
ASGART
"Rasakan ini. Lemparan ku yang paling mematikan." Yudhar menghardik dengan gumpalan salju ditangan. Menghembuskan lemparan bola-bola salju andalannya.
"Kau akan merasakan kekalahan telak karena telah berani mengotori mahkota emas ratu Perancis. Jangan pernah kau menyombongkan kekuatan mu pada ku wahai manusia terkutuk" Jessica membalas sahutan Yudhar dengan tumpukan salju bulat yang lebih besar dari Yudhar. Dengan senyum liciknya ia memboyong tumpukan salju itu ke tubuh Yudhar.
"Kalian berdua jangan bangga terlebih dahulu pada kekuatan kalian. Aku adalah ahli dalam hal ini. Maka bersiaplah kalian menerima kekalahan dari ku." Sean ikut menyahut kedua temannya itu dengan segumpal bola salju yang tak kalah besar dari keduanya.
Perang masih berlanjut, sampai titik kelelahan tercapai.
Tak peduli pada dinginnya salju dan panjangnya malam yang gulita mereka tetap asik bermain salju.
Hanya di temani oleh cahaya bulan, mereka merasa seperti mampu melihat dengan jelas meskipun cahaya rembulan yang remang-remang menyakiti mata.
Suara suka cita dan suara ria asik bermain mereka bisa di dengar hingga radius dua ratus meter dari jarak dimana mereka berdiri.
Mereka puas melampiaskan rasa letih dengan bermain permainan ala anak kecil seperti di film Mr. Frost.
Asyik dan menyenangkan, hingga mereka lupa melanjutkan perjalanan menuju pencarian Edward yang telah hilang sedari tadi. Mereka sadar bahwa mereka telah bermain begitu lama.
"Aku menyerah." Sean mulai mengaku kalah.
Seraya mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi kelangit.
Sungguh tak kuat baginya berlama-lama bermain lempar salju menemani kedua orang yang sedang melampiaskan kekesalan mereka.
"Apa kau bersungguh-sungguh?" Tanya Jessica yang lebih dulu merespon Sean.
"Tentu saja. Tubuhku rasanya sudah lelah." Tukas Sean menegaskan ucapannya.
"Baiklah, aku juga sudah lelah," Balas Jessica seraya menghentikan lemparan terakhirnya.
Yudhar? tentu saja ia mengikuti kemauan kedua orang asing di hadapannya.
"Baiklah! aku juga menyerah."
Ucap Yudhar ikut menghentikan permainan.
Sambil membuang gumpalan salju miliknya yang seharusnya menjadi lemparan terakhir.
Akhirnya malam yang panjang di lalui dengan perjalanan yang luar biasa lelah namun mereka menikmatinya.
****
Ketiga anak itu berdiri tegap membentuk segitiga.
Sehingga mudah menikmati nikmatnya permainan ala lempar bola.
Tetapi, tepat di belakang Sean? ada hewan yang berdiri di balik punggung remaja yang sedang asik.
Langkah kaki hewan yang amat liar dan mudah di kenali.
Ya, sekumpulan serigala buas berdiri di belakang Sean dengan gagah.
Entah berapa kali malam ini mereka bertemu hewan buas seolah itu adalah rintangan yang akan datang silih berganti.
Gigi dan taringnya begitu sangar untuk dilihat.
Bulu berwarna putih keabu-abuan, dengan badan besar serta lensa kontak berwarna kuning cerah.
Jessica dan Yudhar yang berdiri di hadapan Sean. Dia tak mampu berkata apapun selain menahan takut dan gemetaran berlebihan.
Pertemuan mereka terhadap hewan buas penunggu alam bebas nampaknya tak akan pernah berakhir. Seakan ada magnet di dalam tubuh yang mampu menarik hewan-hewan buas mendekati mereka.
"Kalian kenapa!" tanya Sean heran pada kedua orang yang menatap dirinya dengan tatapan takut dan tak biasa.
__ADS_1
Ia bisa merasakan hal aneh dari tatapan kedua orang yang menyorotinya itu. Tentu saja karena wajah yang sebelumnya tampak ceria kini berubah menjadi pucat pasi nyaris nampak seperti mayat.
"Hei Jessica! kenapa kau begitu gemetaran. Apakah ada sesuatu yang kau rasakan? Apa kau sedang menahan buang air?" Tanya Sean pada Jessica yang menahan mulutnya untuk bicara. Jessica menutup mulut itu rapat-rapat enggan untuk bicara.
"Hei ada apa dengan kalian? Apa yang kalian lihat pada ku. Apa terlihat sesuatu yang aneh pada ku? Apakah ini drama kalian dalam merajuk?" Sean berkata sesuai perspektif.
Sean masih heran pada pandangan kedua orang di depannya itu. Seraya ia memperhatikan bagian tubuhnya mana yang di anggap aneh oleh keduanya.
Yudhar memberikan kode pada Sean bahwa ada sesuatu di belakangnya.
Yudhar menunjuk jari telunjuknya ke Sean yang berupa bahwa ada srigala besar di belakangnya.
Namun Sean belum sepenuhnya peka.
"Sean! di belakang mu!" Jessica menambah kode dengan keras bahwa di belakang Sean tak aman.
Seolah kaki sudah menempel lekat pada salju, kaki Jessica dan Yudhar seperti sudah mati rasa. Mereka terpaku menyaksikan serigala besar di belakang Sean.
"Di belakang ku!" ucap Sean mengulangi perkataan Jessica.
Jessica dan Yudhar mengangguk mengiyakan ucapan Sean.
"Memangnya ada apa dibelakang ku?" Ucap Sean sedikit penasaran.
Ia tak tahu ada apa di belakangnya sehingga membuat kedua orang yang melihatnya itu bertatapan serius bahkan gemetaran seolah telah menyaksikan hantu yang paling menyeramkan.
Sean mulai memutar balik tubuhnya kebelakang. Ia ingin tahu apa yang mereka lihat.
Kyaaaaaaaaaaaa
Teriak Sean kaget seraya terjatuh usai memutar tubuhnya ke belakang.
Ia tak menyangka yang dimaksud oleh kedua orang itu adalah srigala bertubuh besar dan tinggi.
Hewan dengan tatapan dingin dan serius itu melihat wajah Sean dengan cermat.
"Hei! Oh tidak. Apakah ini akhir dari hidup ku!" Gumam Sean bicara kecil.
Ia mengesot di salju yang berpendar karena srigala itu mendekati dirinya perlahan.
Grrrrrrrrr.
Suara aumannya begitu mengerikan dengan nafas kuatnya. Nafas itu menguap mengeluarkan asap akibat dinginnya malam serta salju.
Grrrrrrrrr.
Hewan itu terus mengeram mengeluarkan suara ganasnya sambil matanya menatap sean tanpa henti.
"Oh tidak. Apakah yang harus kita lakukan? bagaimana kita bisa menyelamatkan Sean dari srigala itu?!" Ucap Jessica bicara pada Yudhar berharap ia memiliki ide.
Yudhar? dirinya pun bingung bagaimana memberikan solusi jalan keluar untuk menghindar dari kawanan serigala-serigala besar berjumlah lima ekor itu.
Serigala itu lalu merubah formasi mereka yang semula berkelompok kini membubarkan barisan.
Mereka berpencar dari segala arah, mengepung ketiga anak itu.
"Oh tidak! tamatlah riwayat ku." Gumam Jessica pada dirinya sendiri saat ketiga serigala menghampiri dirinya dari belakang punggungnya.
Sama halnya dengan Yudhar, kini tubuh mereka di giring menuju satu titik.
Mereka berjalan mundur mendekati Sean perlahan-lahan sedangkan serigala-serigala buas itu makin menikmati permainan mereka.
Hingga ketiga tubuh itu saling menyatu satu sama lain. Sungguh keadaan yang sulit di tebak. Kali ini mereka akan pasrah menjadi bulan-bulanan serigala buas yang mengepung mereka.
"Sean! apakah kau memiliki ide?" Tanya Jessica yang menempel di bagian punggung Sean.
__ADS_1
"Aku tidak yakin. Aku benar-benar sudah buntu ide saat ini." Jawab Sean singkat.
"Apakah kau punya ide? kawan!" Celetuk Sean pada Yudhar yang merapatkan tubuhnya di bahu sebelah kanan Sean.
"Aku manusia bodoh, mana mungkin punya ide cemerlang." Balas Yudhar tanpa berpikir kritis.
"Ah bodohnya aku malah bertanya pada mu."
Ucap Sean menyerah.
Sekawanan serigala yang berjumlah lima ekor itu mulai mengepung dari segala sisi.
Mereka mengepung ketiga anak ayam itu dengan gairah menggelora.
Cakar mereka yang tajam dan senyum yang pahit, kawanan serigala itu terus saja mendekatkan diri mereka.
Kini mereka siap menerkam dengan segala upaya.
Roarrrr
Mereka mengaum melancarkan cakaran kepada ketiganya.
Jessica hanya bisa menutup mata tak kuat menyaksikan kebuasan hewan yang akan menerkam diri mereka seperti daging berbeque.
Jantungnya berdegup kencang seperti di tambah sebotol kastrol dan pelumas untuk memperbaiki performa jantung agar berdegup kencang dengan baik.
"Selamatkan kami siapapun itu." Ucap jessica dalam hati berdoa meminta datangnya penyelamat.
Lumayan lama ia menutup mata, namun tubuhnya tetap sama. Tak ada rasa sakit pun yang ia rasakan. Sedangkan tangannya meraba kedua temannya memastikan apakah mereka masih utuh atau tidak.
"Mereka masih ada." Jessica nampak kaget apakah gerangan yang membuat ia tak merasakan apapun dari terkaman serigala buas itu.
"Apakah mereka sudah mati?" Pikir Jessica dalam otaknya yang terlintas pikiran kotor.
Perlahan ia membuka pejaman matanya.
Dan ia akan lebih kaget saat menyaksikan pemandangan di depan wajahnya.
Harapan Jessica nampaknya terkabul, karena cakaran keras itu tak kunjung mendarat.
Malah dirinya di suguhkan pemandangan tak biasa.
"Hei Sean! Apakah ini nyata?" Jessica bertanya pada kesaksian matanya. Dia berpikir bahwa dirinya saja yang melihat kejadian ini.
"Amat nyata." Balas Sean takjub sembari se-ide dengan pikiran Jessica.
Mulut, mata dan semua anggota tubuh mereka tak bisa berkata apapun setelah melihat seekor serigala melawan lima serigala lainnya.
Mulut Sean menganga lebar. Sungguh dirinya tak akan melupakan jasa hewan yang dengan gagah berani melawan hewan buas di hadapannya.
Sesekali kelima hewan buas itu menyerang serigala yang melawan mereka seorang diri dengan cakaran. Namun berhasil di hindari.
Mereka bertarung amat buas dan rakus khas pemburu liar.
Saling lempar cakar-cakar ke sekujur tubuh hingga berdarah.
Tentu saja lima berbanding satu tidak akan membuat yang satu akan bisa menang begitu saja. Setidaknya mereka butuh bantuan untuk mengalahkan kelima serigala besar ini.
BERSAMBUNG.
Jangan lupa vote ya guys. Thanks a lot to you.
Penulis
SARANJANA 30
__ADS_1