
KILAUAN EMAS VOL.8
"Oke aku mengerti apa yang kau maksud. Lalu, apa hubungannya dengan suku - suku yang kau ucapkan? Bicara mu makin meracau saja Sean. Aku rasa kau terlalu obsesi terhadap sejarah." Jessica merajuk tak jelas pada Sean.
Sean menghela nafas yang dalam.
Baginya menjelaskan panjang lebar pada Jessica tak akan ada gunanya karena ia tak akan memahami setiap perkataan yang ia ucapkan.
Akhirnya Sean hanya menjelaskan inti dari bicaranya yang ia ucapakan secara perinci tadi.
"Oke baiklah. Nampaknya kau memang tidak pernah mengerti atas apa yang aku katakan. Dengarkan aku baik-baik. Suku yang ku sebutkan tadi adalah suku-suku yang memiliki sistem peradaban yang maju di zamannya.
Masa pembangunan mereka begitu apik sehingga seni yang mereka buat biasanya di campur adukan dengan kisah magis atau misteri di dalamnya.
Seperti maestro seni asal Italia Leonardo Davinci, dimana ia berhasil membuat ilmuan eropa takjub atas misteri yang ia tuangkan dalam lukisan Monalisa.
Sama halnya dengan suku-suku yang mendiami benua Amerika pra-kolombus, mereka sangat membanggakan karya mereka yang penuh dengan teka teki didalamnya.
Jadi setelah kupikir-pikir bahwa bangsa di Amerika latin adalah bangsa yang paling maju? Itu sepenuhnya telah di patahkan oleh tempat ini. Negara ini menyandang predikat sebagai negara yang lebih dahulu maju sistem peradaban.
"Jadi?"
Bicara Sean yang belum usai telah di sela oleh Jessica dengan ekspresi yang penuh penghayatan.
"Oke Sean. Aku mengerti maksud mu. Patung ini di buat beribu-ribu tahun yang lalu sebagai bentuk penyembahan oleh pendeta sekitar sini.
Sang arsitek yang membangun tempat ini sangat cerdik dengan membangun tiga patung emas ini, setidaknya ia telah menyelipkan sebuah lorong waktu didalamnya sebagai sebuah teka teki yang harus di pecahkan agar siapapun yang masuk ketempat ini bisa mencari jalan keluarnya sendiri.
Jika kita berhasil menemukan ruangan lain di tempat ini maka, kita bisa menemukan jalan keluar. Bukankah begitu yang kau maksud." Ucap Jessica mulai paham atas perkataan cerdik Sean. Sekali lagi Jessica harus mengakui bahwa pemikiran Sean jauh lebih jenius dari yang ia bayangkan.
Hanya dengan sekali penjelasan yang detail Jessica memahami bahwa tempat ini bukanlah ruangan yang buntu jalan keluar.
Tapi pemiliknya lebih merahasiakan pintu keluar tempat ini agar barang yang ada di ruangan ini bisa terjaga hingga beribu-ribu tahun mendatang.
"Kau sungguh cekatan memahami apa yang kukatakan. Kalau begitu ayo kita memulai memeriksa patung-patung ini kembali." Tawar Sean pada Jessica.
Dengan serta Merta Jessica mengikuti perintah Sean.
Mereka mulai menyusuri kaki patung hingga di ujung kepala patung.
Sudut-sudut patung emas itu secara rinci mereka terka dengan teliti.
Cermat dan penuh dengan semangat.
Namun tiga puluh menit berlalu mereka belum juga mendapatkan apa yang mereka cari.
"Sean! Ada baiknya jika kita istirahat sejenak." Tegur Jessica pada Sean. Keringat Jessica mengalir dengan begitu saja, sesekali ia menyeka keringat yang membasahi wajah indah itu.
"Baiklah!" kali ini Sean menuruti permintaan jessica yang mulai kelelahan.
Keduanya mengambil tempat untuk beristirahat. Mereka duduk di atas tangga yang hanya memiliki empat mata sebagai pijakan menuju penyerahan penyembahan yang amat mistis.
Jessica dengan gaya tangguhnya duduk jauh diatas Sean dengan kaki ia buka lebar.
Sesekali wanita ini menarik ulur bajunya untuk mendapatkan angin segar sebab gerah di tubuh amat mengganggu.
"Entah ruangan apa lagi yang akan kita lewati nanti Sean. Aku benar-benar di buat bingung dengan tempat ini. Emas, berlian perak semuanya di biarkan begitu saja, seakan-akan tak ada vandal yang akan menjarah tempat ini.
Seandainya goa emas ini ada di Amerika, aku yakin jutaan orang-orang anglo Saxon itu (orang-orang keturunan Inggris kuno) akan mendatangi tempat ini. Atau bisa saja mereka akan memperebutkan tempat ini. Ah orang-orang anglo Saxon itu benar-benar serakah." Ucap Jessica dengan nada lesu yang teramat menyedihkan. Ekspresi wajahnya bahkan datar seolah tak ada ekspresi didalamnya.
Pandangan matanya kosong dan tak bergairah menatap patung yang ada di hadapannya.
__ADS_1
"Kau terlalu berpikiran yang aneh sehingga merajuk kemana-mana bicara mu itu." Balas Sean dengan nada yang sama seperti Jessica. Nada tak semangat dan lesu.
Pandangan matanya juga mengikuti Jessica, memperhatikan patung yang berdiri kokoh di hadapan mereka.
"Tiga patung ini semuanya sangat indah. Ukiran emasnya aku yakin mereka membuatnya dengan emas hingga berbobot satu ton lebih.
Patung yang di sisi kiri dan sisi kanan memegang senjatanya masing-masing. Si patung kiri memegang trisula di tangannya dengan gagah ia memamerkan kehebatan dan aku yakin ia adalah ahli berburu.
Mereka benar-benar memiliki citra yang baik walau hanya sebuah karya yang monumental.
Sementara si patung kanan memegang tabuh genderang, jelas ia menunjukan sisi feminimnya sebagai wanita yang lemah lembut.
Sungguh tak kusangka arsitek yang mengukir benda mati ini amat memperhatikan detail dan konsonannya. Bahkan ukirannya sangat rapi, seperti yang dibuat oleh mesin.
Lalu yang ditengah-tengah..!" Sean menebak secara asal namun tak disengaja ia menemukan apa yang ia butuhkan.
"Ah iya.. Itu dia jawabannya." Sean beranjak dari duduknya dengan semangat. Entah apa yang di pikirkan anak itu, Jessica tidak memahaminya.
"Jawaban apa Sean yang kau ucap?" tanya Jessica untuk kesekian kalinya.
"Kau lihat patung yang paling menjorok kedalam itu?"
"Ya aku melihatnya? lalu kenapa dengannya (patung itu)?"
"Dari ketiga patung itu, hanya dia yang tak memegang apapun." Sean menunjuk patung yang ia maksud dengan jari telunjuknya.
"Ya aku melihatnya. Adakah hal aneh?"
Jessica masih belum mengerti hal ini karena dirinya bukanlah seorang yang jenius seperti Sean.
"Tentu saja aneh. Kau lihat tangan patung itu menjulur seperti meminta sesuatu."
Sean mendekat ke arah patung yang satu-satunya tak memiliki benda apapun di tangannya.
tambah Sean.
Sean dengan cermat menyaksikan tangan patung itu penuh perhatian.
Ia berpikir kira-kira benda apa yang cocok untuk di berikan pada seseorang jika membutuhkan sesuatu?.
"Bunga lotus?" Ucap Sean bicara kecil di ikuti dengan raut wajah yang sedang berpikir sesuatu kala melihat tangan patung tersebut.
"Ah aku tahu benda apa yang cocok, yang harus di letakan di tangan patung itu."
Sean kini sepenuhnya paham jawaban apa yang sedang di mainkan oleh patung itu.
"Dimana kau membuang lempengan bejana tadi?"
Dengan semangat dan bergairah ia bertanya pada Jessica.
"Lempengan?"Jessica masih berpikir sejenak karena ia masih tak mengerti pada Sean.
"Iya lempengan bejana emas yang kau buang tadi! Dimana kau melemparnya?" Tanya Sean untuk kedua kalinya.
"Oh, aku membuangnya di dekat tungku yang kau koyak tadi!" Jawab Jessica yang sudah teringat pada bejana tak berguna itu. Sebenarnya Jessica masih tak mengeri maksud Sean meminta bejana yang telah ia buang tadi.
"Aku mendapatkan nya!" Seru Sean yang satu langkah lebih cepat dari pikiran Jessica.
Ia menuju patung itu bukan dengan bejana rongsokan itu saja, melainkan dengan tempat lilin yang tergeletak begitu saja di lantai.
Perlahan pemuda itu menaruh bejana emas itu diatas tangan patung janggal itu.
__ADS_1
Lalu diikuti dengan menaruh tempat lilin yang juga terbuat dari emas.
Tempat lilin yang begitu unik karena memiliki enam tempat untuk menaruh lilin yang membentuk sebuah lingkaran dimana tempat lilin yang di tengah adalah yang paling tinggi dari lainnya, seolah menunjukkan bahwa ia adalah pimpinan dari semua tiang lilin.
Sedangkan pijakannya membentuk bunga lotus yang sangat cocok jika di satukan dengan bejana emas.
Semuanya saling berkaitan satu sama lainnya.
Mula-mula reaksi patung hanya bergetar kecil saja, Namun getaran itu mulai mengeras.
Seakan ruang sedang terjadi gempa, Patung emas itu berputar mengikuti arah jarum jam.
Srukkkk.
Seperti ada yang mengendalikan, patung ini membuka dengan sendirinya.
"Luar biasa!" Ucap Sean lagi-lagi takjub.
Sedangkan Jessica benar-benar harus mengakui tempat ini memang penuh misteri seperti yang di katakan Sean.
"Kau benar Sean. Sungguh luar biasa. Patung ini benar-benar terbuka!" Seru Jessica girang sambil memeluk temannya yang telah berjasa itu.
Takjub dan bangga itulah yang Jessica rasakan.
"Kau sungguh manusia yang sangat pintar Sean." Puji Jessica pada Sean.
Remaja wanita ini tanpa izin mengecup pipi mulus Sean yang nampak segar.
CUP.
Kecupan bangga Jessica lontarkan pada Sean.
Jessica sungguh wanita yang tak terduga dalam tindakannya.
"Aku bangga pada mu Sean." Sekali lagi Jessica mengucapkan kata-kata manis pada Sean.
Sedangkan Sean hanya termenung dengan wajah datar tanpa ekspresi.
Ia tak percaya itu, Jessica melakukannya.
Tubuhnya kaku membatu dan bisu. Tak ada kata-kata yang bisa ia ucapkan untuk membantah kecupan hangat seorang Jessica yang tanpa izin empunya tubuh mendaratkan ciumannya.
Jessica mencium Sean dengan cepat karena bangga pada temannya itu.
Ini kali pertama bagi Sean merasakan kecupan dari seorang wanita yang sebaya dengannya.
Sean berpikir ia akan menjadi gila karena satu kecupan hangat dari Jessica.
Benar-benar di luar dugaan. Jessica sangat berani, bahkan jauh lebih berani dari Sean.
Seandainya seluruh keberanian yang Sean miliki, mungkin akan runtuh begitu saja jika Jessica melakukannya lagi pada dirinya yang tak bisa berujar tegas.
BERSAMBUNG.
**
**
**
**
__ADS_1
SARANJANA EPISODE 24