Adventure Of Lord Lausius

Adventure Of Lord Lausius
Episode 116


__ADS_3

“Jangan harap itu terjadi!”


Sean, tidak tahu bagaimana dia bisa secepat kilat, tiba-tiba saja sudah ada di hadapan Zumirh. Menyerangnya dengan senjata besar bercahaya merah, sungguh Sean tak paham dia bagaimana bisa dia melakukannya.


Sayangnya, walau Sean cepat bukan berarti mata lentik merona milik Zumirh lengah. Justru dia menyungging tersenyum miring.


“Mencoba menyerang ku rupanya. Jangan harap kau mampu melakukannya.”


Belum sampai pedang Sean menyentuh setiap inci tubuh Zumirh, wanita cantik nan menggoda ini sudah menangkisnya dengan senjata andalannya—kipas tajam nan kuat.


TING


Sesaat kemudian, Zumirh memutar balik keadaan. Kecepatan Sean mampu di kendalikan olehnya. Dan Zumirh berputar, lalu berada tepat di belakang Sean. Remaja ini tak bisa mengelak, karena Zumirh lebih cepat dari pada angin.


“Kau kira bisa mengalahkan Zumirh kah?” kata Zumirh dengan nada licik. “Ingat. Kau hanya Lausius muda yang belum sempurna. Jangan buat aku harus kehilangan lagi incaran ku kali ini.”


Kipas setajam belati itu, kini menepi di leher Sean—yang membuat anak itu tak mampu bergerak lagi. Langkahnya terkunci, menjadi sandera Zumirh. Kejam? Tidak. Bagi Sean, ini bukan kekejaman. Hanya sebuah kengerian sesaat yang biasanya akan berlalu.


Susah payah ludahnya di telan, Zumirh membisik di telinga Sean. Sesekali bibir merekah itu, menggigit gemas daun telinga anak ini.


Zumirh menyayat sedikit kulit leher Sean. Darah segar keluar dari jalan luka yang terbuka oleh goresan belati dari kipas berwarna merah muda ini.


Kemudian Zumirh menjilatinya penuh nafsu yang membuat darah Sean menggelora bergairah. Panas rasanya ketika wanita cantik itu melirihnya dengan cara menggoda. Sean sudah bergidik ngeri, bertemu dengan Zumirh adalah mimpi buruk baginya.


“Apa yang kau inginkan dari ku?” tanya Sean. Manik-manik matanya yang melipat, memicing melirik ke wajah Zumirh. Tegangnya wajah Sean, membuat Zumirh, menyeringai tersenyum puas.


“Tentu saja tubuh menggoda mu wahai pangeran Lausius yang tampan nan menawan.”


“Tubuh?”


Zumirh mengangguk. “Tubuh Lausius jauh lebih berharga dari apapun di dunia fana ini. Di surgawi, aku pastikan hanya kau yang bisa menjadi pendamping Dewi secantik diri ku.”


Tubuh perkasa nan gagah Sean, di raba penuh nafsu oleh Zumirh. Sesekali lembutnya jari jemari Zumirh melintas di bibir merekah Sean. Bahkan tangan-tangan nakal dengan kuku di penuhi cat berwarna merah hati itu, memainkan ****** payudara Sean yang memerah.


Bibir lembut Zumirh, jelas dia permainkan. Mengecup leher Sean dengan penuh makna dan intuisi. Kadang kala, lidahnya yang berlendir menjilati kulit leher Sean yang mulus, hingga ke punggung anak itu. Bagi Zumirh, dia sudah sangat tergoda oleh paras yang rupawan remaja ini, di tambah cahaya yang menghiasi tubuh keras Sean.


Uh, sungguh. Baru kali ini Zumirh tergoda oleh Lausius yang menggugah jiwa dan sukmanya. Seolah dia sudah di guyur oleh nafsu tak tertahankan.


“Bagaimana? Apakah kau bersedia menjadi pengantin pria ku wahai pangeran Lausius.”


“Haruskah aku melakukannya?”


Zumirh kembali mengangguk. “Aku pastikan, kau akan menjadi pria terhormat karena menikahi wanita cantik seperti ku.”


“Bagaimana jika aku tidak mau melakukannya?”


“Tentu saja aku akan memaksa. Sampai kau memberikan aku sebuah kepuasan yang tak terkira.”


Sesekali saat berkata, tangan-tangan nakal Zumirh menyentuh, juga membelai belahan dadanya yang besar. Berharap Sean akan menyukainya.


“Namun sayang,” balas Sean. “Aku tidak akan menuruti kemauan mu!”


Sean kembali mengangkat pedangnya. Mencoba menusuk setia area apapun yang ada di tubuh Zumirh. Entah itu perut, ginjal atau jantungnya. Sean tak peduli. Dia harus melakukannya.


TING!!


Lagi-lagi Zumirh mampu menahan serangan itu. Tetapi, kali ini berbeda. Zumirh mundur terhuyung, kuatnya serangan Sean membuatnya terhempas hingga memasang kuda-kuda nyaris sempurna.


Sesaat kemudian, dia kembali tersenyum melicik.


“Kau masih punya nyali rupanya. Baiklah. Aku akan menunjukan bagaimana caranya menghargai cinta dari seorang Zumirh.”


Sean menanggalkan pedang besarnya di leher. Sedetik kemudian, dia mengacungkan lagi pedangnya—menantang wanita itu.


“Aku tidak akan menikahi mu. Jadi jangan berharap kita akan mengikat janji konyol itu!” tegas Sean.


“Maka itu artinya aku harus memaksa mu!”


Kembali, secepat angin, Zumirh menyerang Sean. Kemampuannya dalam mengambang di udara, nampak nyata.


Sean kali ini berusaha harus menang. Apapun caranya, bahkan melicik sekalipun, dia tidak mau kalah oleh Zumirh. Sayap merah yang sempat dia dapatkan dari ruangan bertemu dengan Ligong kali itu, kini keluar dari punggungnya yang tak berkain seutas pun.


TING!!


Kipas belati setajam samurai itu menancap sempurna di pasir tandus itu. Sementara sasaran Zumirh, terbang di atasnya. Sean berhasil mengelak, berkat bantuan sayap merah yang terbuat dari cahaya.


“Sial. Sayap itu!”


“Kau kira aku akan terkena serangan mu kah?” Sean menyeringai tertawa bangga. “Kau salah.”


“Kurang ajar. Kau telah memancing emosi ku!”


Zumirh juga mengeluarkan sayapnya yang berwarna kebiru-biruan. Terbang menjemput Sean di udara.

__ADS_1


“Kali ini Kau tidak akan lolos dari serangan ku. Hiya......”


Sean menyerangnya dari atas, hingga adu senjata itu mengulik terjadi kembali.


TING


Percikan sinar dari kekuatan masing-masing berhamburan. Mereka yang menyaksikan dari bawah, berdecak kagum bercampur takut. Baru kali ini melihat pertarungan tak biasa.


“Apakah pangeran mampu mengatasi perlawanan Zumirh?” tanya Gordon sambil mendekati Crypto.


“Entahlah. Kita lihat, semoga pangeran mampu mengatasi Zumirh.”


Pria itu angkat bahu. Pandangannya masih terpaku pada dua orang di atasnya.


Pertarungan sengit di atas, membuat Elius tersenyum sumringah. Pikirnya, pantas saja dia kalah melawan anak itu. Ternyata dia jauh lebih kuat dari apa yang dirinya bayangkan.


Bagus Zumirh. Kau kalahkan dia. Jika kau berhasil, satu poin penting bagi ku. Namun jika kau yang kalah, maka aku berharap sekutu ku untuk mendapatkan putra cahaya itu semakin berkurang. Hehehe...


Xavier melirik Elius. Dia tahu, pria licik di belakangnya sedang bergumam di dalam hati dengan omong kosong yang menguasai pikiran liarnya.


“Kau jangan berbahagia dahulu Elius. Belum tentu Zumirh kalah melawan bocah itu.”


“Kita lihat saja nanti,” balas Elius mengelu.


Di atas, sudah berpuluh-puluh kali mereka berpindah-pindah posisi bertarung. Dan sudah banyak juga serangan yang di keluarkan Sean. Hasilnya, wanita itu masih tangguh.


“Hiya....” Sean mencoba mengeluarkan serangan yang cukup kuat.


Mengarah tepat di tubuh Zumirh. Akan tetapi, Zumirh berhasil menghindari serangan kekuatan Sean. Dia menghilang. Secara tiba-tiba, oh. Mengerikan, Sean tahu, dia memiliki trik khusus. Menghilang layaknya angin, sulit di tembus maupun di ketahui keberadaannya.


Kemana dia pergi. Trik ini. Pasti dia adalah iblis wanita berkekuatan tinggi.


Sean menelisik sekitar, mencari kemana wanita itu menghilang. Di balik awan, Sean menyerangnya, namun kosong. Awan hancur, Zumirh tak ada.


Di belakang. Sean tahu, dia ada di belakangnya. Mata itu melirik kuat, namun kekuatan Zumirh lebih dahulu tiba di dada Sean. Memaksa anak itu terpental, hingga terjatuh ke tanah.


“Aaaa....” kabar buruk bagi Sean. Dia tidak bisa menghindar dari serangan itu. Sialnya, Sean merasa lumpuh. Sayap cahayanya pun terasa berat untuk mengepak.


“Hahaha....... Kau kira bisa mengalahkan aku kah? Dasar pecundang lemah!”


BRUK


Jatuh itu membuat Sean terjungkal-jungkal tak beraturan. Awan debu telah menghiasi udara. Tidak sakit, hanya terasa ngilu saja setiap tulangnya.


“Pangeran. Kau baik-baik saja?” Crypto datang, membantu Sean berdiri. Memapah anak itu, dia terlihat sedikit terluka. Luka gores, membuat tetesan darah muncul dari permukaan kulitnya.


“Berhati-hatilah pangeran. Zumirh bukanlah lawan yang mudah di kalahkan.” Crypto membisik pelan. Dia kembali memberitahu Sean—akan kekuatan Zumirh.


“Hahaha. Percuma kau menjelaskannya pada pangeran mu wahai Crypto. Dia sama saja. Payah,” ledek Zumirh dari atas.


“Kau.....”


“Cih.....” Zumirh beringsut sebal. Anak itu benar-benar telah memprovokasinya sedari tadi. Jadi, Zumirh tidak membuang waktu. Dia melesatkan sebuah jarum kecil, yang tanpa Sean sadari sudah menusuk lengannya.


“Akh..... Apa ini?” tanya Sean. Rasanya jarum kecil itu telah melumpuhkan seluruh syarafnya.


“Pangeran, celaka. Itu......”


Zumirh kembali melesatkan jarumnya ke Crypto, hingga pria itu tak bisa melanjutkan kata-katanya lagi—membuatnya ikut membeku akibat lesatan jarum kecil itu.


Zumirh perlahan turun, dia sudah puas menahan kesalnya hari ini. Sayapnya mengulup, dibalik punggungnya. Dia memiliki sayap yang sama seperti yang Sean miliki.


“Sudah cukup hari ini pertarungan kita. Aku tidak mau lagi membuang-buang waktu ku.


“Kau.....” teriak Jessica. “Apa yang kau lakukan pada Sean?”


Jessica melepaskan anak panah kepada Zumirh. Ketika wanita itu menoleh, hampir saja dia mati tertusuk oleh anak panah itu. Jika bukan segera dia melemparkan jarumnya melawan anak panah itu.


Sampai kedua senjata tajam itu, saling bertemu yang pada akhirnya jatuh masing-masing ke tanah.


“Aku tidak akan membiarkan kau. Kurang ajar, bocah tengik sialan!”


Zumirh melepaskan jarumnya lagi ke arah Jessica. Senjata andalannya tidak berbahaya, hanya cukup membuat mangsanya lumpuh sesaat.


Jessica terhuyung, benda tajam itu melesat ke arahnya. Namun Ligong, dia yang sempat sembunyi di belakang Jessica, kini memposisikan badan. Melindungi Jessica, dari sengatan jarum milik Zumirh.


ZIT!??


Benda itu menusuk macan tutul hitam yang bercahaya ini. Ligong tersungkur, efek kedutan dari jarum itu amat cepat menyerang imun tubuh Ligong.


“Aku sudah lelah hari ini,” kata Zumirh melepaskan napas lesu. Matanya melirik Xavier dan Elius, tatapannya mengintimidasi keduanya. “Aku serahkan sisanya pada kalian. Terserah mau kalian apakan mereka. Aku tidak peduli. Kalian boleh menjadikan prajurit-prajurit payah itu sebagai santapan Gort. Tugas ku sudah selesai. Aku harus kembali ke kuil ku membawa pangeran penyempurna keabadian ku.”


“Apa kau sedang memerintah kami?” teriak Elius berang. Dia mencoba menyerang Zumirh, namun berhasil di tahan oleh Xavier.

__ADS_1


“Kau tidak boleh gegabah. Zumirh saat ini lebih kuat dari siapapun. Bahkan aku tidak yakin kalau iblis neraka mampu mengalahkannya.”


“Apa kau mencoba berpihak dengannya, dengan ingin menguasai Lausius muda itu seorang diri.”


“Tutup mulut mu Elius,” sergah Xavier. “Jika bukan dia yang datang. Mungkin kita akan mati di tangan anak itu.”


Sialnya bagi Elius. Datang jauh-jauh dari istana Lorde de Gort nya. Setibanya di sini dia harus merelakan Lausius muda itu pada Zumirh. Ciuh, dengusan kesebalan Elius membuatnya tak rela melakukannya.


“Aku tidak peduli apakah dia lebih kuat dari pada aku atau tidak. Bagi ku, akulah yang lebih dahulu datang. Dan menurut aturan peperangan, siapapun yang tiba lebih dahulu, maka dia adalah pemilik Lausius—terlepas dari menang atau kalah.”


“Kau jangan konyol Elius!” kembali, Xavier menahannya. “Kau saat ini terluka parah.”


“Cih. Aku tidak peduli. Aku tidak akan merelakan santapan ku jatuh di tangan wanita iblis itu.”


Elius tak menggubris perkataan Xavier. Dia makin mengganas kala wanita itu akan membawa Sean pergi.


“Terimalah serangan ku. Hiya.....”


Zumirh mendengus, lagi-lagi dia harus tersenyum menyombong. “Kau kira sedang menghadapi siapa?”


Tak pelak, serangan yang hendak di serbu oleh Xavier, di hantam oleh jarum-jarum kecil milik Zumirh.


TANG TING


Suara pedang Elius berusaha menangkis setiap serbuan anak jarum yang begitu banyak. Dari udara, Elius siap menghujamnya dengan pedang bermata tajam.


Zumirh bergerak cepat, ketika mata pedang itu melewati pelipis matanya. Zumirh berbalik, kini dia berada di belakang Elius. Kipas tajamnya sudah menanggal di leher Elius. Sementara tangan kirinya sudah menancapkan jarum tepat di tengkuk leher Elius.


“Jika mengabaikan peringatan dari ku. Kau bisa berakhir menjadi santapan iblis neraka.”


Buruknya bagi Elius. Tubuhnya tak bergerak sama sekali. Darahnya seakan berhenti mengalir, rahangnya ikut mengeras kaku. Di ikuti lidahnya membeku, dia tak mampu bicara.


“Aku tidak mau membuang-buang waktu. Xavier, sebaiknya aku pergi sekarang.”


Zumirh menjemput tubuh Sean, siap membawanya ingin pergi. Xavier bisa berbuat apa? Jika saja dia bisa mengalahkan Sean lebih dahulu. Bisa jadi Zumirh tidak akan tahu keberadaan anak itu. Sayangnya, kini kemenangan ada di tangan wanita itu.


Namun, ketika hendak terbang. Tiba-tiba pasir di gurun ini meluruh. Batu-batu kecil berjatuhan dari tebing bebatuan di sekitar orang-orang itu. Menciptakan kepanikan sesaat.


Zumirh urung pergi, lantaran dia sudah ketahuan oleh pemilik tanah kekuasaan yang dia pijak. Awan debu dan badai pasir mulai menyapa—memaksa Zumirh dan yang lainnya menutupi mata—sampai terbatuk-batuk.


Debu dari pasir yang menusuk mata, rasanya amat perih dari apapun.


“Hem.... Kalian mencoba kabur rupanya!”


Zumirh tahu, si wanita ular itu juga datang. Nasib buruk memang sedang menimpa Zumirh. Seharusnya dia sudah memiliki Lausius sekarang. Akan tetapi itu tidak terjadi, lawan terberatnya juga masih menunggu.


“Huh.... Medusa lagi nampaknya.”


Ssshhh..... Suara desisan dari makhluk setengah ular itu, perlahan menunjukan diri masing-masing.


Sean melihatnya. Wanita cantik, dengan mahkota di kepala. Perutnya rata, ramping. Dadanya besar, dan kenyal. Sean sampai tak kuat melihat bagian mesum yang hanya di tutupi oleh bra merah muda tanpa tali pengikat di pundaknya itu. Meskipun wanita di hadapannya tak kalah cantik, tetapi sayang. Bagian bawahnya ular.


Geli-geli ngeri saat Sean melihatnya. Tetapi tak menutup kemungkinan, perutnya yang menggoda membuat Sean tak mampu menahan nafsu.


“Zumirh.... Ssshhhhh..... Kau memasuki wilayah ratu ular. Hukuman apa yang harus kita berikan pada penyusup ini pengawal ku?”


Ada beberapa pengawal bertubuh gagah di belakang Medusa. Mereka menggunakan tombak, mengikuti ratunya. Sean seakan merasa dia sedang ada di Mesir. Rasanya seperti itu. Tempat yang tandus, ada ular, ada iblis. Lengkap sudah yang Sean dapati sekarang.


Zumirh mendengus. Seharusnya, dia sudah menemukan lawan yang setimpal sekarang.


“Dari dulu, Medusa selalu menyombongkan diri.”


Medusa tersenyum tipis. Bibirnya tak kalah cantik nan merona saat Sean melihat bagian yang membuatnya tergoda itu.


“Bagaimana aku tidak sombong. Sahabat lama ku, Zumirh, memasuki wilayah kerajaan ular ku. Apakah aku tidak patut mencurigai mu. Lebih-lebih, mencuri mangsanya dari ratu ular.”


Satu hal yang Sean perhatikan dari Medusa. Dia pernah membaca sejarah, kalau Medusa cantik jelita, namun berambut ular. Dia masih ingat, cerita yang dia baca mengatakan hal itu.


Akan tetapi, Medusa yang di temui oleh Sean kali ini berbeda dengan yang selama ini dia bayangkan. Medusa satu ini jauh lebih cantik, dengan rambut hitam tergerai panjang. Bra merah muda dengan ukuran besar, menutupi dua buah gundukan kenyal itu.


Kulitnya putih bersih, sama seperti kulit Sean. Wajahnya menawan bening, bagai wanita yang menjalani perawatan. Perutnya seksi dan langsing, serta bermahkotakan emas dengan batu permata hijau sebagai penghias di tengahnya. Jelas, Sean makin terpikat pada kecantikan wanita itu.


Meninggalkan kisah pujiannya pada Medusa, kali ini akan ada pertempuran lain yang akan Sean saksikan.


“Pengawal. Tidakkah kalian harus mengambil tindakan untuk merebut kembali Lausius milik kita?” lirih Medusa mengode.


Memaksa para pengawal setengah ular itu paham pada isyarat pimpinan mereka.


“Siap. Akan kami laksanakan Ratu.”


Dua dari enam pengawal berbadan perkasa di belakang Medusa, mencoba mendapatkan Sean dari tangan Zumirh. Akan tetapi, Zumirh bukanlah musuh yang patut di remehkan oleh Medusa.


“Sebelum kalian mengambil Lausius muda ini. Hadapi dahulu aku!”

__ADS_1


BERSAMBUNG


JANGAN LUPA TINGGALKAN LIKE DAN KOMENTAR YAH. SERTA BERIKAN RATING BINTANG LIMA. BERIKAN DUKUNGAN UNTUK AUTHOR, TERIMA KASIH.


__ADS_2