
“Sebentar lagi penyembahan pada dewa ular akan di lakukan. Kau harus bersiap-siap ratu,” kata tetua leluhur ular pada Medusa.
Medusa menelan ludah liarnya, kemudian bersiap-siap keluar dari kuil ular ini.
“Penggabungan kedua batu permata itu berhasil. Kalian akan berdiri di puncak istana mengawasi siapa saja yang mencoba mengganggu penyembahan ini. Dan aku ingin kalian tidak melepaskan pandangan kalian pada Lausius,” jelas Medusa.
Medusa menoleh, bibirnya komat Kamit berkata. Tetua kaum ular yang berdiri di atasnya mengangguk paham.
“Apakah penyembahan ini akan di sertai pernikahan dengan Lausius itu, wahai ratu?” tanya tetua beruban putih. Sama seperti biasanya, dia memang menapak di atas patung ular paling besar di kuil ini.
Lebih tepatnya, ular yang ada di tengah, di kiri dan kanannya ada ular besar lainnya. Akan tetapi, sebagai hukum alam kaum ular, dewa ular berhak berdiri di tengah-tengah kaumnya. Sebagai bukti bahwa dewa ular sangat terikat pada kaumnya.
“Tentu saja pernikahan Dnegan Lausius harus di laksanakan malam ini. Aku tidak mau para pengganggu itu datang mengacaukan segala yang telah aku siapkan.”
Medusa tidak ingin lagi buang-buang waktu, terutama Sean. Dia sangat khawatir kalau penyembahan pada dewa ular malam ini akan kacau oleh orang-orang itu. Siapa lagi kalau bukan Xavier dan yang lainnya.
“Jika tidak ada lagi yang ingin kalian diskusikan. Aku pergi dahulu. Kita akan bertemu di tempat pemujaan dewa ular.”
Medusa berlalu, para tetua kaum ular membungkuk. Tanda mereka mematuhi titah Medusa.
“Baik ratu.”
🕉️🕉️🕉️🕉️🕉️🕉️🕉️🕉️
Sean duduk di ranjang tidur Medusa. Dia sedikit membungkuk, satu tangannya memijat kepalanya.
Pikiran Sean masih terpaku pada kata-kata Medusa. Dia ingin menikahi Sean, walau Sean tidak menyukainya.
“Apakah jika aku menikahi si wanita ular, dia benar-benar akan abadi?”
Sean tentu ragu menanggapinya. Tidak mudah baginya menerima segala sesuatu yang tidak masuk akal. Bukankah keabadian hanya di miliki oleh orang-orang nirwana.
Sama seperti sebelumnya, Sean tak ubahnya masih telanjang dada. Sean tidak menerima satu pakaian pun yang di berikan Medusa. Sean terus menolak pakaian itu.
Medusa meninggalkan pakaian mewah di zamannya, di atas meja tepat di depan Sean. Sean meliriknya saja, tak berani dia menyentuh pakaian itu. Apalagi memakainya.
“Malam ini ada pemujaan dan penyembahan pada dewa ular. Itu artinya, akan banyak kesempatan untukku kabur. Aku harus mengingat jalan keluar dari sini. Setelah penyembahan itu berkahir, aku akan meninggalkan tempat ini. Tetapi, bagaimana caranya. Bahkan untuk keluar saja, aku di jaga ketat.”
Setidaknya, begitulah yang Sean pikirkan. Selama dua hari ada di istana Medusa, wanita ular itu memperlakukan Sean dengan ramah.
Selama itu juga, Sean sudah mengamati tempat ini baik-baik. Gilanya adalah, Sean sudah tahu banyak mengenai rahasia di tempat ini. Salah satunya adalah, rahasia Medusa ingin mencapai puncak keabadian.
Sean menyungging senyum yang manis, pikirnya pantas saja wanita itu menginginkannya.
“Jika aku dan Medusa sudah terikat dalam sebuah pernikahan. Maka Medusa akan mencapai puncak keabadiannya. Lalu dia akan menyerap cahaya dari tubuh ku. Tujuan Medusa ingin membawa kaumnya ke puncak kejayaan karena kaum ular di sebut kaum keterbelakangan. Selalu di tindas, di bunuh, di sakiti tanpa perasaan. Jika aku bisa membantu kaum ular terbebas dari kesengsaraan ini, maka dia akan membiarkan aku pergi.”
Memang pada dasarnya Medusa menginginkan ini semua. Membawa kaumnya pada puncak peradaban dan kejayaan. Meninggalkan gurun tandus ini, menuju ketanah kemakmuran yang membuat kaumnya lebih baik lagi.
Meninggalkan segel yang terus mengecap dan melekat pada kaum ular. Di mana kaum ular di nyatakan sebagai ras tertinggal, ras kuno dan ras tidak maju berpikir dari ras lainnya.
Kelahiran Medusa membawa dampak penting bagi kaum ular yang di anggap lemah. Karena hanya baru Medusa yang memiliki kekuatan dahsyat ini.
Sean termenung, tatapannya mengarah ke luar jendela. Memandangi rembulan yang bersinar terang. Sean mengembuskan napas lelah. Sesaat kemudian, dia melirik ke arah pintu yang sedikit mulai membuka.
“Pangeran!” Medusa menyapa.
Sean acuh, pandangannya kembali ke luar jendela.
“Pangeran. Apakah kau tidak Ingin ikut menyaksikan pemujaan terhadap dewa ular malam ini?” tanya Medusa. Dia duduk di sebelah Sean.
“Ini pemujaan kalian. Kenapa aku harus ikut!”
__ADS_1
Medusa tersenyum, kemudian mengambil tangan Sean, memegangnya lembut.
“Inti kedua batu permata milik dewa ular terserap kedalam tubuh mu. Jika kau tidak ikut, maka pemujaan ini tidak akan ada artinya.”
“Kenapa harus aku?” Sean berdelik. “Bukankah kau butuh batu permata itu. Seharusnya kau mengambil batu itu dari tubuh ku, bukannya memberikan pada ku.”
Medusa menatap Sean lagi. Dengan sabar Medusa mencoba memberitahu Sean perlahan.
“Pangeran adalah inti dari segala kekuatan Medusa saat ini. Jika pangeran tidak datang. Maka akan sia-sia pemujaan yang sudah kami siapkan selama ribuan tahun ini.”
“Maksud mu?” Sean beralih.
“Pemujaan ini terjadi seribu tahun sekali. Dengan sabar kaum ular menunggu hari berkah ini. Jika malam ini gagal, maka kami butuh waktu seribu tahun lamanya untuk menunggu malam keberkahan ini terjadi lagi.”
Sean mengernyitkan dahinya, jadi dia paham maksud Medusa.
“Aku......”
Medusa memegang tangan Sean, memberikannya sedikit senyum sumringah.
“Jika pangeran tidak datang. Maka malam ini adalah malam terkacau yang pernah kami impikan.”
Sayang, Sean tak bisa menolak. Walau dia ragu, akan tetapi Medusa memaksa. Dengan berat hati, Sean harus ikut dalam pemujaan ini.
Apakah aku harus melihat mereka memuja dewa ular. Kenapa aku menuruti kemauannya. Kenapa aku tidak bisa menolak ular ini.
“Baiklah.....” Sean menyerah. “Aku akan ikut melihat pemujaan ini.”
🕉️🕉️🕉️🕉️🕉️🕉️🕉️🕉️
Suasana malam itu gelap, mata Zumirh memicing kesana kemari saat mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut tempat. Di istana Medusa, api penerangan menyinari setiap tempat.
Zumirh berdiri di atas puncak istana Medusa. Wajahnya tertutup burka hitam, sementara Zurry ada di sebelahnya.
“Tunggu sebentar lagi,” balas Zumirh. “Mungkin mereka sedang menyiapkan segala sesuatu untuk pemujaan malam ini.”
Pandangan Zumirh masih tak berubah posisi, masih sama. Memandangi kaum ular yang hilir mudik di gerbang masuk istana, di istana atas dan juga di benteng istana. Mereka terlihat bersiaga, dengan tombak-tombak tajam di tangan.
“Itu, kau lihat,” kata Zumirh memburu. Dia menunjukkan jarinya ke arah Medusa dan Sean yang baru saja keluar dari istana Medusa. “Mereka akhirnya keluar.”
“Hemp.....” Zumirh membuka burkanya, di ikuti senyum miring penuh kepuasan. Zumirh demikian, membuka burkanya. “Kau jalankan rencana kita. Aku akan mengalihkan perhatian mereka.”
Zurry hendak terbang menuju ke tempat di mana dia ingin mengalihkan perhatian kaum ular. Namun, belum sempat dia mengepakkan sayapnya. Zumirh menarik saudaranya itu, kembali ke tempat mereka semula.
“Kau lihat. Mereka datang!” katanya memberitahu.
Zurry melihat, setelah di beritahu adiknya. Di atas puncak menara istana Medusa yang bertingkat, Elius juga sudah tiba. Elius ada di sisi lain istana Medusa, namun tak melihat keberadaan keduanya.
“Hah..... Hampir saja aku ceroboh,” gerutu Zurry agak sebal.
“Itulah kenapa, kita harus menunggu mereka sampai pemujaan itu di mulai. Jika memulai sekarang, justru rencana kita akan gagal.”
Ada benarnya apa yang di katakan Zumirh. Dia harus menunggu waktu yang tepat. Jika tidak, mungkin kesempatan besar mereka akan kacau balau.
“Baiklah. Aku ikuti saran mu.”
Sementara di seberang menara Medusa, Elius terbang. Dia tak ingin menapaki kakaknya di atap istana Medusa.
“Baru kita saja yang datang. Apakah ini kesempatan besar untuk kita mendapatkan Lausius?” tanya Elius pada Nekabudzer.
Tangan Nekabudzer memegang pundak Elius, kemudian memposisikan sayap keduanya agar terbang seimbang.
__ADS_1
“Kau benar. Baru kita saja yang datang. Akan tetapi, tidakkah ini terlalu janggal.”
“Apa maksud mu?” Elius meliriknya tajam. Ucapannya itu mengundang pertanyaan.
“Sudah jelas kalau ini tidak seperti yang kita bayangkan. Seharusnya orang-orang itu juga sudah datang.”
“Zumirh dan Zurry?”
Nekabudzer mengangguk. “Dewa iblis itu juga belum nampak. Tidakkah ini sebuah hal yang mencurigakan.”
Elius tertawa puas, padahal ini yang dia harapkan. “Itu artinya kesempatan kita untuk mendapatkan batu jiwa dan Lausius itu ada di depan mata. Untung saja kita tidak membawa pasukan Gort ketempat ini.”
“Kau jangan terburu-buru,” kata Nekabudzer memperingati. “Siapa tahu ada jebakan di sekitar sini. Aku yakin, iblis sialan itu pasti akan datang ke sini!”
Nekabudzer mengedarkan pandangannya ke seluruh tempat yang masuk ke wilayah Medusa. Dan, memang yang dia dapati hanya ada Medusa, Sean, dan kaum ularnya yang terlihat bergumul di satu tempat. Di lapangan luas, sementara semuanya satu posisi. Menghadap ke patung ular besar di dalam kuil.
Patung ular itu memancarkan cahaya dari balik matanya. Seakan mereka hidup.
“Hei. Apa yang akan aku lakukan di sini?” bisik Sean pelan. Dia ada di samping Medusa. Wanita ular itu terlihat sangat fokus menatap patung pemujaan.
“Pangeran cukup memperhatikan saja. Ini adalah tugas ku, mengumpulkan para leluhur.”
“Leluhur?”
“Mereka adalah tetua generasi pertama kaum ular. Jadi pangeran cukup memperhatikan saja.” Medusa menjelaskan, dan Sean mengangguk mengerti.
Oke, Sean diam. Dia hanya menyaksikan para ular-ular ini. Dan, mulailah. Suara musik sudah menggema, suara seruling dan suara gendang di tabuh. Seolah Sean berada di zaman Mesir kuno, rasanya sedang berlibur di sana.
Sesaat kemudian, beberapa ular wanita di belakang Sean menari. Mereka menekuk setiap tubuh dengan indah di hadapan patung ular ini.
Sean mengernyitkan dahinya, namun tak ubahnya dia kagum pada kemampuan menari mereka.
“Ratu,” tetua kaum ular menegur. “Sebentar lagi batu permata ular biru akan muncul. Bersiap-siaplah. Ritual batu jiwa akan di mulai. Kalian akan menikah.”
Sean yang mendengarnya, mendadak terperangah. Dia ternganga, buruknya bagi Sean, wanita itu terlihat bahagia.
“Kau.....”
“Hanya ini yang bisa aku lakukan. Mengikat jiwa kita masing-masing,” kata Medusa pada Sean.
“Tetapi aku tidak mengatakan akan menikah dengan mu!”
“Maaf pangeran. Sepertinya aku tidak bisa melakukan itu. Kita harus mengikat jiwa kita malam ini.”
Sean mendengkus sebal, kemudian melipat kedua tangannya di dada. “Kau bahkan memanipulasi diri ku,” kata Sean memalingkan wajahnya.
Medusa memegang pundak Sean, dia berdiri tepat, ingin menangkap binar mata anak itu. “Jika tidak begini. Mungkin rencana ku untuk menuju keabadian akan hilang dengan sia-sia. Hanya pangeran Lausius—putra cahaya yang bisa membantu ku saat ini, untuk meningkatkan kekuatan. Maaf jika membuat pangeran harus menerima keegoisan dari medusa.”
Medusa terlihat membungkuk hormat pada Sean. Namun, tetap saja. Sean acuh padanya.
Baiklah, Sean memang benar-benar tak bisa menghindar dari si ular. Walau ada perubahan dalam dirinya, dia juga tidak tahu apa yang bisa membuatnya begitu. Sean menebak kalau kekuatannya bertambah berkat kedua batu itu, namun tak tahu bagaimana caranya mengendalikan kekuatan itu.
Mata ular berkilau beberapa kali, tidak seperti biasanya. Lalu, tubuh Sean yang sudah mulai reda untuk tidak bersinar, kini kembali bersinar lagi.
“Hei, ada apa ini!”
Sean memandang bagian tubuhnya yang mulai bercahaya. Ekspresi bingung itu, lagi-lagi menghiasi wajah Sean.
Medusa mendengkus tersenyum, sudut bibirnya menyatakan kebanggaan.
“Tandanya dewa ular memberkati Anda pengeran.”
__ADS_1
BERSAMBUNG