Adventure Of Lord Lausius

Adventure Of Lord Lausius
Episode 150


__ADS_3

“Haha ..., mereka mengulangi lagi kebodohan mereka. Aku puas dengan berita ini.”


Dewa iblis tertawa puas ketika mendapati kabar dari Xavier. Dirinya merasa tidak terganggu saat sedang asik meminum anggur nikmatnya.


Duduk di singgasananya, dia merasa begitu bangga ketika mendengar kabar ini.


“Lalu, bagaimana dengan Lausius itu? Apakah dia terluka?” lanjut dewa iblis bertanya.


“Tidak,” balas Xavier. “Yang aku ketahui, Lausius muda itu dia baik-baik saja. Saat ini berita penyerangan Elius di istana awan Metis sudah tersebar di seluruh penjuru kota. Aku yakin, nama Elius bukanlah sesuatu yang saat ini bisa disegani oleh orang-orang. Layaknya Elius yang dahulu.”


“Itu bersebrangan dengan Elius bukan?” timpal dewa iblis.


Xavier mengangguk. “Mungkin dia akan kehilangan mukanya dihadapan semua penduduk Saranjana.”


“Haha ..., itulah yang aku inginkan!” ucap dewa iblis sumringah. “Elius yang tak berdaya, di permalukan oleh Lausius itu.”


Melihat kebahagiaan dewa iblis, Xavier cukup bangga telah menjelaskan berita ini pada Tuannya.


“Apakah perlu kita yang datang ke istana Awan Metis?” tanya Xavier ingin tahu.


Dewa iblis menggeleng. “Tidak perlu terburu-buru. Sekarang bukan saat yang tepat, tapi kita akan menunggu pangeran itu memasuki misinya.”


“Jadi ...,”


“Inilah rencana ku—membunuh Elius dengan mudah. Misinya ini yang akan membantuku mendapatkan Lausius muda itu.”


Tidak tahu apa yang dipikirkan oleh dewa iblis, Xavier hanya bisa mengangguk sok memahami situasi ini.


“Lalu, apa yang harus kita lakukan saat ini Tuan neraka. Aku sering lupa pada alur yang bahkan aku tidak bisa memahaminya.”


“Haha ..., konyol.”


Xavier terdiam, lagi-lagi dia belum paham mengenai ucapan Dewa iblis.


“Maksud Anda, apakah aku ....”


“Mengunjungi Zumirh dan Zurry,” sambar dewa iblis berkata. “Aku ingin tahu apakah mereka akan melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan oleh orang-orang bodoh itu. Kau harus pergi kesana.”


Xavier mengerutkan keningnya lagi, dia bingung. Namun tetap saja dia menuruti kemauan dewa iblis, memantau pergerakan Zumirh dan Zurry.


“Aku akan segera melakukannya!”


Dia berkata, setelahnya Xavier pun pergi. Mengepakkan sayapnya, meninggalkan istana neraka ini.


††††


Satu tangan Zumirh mengetuk-ngetuk meja dengan gelas kayu. Wajahnya tersenyum miring, pikirannya terbawa pada imajinasi yang liar dan luas. Sedangkan Zurry mondar mandir seperti setrika di depan adiknya.


Lampu api menerangi istana di dasar tanah ini.

__ADS_1


“Bodoh, aku kira Lausius itu mati. Ternyata dia selamat dari mulut si raksasa rakus. Benar-benar kita hampir ditipu,” kata Zurry geram.


Zumirh beranjak dari duduknya, dia mengitari Zurry, dengan ekspresi wajah melicik.


“Sudah aku katakan, seharusnya kita turun ke bawah saat itu. Tapi apa yang kau katakan, kau malah takut untuk mengambil resiko. ‘Aku yakin dia tidak selamat. Jangan memancing diri sebagai umpan si mulut besar.’ Seperti itulah kau berkata. Dan aku sangat jelas mengingatnya.”


Mulut Zumirh meniru ucapan Zurry kala itu. Namun sayang, pria ini tak mempercayai Zumirh. Dia tak akan percaya bahwa adiknya itu akan selamat atau keluar dari lubang raksasa itu dalam keadaan hidup-hidup.


Jelas, Zurry akan meragukan kemampuan adiknya saat dia berkata kalau Zumirh akan turun ke bawah. Masuk kedalam lubang itu, Zurry pikir akan berbahaya.


Namun, itu tak sesuai dugaannya. Ternyata dua sekutunya hilir mudik di sana. Bahkan berinteraksi dengan Gondola rakus itu, menyebalkan.


“Aku kira, kita tak akan bisa keluar dari tempat itu jika kita memasukinya. Namun aku salah, nyatanya Nekabudzer dan yang lainnya bisa keluar masuk dengan selamat. Aku ceroboh kala itu. Seharusnya kita mengejar anak itu hingga ke dasar tanah.”


“Kau tidak ceroboh Zurry,” balas Zumirh. “Kau hanya takut saja pada mereka. Itulah kenapa kau tak ingin masuk ke dalam lubang neraka itu.”


“Apa maksud mu?” tanya Zurry tak paham.


Zumirh mendengkus, memunggungi Zurry. “Seandainya saat itu kita berhasil mendapatkan Lausius muda itu. Mungkin, saat ini Lausius itu tidak akan di nobatkan menjadi penguasa awan Metis. Dan sayangnya, dia sudah di baptis. Dan itu artinya dia akan jauh lebih kuat dari sebelumnya.”


“Jadi ...,”


“Lausius terakhir berbeda dengan Lausius sebelumya. Lausius paling muda ini di perkirakan akan jauh lebih kuat daripada siapapun. Seharusnya kau tahu itu.”


Zumirh melanjutkan bicaranya, sedangkan Zurry hanya bisa terpaku atas ucapan Zumirh. Kabar buruknya, Zurry tahu.


Dia lupa kalau Lausius terakhir memang ditakdirkan akan sulit ditaklukkan.


“Kau khawatir?” tanya Zumirh. Dia berbalik, kini memandang saudaranya yang nampak cemas.


Zurry mengangguk. “Aku tidak tahu bagaimana melakukannya. Kau harus mencari ide.”


“Mudah saja!” balas Zumirh santai.


“Bagaimana caranya?”


“Musuh Lausius bukan hanya kita. Kau tentu ingat, Elius pasti akan kembali. Dewa iblis, mereka juga tidak akan tinggal diam. Dan, sebentar lagi malam itu akan tiba. Di mana Lausius itu akan menjalankan tugasnya. Disitulah kita akan memulai aksi kita.”


“Maksu mu ....”


Zumirh mengangguk. “Kita akan menunggu mereka di hutan menuju ke gunung para Mossarus.”


“Oh, ternyata ....”


Zumirh tersenyum riang, saat Zurry baru menyadari bahwa dia jauh lebih maju dari pemikiran kunonya.


Pandangan Zumirh kini beralih ke lampu-lampu di depannya. Namun, pikiran gila itu terlintas menuju ke arah Sean. Hanya itu yang dilakukan Zumirh, obsesi pada Lausius.


Diam-diam, Zurry mengangguk paham atas rencana adiknya ini. Dia mulai mengikuti alur Zumirh, menerkam Lausius di hutan Mossarus.

__ADS_1


“Kau benar-benar cerdas,” puji Zumirh. “Tidak salah kalau kau memang pantas di sebut wanita ambisius.”


“Haha ..., kau baru menyadarinya, kalau Zumirh tak pernah kalah dalam beride,” balas Zumirh menambahkan ucapan pujian atas dirinya.


††††


Mereka berkumpul, mendengarkan ucapan Lord Shutanhamun. Pria itu menjelaskan, sedangkan, sepasang telinga itu jeli mendengar setiap rangkaian kalimat dari mulut dibalik Jenggot putihnya.


“Malam ini adalah malam yang tepat untuk kalian menjalankan misi. Aku memanggil kalian, karena misi ini sangat bergantung pada—bagaimana kalian akan melindungi pangeran nantinya. Aku hanya ingin kalian lakukan itu. Walau harus nyawa yang di korbankan,” kata pria tua itu pada Crypto dan yang lainnya.


“Yang mulia, aku siap menjalankan tugas yang anda perintahkan!” Crypto menjawab lebih dahulu. “Apapun itu, aku siap melakukannya.”


Crypto menyatukan kedua tangannya, dengan hormat dan patuh siap menantikan tugas baru mereka. Tugas yang sama, yakni mengawal Lausius pergi menumpas raja Mossarus, makhluk mengerikan. Makhluk pengrusak dan makhluk bengis pemangsa yang rakus.


Melihat Crypto siap dengan tugasnya, Amuria dan Driyad ikut menyatukan kedua tangannya.


“Hamba siap melakukan apapun yang Tuan agung pinta. Aku akan menyerahkan hidupku untuk melindungi pangeran!” kata Amuria senada dengan ucapan Crypto.


Pria tua mengangguk, mulutnya tersenyum bahagia mendengar pengabdian ketiga pengawal Lausius itu.


“Kakek,” Sean menyahut.


Pria tua itu memalingkan wajahnya, melirik Sean. “Ada apa cucuku?” tanyanya lembut.


“Mengenai misi itu. Apakah ..., mereka harus ikut dengan ku?” tanya Sean ragu.


Tangan pria tua itu kembali mengerut jenggotnya. Sambil berpikir sejenak atas ucapan Sean.


“Tentang hal itu, bukanlah pengecualian. Kau harus pergi bersama mereka.”


“Bagaimana jika aku ingin pergi sendiri?”


Pria tua menggeleng. “Tidak ada Lausius yang berani berangkat seorang diri. Kau harus mematuhi peraturan ini.”


“Tapi ....”


“Aku hanya melakukan yang terbaik untuk pangeran penerus takhta Awan Metis. Bagaimana bisa aku membiarkan keturunan ku pergi seorang diri tanpa ada pengawalan. Aku tak akan membiarkan itu terjadi.”


“Itu artinya ....”


Ow, Sean terdiam. Ucapan itu tak bisa dibantah. Sebenarnya Sean ragu ingin pergi bersama ketiganya, bagi Sean dia sanggup melakukan sendiri. Dia bisa melakukan misi itu, walau tak membawa Crypto dan dua temannya.


Namun, itu urung. Dia harus pergi bersama ketiga pengawal setia Lausius. Tanpa negosiasi.


“Pangeran, ini semua demi mencapai misi kita. Pangeran harus melakukannya!”


Crypto memegang pundak Sean. Sean mengangguk paham, tak lagi dia melarang ketiganya ikut bersama dengannya.


“Kalau begitu, sebaiknya kami pergi sekarang Tuan agung. Sebelum malam makin larut,” kata Amuria berinisiatif.

__ADS_1


Pria tua itu mengangguk, menyetujui permintaan Amuria. “Tentu saja. Aku harap, kalian bisa melakukan semua ini dengan baik.”


“Tentu Tuan agung. Tanggung jawab pangeran, ada di tangan kami,” balas Driyad ikut berkata.


__ADS_2