Adventure Of Lord Lausius

Adventure Of Lord Lausius
Episode 170


__ADS_3

“Ayo kita kembali dahulu ke istana,” ajak Sean pada Jessica.


Jessica mengangguk. Mengikuti Sean, menuju ke istana. Berjalan di belakang Sean, Jessica tersenyum sipu.


“Sean memelukku?” gumamnya pelan. Percaya tidak percaya, tapi itulah kenyataannya. “Aku tidak bermimpi. Ini kenyataannya.”


Jessica merasakan kehangatan dari Sean, juga bisa menyentuh kulitnya yang seputih susu. Tubuh kekar, Jessica merasa dia makin tak bisa melupakan sikap Sean tadi.


Tanpa di sadari, tingkah kegirangan Jessica di perhatikan oleh Edward. Diam-diam Edward terkekeh melihat Jessica. Sampai Edward berani merayu anak itu.


“Apakah kau menyukainya?” sikut Edward menggoda.


“Kau ....”


“Akui saja, kalau kau menyukainya!” ucap Edward lagi, di ikuti senyum penuh makna. Senyum jahat, ala pria licik.


“Sejak kapan kau berada di belakangku?” tanya Jessica ingin tahu.


“Sejak tadi. Saat kau kegirangan ketika Sean memperlakukanmu sedikit romantis.”


“Sejak tadi?”


Edward mengangguk. “Kau terlalu bahagia ketika Sean memelukmu. Sampai-sampai kau lupa kalau masih ada aku di belakangmu!”


Jessica terdiam saat mendengar pengakuan Edward. Sedangkan anak itu, dia melanjutkan langkahnya menyusul Sean dari belakang.


Jessica ternganga. “Itu artinya, dia (Edward) tahu kalau aku sedari tadi memikirkan Sean,” ucapnya pelan.


Nasib sial bagi Jessica, semua rahasianya telah di ketahui oleh Edward. Jessica makin malu, dia tak bisa menyembunyikan kekagumannya pada Sean. Semua orang tahu itu. Termasuk ....


“Jangan lupakan, aku—juga mendengarnya!”


Driyad menyikut bahu Jessica. Gadis itu terdiam lagi karena memikirkan perbuatannya tadi. Kini, Driyad pun mengoloknya, membuat Jessica makin histeris.


“Kau juga tahu itu?”


Driyad mengangguk. “Jangan lupakan Amuria dan Crypto. Mereka juga tahu kalau kau mengagumi sosok pangeran!” tunjuk Driyad pada kedua pria itu. Mereka berdiri di belakang Jessica.


Jessica menoleh, Amuria tersenyum padanya. Sedangkan Crypto? Jelas dia tak tertarik dengan urusan seperti ini.


“Semua orang tahu. Sejak kapan? Apakah mereka menyadarinya sejak awal aku datang ke sini?”


“Kau pasti terkejut,” lirih Amuria menggoda.


Crypto memukul kepala Amuria, pertanda bahwa dia tidak boleh menggoda sembarangan gadis. Crypto lebih dahulu menyusul langkah Sean, sedangkan Amuria, dia masih terkekeh melihat Jessica. Juga menahan sakit di kepala atas pukulan dari Crypto tadi.


Amuria berjalan sejajar dengan Crypto. Kemudian dia berkata pelan pada pria itu. “Kau selalu acuh pada urusan di sekitarmu. Apakah kau benar-benar tidak tertarik menggoda gadis itu.”


“Cih, bahkan aku engga melakukannya!” balas Crypto ketus.


“Ya. Aku akui, kau selalu begitu!”


Amuria mungkin menyerah berkata panjang lebar dengan pria itu. Semua tahu, Crypto yang paling dingin.


††††


Sean menyerahkan permata merah yang dia dapatkan, kepada Lord Shutanhamun. Pria itu tersenyum tipis di balik kumis tebalnya.


Tak lupa, dia mengurut surai jenggotnya. Berdiri di seluruh hadapan para pelayannya, pria tua itu menerima pemberian Sean.

__ADS_1


Jessica, dia makin sumringah saat Sean berdiri di dekat singgasana besar Lord Shutanhamun.


“Hei. Lihatlah pangeran. Dia begitu tampan ketika menggunakan baju kebesaran Lausius,” bisik Yudhar pada Jessica.


Anak itu berdiri di sebelahnya. Sedangkan Edward, anak itu ada di sisi kiri Jessica. Crypto dan yang lainnya ada di depan gadis itu.


“Kau mencoba menggodaku?” lirih Jessica.


Yudhar menggeleng. “Tidak,” katanya membantah. “Aku hanya mengatakan, pangeran begitu tampan. Sungguh! Ajubtak bermaksud menggodamu!”


“Tetapi kau mencoba melakukannya bukan?”


“Demi nama dewa Opis. Aku rela di keluarkan dari istana, jika aku berani melakukannya!” balas Yudhar mengelak.


“Dengarkan apa yang akan Tuan agung katakan. Pelan kan suara kalian!” Edward menyela, memperingati keduanya.


Seketika, keduanya terdiam. Kecuali, mengatakan setidaknya satu sampai dua kata.


“Oke, baiklah!” balas Jessica menyerah. Berhenti berkata, Jessica melakukannya bukan karena perintah Edward, tapi karena dia malas membahas sesuatu yang berhubungan dengan rahasianya.


Yudhar terkekeh geli, lalu dia ikut fokus pada Lord Shutanhamun yang sedang bicara.


“Malam ini, kita semua akan merayakan penyambutan kedatangan pangeran Lausius. Perintahkan kepada seluruh penduduk kota, agar menyiapkan arak-arakan sebagai bentuk keberhasilan. Malam ini adalah malam bagi pangeran Lausius, dalam menuntaskan misinya!”


Sean memberikan senyum ramah pada semua petinggi awan Metis. Mereka menyaksikan pembabtisan dirinya sebagai Lausius. Gelar yang susah payah dia dapatkan.


Orang-orang bersorak, mengagungkan nama Lausius. Sean tahu, ini mungkin awal dari keberhasilannya dalam menyelesaikan misi. Namun, masih ada rintangan lain yang harus Sean selesaikan.


“Di berkati langit, Pangeran Lausius. Di berkati langit, Pangeran Lausius!”


Suara itu melambungkan gelar yang Sean miliki. Sean tak menampik, bahwa dirinya sekarang sudah berbeda dari sebelumnya.


††††


Kembang api meletup di udara. Pertanda bahwa penduduk sedang bersuka cita menyambut keberhasilan Sean.


“Kau lihat. Para penduduk sedang mengagungkan namamu. Kau sekarang di sambut bagai pahlawan, pangeran!”


Sean mengulu* tersenyum, saat Jessica menyikut bahunya.


“Kenapa kau memanggilku dengan sebutan pangeran?” tanya Sean.


“Aku ingin melakukannya!” balas Jessica. “Kau sekarang adalah pangeran. Jadi, aku harus memanggilmu dengan sebutan itu sekarang.”


“Apakah kau menyukai diriku yang sekarang?” tanya Sean lagi.


Spontan, Jessica mengangguk. “Aku sangat menyukaimu dalam segala hal.”


Sean membesarkan matanya, menatap mata bulat Jessica. Saat mendapati perhatian dari Sean, tiba-tiba Jessica langsung tersadar—jalau sebenarnya dia sudah mengakui kepada Sean bahwa dia menyukai anak itu. Secepatnya, Jessica kembali berkata.


“Ehm. Maksudku, kau ..., aku mengagumimu karena kau sekarang spesial,” katanya sedikit gugup.


“Apakah itu yang ingin kau ucapkan?”


Jessica mengangguk. “Sungguh, kau begitu membuat orang-orang terkagum-kagum. Kau sekarang menjadi seorang pangeran yang gagah. Tak salah, jika aku mengatakan mu spesial.”


Tangan seputih susu Sean, ingin memegang tangan Jessica. Namun urung, Sean tak berani melakukannya.


Sean beralih, menatap langit yang di hiasi oleh kembang api penuh warna.

__ADS_1


Jessica melirik batang hidung Sean. Agak canggung, tapi Jessica menyukai momen ini. Bersama Sean, dia merasa sangat bahagia.


“Pangeran. Tuan agung memanggil Anda, agar menemuinya di ruang manuskrip istana.”


Sean menoleh, suara itu berasal dari seorang prajurit yang datang menemuinya. Dia membungkukkan badannya, usai menyampaikan perintah dari Lord Shutanhamun.


“Aku akan segera kesana,” balas Sean singkat.


Sean ingin beranjak, Jessica menarik lengan Sean. “Kau ingin meninggalkan aku sendirian.”


“Jangan khawatir. Setalah ini, kita bisa kembali ke tempat asal di mana kita berada.”


“Tapi, Sean ....”


Sean mengelus lembut tangan Jessica. Walau Sean melihat gadis itu sudah kuyu, namun Sean tetap akan meninggalkannya. Mengakhiri perbincangan malam itu.


“Kau kembali ke kamarmu. Jangan di luar terlalu lama, nanti kau sakit. Aku harus pergi sekarang," kata Sean lagi-lagi mengingatkan Jessica.


Sean ....


Memandangi punggung Sean, mata gadis itu sudah berlinang. Sean sudah memasuki istana, tapi Jessica masih terpaku.


Apakah Sean akan kembali mendapatkan sebuah misi. Jika iya, aku mohon—buatlah Sean kembali dalam keadaan baik-baik saja. Aku hanya bisa berharap pada para petinggi langit saat ini.


Wajah itu terlalu gusar. Khawatir pada Sean.


††††


“Apakah kau memanggil ku, Kakek?” tanya Sean.


Pria tua itu memunggungi Sean. Saat Sean tiba, dia berbalik. Sejak tadi dia menunggu kedatangan anak itu di ruangan manuskrip kuno.


Dia mencoba memamerkan sesuatu pada Sean.


“Permata yang kau dapatkan. Kau harus melihat keistimewaannya!” katanya pada Sean.


Batu permata merah itu mengambang, mengeluarkan kekuatan. Pria tua itu meletakkan batu permata itu di atas meja khusus. Sean tak tahu meja apa itu, yang jelas tempat itu sangat istimewa.


“Apakah kekuatan di dalam batu permata ini sangat dahsyat?” tanya Sean ingin tahu.


Pria tua itu menggeleng. “Tidak ada kekuatan dahsyat pada batu permata itu.”


“Tidak ada kekuatan?” ucap Sean mengulangi. “Apakah Kakek sedang bermaksud ....”


“Hem ..., batu permata itu hanya sebuah harapan. Di dalamnya berisi ramalan rasi bintang. Aku juga tak begitu memahaminya, tapi ini sedikit membantu dalam menentukan ramalan surga.”


“Jadi ....”


Pria tua itu tersenyum, mengurut surai jenggotnya. Lalu memunggungi Sean, dia mungkin mengenang sesuatu.


“Mengambil permata ini, hanya salah satu dari ujian yang harus kau tempuh. Tidak ada yang begitu spesial untuk di teliti lebih lanjut. Hanya batu permata, yang dikatakan sebagai batu keberuntungan dan harapan. Kau jangan terlalu terobsesi padanya,” kata pria tua itu menjelaskan.


Sean terdiam. Sialnya, sudah susah payah dia mengambil batu permata itu. Namun apa rahasia yang dia dapat? Hanya sebuah batu polos, yang di yakini sebagai batu harapan dan ramalan. Tidak ada yang spesial? Jelas Sean ingin mengutuk batu permata itu.


“Aku mengerti sekarang. Batu ini, dia sedang mempermainkanku!”


Pria tua itu tersenyum. “Aku tak mengambil hikmah apapun dari kisah ini.”


††††

__ADS_1


__ADS_2