Adventure Of Lord Lausius

Adventure Of Lord Lausius
Episode 38


__ADS_3

MISTERI


Suara hentakan kaki diatas lantai yang sekilas terlihat seperti kaca yang berkilau karena bersihnya lingkungan pasar tradisional ini. Ditambah penduduk yang berkulit eksotis yang berlalu-lalang melintasi pasar. Serta suara pedagang yang melengking dan memekik tajam ini menjadi panorama yang tak pernah Sean temukan di kotanya.


Suara pekikan para pedagang penjaja barang dagangannya sungguh suatu kehebohan tersendiri bagi anak-anak kota seperti Sean dan Jessica. Mereka belum pernah menyaksikan hal semacam ini di kota mereka, new york.


"Tempat ini sangat ramai, sampai-sampai gendang telinga ku rasanya mau pecah!" pekik Jessica pada Sean dengan nada tinggi.


Sean hanya mengangkat kedua bahunya seraya menggelengkan kepalanya tanda setuju pada ucapan itu.


"Tuan serigala, mengapa di tempat ini di penuhi tempat yang aneh? kau lihat bahkan singa dan hewan buas lainnya hidup berdampingan dengan manusia!" tanya Jessica penasaran.


Driyad mungkin tersenyum ramah namun karena hewan seperti dirinya tak bisa berekspresi layaknya manusia maka mulutnya mulai bicara.


"Sebenarnya ini adalah kota tersembunyi dan bisa di bilang kota dongeng!"


"Apa! kota dongeng?" Sean menyahut dengan cepat.


"Ayo ceritakan pada ku tuan driyad tentang kota ini. Aku menantikan jawaban mu!" Sean memelas iba dengan kedua tangannya di satukan bak seseorang yang sedang berdoa.


"Iya tuan driyad ayolah ceritakan pada kami!" Jessica mengikuti cara Sean.


Namun siku Jessica tak bisa diam. Dirinya menyikut perut Yudhar yang dengan tepat berdiri di sampingnya.


"Iya tuan driyad, katakanlah kepada kami walau satu kata saja akan misteri kota ini!" Yudhar menyahut paham pada kode keras Jessica.


"Wanita asing ini selalu saja menyakiti ku dalam situasi tiba-tiba!" keluh Yudhar dalam hati. Sakit rasanya di sikut keras apalagi tepat mengenai ulu hatinya.


"Huh wanita ini!" pekik Yudhar melanjutkan umpatannya pada Jessica.


Jessica paham sekali bahwa Yudhar menahan amarah, bahwa itu jelas karena wajahnya memerah padam bagai kompor yang akan meledak. Jessica terkekeh manja menutupi bibirnya yang tersenyum berseri dengan jari jemarinya.


Ketiga anak-anak itu bersujud dan memohon di depan wajah serigala besar itu.


Driyad yang menyaksikan tingkah menggemaskan anak-anak itu tak bisa menahan dirinya untuk berbicara akan misteri.


Ia bersikap sok wibawa khas pimpinan para asgart, yakni herren yang dingin.


"Ehmm!" driyad mendeham sedikit terkekeh.


Ia ingin mengambil sedikit intro sebelum bercerita layaknya pendongeng ataupun penyair yang ahli dalam bercerita.


"Sebenarnya, kota ini!" driyad berhenti sejenak untuk menceritakan tentang kota ini.


Seakan berat baginya untuk mengungkapkan misteri kota.


Pikirnya anak-anak sudah sangat siap mendengar lelucon dari mulutnya.


Anak-anak sudah sangat menanti ucapan itu dengan sikap tubuh bersujud.

__ADS_1


Bagai anak kucing, mata anak-anak berkaca dengan indah. Sungguh hasrat bercerita driyad sudah tak tertahankan.


"Sebenarnya kota ini sering di sebut oleh manusia sebagai kota ghaib karena ketidak masukakalan apa yang mereka lihat akan kota ini."


"Ketidak masukakalan? seperti apa maksud anda tuan serigala!" Jessica menyambar cepat ucapan itu.


Gadis ini selalu ahli dalam memotong pembicaraan yang belum usai, hingga membuat driyad benar-benar dalam situasi yang diinginkannya.


Driyad menarik nafas dalam-dalam dan melanjutkan bicaranya.


"Sebenarnya kota ini bernama SARANJANA!"


"Apa? SARANJANA?" pekik Sean dengan ekspresi kaget bukan main.


"Iya SARANJANA! apakah kau merasa aneh?"


"Ehm tidak, aku rasa aku sepertinya pernah mendengar nama kota ini sebelumnya!" ucap sean polos.


Kemudian dirinya ingat pada ucapan Professor Franklin saat pertemuan terakhir sebelum liburan musim panas tiba.


Ucapan itu masih hangat dan teringat jelas dalam otaknya.


"Kota itu amat megah, penduduknya beragam namun aneh. Di sana semuanya sangat aneh walaupun di mata manusia itu hal baru. Kota itu di bangun dengan gaya Eropa abad klasik, pertengahan dan sedikit sentuhan mewah dari emas.


Di sana semuanya nampak berbeda dari apa yang kita lihat. Bahkan harimau di kota itu bagi mereka adalah anak kucing kecil sangat lucu, sehingga memelihara mereka bukan suatu yang berbahaya. Kota itu lebih mirip dengan negeri dongeng yang terpampang dengan jelas seperti logo perusahaan walt Disney yang megah.


Bahkan kastilnya amat mengagumkan dengan filterisasi yang menawan! aku tak tahu apakah kota itu benar-benar seperti yang aku katakan atau mungkin apa yang aku bicarakan tadi hanya omong kosong. Tapi itulah fakta yang harus kalian ungkap," itulah sepenggal kata yang terucap dari mulut tua tuan Franklin.


Seolah tak percaya akan kota ini, Sean memukul wajahnya dengan keras demi meminta dirinya sadar dari halusinasi meradang.


"Ini pasti hanya fiktif belaka, dan bukan nyata!"


"Tidak, kau benar!" driyad menghentikan tindakan Sean.


"Benar?"


"Ya benar! kau sedang dalam kota itu. Kota mimpi yang hanya ada dalam imajinasi semata. Kota yang tak seharusnya kau kunjungi!"


"Tetapi, bagaimana bisa kami masuk kedalam kota ini?" Sean penasaran akan kebenaran.


"Itu mudah saja. Kau seperti memiliki sesuatu yang menarik sehingga kau bisa melihat tempat ini!" driyad bicara jujur.


"Kota ini tak bisa dilihat maupun di temui oleh manusia dengan penglihatan biasa bahkan mata batin pun tak akan mampu melihat tempat ini. Tetapi kalian, khususnya kau Sean. Kau memiliki sesuatu yang istimewa sehingga makhluk dan hewan buas disini bisa merasakan ada sesuatu di balik tubuh mu!" lanjut driyad bicara kebenaran.


"Tidak... Tidak.... Tidak.. Bagaimana mungkin aku memiliki suatu hal yang istimewa. Aku hanya remaja biasa sama seperti Jessica dan Yudhar. Tak ada yang istimewa dari diri ku!" ucap Sean menampik bahwa dirinya bukan yang di maksud oleh driyad.


Tapi driyad masih kukuh pada ucapannya.


"Memasuki kota ini sama dengan memasuki sebuah lorong waktu. Dimana semua yang kalian lihat disini nampak tak nyata, tetapi sesungguhnya ini benar terjadi. Apapun alasan kalian datang kemari, setidaknya gerbang kota telah mengizinkan kalian masuk kesini!"

__ADS_1


"Maaf tuan driyad, aku masih tak paham atas perkataan mu. Maksud ku aku masih ragu pada ucapan mu yang kasual itu!" Jessica menyela.


Namun driyad hanya berkata apa yang ia ketahui.


"Aku yakin Sean lebih paham dari pada kau. Karena dia yang memiliki keistimewaan itu. Aku juga yakin jika nanti Sean akan tahu identitas dirinya!" tukas driyad menutup pembicaraan.


Sean masih bingung pada ucapan yang keluar dari mulut serigala itu.


Ia masih berpikir, seperti apa keistimewaan yang driyad maksud.


"Lebih baik kita lanjutkan saja perjalan mencari teman kalian itu, jika kalian berlama-lama di kota ini, itu takkan baik," lanjut driyad bicara.


"Kemana kita akan pergi!" Sean bertanya ingin tahu.


"Ikut saja dengan ku!" jawab driyad singkat.


Dan pada akhirnya anak-anak meninggalkan pasar desa yang terlihat megah itu.


Mereka menyusuri jalan desa kota yang lantainya terlihat berkilau seperti kaca akibat pantulan sinar matahari.


Semua yang dilihat oleh anak-anak adalah nyata dan bukan mimpi semata. Kota itu, kota SARANJANA yang di maksud oleh tuan Franklin ternyata benar adanya, bukan mitos belaka. Sean tak percaya itu dirinya kini tengah berada di dalam kota yang ia anggap sebagai kota mitos.


"Edward, kau benar!" Sean bicara dalam hati dengan ekspresi senang dan gembira.


Kini langkah kaki mereka sudah tak lagi ada di desa kota. Sekarang langkah kaki itu sudah memasuki hutan dengan alang-alang lebat seperti semula.


"Kita akan mencari sahabat kalian di pusat kota!" driyad bicara sambil berjalan dan di buntuti oleh anak-anak.


Jalan driyad amat cepat, sehingga anak-anak harus menyamai kecepatan serigala ajaib itu agar mereka mendapatkan titik jalan terbaik.


"Apakah kota itu sangat megah dari pasar kota di desa ini?" Jessica menyela dan bertanya pada ucapan asgart.


Asgart tersenyum seraya melirik Yudhar.


Anak itu kembali berulah dan mengambilalih jawaban yang di maksud oleh driyad.


"Bahkan jauh lebih megah dari apa yang kau pikirkan!" balas Yudhar seakan dirinya lebih tahu akan kota SARANJANA.


"Kau!" pekik Jessica menahan emosi.


Itulah mereka, sejak awal sudah tak ada itikad untuk berdamai satu dan lainnya.


BERSAMBUNG.


Up kali ini penulis hanya meminta antusias pembaca akan episode kali ini.


Jangan lupa tinggalkan like, komen dan rate kalian ya.


Jangan lupa tinggalkan kritik saran kalian kepada novel ini dari segi alur, cover dan ilustrasi.

__ADS_1


Dan jika tak keberatan berikanlah penulis vote untuk novel ini dengan lima bintang 🌟.


Penulis mengucapkan terima kasih.


__ADS_2