
NOTE:
BUAT PEMBACA YANG TADI BACA BAB 116 ADA DUA (DOBLE UP) ATAU DUA BAB 116 & 117 ISINYA SAMA. COBA DI BACA ULANG BAB 117. AKU SUDAH REVISI BAB ITU DAN ISINYA SUDAH BEDA.
ITU LAZIM TERJADI, KARENA JARINGAN SELULER KU SERING EROR. BAHKAN PROVIDER TSEL TADI MULAI NGAJAK GELUD. OLEH KARENA ITU ERORNYA LUMAYAN BUAT HARI KU BURUK.
JANGAN LUPA TINGGALKAN LIKE, KOMENTAR & RATE BINTANG LIMA—NYA YAH. SEMOGA, YANG MENDUKUNG AUTHOR JUGA YANG MENYUKAI NOVEL INI, KALIAN DI BERIKAN KESEHATAN. JANGAN LUPA, #DI RUMAH AJA. BIAR MEMUTUS MATA RANTAI COVID-19. TERIMA KASIH SUDAH MEMBACA NOVEL INI. SALAM MANIS, AUTHOR.
_____________________________________________
COVER NOVEL YANG BARU AKU PERBARUI
“Apakah kau tidak ada niat buruk membawa ku kesini?”
Medusa yang hendak meninggalkan Sean seorang diri di kamarnya, kembali menoleh. Tatapan sinis itu memberikan Sean sebuah senyuman manis.
“Tentu saja aku tidak sepolos yang kau kira,” balas Medusa.
Huh. Sean melipat kedua tangannya di dada, dia memalingkan wajahnya ketika wanita cantik setengah ular itu berkata jujur.
“Aku kira kau tidak hanya cantik fisik saja. Nyatanya, hati mu juga tidak lebih buruk dari wajah mu. Kau dan hati mu tidak ada ubahnya. Sama-sama menjengkelkan.”
“Kau sedang meledek ku?”
“Seandainya kau merasa bahwa itu sebuah ledekan. Kenapa? Apakah kau akan membunuh ku?”
Medusa lagi-lagi tersenyum. Pintu yang semula terbuka sedikit, kembali dia rapatkan tertutup. Mendekati Sean, sementara dia terlihat seperti merona mendekati anak itu. Dia tidak marah kala Sean mengatakannya dengan ucapan sarkas, justru dia terenyuh.
“Aku sama seperti wanita-wanita yang mengejar mu pangeran. Aku juga ingin kau menikahi ku!”
Sean mendengus, wajah yang berpaling itu tetap tidak mau menatap Medusa.
“Huh. Aku tidak akan melakukannya. Lagi pula kisah kita berbeda.”
Medusa tahu anak itu tidak akan pernah mau menurutinya walau dia bersikap baik. Namun, perlahan Medusa mencoba mendapatkan hati yang keras ini. Medusa duduk di pinggir tempat tidurnya, tepat di sebelah Sean.
Remaja yang telanjang dada itu, dia pegang kedua tangannya. Medusa memberikan sebuah tatapan penuh harapan. Perlahan Sean menatapnya, namun dahinya dia kernyitkan.
“Apakah karena bentuk tubuh ku, sehingga pangeran Lausius enggan menatap ku?” tanya Medusa.
Sean memiringkan sedikit kepalanya, tak ubah pertanyaannya itu benar.
“Tidak lebih buruk. Hanya karena ekor mu. Sehingga kau terlihat aneh.”
“Hemph.....” pengakuan yang luar biasa jujur. “Setidaknya, Pangerang mengakui kebenaran.”
Ketika Sean berkata begitu, mendadak ingatan Medusa berputar ke masa lalu.
Lebih tepatnya, masa yang membuatnya tidak bisa melupakan seseorang yang paling dia cintai.
Ingatan itu membawa Medusa berkeyakinan kalau Sean adalah pria menawan berambut putih yang berjanji akan menikahinya ribuan tahun yang lalu.
Medusa melirik sekilas batang hidung Sean. Dan benar saja, dia sangat mirip.
Tidak berubah. Bahkan Medusa sangat ingat kalau dia pernah menyentuh hidung itu. Dia ingat, pria yang dulu bersamanya pernah membawanya memandang sunset matahari tenggelam di ujung gurun, di atas tebing.
Medusa pernah tertidur di pangkuan pria itu. Menatap rahangnya, hidungnya juga wajahnya yang menawan. Bercerita kisah mereka, dan berjanji bersama-sama ingin menatap masa depan dengan di penuhi oleh cinta.
“Kau adalah satu-satunya wanita yang tidak pernah membuat aku bosan untuk di lihat. Kau mampu membuat aku tak bisa berpaling walau sedetik. Wajah mu bagai napas yang setiap saat penting bagi ku Setiap kali aku tidak melihat wajah mu, aku merasa seakan napas ku sulit untuk di hirup.”
Sangat jelas. Kata-kata itu seakan tidak bisa lenyap selama ribuan tahun ini dari ingatan Medusa. Dan dia satu-satunya pria yang mau menerimanya tanpa memandangnya sebagai makhluk setengah ular.
Namun sayang. Kisahnya itu kandas. Pria yang dia cintai mati dalam peperangan tiga ribu tahun. Perang besar yang membuatnya harus menahan sakit atas semua penderitaan. Meskipun dia mati dalam peperangan besar itu, akan tetapi hingga detik ini Medusa tidak pernah melihat atau menemukan jasad pria itu. Seolah jasadnya di telan bumi. Hilang tanpa jejak.
Apakah Lausius muda ini benar-benar pria yang aku tunggu-tunggu itu. Apakah dia benar-benar reinkarnasi dari kau wahai More. Ataukah kau sendiri seorang Lausius. Putra cahaya itu. Mungkinkah kau adalah More, yang diam-diam mengubah penampilan mu. Jika itu iya, maka aku harap kau mengingat diriku kembali.
“Hei. Kenapa kau diam?” tegur Sean menyela.
Medusa menyadarkan diri dari lamunannya yang sesaat. Sean menatapnya agak aneh, kedua alisnya mengerut—seolah Sean penasaran pada wanita ular ini.
“Kau baik-baik saja bukan?” tanya Sean. Tidak. Dia tidak khawatir pada wanita itu.
Hanya saja Sean memiliki firasat kalau Medusa adalah wanita yang baik. Itu hanya praduga. Dan belum tentu kebenarannya. Bisa jadi ternyata dia adalah iblis berhati lembut. Siapa yang tahu.
“Aku baik-baik saja,” balas Medusa.
“Syukurlah. Aku kira kau kenapa-kenapa!” Sean agak tenang sekarang. Si wanita ular ini membuatnya menahan nafsu. Tidak tahu kenapa, Sean malah merasa tergoda oleh bentuk tubuhnya yang menggila. Namun sebisa mungkin Sean tidak mau melirik bagian tubuh yang terbuka itu.
“Kau mengkhawatirkan ku?” tanya Medusa.
__ADS_1
Sean menggeleng. “Jika aku banyak pekerjaan. Mungkin aku lebih baik sibuk pada pekerjaan ku alih-alih mengkhawatirkan kau,” kata Sean jujur.
Medusa justru tersenyum gembira kala Sean memalingkan wajahnya tak mau menatap dirinya. Sean memunggungi Medusa, sementara tangan Medusa menyentuh lembut pundak Sean.
Perlahan tangan-tangan Medusa menurun ke dada bidang Sean, merabanya dengan gairah. Lalu memeluknya dengan kehangatan.
“Hei. Apa yang kau lakukan!”
“Aku mohon. Biarkan aku seperti ini.”
Sean men-decak gila. Aneh, wanita ular ini membuatnya makin memanas.
“Apakah ini cara kaum ular merayu mangsanya.”
Wajah Medusa yang menempel di punggung Sean, menggeleng. Sementara jari telunjuk Medusa iseng menggambar pola cahaya yang berkilau di permukaan kulit Sean. Sinar yang tidak hilang sejak tadi.
“Aku hanya mau kau. Menikahlah dengan ku pangeran.”
“Kau gila,” kata Sean terperangah. “Mana mungkin aku akan menikah. Usia ku masih muda. Aku masih anak-anak, sementara kau. Aku yakin, kau sendiri sudah berusia ribuan tahun. Aku tidak pantas untuk mu.”
Medusa mendengus, jari-jari yang gemulainya kembali meraba perut, dada dan semua yang ada di tubuh Sean.
“Kau bukan anak-anak. Kau adalah reinkarnasi dari More.”
“More?” Sean mengulangi, raut wajahnya menekuk makin bingung. “Siapa dia?”
“Dia pria yang mencintai ku.”
“Suami mu?” Sean menebak.
Medusa menggeleng. “Hampir.”
“Menjadi calon suami mu?”
Kali ini Medusa mengangguk. “Dia sama seperti pangeran. Dia menawan dan hangat. Kalian sama-sama menyejukkan hati ku yang sudah lama tak di perhatikan oleh pria yang aku cintai.”
Sean membalikan badannya, menatap wajah cantik Medusa. Sementara kedua tangannya menyingkirkan tangan Medusa dari tubuhnya.
“Mungkin kau salah mengira orang!”
Medusa menggeleng. “Seandainya aku salah mengira. Maka aku tidak salah dengan keputusan ku.”
“Hei, kau....”
Ketika mereka sedang berbincang, dari luar pintu besar yang terbuat dari baja itu terdengar ada yang mengetuk.
Medusa paham pada lirikan Sean. Namun dia tak beranjak. Justru menyahut saja.
“Katakan!” ucap Medusa.
“Para leluhur sudah menunggu ratu di kuil ular.”
Medusa hapal, itu suara pelayan yang biasa menyampaikan berita padanya.
“Apakah itu penting?” tanya Medusa.
“Para tetua mengatakan kalau hari ini adalah penyembahan terhadap dewa ular.”
Hah. Lelah kalau terus-terusan seperti ini. Selalu menyembah leluhur, rasanya membuat Medusa bosan pergi kesana. Namun tak urung, dia menyetujui permintaan para tetua itu.
“Baiklah. Aku akan segera kesana!” balas Medusa berteriak.
Sebenarnya dia malas menemui para tetua. Apalagi harus menyembah leluhurnya, para dewa ular. Akan tetapi, dia juga tidak bisa menghindari perintah ini. Dia adalah panutan semua kaum ular. Jadi, Dnegan keterpaksaan dia harus datang ke kuil ularnya.
“Kau akan pergi?” tanya Sean.
Medusa mengangguk saat dirinya sudah berdiri. Lalu menuju ke meja riasnya, memasang anting-anting, mahkota dan berbagai perhiasan. Menyisir rambutnya, lalu memakai jubah kepemimpinan ratu ular. Dia tampil amat cantik, bibirnya yang merona, kini dia tambahkan pewarna. Dia makin cantik dengan riasan yang pas.
“Aku akan menemui leluhur ku. Para dewa ular. Aku harap pangeran tetap di sini. Aku akan segera kembali.”
“Haruskah aku melakukan itu?”
“Semua tempat ini sudah aku lapisi dengan kekuatan. Kau tidak akan mudah keluar dari sini.”
Sial. Belum apa-apa, Sean malah sudah di beritahu rahasia lain dari tempat ini. Sean meremat sprei kasur, dia mulai gerah berada di sini.
Medusa mengambil kotak kecil di atas meja riasnya. Kotak dengan bagian kepala membentuk kepala ular, sementara kotak itu sendiri terbuat dari emas. Berkilau sombong.
Sejenak wanita itu membuka kotak. Di dalamnya ada sebuah permata berwarna merah delima yang berkilau. Memancing Sean ingin tahu, benda apa itu. Namun dia tidak berani bertanya. Sedangkan Medusa sudah keluar meninggalkan kamarnya ini.
“Benda apa yang dia bawa tadi. Kenapa aku merasa ada sesuatu yang membuat aku tertarik melihatnya.”
Sean beranjak, dia mencoba mengintip Medusa dari balik celah-celah pintu. Satu matanya menutup, dan satu lagi terbuka mengintip. Sean melihat dengan jelas wanita berekor itu, berjalan lenggak-lenggok.
__ADS_1
“Kenapa kotak itu di alihkan pada pelayannya. Apa makna dari semua ini?”
Sean tak salah lihat. Memang kotak kecil dari emas tadi dia berikan pada pelayannya.
Entahlah. Banyak pertanyaan yang membuat Sean kebingungan. Oh. Ini kesempatan. Seharusnya Sean kabur. Di sebelah Sean ada jendela besar, dan itu adalah jalan keluar terbaik yang pernah dia dapati.
“Haruskah aku keluar melalui pintu ini?” Sean berargumen.
Siapa peduli. Itu jalan satu-satunya. Sean membuka jendela. Dan ya, memang tidak ada penghalang baginya untuk kabur. Namun—
Oh, sial. Ketika Sean mengedarkan pandangannya di luar jendela. Kemudian menelisik, ke bawah. Jelas saja, ide konyol jika kabur melalui jendela ini. Atau dia akan mati dengan cara tak wajar jika nekat melompat.
“Hebat. Aku baru tahu kalau di bawah adalah jurang. Kaum ular yang cerdik.”
°°°°°°°°°
Berkat sayapnya, Zurry berhasil tiba di istana mereka. Beruntung, sang adik tidak terluka parah akibat bertarung melawan Medusa.
Istana iblis kakak beradik ini terletak di dasar bumi. Api dan lahar sudah menjadi sedimen yang akrab dengan tempat ini. Bertahun-tahun mengendap, membuat dinding-dinding istana kuat dan tahan gempuran. Untuk turun bahkan sampai tiba di dasar bumi yang di penuhi lahar api yang panas, Zumirh dan yang lainnya menaiki tuas pengungkit.
Membentuk seperti lift pengangkut di jaman modern. Tidak butuh waktu lama untuk sampai ke dasar bumi. Kereta pengangkut itu melesat cepat dalam hitungan menit.
“Jika bukan karena kau ceroboh. Tidak mungkin kau akan terluka seperti ini.”
“Maafkan aku kak. Anak itu cukup kuat. Itulah kenapa aku kalah melawan kaum ular itu. Tenaga ku hampir habis, tertekan oleh kekuatannya.”
Zurry memapah Zumirh membaringkan adiknya di tempat tidurnya. Untung saja, Zumirh masih bisa dia selamatkan. Jika Zurry terlambat sedetik saja tidak datang, bisa di pastikan kekalahan telak akan menghampiri Zumirh—adiknya.
“Apakah kau yakin Lausius muda itu benar-benar kuat?” tanya Zurry penasaran.
“Jika kau mencobanya, mungkin kau akan tahu seberapa kuatnya anak itu.”
“Hemp.....” Zurry mengurut dagunya. Dia berpikir sesuatu akan Sean. Yang jelas, pikiran itu berkaitan dengan Lausius yang membuat adiknya kehilangan sebagian kekuatannya. “Itu artinya. Lausius kali ini benar-benar terlahir dari lotus biru.”
“Bisa jadi.”
“Kau berpikiran seperti itu juga?” Zurry terlihat sumringah.
Zumirh yang terbaring lemah di tempat tidurnya, mengangguk pelan. “Tanda lahirnya tidak hilang. Cahaya itu mungkin yang membuatnya makin kuat.”
“Benar. Aku merasakan hal yang sama seperti mu!”
Zurry memaksa kembali ingatannya saat berada di gurun Medusa. Dia jelas melihat cahaya di tubuh Sean. Mungkin Zurry akan berkesimpulan kalau Lausius kali ini terbilang tangguh dari Lausius sebelum-sebelumnya.
“Kalau begitu. Lain kali kita harus berhati-hati jika bertemu dengan Lausius muda itu. Aku akan pelan-pelan mempelajari rahasia di balik kemisteriusan pangeran itu.”
°°°°°°°°°°
Bosan rasanya kalau menunggu Medusa kembali. Sean tahu, seharusnya dia ikut Medusa tadi. Dan pikiran Sean sudah terpatri untuk membuntuti wanita ular itu. Tetapi bodohnya Sean, justru dia patuh pada Medusa. Dengan setuju untuk berdiam diri di kamar ini.
Sean yang sedari tadi duduk termenung di pinggir tempat tidur, mendadak berdiri. Menjentikkan jarinya, dia mendapatkan ide cemerlang.
“Benar. Dia pergi belum lama. Sebaiknya aku mengikuti dia.”
Sean beride. Seharusnya dia mengikuti Medusa sejak dia keluar tadi. Tapi tak mengapa, mumpung belum lama dia pergi Sean mengejarnya.
“Aku harus berjalan mengendap-endap. Agar makhluk berekor ini tidak tahu keberadaan ku.”
Bagai pencuri, Sean mengendap bak cicak. Mengerat di dinding. Di beberapa lorong yang dia lalui, syukurlah. Lega. Tidak ada penjagaan ketat. Tetapi—
“Ah. Jalan mana yang mereka tempuh. Ada dua lorong, yang mana jalan yang di pakai oleh wanita itu.”
Sean melirik jendela di sebelahnya. Medusa dan pelayannya melintas tepat di bawahnya. Ya, mereka sudah berada di jalan yang terlihat seperti benteng. Dengan jurang di sisi kanan dan kirinya. Nampaknya tempat ini di kelilingi oleh jurang-jurang yang amat dalam.
“Benar. Lorong sebelah kanan!”
Sean menjentikkan jarinya. Dia berlari, agar tidak kehilangan jejak wanita ular itu. Dan yang menarik adalah—tenmpat ini amat megah. Bahkan lorong istana besar ini pun di pasang karpet merah dan biru di semua lantai. Benar-benar kaum gila.
Sean menyelinap, kepalanya perlahan keluar. “Apakah tidak ada pengawal yang menjaga?”
Di jalan yang baru saja di lewati oleh Medusa, benar-benar sepi. Sean kembali melanjutkan langkahnya. Namun kali ini agak menunduk. Karena di sisi tebing benteng banyak kaum ular. Mereka berkumpul di lapangan besar, tempat di mana pintu masuk.
“Kenapa ular-ular payah itu bergumul di satu tempat. Mereka menyusahkan jalan ku saja,” gerutu Sean sebal.
Di ujung jalan yang terbuat dari batu hitam ini, ada pintu besar. Medusa masuk ke dalam sana tadi. Sean membuka pintu itu. Jelas suara berisik dari pintu yang terbuka, membuat Sean menutup matanya pelan.
“Oh sial. Apakah akan ada pengawal ular yang datang?”
Beruntunglah, tak ada siapapun yang datang ketika mendengar suara pintu ini menguak. Takut-takut tadi kalau ada yang datang. Bisa-bisa Sean di seret kembali ke tempat semula, alih-alih membuntuti Medusa.
Sean beranjak masuk. Astaga, pintu itu membentuk sebuah lorong di dalamnya. Amat memanjang. Agak gelap, remang-remang. Hanya ada beberapa pencahayaan, itupun di satu titik namun berjarak beberapa meter setiap lampu penerangan. Jadi bisa di sebut, gelap-gelap terang.
Pada akhirnya, langkah Sean membawanya menuju ke tempat di mana Medusa berada. Walau sempat tadi ada banyak halangan dan rintangan yang menyerang, beruntung Sean bisa melaluinya. Banyak jumlah jebakan di lorong ini, tak terkira. Syukurlah, lorong gelap ini ternyata ruang bawah tanah menuju ke kuil ular. Sean berhasil menembus dimensi ini.
__ADS_1
“Wow. Besar sekali kuil ini!”
BERSAMBUNG