Adventure Of Lord Lausius

Adventure Of Lord Lausius
Episode 51


__ADS_3

Nimfa Part 2


"Tidurlah di manapun kalian inginkan. Aku ingin memeriksa seluruh ruangan manor tua ku ini." Perintah nimfa sembari dia terbang ingin meninggalkan anak-anak.


Ketiga anak itu sangat berterimakasih telah di berikan tempat. Mereka menuruti perintah nimfa itu. Malam yang panjang seharusnya di lalui dengan mimpi yang indah.


Sean mengajak kedua temannya tidur. Dia meminta mereka memejamkan mata untuk menyongsong hari esok.


"Cepatlah kalian tidur. Kita masih harus berjalan besok." Pinta Sean pada keduanya.


"Baiklah Sean. Selamat malam." Timpal Jessica membalasnya seraya mulutnya ternganga menguap menahan kantuk.


"Aku juga tidur lebih dulu Sean. Selamat malam." Yudhar juga ikut menyahut. Kini dia ingin sepenuhnya terlelap dalam mimpi yang indah di hutan bercahaya ini.


"Ya. Selamat malam untuk kalian berdua." Sean membuntuti keduanya. Seakan seperti seorang ayah yang sedang mengucapkan selamat malam pada anak-anaknya, Sean berkata lembut menjelang tidur mereka.


Tetapi, nampaknya kali ini anak-anak itu tidak bisa tidur. Sebab ada yang membuat mata mereka tak bisa terpejam karena suara-suara nimfa berbicara sedikit mengganggu terngiang di kepala.


Mereka terbang kesana kemari melintas di atas kepala ketiga anak itu sambil membawakan entah itu nyanyian atau syair, Sean tidak paham maksud suara-suara mereka yang merdu tetapi menyedihkan untuk di dengar.


Mereka melantukan nada-nada itu dengan lembut dan cahaya dari tubuh mereka terus bersinar mengikut irama nada yang mereka syairkan.


"Peri menangis di balik kendi... Kucing menghilang di telan lubang.... Siapapun kalian, temukan Rhodes, manor tua runtuhkan emas."


Mereka mengatakan kata-kata ini berulang kali sambil melintas kesana kemari.


Mereka tidak berhenti menya'irkan kata-kata yang terdengar sangat menyedihkan ini.


Kata-kata yang mereka ucapkan membentuk nada yang elok di lantunkan namun terasa sangat ngilu saat di dengar. Nyanyian mereka amat menyedihkan.


Mendengar kata-kata mereka membuat Jessica tak bisa memejamkan matanya. Berulang kali ia menutup telinga dari berisiknya suara para cupid, maka dia semakin tidak bisa melakukannya. Dan berulang kali pula dia harus menahan kesalnya pada suara itu.

__ADS_1


"Sean! Tidakkah mereka terlalu berisik." Jessica mengeluh. Dia sangat kesal mendengar kata-kata menyedihkan itu. Sambil terduduk dengan kesal Jessica menahan amarahnya.


"Peri menangis di balik kendi..... Kucing menghilang di telan lubang..... Akh.. aku sebal mendengarnya. Tidak bisakah mereka menghentikannya." Gerutu Jessica menambahkan ucapan sewot.


Dia menuntut suara para makhluk itu.


"Aku rasa mereka sedang menyampaikan sesuatu. Tetapi tidak tahu apa?" Sean menimpalinya dengan kata terka-an.


"Kemungkinan mereka hanya sedang bersajak. Bukankah penunggu sungai Osirus mengatakan mereka gemar bernyanyi." Yudhar mengingatkan Sean pada kata-kata Dewi Handita sebelumnya.


"Aku rasa lebih dari itu? Kemungkinan mereka sedang membuat konspirasi tentang ini." Sean berkata bertolak belakang dengan pemikiran Yudhar. Ada yang janggal bagi Sean saat mendengar nada syair-syair ini.


"Konspirasi macam apa yang kau maksud Sean? Aku sebagai orang awam menganggap hal ini biasa saja. Bahkan berisik untuk di dengar." Jessica kembali membantah. Ketiga anak ini nampaknya ambigu dalam memahami situasi ini.


Mereka berbeda pendapat satu sama lainnya. Sean sadar jika perbedaan pendapat pasti tidak akan menyelesaikan suatu konflik. Hanya saja, Sean tidak ingin mendramatisir hal ini.


"Entahlah! Aku rasa lantunan nada ini seperti ingin menyampaikan sesuatu." Sean mengangkat kedua bahunya, berkata jujur bahwa dia belum paham. Namun dia berusaha memahami situasi ini. Pikir Sean sangat menarik jika mengetahui sebuah misteri.


"Mereka makhluk yang misterius. Perhatikan setiap ucapan yang mereka katakan. Kau tidak boleh melewatkan satu katapun yang terucap dari mulut para nimfa, Sean." Kata-kata Driyad ini, Jelas Sean masih mengingatnya dengan segar di balik otak besarnya.


Hingga tanpa sadar olehnya, Sean sudah mengambil sebuah perspektif yang mungkin akan membuat kedua anak itu menghardiknya dengan keras.


"Menurut ku, apa mungkin mereka sedang memberikan sebuah teka teki misterius?" Sean memancing rasa penasaran kedua temannya. Dia ingin melihat reaksi kedua anak itu saat dia mengatakan apa yang sedang ia pikirkan.


Jessica, jelas anak ini tidak percaya pada pemikiran Sean. Dia membual dan membalas ucapan Sean berbanding terbalik dengan pemikirannya. "Huh.... Kau ini selalu saja berpikiran yang tidak-tidak. Mereka hanya peri hutan. Mana mungkin mereka memiliki sebuah misteri. Terlalu mengada-ada."


Jessica bersua sewot. Namun Sean tetap pada pemikirannya bahwa para nimfa sedang mengisyaratkan sesuatu. Dia sudah menduga pasti Jessica sepenuhnya akan bersikap berseberangan dengan apa yang ia pikirkan.


"Aku rasa mungkin benar bahwa aku salah. Tetapi dalam situasi ini berbeda pendapat adalah hal yang wajar. Aku akan membintangi ucapan mu ini Jessica." Sean tidak pernah memasukkan perkataan menohok Jessica pada dirinya. Dia tahu Jessica keras kepala, cukup mengalah dengan begitu semua akan baik-baik saja. Sean melakukan ini hanya karena dia suka menghadapi sesuatu dengan tenang. Tidak gegabah dan memikirkan segala sesuatu dengan matang.


"Maafkan aku penyihir jelek! Kali ini aku merasa apa yang Sean katakan ada benarnya. Aku kali ini percaya pada Sean karena aku yakin aku sepemikiran dengan anak itu." Yudhar menyela. Kali ini dia tidak berdiri di pihak Jessica walau sejak awal dia mengikuti kata-kata gadis itu. Meskipun mereka selalu bertikai seperti anak kecil yang memperebutkan mainan.

__ADS_1


"Huh.... Aku tidak peduli kau ada di pihak ku atau pihak Sean. Bagi ku sama saja, kau sama berisiknya seperti makhluk kecil itu." Pungkas Jessica membantah kesal.


Sean harus menengahinya. Melihat Yudhar sudah berulah pasti akan ada perdebatan diantara keduanya. "Sudahlah! Hentikan pertikaian kalian. Aku akan mencari tahu masalah ini seorang diri. Kalian diam saja seperti ini tidur dengan manis. Aku akan mencari rahasia di balik nyanyian mereka."


Sean kemudian beranjak dari duduknya. Dia berdiri seakan sudah siap mencari dan mengungkapkan rahasia tersembunyi ini.


"Aku ikut kau Sean. Aku juga penasaran dan ingin membantu mu." Yudhar bertindak seirama dengan Sean. Dia berdiri ingin mengekori Sean.


"Aku tidak yakin apa ada yang bisa aku bantu untuk mu, tapi aku juga penasaran." Tambah Yudhar melanjutkan bicaranya yang sempat terjeda tadi.


"Ini bukan waktunya bisa mengandalkan siapa dengan siapa. Tetapi kita harus tetap kompak membenahi kesalah pahaman ini. Jika kau sudah yakin bahwa ada sebuah misteri di balik syair ini, maka kita tidak boleh mundur dalam menemukan kebenaran ini." Keyakinan Sean dalam berargumentasi membuat Yudhar makin mempercayai kalimat anak ini.


Sementara, Melihat keduanya dalam satu jalur, mau tak mau Jessica yang tadi sempat berkata kontra pada Sean akhirnya ikut alur anak itu. "Aku mengalah kali ini. Aku akan ikut kalian." Seraya berdiri, Jessica masih berbicara tidak bisa menurun ego dirinya walau dia bilang mengalah.


Karena sejatinya dia berpikir wanita selalu benar terlepas dari semua kesalahan yang ia perbuat.


"Ya.... Seharusnya begini. Kau seharusnya percaya pada Sean." Yudhar menyahut ucapan Jessica antusias.


Mungkin dia akan merasa bangga saat lebih percaya pada Sean dari pada membantah anak itu.


"Tetapi pengecualian. Aku tidak mengatakan bahwa aku akan percaya padanya. Aku hanya mengatakan mengalah. Aku akan setuju mengikuti Sean tetapi tidak mempercayai lelucon ini." Untuk terakhir kalinya Jessica masih bersikap apatis.


Sean memahaminya dengan benar. Jessica si wanita keras kepala dan paling hebat dalam bertikai. Hanya saja Sean sudah bosan saat gadis ini berkelakuan plin plan.


"Setidaknya dia sudah menunjukan sisi buruknya." Yudhar mengumpat Jessica jauh dari dalam lubuk hatinya yang terdalam.


Anak-anak itu pada akhirnya memutuskan untuk mengikuti irama yang di lantunkan para nimfa ini. Suara ini berseliweran di mana-mana. Bukan satu atau dua suara, tetapi ratusan.


Bagai kunang-kunang yang sedang berhamburan, para nimfa terbang membawa cahaya dari tubuh mereka menyelaraskan irama yang mereka lantunkan.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2