
“Pangeran!” teriak Crypto.
Sean menoleh kebelakang, badai yang tercipta dari pasir kembali muncul. Iblis pasir itu bangkit, dia belum tewas.
Dia ....
“Pangeran, hati-hati!” teriak Crypto lagi.
Sean, dia secepat mungkin menghindar dari serangan iblis pasir itu. Ternyata, iblis pasir sudah mengibaskan pedangnya pada tubuh Sean, memaksa Sean harus terbang menjauh.
Dentuman pedang itu, lagi-lagi menciptakan awan debu yang pekat. Cukup menutupi penglihatan Sean.
“Monster ini. Dia masih bisa bangkit. Jalan satu-satunya, aku harus memenggal kepalanya. Itu mungkin saja kelemahannya!”
Sean, dia terbang tepat di belakang iblis pasir. Terjun bebas, menukik, mencoba memenggal kapal iblis pasir itu.
“Hiya ....”
ZRAT!!
Benar saja, Sean mampu memenggal kepala iblis pasir hingga terpisah dari tubuhnya. Kepala itu mengguling di pasir. Ada darah keluar dari lehernya.
Bau anyir itu menyengat, membuat Sean harus menutup hidungnya. Sean menjejakkan kakinya di kepala iblis itu, sisa-sisa dari kehidupan sang monster.
“Kau telah menghancurkan iblis pasir. Kau harus membayarnya!”
Ucapan iblis pasir di kira Sean adalah bualan belaka, namun nyatanya itu adalah fakta. Tubuh dan kepalanya akan menyatu, walau sudah terpisah beberapa meter jauhnya.
Menyadari akan hal itu, Sean dengan cepat langsung menancapkan pedangnya di kening iblis pasir. Hingga sebuah api keluar dari sana. Menyembur, dan Sean tahu itu pasti sejenis darah iblis.
“Tak akan aku biarkan kau hidup!” ucap Sean bertekad.
Sean makin memperdalam tancapan pedangnya, membuat iblis pasir tak berdaya. Sekali dia mengerang sakit.
Tubuh yang hendak menyatu itu, kini terhenti.
“Apakah ini kelemahannya?”
Sean mengerutkan alisnya, tidak tahu apakah sudah benar apa yang Sean lakukan. Tapi, nampaknya itu berhasil, Sean menghentikan mahluk pasir itu.
“Tubuhnya hancur. Itu artinya, dia benar-benar sudah lenyap?”
Barangkali Sean berpikir demikian. Namun Sean tetap harus waspada. Mungkin saja ada iblis pasir lainnya, atau ini trik sang iblis pasir dalam menumpas para Lausius. Bisa jadi.
Di sini berlaku hukum rimba, yang kuat adalah pemenangnya. Sean, dia tak akan membiarkan hal semacam itu terjadi padanya.
Sean meluaskan pandangannya, mencari dimana pasir yang nampak curiga di matanya. Tetapi, tak ada. Pasir kembali tenang. Tidak lagi menciptakan badai pasir yang dahsyat.
“Mungkin saja memang dia sudah hancur.”
Kini Sean memandangi ketiga pria yang terluka itu. Perlahan, ketiganya mulai membaik. Sean sedikit khawatir pada mereka.
“Apakah luka kalian cukup parah?” tanya Sean.
Crypto menggeleng. “Tidak pangeran,” balasnya. “Luka ku perlahan mulai membaik, tapi Amuria dan Driyad. Mereka perlu diperhatikan.”
“Tidak, aku baik-baik saja,” sahut Driyad. Walau sebenarnya masih sakit, namun Driyad berusaha berdiri kuat. “Aku baik-baik saja pangeran. Jangan pikirkan aku.”
“Aku juga sudah membaik. Tidak ada yang perlu di perhatikan!” Amuria ikut menyela. Melihat kedua rekannya mulai membaik, bahkan berdiri normal, Amuria tidak ingin ketinggalan.
“Baiklah. Jika kalian baik-baik saja. Maka kita lanjutkan perjalanan ini,” kata Sean, kemudian memutar tubuhnya.
Berjalan kembali, Sean memimpin lagi jalan yang akan mereka lalui.
Driyad, dia terlihat memegang bokongnya. Sedangkan kedua temannya sudah membaik.
Crypto mengalihkan perhatiannya, melirik diam-diam tingkah Driyad.
“Apakah bokong mu terkena bisul?” tanya Crypto.
“Bisul? Kau kira aku penyakitan,” balas Driyad angkuh.
“Lalu, kenapa kau dari tadi memegang bokong mu! Bukankah itu sama saja dengan seseorang yang penyakitan?”
“Mungkin saja tulang ekornya patah,” sahut Amuria terkekeh.
“Kau ....”
“Hentikan,” ucap Sean menahan tingkah anarkis Driyad pada Amuria.
“Ada apa pangeran?” tanya Crypto, kini dia mendekat.
Jalan mereka sudah lumayan, mungkin ada sepuluh sampai dua puluh langkah kaki. Tetapi, Sean mulai peka pada keadaan sekitar. Matanya melirik sekitar tebing bebatuan, mencari sesuatu yang Sean rasakan.
“Sepertinya ada seseorang di sekitar sini,” ujar Sean menerka.
Ketika matanya sedang menginterogasi bebatuan di Padang pasir ini, tiba-tiba Driyad berteriak.
__ADS_1
“Pangeran. Ada orang yang terluka di sana,” tunjuknya pada sebuah tebing sebelah kiri mereka.
“Oh. Itu dari klan ular, sepertinya pengawal Medusa.”
Crypto mengenali makhluk itu. Dia terkapar di dinding bebatuan, juga sekujur tubuhnya penuh sayatan terluka.
Sean mendekat, di ikuti ketiga pengawalnya.
“Kau kenapa?” tanya Sean.
“Tolong. Ratu ular, istana kami ..., Di—serang oleh dewa iblis.”
Ucapannya agak tertatih, terbata-bata. Tapi Sean memahaminya. Sean memandang Crypto, barang kali dia lebih memahami keadaan ini.
“Dari ucapannya, dia sepertinya sudah berjalan cukup jauh melintasi gurun ini.”
“Hei Crypto, kau jangan selalu menebak. Kau tahu tidak, saat ini dimana tempat iblis itu di menyerang.”
Driyad menyambar perkataan Crypto, yang menurut Crypto telah mengusik hidupnya.
“Kita tanyakan saja padanya,” balas Crypto menunjuk makhluk setengah ular itu. Tapi ....
“Dia sudah mati,” jelas Sean. “Dia tidak bernapas lagi.”
“Secepat ini?” ucap Amuria tak percaya.
“Mungkin dia kelelahan berjalan cukup jauh, ditambah penuh luka. Itulah kenapa dia tidak bisa cukup bertahan di tempat gersang ini,” jelas Sean lagi, dengan pemahamannya.
“Huh, padahal Crypto berniat menanyakan dimana letak dewa iblis menyerang klan ular. Namun dia sudah mati. Sia-sia saja jika bertanya padanya.”
Driyad bersikap layaknya sosok yang paling kehilangan pria ular itu. Dalam niatan, dia ingin meledek Crypto. Tapi sayang, Crypto yak terlalu menanggapi ucapan Driyad.
“Sebaiknya, kita susuri tempat ini. Aku rasa, dia datang dari celah lubang di tebing ini.”
Sean memperhatikan sisa-sisa guratan ekor ular itu. Jejaknya masih nampak di permukaan pasir yang telah dilalui mayat ular itu. Juga ada banyak darah di sepanjang jalur yang dia lalui, dan ini mungkin sebuah petunjuk bagi Sean.
“Kalau begitu, kita jangan buang waktu lagi pangeran. Aku rasa, saat ini pasukan ular dan pasukan dewa iblis itu telah bertarung hebat. Aku yakin, pasti klan ular butuh bantuan.”
Crypto, sama seperti sebelumnya. Dia yang paling mengerti akan hal ini. Sean, dia mengangguk. Kini mengikuti ucapan Crypto, mereka menyusuri jalan bekas ular tadi lalui.
Sambil berlari, rasanya tidak adil. Amuria dan Crypto juga ikut berlari, yang memancing tumit mereka sakit untuk terus menggerakkan sendi kaki.
“Pangeran. Bisakah kita tidak berlari!” keluh Driyad lelah. “Kaki ku, rasanya mulai patah.”
Sean memang tidak ada lelahnya, anak itu terus berlari kencang tiada henti. Hanya Crypto yang mampu mengimbangi Sean, sedangkan keduanya sudah merasa peluh dan lelah.
“Benarkah itu pangeran?” tanya Amuria memastikan. Jujur, napasnya mulai terengah-engah.
Sean tak membalas, justru membuka sayapnya. Tepat jalan yang ada didepan mereka adalah jalan buntu, kecuali ada lubang kecil di sisi kiri tebing. Cukup untuk menyusurinya, tapi Sean enggan masuk kesana.
Sean yakin, pasti ular itu keluar dari celah kecil yang ada di depan mereka. Ada darah di dinding batu, jelas dia melewati celah itu.
Crypto ikut membuka sayap, dua pria di belakangnya juga ikut mengembangkan sayap masing-masing.
Tiba di ujung tebing, jalan buntu, mereka terbang. Melalui udara, ini kali pertama Sean menggunakan sayap. Sebelumnya, menggunakan sayap jika itu mendesak Tapi sekarang, tak ada pilihan lain, inilah jalan satu-satunya.
Di udara, mata Sean memeriksa dimana letak pertempuran itu. Dibantu oleh mata-mata ketiga pria itu, mereka mulai menyusuri tempat di permukaan Padang pasir.
“Disana pangeran!” tunjuk Amuria memberitahu. Dia menemukan tempat itu.
Dari kejauhan, ada banyak mayat ular tergeletak. Juga beberapa mayat prajurit iblis neraka.
Sean menajamkan penglihatannya. Dibawah, Medusa bertarung hebat melawan dewa iblis, memaksa Sean harus cepat membantu prajurit kaum ular yang kalah telak.
“Haha ..., tanpa kristal ular, kau tak akan bisa mengatasi kekuatan ku Medusa!”
Suara beroktan berat itu, lagi-lagi pikir Sean. Dia selalu mengusik siapa saja yang tidak berhubungan dengannya.
“Jangan harap kau bisa semudah itu mengalahkan suku ular. Kau lupa, para leluhur ku bisa saja meluluh lantakkan istana neraka mu itu,” balas Medusa berang.
“Haha ..., mimpi saja kau Medusa. Tidak ada ular yang lebih baik dari seorang iblis!”
Medusa berada di bawah, sedangkan iblis neraka berada di atasnya. Terbang, dengan kekuatan yang hendak di pamerkan.
“Kau akan berakhir hari ini!”
Dewa iblis mengeluarkan kekuatan dahsyat, kekuatan api. Medusa kalap, dia tak bisa menghindar dengan cepat dari serangan itu. Sialnya, Medusa terpaku, tak harus berbuat apa-apa.
Di saat yang bersamaan, ketika kekuatan besar dewa iblis itu hampir menyentuh kulit cantik Medusa, Sean datang. Dia menamengi Medusa, melalui kekuatan sihir yang sama dahsyatnya, bisa dikatakan seimbang dengan sihir dewa iblis.
“Pangeran!”
Medusa memandangi wajah Sean, cukup lama. Memperhatikan anak yang sedang menahan gempuran kekuatan besar itu, sambil memeluk tubuhnya yang terluka nyaris parah.
“Dia datang untukku. Apakah dia melakukannya?”
Medusa bertanya-tanya, mungkinkah Sean melakukan semua ini demi melindunginya. Atau ini hanya kebetulan saja. Pikiran Medusa bimbang, tapi dia menyukai sifat ksatria pria ini.
__ADS_1
“Kau baik-baik saja?” tanya Sean di sela-sela menahan kekuatan dewa iblis.
Medusa mengangguk lemah. “Pangeran. Apakah itu kau?”
“Ini bukan saatnya untuk bertanya hal lain. Kau harus bertahan, kau terlihat terluka lumayan parah.”
“Aku baik-baik saja pangeran. Jangan hiraukan aku,” kata Medusa berusaha tampil kuat. Namun tidak di mata Sean.
“Akh ..., Aku akan menyelamatkan mu. Tapi ..., Aku haru-s mengalahkan ..., Dew-a iblis dahulu!”
Sean mendorong kekuatannya, mengeluarkan semua tenaga yang masih tersisa. Sambil melindungi Medusa, Sean bersusah payah dalam hal ini.
Alhasil, Sean mampu mengembalikan kekuatan yang mendominasi oleh kekuatan sihir dewa iblis. Membuat dewa iblis itu termakan oleh kekuatan serangannya sendiri. Namun tak sampai terluka, hanya sedikit terdorong saja.
“Lausius. Kau ..., Uhuk!”
Dewa iblis tidak terluka parah, hanya memuntahkan sedikit darah segar saja. Dan mudah sekali baginya mengembalikan energi yang terbuang.
“Ternyata, Lausius itu terpancing juga keluar dari lembah hitam. Tidak sia-sia aku mencegat keberadaannya, dengan menyerang Medusa. Haha ....”
Mungkin, dewa iblis akan tertawa puas melihat pancingannya kini muncul di hadapannya. Tetapi, tidak bagi Sean. Dia tidak memikirkan menang atau kalah, terutama dalam pertarungan ini.
Dia lebih mementingkan Medusa, itu jauh lebih baik dari apapun.
“Kau terluka. Aku akan membawamu ke istana!”
“Tidak!” bantah Medusa. “Pangeran tidak boleh membawa ku ke istana. Aku tidak mau kaum ku melihat ratunya terluka. Aku tidak ingin membuat mereka sedih melihat kemalangan ku.”
Sean yang sedang memapahnya, tiba-tiba terdiam. Aneh, dia tidak ingin kembali ke istananya, padahal dia jelas terluka.
Saat Sean sedang ambigu, Xavier datang dari udara. Dengan pedang tanpa gerigi itu, dia mencoba menghunus Sean.
Tetapi ....
“Jangan lupakan kami Xavier!”
TRANG!!
Amuria dan Driyad berhasil menghalau serangan gerilya itu. Pedang Xavier terpontang jauh, meninggalkan tangan Tuannya.
Crypto membantu Sean, dia mencoba sesuatu yang mungkin di butuhkan Medusa.
“Haha ..., dua pengawal tidak berguna Lausius. Apakah kalian mencoba untuk mencari kematian kalian sendiri?”
“Sombong kau Xavier!” balas Amuria lebih dahulu. “Akan ku patahkan sayap mu, agar kau tak bisa lagi menyombongkan diri di hadapan ku.”
“Benarkah?”
“Cih. Dia terlalu naif. Aku benci makhluk penjilat dan hina itu!” kata Driyad jijik. Barangkali dia sudah muak melihat tingkah Xavier.
“Baiklah. Kita akhiri semuanya di sini. Kita perjelas, siapa yang lebih unggul di antara kita.”
Xavier menantang. Pedang yang terjatuh di pasir, dia tarik hanya dengan kekuatan sihir di tangannya. Mengibasnya, dia nampak sok seperti jagoan.
“Ini saatnya, kita membuat perhitungan atas semua yang telah dia perbuat.”
Melihat banyaknya korban yang terkapar, tak ada alasan lagi bagi Amuria untuk tidak menahan serangan Xavier.
Driyad menatap Amuria, pria itu mengangguk isyarat. “Jangan sia-siakan kesempatan ini!” ucap Driyad menggebu.
Sesaat kemudian, keduanya memulai aksi. Mendengungkan adu pedang, menyerang Xavier.
Suara dentingan pedang ketiga pria itu, semakin asik tatkala mereka memiliki kekuatan yang seimbang. Dua lawan satu—yang sebenarnya jika di akumulasikan, Driyad dan Amuria tak ada apa-apanya dibandingkan kekuatan Xavier. Karena sesungguhnya, lawan Xavier adalah Sean.
Dewa iblis tertawa, dia menikmati pertunjukan ini. Lalu, kini kembali pada fokusnya. Yaitu, Sean.
“Hei, Lausius. Aku menawarkan mu satu kesempatan. Menjadi milikku, atau istana awan Metis beserta kaum tak berdosa lainnya, menerima dampak dari semua ini. Kau hanya perlu memikirkan semua ini, sebelum aku berubah pikiran.”
“Cuih. Tawaran yang menarik!”
Sean menatapnya sombong, tak akan bagi Sean tunduk pada siapapun. Kecuali, Ayah dan Ibu. Hanya mereka yang membuat Sean kikuk patuh.
“Jika kau menginginkan itu semua, sebaiknya kau bertarung dahulu dengan ku. Sebagai bentuk formalitas, akan aku persembahkan kepalamu untuk petinggi langit!” tunjuk Sean berang.
“Haha ..., sombong sekali Lausius tak berguna ini. Bisa apa kau? Bahkan tak ada kekuatan yang bisa menandingi ku saat ini. Benar, tidak sia-sia aku menyusun siasat ini. Memancing Lausius datang ke sini, aku merasa dunia langit sedang berpihak pada ku.”
Sean menoleh kebelakang, menuju ke arah Crypto yang mendekap tubuh Medusa. Medusa kemudian berkata, sesuai apa yang dia ketahui.
“Ini semua siasatnya. Memancing Lausius, dan membunuh kaum ular. Dia sengaja mengambil keuntungan dari siasat ini. Aku ..., Uhuk!”
“Kau jangan banyak bergerak, aku tahu jalan permasalahan ini.”
Melihat Medusa memuntahkan darah, dan ini sangat bersebrangan dengan Medusa yang kuat.
“Itu artinya, dewa iblis mengalami peningkatan ketika tak bergerak. Selama ini, diam-diam dia meningkatkan kekuatannya, dengan begitu dia mampu menandingi kekuatan siapa saja yang ada disini.”
Sean mencoba memahami situasi. Sean menduga-duga, kalau sebenarnya dewa iblis memiliki banyak rencana sebelum melakukan penyerangan terhadap para kaum ular.
__ADS_1
“Aku akan tahu nanti. Saat ini, bersiaplah untuk menahan gempuran kekuatannya,” gumam Sean pelan.