia tidak bisa mengabaikan keselamatannya saat ini. Walau dengan susah payah, Sean harus keluar dari kesusahan yang menguji dirinya ini.


Sean mendongak, saat melihat ke atas, Ligong, dia....


“Ligong, kau.....”


ROARK!!!


“Akh.....”


Sean tak menyangka, makhluk hitam itu bukan membantunya. Justru dia menakuti Sean dengan moncongnya yang mengerikan, membuat Sean terkacau, lalu melepaskan pijakannya pada ujung jalan berbatu yang terbelah, seketika Sean akhirnya terjatuh ke bawah. Akibat kaget, Sean sampai lupa untuk terus bertahan.


Melayang di udara, bahkan sayap Sean saat ini tak bersahabat. Sean terdorong jatuh, seolah ini adalah akhir dari perjalanannya.


“Ibu.......”

__ADS_1


TBC


__ADS_2