Adventure Of Lord Lausius

Adventure Of Lord Lausius
Episode 33


__ADS_3

ASGART PART 4


"Sebentar lagi badai salju akan turun, Lebih baik sekarang kita menyingkir dari sini." Perintah herren dengan suara lantang.


"Sebaiknya kita berjalan saja menuju pengungsian penduduk," Sela asgart bermata cokelat.


"Ayo kita pulang ke perbatasan!" Perintah herren pada semua gerombolannya.


Namun driyad dengan wajah penuh intrik masih tak terima ajakan herren untuk menyingkir dari perbatasan karena suatu hal.


Yakni anak-anak. Driyad tak tega meninggalkan mereka sendirian di tengah badai salju yang akan segera berkecamuk melanda alam sekitar.


"Apakah kita akan pergi tanpa mereka!" driyad menyela langkah kaki herren dan kawanannya.


Langkah kaki herren terhenti sejenak mendengar pengakuan driyad yang menginginkan anak-anak ikut bersama mereka.


"Kau dengarkan aku. Kita sudah cukup menyelamatkan mereka dari ancaman serigala buas itu. Untuk selebihnya biarkan mereka melakukan segalanya sendiri. Kita bukanlah pengawal yang harus menjaga mereka Setiap saat." Herren berujar membantah ucapan Driyad yang sedikit kontroversial di matanya.


Semenjak driyad muda bertemu dengan anak-anak itu, tingkahnya berubah menjadi sedikit agak kemanusiaan dan melupakan jati dirinya sebagai serigala penjaga.


"Kau mengatakan bahwa badai salju akan turun. Lalu meninggalkan mereka, bukankah sama saja membiarkan mereka mati kedinginan. Apa kau tak melihat anak-anak itu sudah sedikit menggigil." Driyad muda tak mau mengalah. Ia bersikeras tetap inginkan anak-anak ikut bersama mereka.


Namun herren tetap dengan keras kepalanya.


Ia tak mau membawa anak manusia masuk kedalam pusat kota. Ia tak mau menimbulkan banyak masalah hanya untuk menjaga anak-anak.


"Jika kau bersikeras tetap bersama mereka, maka tetaplah disini bersama mereka. Sementara kami akan kembali dengan atau tanpa kau." Tegas herren dengan gaya kepemimpinan yang bijak.


"Ayo, tinggalkan mereka disini. Kita lanjutkan perjalanan kita." Tukas herren memboyong kawanannya melangkah pergi.


Sungguh para kawanan asgart enggan hati untuk mengikuti pimpinannya, dan lebih memilih bersama anak-anak seperti hal yang di lakukan oleh driyad. Namun keempat asgart tak bisa menolak perintah pimpinan ketua mereka itu.


Tindakan driyad membantah perintah herren memang di luar keberanian semua asgart.


Semua bayangan punggung para asgart telah hilang di telan kegelapan malam. Yang tersisa hanya telapak kaki mereka di atas salju sebagai lintasan terakhir mereka di perbatasan.


Kini herren benar-benar tak peduli pada driyad dan anak manusia itu.


"Kalian tak perlu takut lagi. Aku akan tetap bersama kalian apapun yang terjadi." Hibur driyad pada anak-anak.


"Mengapa kau sangat peduli pada kami tuan serigala? Apakah kau tak takut jika kau akan di hukum karena telah berani meninggalkan kawanan mu?" Tanya Sean dengan perasaan tak enak hati.

__ADS_1


"Kau tak perlu mencemaskan hal itu. Tak ada alasan untuk menghukum ku saat ini. Yang terpenting adalah kalian bisa kembali dengan selamat dan meninggalkan tempat ini." Jawab driyad dengan mantap tanpa keraguan.


"Benarkah begitu wahai tuan serigala?" Sahut Jessica memastikan ucapan driyad.


"Tentu saja ia akan berkata begitu. Apa kau tak mendengar ucapannya?" Yudhar membalas ucapan Jessica lagi-lagi mencoba memancing kemarahan.


"Aku rasa ada seseorang yang bicara, tapi tak tahu siapa?" Jessica membalas Yudhar dengan ledekan.


Sean yang selalu menjadi penengah diantara keduanya hanya bisa geleng-geleng kepala pada perdebatan kedua orang di hadapannya.


"Oh iya tuan serigala, apakah kau memiliki nama yang bisa aku panggil atau ucapkan untuk menyebut mu. Maksud ku apakah kawanan mu memanggil mu dengan sebutan yang istimewa?" Tanya Sean penasaran.


"Nama? tentu saja aku memiliki nama yang biasa di ucapkan oleh kawanan ku." Balas Driyad sedikit menyombongkan diri di hadapan Sean. Meskipun ia adalah serigala namun ia juga ingin tampil keren seperti manusia. Memiliki nama sebagai panggilan, pikir Driyad adalah suatu kehormatan baginya.


"Sungguh? Apa nama spesial yang sering di ucapkan oleh kawanan mu itu." Sekali lagi Sean bertanya penuh harapan. Berharap mulut hewan itu menyebutkan namanya.


"Ehmm," Driyad mengkode anak-anak dengan nafas yang ditarik dalam-dalam dan.


"Nama ku driyad. Driyad serigala paling elok dan gagah dari serigala lainnya," Ucap Driyad menyombongkan dirinya di hadapan anak-anak.


"Wah nama yang amat berselera. Pasti kau amat bangga pada nama itu." Puji Sean menambahkan sikap narsisme Driyad.


"Bangga dan puas. Aku amat sayang pada nama ini meskipun tak ada artinya bagi kawanan Asgart." Respon driyad dengan cepat. Dia sedikit menyombongkan diri saat itu walau sebenarnya anak-anak itu tidak peduli padanya.


Driyad bahkan jauh dari lubuk hatinya yang paling dalam ia sudah sangat menyukai mereka sejak saat melihat tingkah lucu mereka bermain salju. Lebih tepatnya sejak pertama kali melihat mereka.


"Aku? Tentu saja aku sangat suka pada kalian." Jawab driyad antusias sepenuh hati.


Anak-anak tersenyum bahagia karena ini pertama kalinya seekor hewan buas bicara jujur bahkan bisa mengerti dan berbicara bahasa manusia.


"Sebentar lagi badai salju akan turun, sebaiknya kita pergi mencari tempat berteduh yang aman. Salju ini turun secara abadi sepanjang malam sehingga kita tak akan melihat matahari pun disini. Kecuali kita harus pergi ke arah timur agar mendapatkan kehangatan." driyad mengingatkan anak-anak sedini mungkin.


"Tidak!" balas Sean cepat pada ucapan Driyad.


"Jika kita berjalan mengikuti arah menuju timur, maka kita akan kelelahan. Serta saat ini kita sudah mulai merasakan kedinginan.


Badai salju mulai berhembusan. Jarak dari sini menuju tempat yang lebih hangat di arah timur mungkin memakan waktu semalaman. Jika kita menghitung waktu berhembusnya angin ini, bisa di pastikan ini angin laut yang pecah menjadi angin muson. Dan waktu badai itu tidak sedikit untuk tiba melintasi gurun salju ini.


Jadi seharusnya ide Driyad berjalan menuju daratan yang lebih hangat adalah sia-sia. Tempat yang lebih baik kita datangi adalah pemukiman penduduk. Karena disana kita bisa meminta kehangatan dari mereka. Driyad, apakah kau tahu di sekitar sini ada perkampungan atau perumahan penduduk untuk kita kunjungi?"


Sean mulai memahami situasi dengan kritis. Sekali terka ia telah mempelajari ilmu geografi. Cuaca memang sangat menusuk malam itu, bahkan Sean saja sudah sedikit menggigil mengingat kumparan salju ini mulai meronta di pori-pori.

__ADS_1


"Jika membahas perkampungan, itu hanya ada dalam perbatasan kota. Setidaknya kita harus kembali ketempat penjagaan untuk masuk ke permukiman penduduk."


Driyad memberikan saran untuk memasuki kota terlebih dahulu jika ingin menuju perkampungan warga.


"Itu bukan ide yang buruk," Jessica merespon dengan cepat.


"Bagaimana dengan mu manusia hutan?" sikut Jessica pada Yudhar.


"Aku? apapun alasannya aku akan ikut dan setuju!" jawab Yudhar polos.


"Bagaimana dengan mu Sean?" Jessica menyinggung nya.


"Tak ada pilihan lain!" Jawab Sean sembari mengangkat kedua bahunya.


"Semuanya setuju, bagaimana dengan anda tuan serigala? apakah anda juga setuju?" Tanya Jessica kepada driyad seraya bereuforia dengan kemenangan.


"Tentu saja kita akan kesana." Balas serigala itu ikut bersemangat.


Akhirnya keputusan langkah kaki driyad menuntun anak-anak memasuki kota.


Langkah kaki mulai di jalankan, bekas telapak sepatu mereka kini hanya meninggalkan jejaknya saja di atas pendaran salju yang menyelimuti bumi. Sedikit demi sedikit jejak itu menghilang akibat erosi dari hembusan dinginnya hawa salju dan terpaan angin muson.


Buliran es mulai turun dikit demi sedikit.


Salju-salju mulai berpendar dan membentuk koloni-koloni tumpukan salju menggunung.


Nampaknya badai kengerian akan segera menghampiri kawanan yang sedang berhijrah.


Tubuh anak-anak mulai sempoyongan akibat tak bisa terlalu kuat melawan dinginnya salju. Sementara driyad tak bisa menghangatkan tubuh anak-anak di tempat yang bertumpuk salju itu.


Setidaknya mereka butuh tempat yang kering bebas dari buliran es. Namun itu akan sulit didapat melihat Medan yang mereka temui mulai tak karuan.


"Apakah masih jauh menuju ke perbatasan?" Tanya Yudhar berinisiatif.


Driyad menatap wajah ketiga bocah itu. Dia melihat ketiganya sudah mulai sempoyongan. Dan ketika mendengar pertanyaan Yudhar, Driyad paham apa makna di balik pertanyaan itu.


"Apakah kalian mulai lelah?" Driyad bertanya memastikan anak-anak. Ketiganya menganggukkan kepala mereka membenarkan pertanyaan Driyad.


"Sedikit lelah." Balas Jessica polos.


Di setengah perjalan mereka, Driyad berhenti sejenak dari langkahnya. Sementara angin mulai berhembus kencang semakin mereka melangkahkan kaki menuju gerbang perbatasan.

__ADS_1


BERSAMBUNG.


__ADS_2