
Sean yang sedang penasaran pada dirinya, terutama mengapa dia bisa membaca manuskrip tua berusia ribuan tahun itu fasih tanpa terkendala.
Sean meminta wanita tua itu berbicara dengannya hanya empat mata.
Penjaga sadon itu menurutinya. Dia menemui Sean di di teras bagian luar istana sadon.
Cukup tinggi, bahkan pemandangan di desa yang lebih mirip kota besar ini terlihat ramai. Seakan tidak ada malam di kota itu.
"Ada apa kau ingin bertemu dengan ku?" Medika dengan jalan khasnya yang elok menghampiri Sean yang sudah menunggunya di teras sadon. "Ada sesuatu yang pentingkah?"
"Aku hanya ingin tahu?"
"Tentang?"
"Manuskrip itu," Sean bertanya sedikit singkat.
"Apa yang ingin kau ketahui dari manuskrip tua itu?" Medika penasaran.
"Mengapa kau tidak bisa membaca tulisan herenoid itu. Sementara kau sendiri adalan penjaga manuskrip yang jumlahnya jutaan itu. Tidak bisa sembarangan orang yang bisa menjadi penjaga ruangan rahasia milik orang-orang helian itu, kecuali mereka yang paham sejarah manuskrip herenoid." Sean sedikit tahu tentang rahasia di balik manuskrip yang ia baca. Dia bertanya, sebab wanita tua itu seperti menyembunyikan sesuatu darinya. "Katakan? Kenapa kau tidak bisa membaca manuskrip tua itu!" Sean memperhatikan wajah Medika.
Semula, wanita tua ini berdiri di tengah teras. Setelah mendengar pernyataan Sean yang lumayan mengetahui rahasia di balik ruangan milik helian itu, dia sedikit memajukan dirinya menyandar di pembatas teras. Dia menatap bangunan yang menjadi pemandangan paling bawah istana sadon.
"Orang-orang helian penuh misteri. Mereka hanya memilih sepuluh orang saja yang di anggap mampu menjadi pembaca manuskrip tua yang mereka ciptakan." Medika memulai kisah kuno yang ia ketahui. "Salah satunya adalah kau!" Dia menunjuk Sean. Medika tahu bahwa Sean bisa membaca manuskrip tua itu dari salah satu Marmaida yang tak sengaja mendengar percakapan Dewi Handita dan Bessara.
"Kenapa aku!" Sean ingin menampik dari pernyataan Medika.
"Karena kau orang yang sudah di catat dalam sejarah oleh orang-orang helian." Medika memberitahu Sean. "Orang-orang helian ahli dalam menyebarkan kekuatan mereka memalui sihir dalam jutaan manuskrip yang mereka buat dari kulit sapi Damaskus. Aku sudah belajar membaca tulisan herenoid itu bertahun-tahun, namun hasilnya nol. Tujuan ku bukanlah ingin menguasai sihir itu, tetapi aku ingin membebaskan Volinia dari kekuatan terkutuk itu." Medika berkata jujur. "Dan ketika memasuki ruangan helian itu, tubuh mu mengeluarkan gambar heliograf. Gambar yang akan muncul, hanya ketika orang pilihan helian memiliki kedekatan dengan manuskrip tua itu." Medika memberitahu Sean. "Dan Volinia."
"Volinia?" Sean bergumam. Sean lalu sedikit tersenyum puas. Dia sudah mengetahui alasan di balik mengapa Medika memintanya membuka pintu rahasia itu.
__ADS_1
Sean pura-pura bersikap tidak tahu. Dia berekspresi datar tanpa ekspresi. "Lalu?" Sean ingin tahu kelanjutan cerita dari Medika.
"Lalu. Volinia, dia ingin menguasai sihir dalam salah satu manuskrip helian itu. Dia ingin menyamai kekuatan dari Dewi-Dewi. Termasuk Dewi Handita, dia amat tidak menyukai makhluk saranjana itu."
Mendengar kata-kata dan penjelasan dari Medika membuat Sean sedikit janggal. Ada yang aneh dalam cerita yang wanita itu katakan. Tidak seperti apa yang ia duga, Sean merasa wanita itu telah membuat cerita palsu.
Belum selesai Medika berbicara, beberapa pelayan yang mengikutinya tadi datang memanggilnya. Mereka membisik di telinga wanita tua itu. Entah apa yang mereka katakan, Sean tidak tahu. Dan tiba-tiba saja Medika ingin pergi meninggalkan dirinya.
Sean tidak bisa memaksa wanita itu untuk tetap menceritakan kisah helian ini lebih lagi seperti ada keadaan mendesak. Jadi, Sean memutuskan membiarkan dia pergi. Sean akan mencari tahu sendiri kebenaran ini.
Di teras istana sadon, Sean tak bisa berpaling dari cerita yang tak sengaja membayang-bayangi pikirannya setelah membaca manuskrip itu.
Sean berpikir keras mengenai kejadian ini. "Jika benar yang di katakan oleh Medika, kemungkinan Volinia sudah terkurung di dalam pintu itu ratusan tahun. Manuskrip tua itu hanya bisa di baca oleh sepuluh orang saja yang telah di takdirkan oleh orang-orang helian untuk mengetahui informasi terkait di dalamnya. Seharusnya jika Medika tahu bahwa Volinia ingin mempelajari sihir dari manuskrip itu, setidaknya dia bisa menghentikan langkah wanita itu. Bukankah dia penjaga ruangan pribadi milik orang-orang helian. Lalu bagaimana bisa Volinia mempelajari manuskrip tua itu dan terjebak dalam pintu rahasia? Apa mungkin Medika berkata bohong?" Sean di buat bingung. Terlebih apa yang ia ketahui berbeda dengan apa yang di katakan oleh Medika.
Driyad tiba-tiba saja muncul dari belakang Sean. Dia menyambangi anak itu. "Apa yang aku pikirkan Sean?" Driyad menegur Sean yang masih terpaku dalam imajinasi liarnya.
"HM.... Apa yang membuat mu sebegitu nya ingin tahu manuskrip itu?" Driyad ikut penasaran.
Sean sejujurnya tak bisa menahan diri untuk membahas mister ini. Dia berkata terbuka pada Driyad. "Tadi, saat aku membaca manuskrip kuno helian itu, aku melihat kisah aneh di dalamnya!"
"Kisah aneh seperti apa yang kau maksud." Driyad tak paham sekaligus mulai penasaran. Kali ini jauh lebih penasaran dari sebelumnya.
"Manuskrip itu tidak bisa di baca oleh Medika. Lalu? Bagaimana mungkin dia bisa menjadi seorang penjaga ruangan manuskrip itu? Bukankah dalam ketentuan sadon yang pernah aku baca di manor nimfa, salah satunya adalah penjaga manuskrip itu seharusnya adalah mereka yang bisa membaca manuskrip. Tetapi, mengapa dia tidak bisa sama sekali membacanya? Bukankah itu aneh." Sean bertindak seakan dia adalah detektif Joe, sahabat ibunya.
Driyad juga berpikir demikian. Dia sependapat dengan Sean. "Kau benar!" Driyad mulai bicara, dia mendekati Sean laku berdiskusi. "Ada sedikit kisah yang aku ketahui mengenai rumahan helian itu dengan kehilangan Volinia dan menjabatnya Medika sebagai penjaga yang baru."
Sean merasa terpancing. Dia ingin tahu kelanjutannya. "Katakan. Apa yang kau ketahui." Sean membisik pelan.
"Yang aku ketahui, sejak Volinia menghilang secara tiba-tiba, pengurus sadon langsung memilih Medika menjadi penjaga manuskrip itu tanpa persetujuan lord shutanhamun. Banyak yang menentang, terutama mereka yang menjadi sisa-sisa keturunan orang-orang helian."
__ADS_1
"Lalu apa yang terjadi?" Kembali dengan rasa penasaran, Sean mulai tertarik mendengar kisah ini. "Bagaimana dengan Medika?"
"Dan yang terjadi, banyak petinggi dari kaum keturunan helian memprotes pemakazulan ini. Mereka tidak ingin jika Medika menjadi penjaga manuskrip karena dia di anggap tidak mengerti bahasa herenoid. Beberapa petinggi kaum helian menginginkan ruang manuskrip itu tetap kosong menunggu sampai ada pengganti yang benar-benar bisa mengerti bahasa herenoid." Driyad menceritakan kisah seingatnya saja. "Namun, entah mengapa dan dari mana asalnya Medika, tiba-tiba saja dia naik takhta menjadi penjaga tingkat atas. Semua orang, khususnya sisa-sisa keturunan orang-orang helian berdecak tak percaya atas pengangkatan Medika sebagai penjaga ruang helian." Driyad berkata serius. "Mereka memprotes keputusan pihak pengurus istana sadon." Driyad membisik.
"Mendengar cerita mu ini, aku merasa mulai mencurigai Medika." Sean menopang dagunya. Dia menaruh perhatian besar pada wanita tua pembawa tongkat aneh itu. "Ada yang aneh dari dirinya."
"Mencurigakan seperti apa Sean yang kau maksud?"
"Aku akan menceritakan pada mu, tetapi pertama-tama, antarkan aku masuk menyelinap kedalam ruangan manuskrip itu. Ada yang perlu aku cari disana." Sean memendam terlebih dahulu apa yang ia tutupi itu. Sebelum semuanya ia ketahui dengan jelas. "Kau harus membantu aku masuk kedalam ruangan itu, kau harus melakukannya." Sean memaksanya.
"Masuk kedalam ruangan itu tidak semudah memasuki ruangan manuskrip sebelumnya Sean. Medika tidak akan membiarkan itu terjadi!" Driyad memperingati Sean. Dia tahu konsekuensi apa yang akan di terima Sean jika Medika mengetahui hal ini terjadi. "Kau pikirkan baik-baik apa yang akan terjadi jika kau di ketahui oleh Medika menyelinap masuk kesana." Driyad berkata khawatir.
"Kau hanya perlu membantu ku masuk kedalam ruangan itu saja. Selebihnya biarkan aku yang menyelidikinya sendiri," Sean berusaha meyakinkan Driyad. Sean tahu, makhluk itu sedang mengkhawatirkan dirinya. "Tak perlu berpikir mengenai aku. Aku akan baik-baik saja."
Namun, Sean tidak bisa mundur dari apa yang telah ia putuskan. Dia ingin tahu kebenaran atas argumentasi yang ia pikirkan.
Driyad hanya bisa pasrah. Anak itu terlalu keras kepala. Driyad hanya bisa berharap rencana yang di buat Sean berjalan lancar, atau gagal total.
"Baiklah Sean. Aku akan membantu mu masuk kedalam ruangan itu." Driyad mengalah. Kemauan Sean mengalahkan peringatan darinya. "Tapi satu hal yang harus kamu ketahui!" Driyad kembali memperingati Sean. Dia mulai harap-harap cemas pada pemikiran anak itu. "Jika kau sudah mendapatkan apa yang kau cari, maka keluarlah secepat mungkin. Atau Medika akan melihat mu nanti."
Sean setuju. Dia tersenyum puas saat Driyad membantu rencananya.
Mereka berdua langsung menuju kedalam inti rencana. Driyad membantunya masuk kedalam ruangan manuskrip itu.
Walau perasaan was-was Driyad mulai menghantuinya, namun Sean terus mengatakan hal-hal yang membuat makhluk itu tak bisa membantah.
Sekarang Sean sudah di dalam ruangan itu. Driyad hanya berharap tidak terjadi apapun pada anak itu. Atau Medika akan mengetahui rencananya.
BERSAMBUNG
__ADS_1