Adventure Of Lord Lausius

Adventure Of Lord Lausius
Episode 90


__ADS_3

"Sean!" Jessica berteriak, cengkraman mosarus membawanya melayang di udara.


"Bertahanlah Jessica, aku akan membantu mu!"


Belum cukup tinggi makhluk itu terbang, hanya berada di sekitar puluhan meter di atas udara. Sean tak mau kehilangan sahabatnya lagi, oleh karena itu, menyelamatkan Jessica adalah sebuah keharusan. Atau, dia akan berakhir seperti..... Yudhar yang malang, bisa jadi Eed yang tak pernah kembali.


Sean bisa membayangkan seperti apa nanti jika dia harus terpisah dari ketiga temannya itu.


Kebetulan busur panah yang selalu menempel di punggung Jessica terjatuh, dengan cepat Sean mengangkat anak panah itu lalu membidiknya di dada mosarus. "Kali ini, aku tak akan membiarkan kau mengambil teman-teman ku!" Sean berambisi, penyesalan terbesar dalam hidupnya adalah jika tak mampu bertanggung jawab.


Hanya pecundang yang tak bisa menepati janji, -- Sean tidak mau menjadi pecundang yang tak bisa membawa kembali Eed dan Jessica, sekalipun Yudhar. Dia ambisius, harus baginya mengembalikan Eed, Yudhar pengecualian. Anak itu sudah tewas di terkam mosarus, dia bukan bagian dalam misi Sean lagi.


SIT!! Dan tepat di sasaran. Bidikan Sean menancapkan anak panah tajam itu di dada makhluk setengah elang, setengahnya lagi entah apa. Sean tak paham. Mengenai bagian dadanya.


Makhluk itu tersungkur, panah milik Dewi Handita beracun. Mosarus, dia harus menerima kenyataan bahwa mati mengenaskan di tangan Sean.


Beruntung, saat Jessica terjatuh bersama dengan mosarus, dia menopang di bulu-bulu tebal itu.


Bruk!! Tubuh besar burung pembunuh dari selatan ini terjatuh di tanah. Ehm, lebih tepatnya.... Di rerumputan menjalar di kebun buah semangka raksasa.


"Huh.... Syukurlah!" Sean mengembuskan napasnya. Menyeka keringat, duduk sebentar, menyandarkan punggungnya di tubuh makhluk yang baru saja mati itu. "Hampir saja aku mati!"


"Kerja yang bagus bung!" Jessica merangkak perlahan, dia agak lemah, keluar dari bulu-bulu tebal itu. Lalu menggulingkan badan, sebentar kemudian dia menelentangkan badannya di atas bulu-bulu mosarus itu, menatap langit-langit di atas.


"Kau baik-baik saja, bukan?" tanya Sean.


"Jauh dari yang kau pikirkan!" sahut Jessica. Lalu turun, duduk di sebelah Sean.


Keduanya duduk menyandarkan punggung di tubuh mosarus. Mengambil nafas, tadi mereka merasa agak takut, meskipun tak se-takut dulu.


"Kau ahli dalam menggunakan panah," singgung Jessica. "Seperti pemanah profesional."


"Mungkin bakat ku terlalu banyak, sampai-sampai semuanya aku kuasai." Sean membual dengan kekonyolan.


Dari atas, mereka pikir tadi itu hanya satu mosarus. Namun, ada puluhan lagi yang datang ingin menangkap mereka.


Sean mendongak ke atas saat ada suara parau burung-burung pemangsa itu.


Dan ya, matanya tak mampu berbohong. Mungkin karena melihat tubuh besar makhluk yang mereka sandar itu, sehingga kawanannya turun. Mereka berpikir itu mangsa.


"Kita harus lari!!" kata Sean. Di tatapnya wajah Jessica, terlihat gadis itu mengangguk.


Saat mereka akan lari, tepat di depan mereka, mosarus menapaki bumi. Seketika keduanya terhuyung kaget. "Mereka datang, Sean!" gumam Jessica memberitahu. "Haruskah kita menyerang mereka!"


"Tak ada pilihan lain," Sean setuju. Dari punggungnya, Sean mencabut pedang besar berwarna merah itu. "Kita harus menuntaskan kebengisan ini."

__ADS_1


Jessica siap membidik dengan panahnya. Sean terlalu semangat, Jessica menyukainya. "Kau butuh berapa mangsa?" tanya Jessica.


"Sebanyak mungkin," balas Sean. "Atau, aku sendiri yang akan membunuh mereka semua."


Jessica yang tengah fokus dengan bidikannya, berhenti membidik. Memukul bahu Sean pelan, menatapnya kesal. "Kau terlalu ambisius," gerutunya sebal. "Meskipun aku seorang wanita, aku juga butuh kesenangan ini."


"Ku pikir kau tak suka bertarung," Sean meliriknya sekilas, Jessica terlihat agak memasamkan wajahnya. "Kau wanita yang lemah."


"Hei bung, aku ini si pemberani. Jangan kau mengatakan aku seperti itu." Jessica membantah, tapi di depannya, mosarus sudah menerkam.


"Awas," Sean mendorong Jessica. Cakar hewan itu hendak menancap di tubuhnya tadi. Secepat kilat, Sean menghunuskan pedangnya di kaki mosarus, hingga kaki makhluk itu putus.


ROAR!! Hewan itu meraung-raung, kemunginan dia merasa kesakitan. Kakinya putus sebelah, sehingga jalannya meloncat-loncat. Tak lama, mosarus itu terjatuh tak bisa berdiri lagi. Jessica dengan ide konyolnya, menghunuskan anak panahnya di sayap-sayap tak berdaya itu.


Dan, SIT!! satu anak panah cukup menusuk tubuh besar itu. "Aku akan berterima kasih pada anak panah ini, karena memberikan kepercayaan untuk membunuh kalian makhluk jelek."


Dari atas tubuh mosarus yang ada belakang Sean, ada mosarus lagi yang ingin menerkam Sean dengan paruhnya yang tajam. Mosarus itu hinggap diatas tubuh mosarus lainnya yang sudah mati. Jessica peka, dengan cepat dia menancapkan panahnya di mata mosarus.


"Aku rasa, mereka akan lebih banyak sekarang!" seru Sean. Dia mulai waspada, lirikan Sean kali ini harus lebih tajam dari sebelumnya.


Bugh! Bugh! Bugh! Para mosarus menghinggap di tanah. Kali ini lebih banyak. Satu persatu siap menyerang Sean dan Jessica. Kedua anak ini saling membelakangi tubuh, dengan tingkat kewaspadaan yang tinggi.


"Bagaimana ini Sean. Mereka makin banyak!"


"Tetap waspada, jangan sampai mereka menyerang kita tanpa di sadari," balas Sean.


Kepakan sayap mereka sangat kencang, sehingga menimbulkan angin. Walau begitu, Sean tetap melawan. Zrash!! Zrash!! Zrash!! Sean menyayat para mosarus dengan pedangnya. Saat makhluk-makhluk itu mendekati mereka, rasanya sangat menyenangkan bisa berbagi kekejaman.


Jessica tak ingin ketinggalan. Dia juga menancapkan panahnya tepat sasaran.


Puluhan mosarus terkapar tewas, Sean agak puas. Dia berhasil menumbangkan makhluk besar itu.


"Bagaimana Sean? Kau menyukainya?" tanya Jessica.


"Jauh lebih menyukainya," timpal Sean.


Saat keduanya sedang berbincang, tiba-tiba tubuh Sean di sergap oleh mosarus. Mereka tak menyadari kalau ada mosarus lain yang masih hidup. Cengkraman kuat dari kuku-kuku tajam mosarus mengunci tubuh Sean di tanah. Sehingga dia tidak bisa berbuat apa-apa selain meronta melepaskan diri.


Argh!! Erang Sean. Cengkraman itu membuatnya sulit bergerak.


IGH! IGH! Suara itu memekik keras karena berhasil menangkap mangsa.


Cengkraman itu semakin keras saat Sean mencoba melepaskan diri.


"Tenang bung, masih ada aku di sini," Jessica yang melihat semua ini, tersenyum agak ria. Di bidiknya anak panah itu di badan mosarus, satu bola matanya tertutup. Dia ingin fokus pada sasarannya, tapi, belum sempat dia melakukannya, mosarus lain datang. Jessica terkecoh, kali ini dia ikut tertangkap dalam perangkap makhluk besar itu.

__ADS_1


Dengan paruhnya yang runcing dan tajam, baju Jessica di tarik hingga gadis itu melayang di udara. "Oh, tidak! Sean?"


Tubuh yang melayang tinggi di udara itu, menggantung bak pakaian yang di jemur. Dari bawah, Sean menyaksikan ini semua, dia mulai memuncaki amarahnya.


"Jessica!" teriak Sean khawatir.


"Ini bukan saatnya mencemaskan aku Sean," balas Jessica meneriakinya dari atas. "Pikirkan cara melepaskan diri dari cengkraman mereka."


"Tenanglah! Aku akan mem....... Bebaskan....mu!" Sean agak mengerang, sekuat tenaga dia ingin lepas dari cakar-cakar itu. Nafasnya perlahan mulai sulit di tarik, sesak rasanya. Cengkraman itu mencekik tubuhnya.


"Oh, tidak Sean. Busur ku terjatuh!" teriak Jessica dari atas. "Sial!"


Argh!! Erangan itu makin membuat mosarus ini semakin girang. Sean melihat, mulutnya yang tajam itu siap memangsanya. Sean tidak ingin berakhir dalam perut makhluk menjijikan ini, tapi dia tidak bisa melakukan apapun. Sean tidak pasrah pada keadaan, hanya saja, sulit melepaskan diri dari serangan ini. "Apa yang harus aku lakukan!"


Pikir Sean dia akan mati mengenaskan, apalagi paruh mosarus itu makin mendekati wajahnya. Terbuka lebar, ternganga, nafasnya terasa menusuk hidung.


Sean menutup matanya, tak kuasa dia melihat kebiasan mosarus. Saat Sean memikirkan sebuah ide tentang kematian, sekonyong-konyongnya dia berpikir. Tiba-tiba, mosarus yang mencengkeram dirinya terjatuh, tepat di samping tubuhnya.


Brukk! Tubuh besar itu tak berdaya. Uhuk-uhuk. Cengkraman itu membuat Sean hampir mati. Di lihatnya, dia baik-baik saja, hanya....


"Amuria?" Sean terbelalak.


"Kalian tidak terluka bukan?" dari belakang tubuh besar Amuria, Driyad berkata.


Sean masih ternganga takjub, makhluk itu menolongnya. Amuria tak berkata, dia sangat sinis untuk sebuah hewan, bahkan lebih dingin dari hawa cuaca yang menusuk kulit.


"Aku kira kami akan mati menjadi mangsa makhluk ini," Jessica menyahut. Sambil merapikan pakaiannya, dia terlihat baik-baik saja.


"Kalian baik-baik saja?" Driyad memastikan. "Musuh alami mosarus adalah Tuan harimau yang terhormat, "MURIA" yang di juluki sebagai harimau taring panjang." Driyad berkata, mewakili Amuria.


Ada puluhan mosarus yang terkapar tak bernyawa. Sean menendang tubuh-tubuh yang terkapar itu. Memastikan mereka benar-benar sudah berakhir.


Sean melihat salah satu punggung mosarus, di sana terdapat luka yang cukup dalam dan serius. Darahnya menyengat, membasahi jalar daun buah.


"Kalian? Bagaimana bisa tiba di sini?" tanya Sean menuntut penjelasan pada Driyad.


"Kalian lama tak kembali, kami mengkhawatirkan kalian," jawab Driyad. "Lain kali harus segera kembali jika sudah selesai dengan urusan perut."


"Kami tidak tahu jika tadi adalah sebuah malapetaka, pada akhirnya? Mereka.... Dan.... yah, kau sendiri melihatnya," Jessica menyahut canggung.


Setidaknya, inilah Driyad. Dia sudah mengomeli kedua anak itu.


Sean tahu, mulutnya sangat cerewet, seperti mulut wanita. Sesungguhnya Sean merasa aura keibuan muncul di tubuh Driyad.


Makhluk yang menjaganya ini, dia hampir merasakan kelembutan sang Ibu.

__ADS_1


BERSAMBUNG


Jangan lupa Tinggalkan like dan komentar kalian ya. Semoga suka dengan novel ini. ^¥^


__ADS_2